
Setibanya disekolah Rey, Lara langsung pergi ke ruang kepala sekolah. Sesampainya di dalam, ia melihat ternyata sudah ada orang tua murid yang anaknya berkelahi dengan Vander.
Dilihat dari raut wajah nyonya itu sepertinya tampak marah sekali. Hal itu wajar saja, melihat wajah anaknya tampak memar, sementara Rey sama sekali tidak luka, hanya pakaiannya saja yang kotor terkena debu tanah.
"Nyonya Lara akhirnya anda datang," ucap kepala sekolah.
"Oh... jadi kau, ibunya anak nakal yang memukuli anakku!"
"Nyonya aku selaku ibunya Reynder minta maaf atas perbuatan anakku," ucap Lara merasa menyesal.
"Mama tidak usah minta maaf!" Sahut Rey.
"Rey kau bicara apa?" Lara mendekati putranya itu.
"Mama, awalnya aku memang salah, tapi sebab aku sampai memukulnya karena dia sudah mengatakan hal buruk padaku!" Rey bersikukuh membela dirinya, mengingat memang Rey tidak sepenuhnya salah.
"Astaga, anak ini bicaranya tidak sopan sekali, pasti kau tidak mendidik anakmu dengan benarΒ makanya kasar!" Ucap ibunya Leo dengan nada merendahkan Lara. "Tapi wajar sih, dilihat dari tampang dan penampilanmu saja, sepertinya kau ini tipe ibu yang lebih suka menghabiskan waktu cari kesenangan diluar dibanding mendidik anak, pantas anakmu nakal dan tidak sopan."
"Nyonya, aku tahu anakku salah, tapi tolong jaga ucapan anda! Anda tidak tahu apa-apa tentang hidupku dan anakku, jadi jangan berbicara seolah sudah lama mengenalku," balas Lara tak terima dirinya dan Rey di rendahkan.
"Para nyonya mohon tenang, aku memanggil kalian tujuannya untuk menyelesaikan masalah ini baik-baik," ucap kepala sekolah dengan nada bijak.
"Aku minta maaf ibu kepala sekolah," sahut Lara.
Rey dan Leo lalu diminta bergantian menjelaskan bagaimana kejadian tadi. Leo pun menceritakan kejadiannya, namun ia menceritakannya dengan versinya yang sudah dikarang-karang, sementara Rey, ia menceritakan dengan sejujurnya apa yang terjadi. Alhasil cekcok pun kembali terjadi, dan ibunya Leo malah menuduh Rey pembohong. Tentu saja Lara tak terima hal itu, mengingat Rey yang meski suka nakal namun Lara tahu persis anaknya itu tidak suka berbohong.
"Sudahlah nyonya Lara, jangan bela anak nakalmu yang suka bohong itu. Jelas-jelas anakmu itu pembuat onar."
"Nyonya anda ini apa tidak bisa jaga ucapan anda di depan anak-anak!" Lara marah namun masih berusaha mengontrol emosinya.
"Huhu... Rey dia nakal, dia sengaja memecahkan mainanku karena iri, lalu dia malah memukuliku," ucap Leo menangis.
"Bohong! Leo kau mau kupukul lagi!" Kecam Rey tidak tahan ingin marah dan memukul temannya itu.
Akhirnya bu guru pun memanggilkan beberapa saksii yakni dua orang teman sekelas Rey dan Leo. Dan akhirnya kedua anak itu pun bercerita sama persis seperti yang ucapkan Reynde tadi.
"Nyonya kau lihat, anak lain bercerita seperti anakku, jadi aku yakin anakku memukul anak anda pasti karena ada alasannya," tegas Lara.
"Tidak mungkin, pasti anak-anak ini cerita begitu, karena takut dipukuli oleh anakmu!" Tuduh mamanya Leo tak terima anaknya disalahkan.
"Tidak, Rey tidak nakal! Rey anak sangat baik, dia juga sangat pintar, dan pandai melakukan banyak hal, Leo yang justru suka nakal," jelas salah satu teman Rey yang jadi saksi.
"Benar, Leo suka mengganggu anak lain, dan Rey yang justru selalu membela anak lain. Rey memukul Leo karena Leo sering mengejek Rey dengan bilang, Rey anak pungut dan bilang kalau mamanya Rey perempuan tidak baik makanya papa Rey pergi. meninggalkannya," imbuh teman Rey yang lainnya.
Lara langsung syok saat mengetahui hal itu, pasalnya Rey selama ini memang tidak pernah cerita sekalipun kepada Lara kalau dirinya sering diajek seperti itu disekolah. Batin ibu mana yang tidak bergetar dan pedih rasanya mengetahui anaknya ternyata sering dihina begitu.
"Mana mungkin anakku berani bicara begitu pada anakmu?!"" Mamanya Leo masih tidak percaya.
