
Saat Lara naik lift dari lantai 27 menuju ke lantai dasar, seketika pintu lift terbuka saat berhenti di lantai 25. Wajah Lara pun seketika dibuat tak menyangka saat melihat sosok pria yang akan masuk ke dalam lift.
"Reki?" Lara tidak menyangka akan bertemu lagi dengan pria yang pernah menolongnya itu. "Ka- kau tinggal disini?" Tanya Lara penasaran.
"Iya, aku tinggal disini. Kau juga ya?" Balas Reki sambil menekan tombol pintu lift menutup.
"Iya aku tinggal disini."
"Benarkah? Ya ampun kebetulan sekali, aku tidak menyangka bisa begini."
Keduanya pun berdiri bersebelahan dan saling mengobrol sambil menunggu lift sampai di lantai dasar.
"Oh iya kau mau kemana, kenapa sendirian? Wanita hamil jalan sendirian itu berbahaya loh," ucap Reki.
"Aku cuma mau ke lobi dasar saja kok, lagipula kalau harus selalu minta ditemani oleh orang lain malah akan terlalu merepotkan. Jadi kurasa jalan sendirian begini tidak akan ada masalah."
"Ya memang, tapi akan lebih baik kalau ditemani. Memang suamimu kemana?"
"Dia ada, tapi sibuk. Kau sendiri mau kemana?" Tanya Lara balik.
"Aku mau keluar, kebetulan klienku ingin mengajakku ketemuan di kafe Oliver."
"Omong-omong kau bekerja dimana memangya?"
"Aku konsultan bisnis internasional, kantorku disini baru buka dekat Laizen Tower." Reki menjelakan kepada Lara, kalau dirinya adalah konsultan bisnis yang sudah cukup lama. Dan selama delapan tahun menjadi konsultan, dirinya malah banyak melakukan pekerjaannya di luar negeri, dan baru kali ini akhirnya bisa kembali ke negara sendiri.
"Oh jadi kau cukup lama tinggal di luar negeri?"
"Iya, dua tahun aku di London, lalu di Dubai dan terakhir aku tinggal di seoul Korea."
"Pasti menyenangkan ya bisa tinggal di banyak negara-negara?"
"Ya begitulah, tapi meskipun begitu aku tetap lebih cinta dengan negaraku, terutama makanannya."
Lara tertawa dan membenarkan pernyataan Reki itu. Hingga keduanya tak sadar kalau mereka sudah mau sampai di lantai dasar saking serunya mengobrol.
Setelah keluar dari lift Reki pun berpamitan karena harus segera pergi. "Sayang sekali aku harus pergi dulu padahal sedang asyik-asyiknya. Tidak kusangka mengobrol denganmu bisa seseru ini."
"Iya kau benar, kapan-kapan kita harus mengobrol lebih banyak lagi sepertinya."
"Yasudah, kalau begitu aku pergi dulu. Kau hati-hati ya nona Lara. Kapan-kapan kita ngobrol lagi bye..."
"Iya kau juga hati-hati," tandas Lara yang merasa senang seperti punya kenalan baru.
...🍁🍁🍁...
Malam harinya saat mau tidur, Vander yang baru selesai mandi dan masih pakai bathrobe tiba-tiba saja dengan nada manja minta rambutnya dikeringkan oleh sang istri. Melihat tampang Vander yang memohon dengan mimik wajah polosnya, tentu membuat Lara dengan senang hati melakukannya. Pria itu lalu duduk dibawah lantai kamar yang sudah dilapisi permadani lembut, sementara sang istri berada duduk diatas ranjang mengeringkan rambutnya.
Dengan telaten Lara mengeringkan rambut gelap nan lembut milik suaminya. "Rambutmu makin panjang kau tidak mau mencukurnya?" Tanya Lara saat sadar kalau rambut suaminya sudah lebih panjang dari biasanya.
"Lara suka aku rambut gondrong atau pendek?"
"Aku suka semuanya, panjang maupun pendek suamiku tetap saja tampan. Tapi kalau saat ini, aku ingin kau tidak mencukurnya. Karena kau tampak jadi lebih muda dengan rambut panjang."
"Memang biasanya aku itu tua ya?" Tanya pria itu seraya tak terima.
"Eh bu- bukan begitu, hanya saja kalau rambutmu panjang jadi nampak masih usia dua puluhan."
Tiba-tiba Vander meraih pergelangan tangan Lara yang sedang memegang hairdryer, lalu menoleh menatap sang istri. Sementara Lara yang ditatap tiba-tiba begitu jadi kikuk rasanya.
