Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Dua manusia Licik


__ADS_3

Karina pulang dari Miracle dengan perasaan kesal. Bagaimana ia tidak kesal, dirinya baru saja ditolak ajakannya oleh Van.


"Dasar sialan!" Umpat Karina.


"Nona Karina ada apa?" Tanya sekretaris Karina yang berjalan dibelakangnya.


"Tidak apa-apa, aku hanya sedang kesal!" Karina terus marah-marah sebab tidak terima, ia merasa malu ditolak Van apalagi di depan Lara. "Pasti gadis itu sedang besar kepala saat ini!" Karina yang terus saja emosi di sepanjang lobi pun sampai tak melihat jalan, akibatnya ia bertubrukan dengan seorang pria yang tangannya di gips.


"Argh! Hati-hati!" Seru pria yang bertubrukan dengan Karina tersebut.


Karina yang dikenal cukup angkuh pun balik memarahi pria itu. "Tuan kau itu apa tidak punya mata!"


"Wanita sial, kau yang tidak lihat-lihat!"


"Kau!" Ucap keduanya bersamaan.


"Tu- tunggu, sepertinya kau tidak asing bagiku," ucap Karina. "Ah ya aku ingat, kau Jeden Lee kan?"


Dia kenal aku, siapa wanita ini? Jeden masih samar-samar mengingat Karina. "Oh iya, kau ini kan Karina Foster pemimpin Appletree yang baru kan?"


"Kau masih ingat aku ternyata," balas Karina tak menyangka.


"Tentu saja, dulu kan saat masih kuliah kita sempat satu tempat kursus bahasa asing. Dan kau tetaplah tidak berubah, tetap jadi gadis yang angkuh."


Karina tersenyum bangga. "Kau sendiri, apa kau bekerja disini?"


"Ya, aku direktur pemasaran di perusahaan ini. Oh iya Nona Karina Foster apa yang kau lakukan di Miracle?" Tanya Jeden penasaran.


"Aku ada kepentingan bisnis dengan pimpinan perusahaan ini."


Jeden jadi makin penasaran dengan kedatangan Karina ke Miracle bertemu Lara. Apa Lara dan Karina akan menjalin kerja sama? Aku harus cari tau soal itu.


"Oh iya Nona Karina, mengingat sebentar lagi sudah masuk jam makan siang bagaimana kalau kita makan siang bersama, sekaligus merayakan pertemuan kita kembali," ajak Jeden.


Karina tampak mempertimbangkan ajakan Jeden. Sepertinya Jeden bisa aku jadikan informan tentang hubungan apa sebenarnya diantara Lara dan Van.


"Bagaimana Nona Karina apa kau bersedia?"


"Um... Boleh juga."

__ADS_1


"Kalau begitu kita naik mobilku saja, nanti biar aku antar kau kembali ke kantor Appletree setelah makan siang."


"Baiklah." Karina pun akhirnya mau diajak makan siang bersama Jeden dengan maksud dan tujuan. "Kalau begitu Chika kau kembali saja duluan. Aku mau makan siang bersama Tuan Jeden," perintah Karina pada sekretarisnya. Ia pun pergi ke restoran bersama dengan Jeden.


**


Van berada di ruangan Lara saat ini, gadis itu pun bertanya apa sebenarnya tujuan Van ingin bertemu dengannya.


Van yang masih berdiri pun diminta duduk oleh Lara.


"Jadi kau mau bilang apa Van?" Tanya Lara yang duduk kemudian disebelah Van.


"Aku sebenarnya mau bilang pada Nona kalau, pakaian Nona yang kemarin masih berada dikeranjang  kamar mandi apartemenku. Dan aku tidak tahu harus diapakan," jelas Van dengan wajah datar.


"Oh soal pakaianku." Soal pakaiannya yang ia pakai saat dibawa ke apartemen Van, sebenarnya memang sengaja Lara tinggal saat itu. Hal itu ia lakukan supaya dirinya ada alasan lagi untuk bisa ke apartemen Van.


"Jadi pakaiannya harus aku apakan Nona?" Tanya Van lagi.


"Biarkan saja disana, nanti sepulang kerja biar aku kesana untuk mengambilnya."


"Oh jadi begitu ya? Baiklah kalau begitu."


"Um itu... A- aku tidak bisa," ucap Van dengan agak malu-malu.


"Eh kenapa memangnya? Memangnya bajuku bau sekali ya sampai kau tidak mau pegang?" Tanya Lara dengan polosnya.