"Tapi kan mama sendiri, yang selalu memberitahuku kalau Rey itu adalah anak pungut karna mamanya tidak benar," ujar Leo dengan polosnya, sontak mamanya Leo pun langsung malu dibuatnya.
"Cukup!" Lara yang sudah muak mendengar semua itu. "Dengar ya nyonya, dari semua penjelasan ini sampai ucapan putramu, ini semua bisa disimpulkan, kalau biang penyebab semua ini adalah anda! Karena apa? Karena sebagai seorang ibu kau tidak becus mengajari anakmu mana yang baik, dan mana yang buruk."
"Hei jaga ucapanmu!"
"Kau yang jaga ucapanmu!" tegas Lara.
Karena tidak mau buang waktu, Lara pun langsung meminta kepala sekolah ambil keputusan. Dan dari semua bukti Leo memanglah yang bersalah, sementara Rey bersalah karena tak segaja mengenai Leo. Kepala sekolah pun memutuskan menskors Leo dan membebaskan Rey.
"Oh iya soal mainan anak anda, aku pasti akan menggantinya. Anda tenang saja, aku tidak semiskin yang anda kira Nyonya," ucap Lara yang kemudian permisi pergi sambil membawa bersamanya.
Di taman sekolah, Lara tiba-tiba saja berlutut dan memeluk putranya sambil menangis minta maaf, karena akibat membela dirinya Rey jadi harus sering berkelahi. "Maafkan mama ya sayang."
Rey yang paling tidak suka mamanya menangis sedih langsung mengusap air matanya dan bekata, "Mama, aku ini seorang anak laki-laki, jadi sudah jadi tugasku untuk melindungimu, jadi mama tidak usah minta maaf dan jangan menangis."
__ADS_1
"Rey anak mama yang terbaik," ungkap Lara bangga.
Rey lalu tersenyum lebar dan berkata, "Lihat, aku tidak pernah menangis kan kalau berkelahi."
"Dasar, anak nakal," ucap Lara sambil mengusap lembut kepala anaknya.
...πππ...
Diruangannya Lara terlihat muram sejak ia kembali dari sekolah putranya. Dirinya jujur masih syok dan sedih mengetahui selama ini ternyata anaknya suka diejek oleh teman di sekolahnya karena tidak punya ayah. Sebagai ibu hati Lara merasa terkoyak, ia merasa bersalah karena tidak bisa memberikan kasih sayang yang seutuhnya di dalam keluarga. Alhasil Lara jadi berpikir, sepertinya ia memang harus segera mempertemukan Rey dengan Vander, karena bagaimanapun Rey harus tau kalau dirinya memang masih punya papa.
Tak lama jam kerja pun usai, Lara membereskan barang-barangnya kemudian bersiap pulang. Namun saat ingin melangkah pergi meninggalkan ruangan, tiba-tiba saja Vander memanggilnya.
"Ada apa tuan, bukankah ini sudah jam pulang kantor?" Ucap Lara dihadapan Vander.
Melihat sang sekretaris dengan polosnya dan seolah tidak ingat janjinya, Vander langsung menarik lengan wanita itu dan merapatkannya ke tubuhnya. Pria itu menunduk dan menatap wajah Lara dengan tatapannya yang tajam, hingga membuat wanita itu jadi salah tingkah.
"Tu- tuan tolong lepaskan, aku harus pulang."
"Pulang?" Vander Setengah tertawa. "Nona, apa kau tahu, aku paling benci orang lupa dengan janjinya sendiri."
Janji? Ah iya janji itu... Lara baru ingat kalau dirinya sudah berjanji pada Vander akan melakukan apapun yang diminta bosnya karena sudah mengizinkannya keluar dijam kerja. "Maaf Tuan aku baru ingat. Jadi, Tuan mau aku melakukan apa?"
Vander mendekatkan bibirnya ketelinga Lara dan berbisik.
"Apa?" Wajah Lara seketika kaget bercampur malu.
"Tuan ta- tapi aku..."
"Stt!" Vander menyentuh bibir Lara yang merekah dengan jemari panjangnya. "Aku sudah bilang, sekali kau membuat janji denganku, maka kau tidak akan bisa lari lagi. Lebih baik sekarang ikut aku, jangan sampai aku lepas kendali disini."
Vander pun langsung menggandeng tangan Lara dan mengajaknya naik mobil bersamanya.
...πππ...
Di dalam mobil, Lara tampak hanya diam saja, raut wajahnya pun terlihat gugup mengingat dirinya tidak tahu sebenarnya kemana Vander ingin membawanya. Yang jelas dimanapun itu tempatnya, Lara sudah pasti akan dibawa ke sebuah kamar mewah dengan ranjang yang besar
Seketika wajah Lara pun memerah dibuatnya. Lara tiba-tiba saja teringat akan bagaimana saat ia dulu pertama kalinya menyerahkan mahkotanya itu untuk Vander dimalam itu. Rasayan benar-benar sakit sekali, tapi Lara bahagia waktu itu. Berbeda dengan kali ini, ia merasa berat hati ingin melakukannya.
