Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Tamparan keras


__ADS_3

"Wow wow! Lihat siapa yang aku jumpai? Nona Lara bersama pengawalnyakah? Oh atau aku panggil saja Tuan putri dan bawahannya yang dipungut dari jalanan?" Sambil berkelakar dan suara yang cukup keras Jeden mengatakan cemoohannya itu, hingga membuat para pelayan dan pengunjung di toko itu dengar.


Lara yang tidak suka dengan perkataan Jeden yang merendahkan Van barusan itu pun marah. "Jeden, maksudmu apa sih bicara begitu?!"


"Loh kenapa Nona? Apa kau malu? Bukankah apa yang aku katakan itu adalah fakta. Pria disampingmu itu memang kenyataanya hanya gelandangan rendahan yang kau pungut," ungkap Jeden lagi-lagi dengan maksud merendahkan Vander.


Akibat ucapan Jeden para pelayan toko itu pun mendadak saling bergunjing melontarkan tanggapan mereka tentang Lara dan Vander.


Apa? Jadi pria tampan itu pengawalnya Nona cantik itu?


Astaga! Aku kira dia setidaknya model atau semacamnya, ternyata hanya pengawal.


Dan katanya dia gelandangan, aku tidak percaya ada gelandangan setampan dia.


Tapii bisa saja, mungkin Nona itu menyewanya untuk dijadikan pacar sewaan?


Ya ampun apa dia seorang sugar mommy?


Pria miskin dan Nona kaya raya, itu lucu kedengarannya seperti kisah drama.


"Jeden jaga ucapanmu!" Bentak Lara.


"Kenapa? Aku kan tidak mengatakan kebohongan. Aku justru aneh dengan dirimu, bagaimana mungkin wanita sekelas dirimu berjalan bersama pria rendahan seperti dia," Jeden menatap Van yang raut wajahnya sama sekali tidak ada ekspresi.


Lara menoleh melihat Van disebelahnya diam saja. Apa dia marah? Apa Van diam saja karena malu telah dipermalukan? Lara jadi merasa tidak enak takut Van marah dan sakit hati.


"Hei gelandangan! Kenapa kau diam saja, tidak bisa menjawab karena yang aku bicarakan fakta ya—"


"Jeden Lee cukup!" PLAK! Lara menampar pipi Jeden dengan keras.


Vander langsung kaget melihat Lara yang tiba-tiba menampar Jeden. Ditambah lagi melihat telapak tangan Lara yang memerah akibat menampar wajah Jeden sepertinya Lara benar-benar emosi kali ini.


"Lara beraninya kau menamparku!"


"Aku bahkan bisa menamparmu lebih keras lagi kalau kau masih berani bicara kurang ajar!"


"Kau!" Jeden emosi dan hampir balik menampar Lara, untungnya Van langsung menghentikan tangan Jeden.


"Ughh...! Lepaskan tanganmu dasar gembel busuk!" Seru Jeden yang kesakitan karena tangannya di cengkram keras oleh Van.


Pria itu menatap Jeden dengan tatapan dingin dan menusuk. "Sepertinya kau ingin aku mematahkan tanganmu untuk kedua kalinya ya Tuan?'

__ADS_1


Jeden masih mengerang kesakitan.


"Omong kosong kau pria tengik, lepaskan tangan kotormu dariku!" Pekik Jeden murka.


Melihat makin banyak yang memperhatikan, Lara yang tidak ingin kekacauan ini makin berlarut dan nantinya malah membuat kehebohan yang lebih besar, ia pun mengajak Van agar segera pergi dari tempat itu. "Van sudahlah lebih baik kita pergi dari sini."


"Baik Nona," Vander pun menurut dan melepaskan tangan Jeden dengan kasar. Kalau Lara tidak menghentikannya mungkin sudah Van patahkan tangan Jeden untuk kedua kalinya.


Lara dan Vander pun akhirnya pergi meninggalkan toko itu.


"Sialan kau Vander! kau lihat, aku akan segera buat kau menyesal, tunggu saja! Dan kau Lara, aku akan beri kau pelajaran!" Ujar Jeden dengan marah.


**


Di parkiran, sebelum masuk ke dalam mobil Van bertanya pada Lara, "Nona apa kau tidak apa-apa?"


"Aku tidak apa-apa kok."


"Tapi aku barusan aku lihat tangan Nona merah karena habis menampar dengan keras."


"Ah itu cuma agak panas sedikit nanti juga hilang sendiri," ungkap Lara tidak ingin Vander terlalu mengkhawatirkannya. "Justru aku yang seharusnya tanya. Apa kau baik-baik saja. Aku minta maaf, karena gara-gara aku mengajakmu ke toko itu malah berakhir begini." Lara terlihat sangat menyesal dan merasa bersalah pada Van.


Vander lantas mengangkat dengan lembut wajah Lara yang tertunduk pilu lalu tersenyum. "Nona tidak perlu merasa bersalah. Apa yang terjadi tadi sama sekali bukan salahmu jadi jangan menyalahkan dirimu."


"Nona tidak usah memikirkannya, aku tidak masalah dengan apa yang dikatakan tuan Jeden tadi. Lagipula ucapan Jeden bagiku tidak penting sama sekali."


"Kau yakin? Kau tidak sakit hati?" Lara merasa belum yakin kalau Van sungguh baik-baik saja perasaannya.


Van mengangguk dan menyakinkan Lara. "Kenyataannya aku memang gelandangan yang kau angkat jadi pengawalmu, dan hal itu sama sekali tidak masalah buatku. Bagiku bisa melindungi dan melihat Nona Lara sehat serta bahagia sudah lebih dari cukup. Aku tidak peduli dengan mereka yang mencemoohku, aku baru akan sangat murka jika ada yang berani mengganggu apalagi menyakiti Nonaku." Pria itu lalu mengecup tangan Lara.


Wajah Lara pun seketika merona dan matanya berkaca-kaca.


Lihat caramu memperlakukanku, wanita mana yang tidak akan jatuh cinta denganmu Vander? Aku hanya bisa berharap kau tidak akan memperlakukan wanita lain seperti kau memperlakukanku saat ini.


"Nona Lara?" Panggil Van melihat Lara melamun.


"Eh maaf aku melamun, oh iya ini miliku," Lara memberikan dasi yang dibelinya tadi kepada Vander.


Van tersenyum kecil lalu menerima hadiah itu dari Lara. "Terima kasih Nona Lara."


"Karna itu hadiah pertamaku untukmu, jadi kau harus jaga baik-baik," pesan Lara.

__ADS_1


"Pasti! Aku akan jaga pemberian ini baik-baik, tapi..." Van tiba-tiba mendekatkan bibirnya ke telinga Lara. "Bukankah hadiah pertama yang kau berikan untuku itu tidak berbentuk benda ya? Contohnya seperti yang dimobil semalam."


Telinga Lara langsung dibuat memerah karena malu digoda oleh Vander begitu. Ia pun jadi kesal dan salah tingkah dibuatnya.


"Vander kau menyebalkan!"


"Nona aku kan cuma bercanda loh," kata Van sambil tertawa.


"Lalala... Aku tidak peduli," jawab Lara sambil menutup telinganya. "Sudah ayo pulang," ujar Lara agak ngambek karena malu.


***


Jeden yang masih tidak terima dengan kejadian tadi marah-marah di di dalam apartemenya. Ia bahkan membanting vas bunga yang ada disebelahnya.


PRAK! suara vas bunga pecah.


"Sialan kau Vander!" Pekiknya tampak begitu murka. "Sejak pria itu ada di dekat Lara, gadis itu jadi semakin berani saja padaku. Bahkan hari ini beraninya dia menamparku didepan umum. Sepertinya aku sudah terlalu menyukainya hingga gadis itu jadi besar kepala, lihat saja Lara aku akan beri kau pelajaran, dengan begitu kau tidak akan berani lagi melawan padaku."


DRIP DRIP! Getar bunyi ponsel Jeden.


Jeden : Halo nona Eva


Eva : Bagaimana apa kau sudah tau caranya memancing Van agar bisa datang menemuiku?


Jeden : Aku belum tau caranya, tapi aku ada info buatmu. Saat ini Van tengah dekat dengan seorang gadis pemilik Miracle grup. Dia adalah bosku Lara Hazel, dan aku ingin kau bantu aku membuat mereka berdua menjauh setelah itu aku dan kau bisa mendapatkan tujuan kita masing-masing.


Eva : Oke kalau begitu aku akan ikuti permainanmu.


Jeden : Bagus!


***


Eva yang kini sedang minum di sebuah bar mendadak terlihat marah setelah selesai menelepon Jeden. "Vander brengsek! Jadi dia sudah menemukan pengganti Nagisa?!"


Eva tiba-tiba mengeluarkan liontin dari berbentuk hati dalam saku bajunya. Di dalamnya liontin itu terdapat sebuah foto dirinya bersama satu perempuan, Eva yang memandanginya tampak bersedih dan terluka. "Kau tenang saja adiku, aku tidak akan membiarkan pria itu bahagia!" Pungkas wanita berusia 30 tahun itu dipenuhi rasa dendam.


***


Vander yang baru selesai mandi, langsung dari arah dapur bisa mencium aroma lezat makanan yang dimasak Lara. Karena penasaran ia pun langsung berjalan ke dapur untuk memastikannya.


Bersambung...

__ADS_1


Tolong di vote, like, dan comment ya... 💜


__ADS_2