"Bu- bukan begitu, hal itu karena selain pakaian ada pakaian—"


"Ah iya iya aku tau! Sudah tidak usah disebutkan!" Lara seketika baru sadar dan malu. Ia baru ingat kalau selain pakain yang ia kenakan, pakaian dalam yang ia kenakan juga ia tinggal dikamar mandi Van. Ya ampun aku malu sekali... Apa jangan-jangan Van sudah tau ukuran cup bra milikku? Astaga! Membayakannya saja wajah Lara langsung berubah merah seperti kepiting rebus dibuatnya.


**


Jeden dan Karina menikmati makan siang di sebuah restoran mewah yang ada di kota ZR. Ditengah menikmati makan siang, Jeden bertanya kepada Karina apa sebenarnya alasan ia mau bekerjasama dengan Miracle.


"Aku rasa itu bukan hal aneh jika aku setuju bekerjasama dengan Miracle, lagipula Miracle adalah perusahaan top di kelasnya bukan?" Jelas Karina yang kemudian kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Ya memang bukan hal aneh tapi, bukahkah kemarin-kemarin kudengar kau tidak tertarik bekerjasama dengan Mircle? Lalu kenapa kau tiba-tiba tertarik, bahkan kau sampai datang sendiri menemui Lara. Bukankah itu hal yang tidak biasa bagi seorang wanita seperti Karina Foster?" Jeden sepertinya paham dengan sifat Karina yang angkuh.


Karina meneguk winenya lalu berkata, "Sejujurnya aku memang tidak tertarik, mengingat performa Miracle belakangan ini tidak terlalu memuaskan. Tapi melihat proposal yang ditawarkan Lara dua hari yang lalu aku jadi sedikit tertarik."

__ADS_1


"Kau yakin hanya karena itu ?" Telisik Jeden yang tidak puas dengan jawaban Karina. Pria itu yakin kalau alasan Karina tidak mungkin sesederhana itu.


Karina tersenyum masam. "Sepertinya kau ini memang orangnya suka sekali ingin tau urusan orang lain ya Tuan Jeden?"


"Bukankah sifat kita sedikit banyak sama? Jadi lebih baik kau jujur saja padaku, siapa tau aku bisa bantu." Jeden mencoba merayu Karina.


Karina menghela nafas. "Kalau begitu apa kau tau persis latar belakang siapa sebenarnya pengawal Lara Hazel itu?"


Jeden mengerutkan kening, "Jadi kau tertarik dengan pria busuk itu?"


"Jawab saja!"


"Van, dia pengawal Lara yang bekerja belum lama ini. Aku juga baru tau soal dia sejak pulang dari tokyo, dan sejujurnya dia orang yang menyebalkan!"


"Sepertinya kau tidak suka pada Van ya?" Goda Karina.


"Ya! Karena pria busuk itulah yang buat tanganku begini!" Jeden memasang raut wajah marah.


Karina tertawa meledek. "Wow, Van memang sangat perkasa ya sampai membuatmu jadi begitu?" Ujar Karina.


"Cih! Dia hanya seperti bawahan yang tengah menjilat majikannya."


Sepertinya Karina salah sasaran. Ternyata Jeden tidak suka dengan Van, kalau begini Karina jadi ragu apakah Jeden bisa membatu Karina mendekati Van.


Karina terlihat mengelap bibirnya setelah selesai makan. "Aku sudah selesai, sebaiknya kita kembali karena sudah tidak ada yang bisa kita bicarakan lagi," ungkap Karina.


"Tunggu, sebelum kita pergi bagaimana kalau kita kerjasama?" Jeden sepertinya mencoba membuat penawaran untuk Karina.


Karina menyeringai kecil. "Kerjasama denganmu? Untuk apa?"


"Untuk mendapatkan tujuan kita masing-masing. Aku tau tujuanmu adalah Van, iya kan?"


Karina lagi-lagi  menyunggingkan senyum masam. "Kerjasama dengamu? Aku rasa aku tidak tertarik karena aku tau seperti apa dirimu Jed. Sudahlah lebih baik kita pergi aku harus segera kembali ke kantor!" Ucap Karina yang kemudian bersiap lalu berjalan duluan.


Melihat gaya angkuh Karina menolak penawarannya, Jeden hanya bisa mengumpat pelan, "Lihat saja wanita sombong, aku yakin suatu saat nanti kau pasti akan butuh bantuanku!"


Bersambung...


Like, comment dan share ya guys...ZR

__ADS_1


__ADS_2