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Robert itu pun melewati gerbang memasuki Caelestis Garden. Dimana Caelestis Garden sendiri adalah kawasan apartemen termewah di negeri ini. Pastinya Lara juga tidak perlu bertanya apakah Vander tinggal disini atau tidak, mengingat kawasan apartemen itu dibangun oleh Laizen grup.
Setelah memasuki area Caelestis Garden, Vander langsung mengajak Lara masuk ke unit apartemenya yang terletak di lantai paling atas. Saat masuk Lara langsung dibuat terkesima dengan interior desainnya yang luar biasa indah menggambarkan perpaduanΒ asia eropa.
Lara yang sejak kecil terbiasa dengan hunian mewah, tentunya tidak merasa heran sama sekali dengan kemewahan yang ada apartemen tersebut. Hanya saja, beberapa tahun ini Lara memang sudah tidak lagi tinggal di tempat mewah, dah hal itu membuatnya jadi menyadari kalau, perbedaan orang kaya dan miskin memang terlalu nyata.
Vander langsung membawa Lara masuk ke dalam kamarnya yang super megah. Kamar itu sebagian dilapisi oleh kaca kristal transparan yang mana saat kita memandang keluar seolah kita berada dekat dikelilingi langit. Lara yang tengah sibuk memandangi langit, seketika dibuyarkan oleh Vander yang dengan otomatis menutup jendelanya hingga tak nampak lagi pemandangan langitnya. Pria itu tiba-tiba saja mengambil sebotol anggur berkualitas mahal, dan menuangkannya ke gelas lalu meminumnya sambil duduk diatas ranjangnya yang luas..Dengan tatapan tajamnya yang liar bak serigala, Vander seolah tengah mengintai Lara yang kini berdiri depannya.
Ada apa ini? Kenapa aku tiba-tiba gugup dan takut begini? Padahal dia ini suamiku, melakukan hal dewasa yang intim bersamanya seharusnya bukanlah hal aneh buatku, tapi kenapa sekarang aku malah merasa tidak nyaman?
Lara merasa saat ini dirinya seperti bukan seorang istri dimata Vander, melainkan hanya seorang wanita yang ia minta untuk memuaskan hasrat biologisnya.
"Mendekat padaku," titah pria itu dengan sorot matanya yang seolah tak berkedip menatap Lara.
Meski ragu, tapi Lara sudah terlanjur berjanji, Ia pun berjalan perlahan dan mendekat kehadapan pria bermata tajam itu.
"Tatap aku!" Lagi-lagi perintah Vander terasa begitu mengintimidasi. Namun Lara malah bergeming, dan tetap enggan menatap suaminya. Lara takut menatap tatapan matanya yang dingin.
Melihat apa yang dilakukan Lara, emosi Vander pun mulai tersulut, ia pun langsung menarik sekretarisnya itu duduk diatas pangkuannnya.
"Aku ingin kau yang lebih agresif!"Β Ucap Vander menatap Lara dengan tajam.
Lara tak bisa mundur janji tetap janji, namun hatinya memiliki batas. Bagi Lara pria yang kini menginginkannya bukanlah sepenuhnya suaminya, bagaimana mungkin dirinya bisa dengan senang hati melayaninya?
Lara menyentuh wajah Vander dengan kedua telapak tangannya yang kurus, dan perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir pria itu lalu mengecupnya.
__ADS_1
Ingin rasanya Lara menciumnya dengan mesra dan penuh cinta, namun gejolak hatinya berkata sebaliknya. Ia tidak bisa menikmati itu semua, yang dirasakannya saat ini justru kesedihan yang menyakitkan. Bagaimana mungkin dirinya yang jelas seorang istri namun rasanya tidak seperti demikian. Ia lebih merasa seperti wanita yang tengah melayani seorang pria yang mirip suaminya.
Vander seketika menarik dirinya lepaskan pagutan bibirnya dan menatap Lara dengan sorot mata tidak senang. "Ciumanmu buruk,Β tidak kah kau tau cara memuaskan pria?"
Lara tesenyum pilu, "Aku bukan wanita yang terbiasa melayani pria dengan mudah tuan jadiβ"
Vander geram dan tiba-tiba mendorong Lara jatuh terbarik diatas tempat tidur. Vander meletakan kedua tangannya dikanan kiri kepala wanita itu seraya membuat pagar batasan. Ia menatap dengan intes Lara dan langsung mengecup tiap bagian tubuh sekretarisnya mulai dari leherΒ kebawah.
