Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Bermain Kasar


__ADS_3

Setelah bercinta sepasang kekasih itu saling bergelung mesra dibalik selimut yang menutupi tubuh polos keduanya. Sementara itu, Lara yang berada disebelah Vander yang tengah tidur terlelap sambil mendekapnya, tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya. Gadis itu pelan-pelan bergeser menaikan tubuhnya keatas, menyandarkan kepalanya di satu tangan yang menyiku diatas bantal dan memandangi kekasihnya yang sedang terlelap tidur.


Ranjang ini jadi agak sedikit sempit bagi Lara. Maklum saja menang ranjang di mess ini tidaklah sebesar di apartemen miliknya, sehingga jika ditidurinya berdua dengan Vander yang tubuhnya cukup besar membuat ranjang ini terasa agak sempit.


Gadis itu terus tersenyum memandangi wajah sang kekasih yang kini berada sejajar dengan buah dadanya. Ia mengusap perlahan tiap sisi wajah tampan kekasihnya itu dengan jemarinya yang ramping. "Kalau sedang tidur, dia terlihat tenang dan manis sekali, membuatku jadi semakin sayang," ucap Lara sambil senyum-senyum sendiri. "Pacarku ternyata memang sangat sangat tampan, pantas saja banyak wanita suka padamu!" Gumam Lara menggerutu.


"Terima kasih pujiannya," ucap Vander yang matanya tiba-tiba terbuka, hingga mengagetkan Lara.


"Eh? Jadi kau pura-pura tidur!?"


"Kalau aku langsung membuka mataku, nanti kau jadi tidak mau memandangiku sambil memuji," ungkap Vander.


Lara mencubit hidung Van yang mancung itu. "Kau tampan tapi juga seringkali menyebalkan dan nakal," ungkap Lara.


"Tapi Nona tetap suka kan kalau aku nakal?" Ujarnya sambil memainkan kedua buah dadanya yang penuh di cangkupan tangan pria itu.


"Ehm... kau anak yang nakal!"


"Boleh aku tanya, kenapa kau bisa jatuh cinta padaku Nona?"


"Karena kau tampan!"


"Hanya itukah? Kalau aku tiba-tiba berubah jelek dan kumal seperti saat aku jadi gelandangan apa kau masih akan cinta padaku?"


Lara tersenyum miring lalu mengusap mesra wajah sang kekasih, "Aku merawat dan memperhatikan dirimu dengan baik, bagaimana mungkin kau jadi gelandangan lagi!" Pungkas Lara. "Dan dirimu sendiri, sejak kapan kau jatuh cinta padaku?"


"Sejak aku menggendongmu di hari pertama kali kita berjumpa."


"Kau pasti bohong," Ujar Lara tidak yakin dengan ucapan Vander.


"Terserah kau percaya atau tidak tapi itulah kenyataannya. Di hari itu aku langsung jatuh hati melihat parasmu yang menawan. Aku tidak munafik, aku pria normal yang juga menilai wanita dari fisiknya. Tapi waktu itu melihat rupaku sendiri yang memprihatinkan tentu saja aku merasa tidak pantas," ungkap Vander.


Lara tertawa geli. "Kenapa ceritamu seperti drama sih!"


"Hidup kita memang drama dunia nyata sayang," balas Vander yang masih saja memainkan kedua gundukan besar di dada Lara.


"Oh iya soal Akina, sebaiknya kita apakan dia?" Van tiba-tiba membahas Akina.


"Disaat begini kenapa kau malah bahas wanita jahat itu!" Lara protes tidak suka mendengar Vander menyebut namanya. Terlebih Lara sudah mengetahui alasan kenapa Akina berbuat hal jahat itu padanya.


"Aku tidak bermaksud... Eh?" Van kaget karena Lara tiba-tiba menutupi dadanya dengan selimut sehingga dia jadi tidak bisa menghisapnya.


"Kau marah?" Tanya Vander mendongak.


"Aku tidak suka kau menyebut namanya didepanku. Atau... Jangan-jangan kau sudah jatuh hati padanya ya?" Kesal Lara.


Van terkekeh kecil. "Pacarku adalah Lara Hazel, bagaimana mungkin aku merendahkan seleraku dengan berpaling pada wanita buruk macam dia, kau terlalu sempurna disandingkan dengan wanita manapun yang aku temui selama ini. Lagipula aku membahas wanita itu karena aku ingin dia dapat ganjaran atas apa yang dia lakukan padamu sayang," ucap Van penuh bujuk rayu.


Kenapa sih dia selalu punya kata-kata manis untuk merayuku? pertahananku kan jadi runtuh! "....Baiklah kalau memang begitu. Dan untuk Akina biar besok aku sendiri yang akan menemuinya dan memberinya pelajaran! Aku tidak akan membiarkan begitu saja wanita yang mencoba merebut pacarku!"


"Kau sungguh tidak mau aku direbut ya?" Van menggoda Lara.


"Tentu saja, memang ada wanita yang rela prianya direbut wanita lain!"


"Kalau begitu... kau tidak marah lagikan?" Ucap Vander yang kemudian perlahan menyusup masuk masuk ke dalam selimut dan langsung menyesapi buah dada Lara.


"Anak nakal! Siapa yang mengizinkanmu menyesapinya?" Protes Lara sambil terpejam merasakan kenikmatan. Vander sendiri tak peduli ia malah semakin lahap menghisapnya. Setelah puas menyesapi dadanya, lidah Vander yang lihai mulai menjilati terus kebawah hingga pada akhirnya terhenti pada bagian paling sensitif milik Lara yang sudah basah. Pria itu membenamkan kepalanya diantara kedua selangka kakinya yang terbuka. Lara mngejang dan mendesah ia tidak bisa melihat Vander saat ini karena tertutup selimut, namun ia bisa merasakan kenikmatan yang dibuat saat bibir dan lidahnya melahap rakus bagian paling sensitif ditubuhnya.


"Van apa kau ingin..." Rintih Lara sudah tidak bisa menahan.


"Ya aku ingin memakanmu lagi," tegas Vander seketika menyingkirkan selimut yang menutupi mereka. Tatapan tajamnya yang sensual menatap sanga wanita yang terbujur indah diatas ranjang tanpa sehelai benang. Lara bisa melihat kekasihnya itu dengan tangan mengusap bibirnya yang basah karena cairan milik Lara.


"Vander..." Lirih gadis itu dengan tatapan sayu.


"Aku suka mendengarmu menyebut namaku seperti itu, terdengar sangat manis, dan membuatku bergairah," ucap pria itu tiba-tiba, entah pujian atau bukan tapi bagi Lara itu membuatnya jadi malu.


Pria itu sudah bersiap dengan miliknya yang sudah tegak mengeras sejak tadi. Vander menatap dengan lembut Lara yang kini berada dibawah tubuhnya. "Ini malam terakhirmu disini setelah itu kita akan kembali berpisah, jadi aku mohon maafkan aku kalau tiba-tiba bermain kasar malam ini."


Lara sebenarnya agak takut mendengarnya bicara begitu, tapi entah kenapa dewi batinnya justru berkata lain. Mata sayunya pun menatap Vander, ia tersenyum kecil dengan polosnya. "Lakukan apapun aku milikmu," ucap Lara melingkarkan tangannya ketubuh kekar kekasihnya itu.


"Aku mencintaimu sayang," ujar Vander yang kemudian langsung memasukan miliknya yang besar dan keras ke dalam tubuh wanitanya. Lara pun sontak dibuat merintih kecil hingga memeluk langsung memeluk seerat mungkin tubuh Vander.

__ADS_1


"Kau boleh berteriak, menangis, memukulku bahkan mencakarku sesukamu, karena kali ini aku tidak akan berhenti sampai aku puas, kau paham?" ucap Vander sebelum mulai bergerak.


"Hem," sahut Lara sambil terus memeluknya erat.


"Gadis pintar!" Vander pun akhrinya bergerak dan mendominasi permainan.


**


Keesokan harinya di rumah sakit Akina terlihat sudah sadar dan sehat kembali, hanya lehernya saja masih sakit dan agak nyeri karena Vander mencengkramnya cukup kuat kemarin. Wanita itu terlihat duduk berselonjor di ranjang rumah sakit. T


Tak lama kemudian, Johan sang ayah datang dengan membawa makanan untuk putrinya itu. Karena sejak tadi pagi Akina tidak mau makan makanan rumah sakit sebagai ayah, Johan pun berinisiatif membelikan makanan kesukaan sang putri.


"Nak, ini ayah belikan sup ayam jamur kesukaanmu, kau makan ya!" Ucap Johan. Pria itu menyendok sup itu dan disodorkan ke mulut Akina, namun sayangnya wanita itu tetap bergeming dan tidak mau membuka mulutnya.


"Nak... Tolong makanlah sesuap saja, aku tidak mau kau sakit lagi," pinta Johan.


Sayangnya putrinya yang keras kepala itu tetap saja bersikukuh tidak mau makan. Ia malah bersikap ketus, "Ayah sudahlah tidak usah pedulikan aku!"


"Tapi kau putriku bagaimana bisa aku tidak peduli padamu?" Ungkap Johan.


"Aku benci dia ayah! Aku benci wanita bernama Lara itu!" Pekik Akina marah.


Melihatnya putrinya Johan jadi merasa iba, tapi bagaimanapun kenyataan tidak bisa dilawan. Sebagai ayah Johan hanya bisa memberi pengertian pada putrinya itu. "Nak sudahlah, kau harusnya sudah sadar kalau Vander tidak memiliki perasaan padamu. Kalau dia memiliki perasaan padamu tidak mungkin ia menyakitimu seperti ini."


"Tapi kenapa ayah...? Kenapa dia tidak suka padaku, apa karena aku tidak secantik Lara? Apa aku tidak pantas mencintai dan dicintai?" Ujarnya seraya meratapi nasib.


"Tidak nak tidak, kau cantik dan kau pantas untuk dicintai," ucap Johan tidak ingin putrinya makin terpuruk.


"Dua tahun lalu aku ditinggal oleh orang yang aku cintai! Dan sekarang, pria yang aku cintai malah memilih wanita sialan itu!" Pekiknya marah.


"Siapa wanita sialan yang kau maksud itu?" Pungkas Lara yang tiba-tiba saja sudah berada di ambang pintu. Lara yang mengenakan setelah modis lengkap dengan syal merah jambunya ditemani Miranda masuk ke ruangan Akina dan menemuinya.


"Mau apa kalian kesini!" Seru Akina marah.


Lara yang berdiri angkuh dengan tangan dilipat diperutnya tersenyum angkuh. "Kau pikir aku sudi menemui wanita tidak tau malu sepertimu tanpa tujuan?"


"Sialan pergi kalian!" Usir Akina.


"Tidak, aku tidak akan pergi sebelum memberimu pelajaran!" Ucap Lara menatap garang ke arah Akina.


Johan yang takut Akina makin membuat Lara marah, memohon kepada Lara agar ia memaafkan putrinya.


"Paman, kemarin itu alasan aku menghentikan Vander membunuh adalah, karena aku tau dirimu sangat menyayangi putrimu dan takut kehilangan dirinya sebagai satu-satunya keluargamu. Tapi kali ini, tolong jangan ikut campur urusanku dengan putrimu," tegas Lara.


"Cih dasar j*lang!" Akina bangkit dari tempat tidurnya dan langsung menghampiri Lara.


"Mau apa kau?" Bentak Mira takut wanita gila itu menyerang Lara.


"Tenang saja Mira." Lara dengan tenang menghadapi Akina yang terlihat marah. "Kenapa Akina? Kau mau marah, bukankah seharusnya kau minta maaf karena sudah mau mencelakaiku? Atau tidakkah kau minta maaf karena sudah dengan tidak tau malunya ingin memiliki kekasihku?" Ujar Lara meninggikan suaranya.


Akina tertawa geli, "Minta maaf? Cih! Untuk apa minta maaf. Aku malah menyesal, kenapa aku tidak membunuhmu saja langsung di dapur saat itu. Dan satu lagi, aku merasa tidak malu sama sekali mengatakan ingin memiliki Vander, karena menurutku aku bisa memberikan dia lebih darimu. Asal kau tau, menurutku kau itu hanya wanita manja yang sok manis yang munafik dan-"


PLAK! Lara menampar dengan keras pipi Akina hingga merah.


"Sial beraninya kau!"


PLAK! Lara menampar Akina untuk kedua kalinya.


Akina memegangi pipinya yang perih karena ditampar Lara. Ia ingin membalas Lara namun dihalangi oleh ayahnya. "Lepaskan aku ayah! Biarkan aku menampar balik wanita sialan itu!" Pekik Akina mengamuk.


Miranda khawatir ia pun meminta Lara agar segera menyelesaikan semua ini.


"Aku paham Miranda," Lara kembali menatap Akina dengan sikap jumawa.


"Kurasa cukup basa basinya, aku kemari hanya ingin memberitahumu kalau polisi sebentar lagi akan datang kesini menangkapmu."


"Apa polisi?!" Johan syok.


"Ya! Aku dan paman kemarin sepakat melaporkan perbuatanmu. Oleh karena itu aku ingatkan dirimu untuk bersiap dijemput polisi sebentar lagi."


"Lara sialan!" Akina berteriak marah. Kali ini Johan kebingungan, ia hanya bisa memohon agar Lara mengampuni putriknya.

__ADS_1


"Paman Johan maaf, kali ini aku tidak bisa bantu, karena yang melaporkanmu ada dua orang dan sisanya polisi sendiri yang akan menentukan hukuman untuk putrimu."


"Wanita sialan, berani kau melaporkanku!" Maki Akina tak terima.


Lara menatap Akina sambil tertawa mengejek. "Menyedihkan sekali, andai kau tidak mengikuti egomo dan berbuat jahat, kau pasti saat ini masih berada bebas menghirup udara RK yang segar ini. Sayangnya... Kau lebih memilih untuk jadi tidak tau malu dan menganggapku saingamu yang harus kau singkirkan, sungguh miris sekali," ucap Lara.


"Oh iya satu lagi, sebelum aku pergi ada satu hal yang harus kau tau. Sebelum kau menganggapku sainganmu, seharusnya kau berkaca dulu dimana levelmu. Karena jujur saja, kau sama sekali bukan levelku Akina... Jadi belajarlah untuk tau diri!" Ucap Lara lalu meminta polisi masuk untuk menangkapnya.


"Polisi silakan urus wanita itu," ucap Lara yang merasa sudah tidak ada lagi urusan disini. Ia dan Miranda pun pergi meninggalkan ruangan Akina, yang kini sudah berada ditangan polisi.


**


"Wow! Tadi itu kau terlihat sangat keren!" Puji Miranda melihat sikap Lara tadi.


"Benarkah?" Lara tidak yakin.


"Ya, dan seharusnya kau lebih sering bersikap begitu di Miracle supaya sebagian pegawaimu yang tidak tau diri itu, tidak seenaknya meremehkan dirimu," pungkas Miranda yang kesal sendiri.


Lara tertawa kecil. "Mungkin bisa dicoba saat kita kembali nanti."


**


Akhirnya setelah pamit dengan warga lain di RK, tiba saatnya Lara, Mira dan Gavin berangkat pulang kembali ke kota ZR. Vander yang mengantar mereka pun seolaj jadi ingin ikut kembali pulang.


Bukan hanya Vander, sepertinya Lara juga agak berat untuk berpisah, lihat saja gadis itu masih saja memeluki kekasihnya itu dengan erat padahal Gavin dan Mira sudah siap mau masuk ke mobil.


"Sebenarnya aku masih betah disini, tapi aku harus kembali..." Ucap Lara dengan lesu.


"Tenang saja, dua minggu lagi aku juga sudah kembali. Kau jangan lesu, aku tidak tenang jika membiarkanmu pergi dengan wajah tidak semangat begini," ungkap Vander membelai kedua pipi Lara.


Lara menghela nafas, lalu berusaha ceria. "Iya aku semangat kok! Tapi ingat, disini kau jangan sampai terperdaya oleh wanita sejenis Akina itu. Awas saja kalau kau sampai mhh-"


Pria itu langsung mengecup bibir Lara dengan lembut. "Kau cerewet sekali kalau cemburu. Kau tenang saja, karena sejak aku mengenalmu wanita lain jadi tampak tidak cantik sama sekali di mataku," ucapnya.


"Dasar tuan gombal!"


"Aku bicara fakta bukan menggombal!"


Mereka lalu berciuman mesra sebelum akhirnya Lara pergi meninggalkan kota tersebut.


"Ya ampun, sebenarnya mereka menganggap ada orang lain tidak sih disini?" Gerutu Gavin yang lagi-lagi hanya jadi penonton kemesraan diantara Lara dan Vander.


"Sudah kubilang, daripada kau terus menerus iri melihat pasangan lain bermesraan, lebih baik cari pacar sana!" Suruh Miranda yang ada disebelahnya dengan nada kesel.


"Sendirinya tidak punya pacar menyuruh orang lain cari pacar!" Sindir Gavin.


"Aku pulang dulu ya, kau baik-baik disini," pesan Lara.


"Kau juga jaga dirimu baik-baik, telepon aku kalau ada apa-apa."


Lara mengangguk paham, ia lalu memeluk Vander sekali lagi dan akhirnya pamit pergi.


"Kami pergi dulu Kak! Dah...," Seru Gavin dari dalam mobil.


Akhirnya ketiganya pun pergi meninggalkan Vander, "Dua minggu lagi aku juga akan menyusul kalian kembali.!


**


Sementara itu disebuah restoran mewah, Jeden terlihat baru saja selesai melakukan pertemuan dengan tuan Yamazaki, salah satu pemilik saham di Miracle. Dalam pertemuan itu tuan Yamazaki sepakat untuk memberikan 10% sahamnya untuk Jeden. Hal itu dilakukannya mengingat dirinya yang sudah tua namun tak memiliki anak, sehingga ia memutuskan untuk memberikan sahamnya pada Jeden.


"Tuan Yamazaki terima kasih karena kau sudah mau memberikan sahammu kepadaku, aku benar-benar berterima kasih."


"Tidak masalah, dari awal aku memang sudah memutuskan untuk memberikan sahamku padamu. Mengingat kakekmu dulu pernah membantuku."


"Kalau begitu, aku pamit dulu," ucap tuan Yamazaki lalu pergi.


Senyum penuh kepuasan mengembang di bibir Jeden. "Dengan ini jumlah sahamku di Miracle jadi tiga puluh persen, setelah ini aku tinggal meyakinkan tuan Rowan dan Jimmy agar mereka bersedia memberikan saham mereka padaku. Dan setelah itu aku akan dengan mudah melengserkan Lara dari jabatannya."


...🌿🌿🌿...


TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH πŸ’œ

__ADS_1


__ADS_2