"Va- Vander rambutnya belum kering sempurna loh...! Sini biar kukeringkan sampai selesai."
"Tidak usah, sudah kering kok." Vander merebut hairdryer itu dari tangan Lara lalu mematikannya dan dibuangnya.
"Vander kau marah ya aku bilang kau jadi lebih muda? Sungguh aku tidak bermaksud untuk... Mhmmm..."
Vander tiba-tiba mengecup bibir istrinya itu dan tertawa.
"Kenapa habis tiba-tiba menciumku malah tertawa?" Tanya Lara heran melihat kelakuan suaminya.
"Habisnya aku tidak tahan melihat wajahmu yang tiba-tiba tegang dan mudah terintimidasi."
"Oh jadi tadi kau hanya pura-pura seolah kesal, kukira kau sungguhan kesal karena aku bahas usia."
Vander duduk disebelah Lara sambil memegangi dagunya dan menatapnya dengan tatapanb tajam menggoda."Jadi kau suka pria muda, atau seleramu sekarang adalah pria-pria yang lebih muda darimu?"
"Kau bicara apa sih sayang, kau cemburu?" Tanya Lara balik menggoda.
"Aku takut kau tidak suka padaku lagi kalau aku menua."
"Kau pikir aku jatuh cinta padamu hanya karena tampangmu. Lagipula, seorang Vander Liuzen tiba-tiba insecure, rasanya aneh. Kau sebenarnya kenapa sih?" Lara membelai lembut wajah suaminya berharap Vander menceritakan apa yang tengah ia rasakan saat ini.
__ADS_1
"Kau bilang kau ingin ikut aku ke pulau Crux kan?" Ucap Van tiba-tiba.
"Iya, kenapa? Apa kau mau kesana lagi?"
"Benar, lusa aku akan pergi kesana. Dan kalau kau mau ikut kita bisa pergi bersama-sama naik private jet."
"Tentu saja mau, tapi..." Lara tiba-tiba ingat Reynder yang takut tidak membiarkan kalau dirinya pergi jauh tanpanya.
"Tenang saja, Rey sudah besar dan disini ada Frida, Tori dan Gavin serta Mira yang bisa mengawasi dan merawatnya. Lagipula tidak sampai tiga hari kok perginya."
Lara merasa sedikit tenang mendengar ucapan Vander barusan. "Tapi bagaimanapun kita tetap harus beritahu pada Rey kalau kita mau pergi, supaya dia tetap merasa dihargai dan tidak khawatir."
"Tentu saja, kita tidak boleh mengabaikan semua anak kita. Termasuk dia yang ada didalam perutmu ini." Vander mengusap perut Lara dan menciumnya. "Hei jagoan kecilku baik-baik di dalam perut istriku okey?"
"Eh dia merespon ucapanmu sayang," ungkap Lara yang merasakan gerakan bayi diperutnya seolah merespon apa yang dikatakan sang papa.
"Benarkah?" Vander tampak senang tapi juga agak tak percaya.
"Coba letakan telingamu di perutku."
Vander menempelkan sisi wajah dan telinganya diperut Lara, dan benar. Ia bisa merasakan gerakan di dalamnya. "Lara ini luar biasa, aku tidak menyangka seseorang yang hidup membawa kehidupan lain di dalam tubuhnya. Kau hebat sekali Lara, tapi apa kau tidak kelelahan dan merasa sakit membawa beban diperutmu selama berbulan-bulan?"
"Tentu saja berat, dan kadang sakit. Tapi semua itu tidak sebanding dengan kebahagiaan yang kau rasakan saat melihat anak itu lahir."
Vander seketika jadi merasa kasihan pada istrinya. Ia pun memeluk Lara ke dekapannya dan mencium keningnya. "Maaf aku tidak tahu penderitaanmu saat hamil. Yang aku bisa lakukan hanya sebatas ini."
"Tidak apa-apa sayang, asal kau selalu ada untukku disetiap saat itu sudah cukup."
"Lara aku mencintaimu.."
"Aku juga mencintaimu."
Mereka pun berkecupan mesra.
...🍁🍁🍁...
Hari berselang, akhirnya Vander dan Lara berangkat ke pulau Crux menaiki jet pribadi. Dibandara mereka lanjut naik helikopter menuju pulau Crux yang terlihat dari atas saja sudah sangat indah.
"Wow, pulaunya cantik sekali..."
Karena sedang hamil, Vander pun jadi lebih protektif menjaga sang istri saat di dalam helikopter. Pria itu seolah tak mau kehilangan pantauannya terhadap sang istri. Dan akhirnya helikopter pun mendarat di helipad yang tersedia di Crux.
Tidak lama kemudian, datanglah Robert bersama para pelayan menyambut kedatangan Vander dan Lara.
"Selamat datang tuan dan nyonya," sambut para pelayan itu.
Aku tidak menyangka di pulau ini Vander punya pelayan yang cukup banyak jumlahnya seperti ini.
Karena perjalan dari landasan heli menuju mansion cukup jauh, mereka akhirnya naik mobil golf cart.
Disepanjang perjalanab menuju mansion, Lara tak hentinya dibuat kagum dengan pulau tersebut. Udara bersih, tanaman hijau dan danau-danau yang berhiaskan angsa-angsa cantik nampak di sepanjang jalan. Benar-benar memanjakan mata dan pikiran.
"Tempat sebagus ini bagaimana bisa kau sembunyikan dariku selama ini?" Protes Lara pada sang suami yang duduk disebelahnya.
"Ya mau bagaimana lagi, baru bisa memberitahumu hari ini," jawab Vander yang sejujurnya memang awalnya tidak mau memberitahu Lara soal Crux.
Dan akhirnya setelah perjalanan sekitar delapan menit, mereka pun tiba di depan mansion mewah, tempat para anggota serikat Crux bernaung termasuk Vander yang merupakan pemilik sekaligus leader di Crux saat ini.
"Jadi selama kau kesini kau selalu menginap di mansion ini?" Tanya Lara sambil mengagumi arsitekstur mansion mewah yang ada dihadapannya saat ini.
"Ya Nona, tuan selalu tinggal disini. Mansion ini luasnya tiga setengah hektar dan ada puluhan kamar di dalam. Termasuk ruangan khusus milik tuan," jelas Robert.
"Ayo kita masuk," ajak Vander meminta sang istri memeluk lengannya.
Setibanya di dalam mansion, Lara takjub melihat betapa suaminya sangat disegani dan di hormati oleh orang-orang disana. Hal itu terlihat dari cara orang-orang yang ada disana memberi salam kepada Vander. Lara senang melihat betapa suaminya di kagumi dan disegani dimana pun berada saat ini.
Setelah masuk, Vander meminta semuanya ke ruang pertemuan. Disana pria itu memberitahukan kepada semua anak buahnya kalau Lara adalah istrinya, yang mana itu tandanya mereka juga harus hormat pada Lara sebagaimana pada dirinya.
"Baik tuan Vander," jawab mereka serempak.
"Halo semua salam kenal, semoga kehadiranku tidak mengganggu kalian," ucap Lara seramah mungkin.
Sebagian anak buah Vander hanya diam saja, dan sebagian lagi tampak senang melihat kehadiran Lara.
Ah itu istri tuan kita, dia cantik sekali dan sedang hamil.
Tuan kita kudenger sangat mencintai istrinya, jadi kalau sampai ada yang mengusik wanita itu, siap-siap saja kepalamu ditebas pedangnya tuan.
Melihat Lara masih agak asing dengan suasana orang-orang disini, Vander pun menepuk pundak Lara dan menenangkannya. "Tenang saja, orang-orang disini memang sifatnya sangat beragam dan agak seram, tapi kau santai saja, semua anak buah yang ada saat ini sudah diseleksi,jadi tidak akan ada yang bisa menyakitimu."
"Ya aku tahu, aku akan aman bersamamu. Tapi Van, tiba-tiba aku merasa lelah."
__ADS_1
Vander langsung mengendong Lara untuk mengajaknya ke kamar dan istirahat, sebelum nanti lanjut menemui Dominic.
"Robert minta pelayan bawakan makanan sehat untuk istriku, aku akan membawanya ke kamar," titah Vander kemudiae menggendong istrinya pergi ke kamar.
Saat berjalan menuju kamar Lara tiba-tiba bertanya, "Kau itu sungguhan dulu gelandangan ya?" Ucap Lara heran.
"Kenapa tanya begitu?"
"Habisnya melihatmu saat ini selalu dipuja-puja dan dihormati dimanapun berada, seperti tidak akan percaya kalau kau dulu gelandanga dan pernah jadi pengawal pribadiku."
Vander tersenyum kecil. "Itulah hidup yang penuh kejutan. Sekarang aku bukan hanya pengawalmu tapi juga suamimu."
"Aku bangga padamu Vander," Lara menarik wajah Vander dan mencium bibirnya.
...🍁🍁🍁...
Di Caelestis Garden, Rey yang tampak sedang bermain-main petak umpet dengan Tori, tiba-tiba saja malah sembunyi di dalam lift alhasil lift itu berjalan dan ia pun ikut di dalamnya. Merasa tidak akan dimarahi karena sang mama sedang pergi keluar kota, Rey pun memanfaatkan kesempatan ini untuk bermain-main bebas tanpa diawasi. "Biasanya kalau ada mama pasti dia akan cerewet melarangku ini dan itu. Jadi saat ini kesempatanku main-main, hehehe..." Rey tampak senang sekali sepertinya saat ini. Pria kecil itu pergi kesana kemari mengelilingi tiap lantai apartemen mewah tersebut.
Dan setelah asyik berkeliling pria kecil itu pun lelah. Disana ia lantas segera mencari lift terbuka yang bisa membawanya segera ke atas. Namun siapa sangka saat mau masuk lift, Rey malah berbarengan dengan salah satu public figure penghuni Caelestis Garden yang sedang bawa rombongan, alhasil saat mereka masuk lift bersamaan Rey yang badanny kecil pun hambir tergencet. Untungnya seseorang menarik Rey dari kerumunan itu segera, sehingga ia selamat dari desakan rombongan yang bisa membahayakan dirinya.
"Huft!" Rey lalu menoleh ke arah pria yang sudah menolongnya itu dan berterima kasih. "Paman terima kasih banyak sudah menolongku."
"Sama-sama, kau... Apa kau tinggal disini juga nak?" Tanya pria yang tidak lain adalah Reki Helian itu.
"Iya paman aku tinggal dilantai paling atas," jawab Rey.
"Meski apartemen ini satu kawasan, tapi anak sekecil dirimu tak seharusnya berkeliaran sendirian disini."
"Iya paman, aku salah tidak menuruti nasihat mama." Rey merasa menyesal karena sudah mengabaikan pesan sang mana agar tak sembarangan berkeliaran.
"Yasudah aku antar kau ke unitmu ya, sekalian aku mau bertemu orang tuamu."
"Um— mama dan papaku sedang ada urusan diluar kota, jadi hari ini tidak ada."
"Yasudah yang penting kau kuantar pulang dulu."
...🍁🍁🍁...
Di Crux Lara yang baru saja bangun tidur langsung disambut senyum suaminya yang ada duduk disebelahnya.
"Sudah bangun tuan putri?"
"Umh— ini jam berapa sayang?"
"Jam sembilan malam."
"Astaga!" Lara langsung gelagapan bangun."Kenapa kau tidak bangunkan aku Vander?"
"Mana mungkin aku tega membangunkanmu."
"Aku belum telepon Rey dan memastikan dia sudah makan dan minum vitaminnya atau belum. Mana ponselku!" Lara tergesa-gesa mencari ponselnya, namun segera oleh Vander ia diminta tenang.
"Tapi Van- der..."
"Tadi aku sudah telepon Frida dan katanya dia sudah berikan vitamin pada Rey. Dan..."
"Dan apa?" Lara nampak curiga dengan perkataan Vander yang seperti ragu.
"Dan tadi katanya Rey main-main sendiri ke area apartemen tanpa pengawasan. Mereka pikir Rey hilang, untungnya Rey bisa kembali setelah hampir saja tergencet kerumunan."
"Apa? Kenapa bisa begitu, apa mereka tidak menjaga anakku!"
"Lara tenang... ini bukan salah siapa-siapa. Tadi Rey sendiri yang mengaku padaku kalau dia sengaja kabur karena ia pikir mumpung tidak ada dirimu jadi bisa bebas." Sebenarnya putraku minta jangan ceritakan hal ini dulu ke ibunya, tapi melihat Lara begini aku tidak bisa bohong padanya.
"Benar-benar ya anak itu, awas saja sampai dirumah aku marahi dia!"
"Lara, sudahlah... Lagipula Rey kan laki-laki jadi..."
"Jadi apa? Kau itu selalu saja ada dipihaknya kalau dia salah, " keluh Lara.
"Bukan begitu, tapi aku juga saat kecil selalu ingin tahu hal baru. Makanya kau jangan terlalu galak pada putramu."
"Ya ya ya... Papa selalu dipihak anakanya dammwhh..."
Vander mencium bibir istrinya. "Istriku sudah ya mengomelnya. Sekarang lebih baik kau makan dulu, kasihan putra kita belum makan malam ini," ucap Vander sambil mengusap perut Lara.
Bicara soal makanan Lara yang lapar pun akhirnya berhenti mengomel.
...🍁🍁🍁...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS 🙏
__ADS_1