Lara bisa merasakan hembusan nafas dan bibir Vander yang berkali-kali menyesapi kulitnya. Sayangnya Lara tak bereaksi apapun, yang tampak di wajah Lara saat ini hanya rasa pasrah, tak ingin melawan atau pun menikmatinya. Seketika Vander membalik posisinya meminta Lara duduk diatas perutnya dan melepaskan pakaiannya sambil menatapnya.
Lara pun melakukannya tanpa protes, dibukanya satu persatu kancing kemeja yang menutupi keindahan lekuk tubuhnya tersebut. Sepasang gumpalan daging besar yang padat dan lembut mengantung indah di dadanya. Pemandangan itu tentu akan sangat memanjakan setiap mata pria yang melihatnya, termasuk Vander sendiri. Sayangnya imajinasi liarnya seketika buyar kala ia melihat air mata itu seketika berderai keluar dari pelupuk mata Lara.
Sial! Vander marah menurunkan Lara dari tubuhnya dan menyuruh wanita itu memakai kembali pakaiannya.
"Tuan tapi..."
"Aku membawamu kemari untuk menyenangkanku, bukan malah melihatmu menangis!"
Lara tahu Vander sangat marah sekarang, namun hatinya juga tidak bisa menipu. Ia tidak ingin bercinta dengan pria yang sama sekali tidak memiliki perasaan padanya saat ini meskipun raga itu jelas suaminya.
Tak lama Lara pun sudah mengenakan pakaiannya kembali, sementara Vander ia terlihat mengambil mantelnya dan memakainya. Pria itu langsung menggenggam kunci mobil merk porsche miliknya yang jarang ia pakai ke kantor.
"Ambil tasmu aku antar kau pulang!" Seru Vander tampak dingin.
...πππ...
Akhirnya Lara diantar pulang oleh Vander, melihat dirinya yang kini duduk bedampingan dengan Vander disatu mobil, membuat Lara ingat akan masa lalu. Dimana dirinya dulu selalu saja naik mobil bersama Vander dimana pria itu yang selalu menyupirinya. Hanya saja kali ini berbeda, jika Lara adalah bawahannya sementara Vander bosnya.Terlalu banyak hal yang mengingatkan masa lalunya dengan sang suami.
Tak terasa sudah mau sampai ke dekat apartemen Lara. Ia pun meminta Vander berhenti di tempat yang sama saat ia dan Robert mengantarnya waktu itu. Sayangnya kali ini Van menolak berhenti, ia memaksa ingin mengantar Lara sampai ke depan hunian apartemennya. Melihat suasana hati Vander saat ini buruk, Lara pun akhirnya menurut diantar sampai kedepan gerbang apartemennya.
Akhirnya Vander berhenti tepat di depan gendung apartemen Lara, yang jika dibandingakn dengan Caleistis Garden tempat Van tinggal sungguh bagai bumi dan langit.
Setelah melepas sabuk pengamannya dan berterima kasih, Lara pun bergegas untuk keluar mobil.
"Tunggu!" Vander tiba-tiba menahan Lara yang ingin keluar dari mobilnya itu.
"Jangan menangis, aku minta maaf tapi jangan menangis lagi. Kalau ada sesuatu yang tidak menyenangkan katakan saja padaku," ucap Vander tiba-tiba terdengar peduli.
Lara yang masih menatap Vander langsung mencium bibir suaminya itu dan berterima kasih. "Terima kasih karena kau masih peduli dengan perasaanku. Aku permisi, selamat malam tuan Vander," ucap Lara lalu keluar dari mobil Vander.
Lara Hazel, wanita seperti apa sebenarnya dirimu? Kenapa selalu ada rasa yang tidak bisa aku jelaskan tiap kali aku didekatnya.
...πππ...
Keesokannya, di ruang tengah rumahnya tampak Rey dan Emika yang kini terlihat kompak menyantap puding karamel yang dingin sambil membicarakan sesuatu.
"Lalu selanjutnya bagaimana? Kau jadi kan menjodohkan Tuan Vander dengan kak Lara?"
"Pasti!" Sahut Rey yang sepertinya sudah memiliki rencana untuk mendekatkan ibunya itu dengan bosnya.
"Kalau begitu bagaimana caranya?"
"Bibi mendekat kesini," Rey menyuruh Emika mendekat dan langsung berbisik ditelingan gadis itu.
"Wah... idemu bagus juga," pungas Emika setelah mengetahui rencana pria kecil itu.
"Bagaimana? Bibi akan mendukung rencanaku kan?"
"Oh tentu saja! Aku akan jadi garda depan pendukung pasangan tuan Vander dan Kak Lara berlayar!" Ujar Emika penuh semangat!
"Bagus! Mari kita sukseskan perjodohan ini!"
Mama kau tenang saja, sebentar lagi mama tidak akan kesepian lagi, karena aku akan buat Paman Vander jadi papaku!
__ADS_1
...πππ...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS π