Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Vander Liuzen


__ADS_3

Jam kerja sudah usai Van juga telah menunggu Lara di depan lobi utama. Lara yang baru saja keluar langsung diberi ucapan hati-hati di jalan oleh para pegawai penjaga pintu.


"Silakan Nona Lara." Van membukakan pintu untuk Lara. Namun alih-alih Lara masuk ke kursi belakang, dia malah minta dibukakan kursi depan. Van tentu saja tidak bisa menolak hal itu, ia pun langsung bergerak membukakan pintu depan untuk Lara.


Gadis itu memasuki mobil disusul Van yang kemudian masuk ke dalam mobil. Di sepanjang jalan Lara hanya menyetel lagu untuk menemani perjalanannya. Namun hal itu tetap saja membuat Lara bosan mengingat ia sudah duduk disebelah Van tapi malah tidak saling mengobrol. Akhirnya Lara memutuskan untuk mematikan musiknya.


"Loh, kenapa dimatikan Nona?" Tanya Van.


"Tidak apa hanya merasa bosan saja mendengar musik terus-menerus."


"Perjalanan kita masih sekitar empat puluh menitan menuju ke kediaman Nona," jelas Van.


"Aku tau kok! Oh iya Van apa aku boleh tanya sesuatu?"


"Tentu saja, Nona bisa tanyakan apapun."


"Selama kau bekerja denganku, jujur aku tidak tahu apa-apa tentang dirimu. Kalau aku boleh tau apa kau jadi gelandangan sudah sejak kecil? Kau masih punya keluarga kan?"


Van sebenarnya sudah menduga sebelumnya, cepat atau lambat Lara pasti akan tanya soal latar belakang dirinya.


"Kenapa diam, kau tidak suka ya  kalau aku tanya soal kehidupan pribadimu?" Tanya Lara memastikan.


"Bukan begitu Nona, aku diam karena aku bingung bagaimana menceritakannya."


"Ceritakan saja, aku ingin sekali mengetahuinya." Lara benar-benar ingin tau latar belakang Van sebenarnya.


Van tidak ingin meceritakan semua tentangnya ke Lara, tapi setidaknya Van harus membiarkan Lara tahu sedikit setidaknya tentang dirinya.


"Sebenarnya aku tidak dari keci jadi gelandangan, ibuku sudah meninggal sejak aku berusia tiga tahun. Sebenarnya aku masih punya ayah tapi..., dia pergi dan akhirnya aku harus bertahan hidup sendiri sejak berusia dua belas tahun," jelas Van.


"Dua belas tahun?" Bahkan itu lebih muda dari usia Lara saat ditinggal oleh kedua orang tuanya.


"Aku berusaha bertahan hidup, sebenarnya aku sempat tinggal sebuah panti asuhan tapi pada akhirnya aku kabur hehe," terang Van sambil tertawa.


Lara memandangi pria disebelahnya, ia merasa meski Van bercerita sambil tertawa begitu namun pasti di dalam hatinya justru ia menangis.


"Kau hebat, bisa bertahan hidup sendirian sejak usia muda," puji Lara.


"Biasa saja, aku begitu karena tidak punya pilihan saja," jawabnya lagi diikuti senyum getir.


"Oh iya Van, sebelumnya apa kau pernah bekerja?"


"Ya! Beberapa kali, aku pernah bekerja jadi pengantar makanan, pelayan restoran, dan petugas bersih-bersih umum dan sejenisnya."


"Tapi kenapa saat kita pertama kali bertemu kau malah jadi gelandangan?"

__ADS_1


"Itu karena..." Van dengan malu-malu mengatakan ke Lara kalau dirinya selalu berakhir dipecat tiap kali bekerja.


"Kenapa dipecat kau sering buat ulah?" Tanya Lara penasaran.


"Aku sering berkelahi dan berakhir menghajar rekan kerjaku hingga babak belur," jelas Van. "Mendengar ceritaku pasti dimata Nona aku kasar dan buruk sekali ya?"


Lara menggeleng dan tersenyum. "Tidak kok, meski aku belum terlalu lama mengenalmu tapi aku yakin Van menghajar orang lain pasti karena ada alasannya."


Hati kecil Van seolah berdesir mendengar perkataan Lara barusan. Ia tidak menyangka Nonanya itu menilai dirinya dengan sangat positif. "Kenapa Nona bisa bicara begitu?"


"Karena aku merasakannya sendiri. Setiap kali kau bicara dan memperlakukanku, sorot mata dan sentuhanmu sangat lembut. Memang sih saat bertarung kau akan sangat terlihat mengerikan dan brutal. Tapi itu semua hanya sesaat, setelah selesai menghajar musuhmu kau akan kembali jadi Van yang hangat dan lembut terutama padaku."


Jatung Van berdesir semakin kuat ia senang mendengar Lara mengatakan hal itu tentangnya.


"Oh iya Van aku mau tanya, kau belajar bela diri darimana? Ka- kau dulu sempat sekolah kan?"


Van terkesiap dirinya tidak bisa ceritakan detail kenapa dirinya bisa seterlatih itu menguasai bela diri dan cara bertarung. "Oh i- itu, aku hanya otodidak saja kebetulan aku suka film action jadi aku tertarik mempelajarinya sejak lama, ditambah aku perlu untuk melindungi diriku. Aku dulu sekolah hanya sampai SMA," jelas Van.


"Oh... Begitu."


Dia akan tanya apa lagi? Pikir Van bersiap.


"Van!"


"Ya?"


"Benar, nama asliku memang bukan Van, itu hanya panggilan saja. Nama asliku Vander Liuzen."


"Vander Liuzen? Namamu keren seperti orangnya," gumam Lara.


"Apa Nona?"


"Eh ti- tidak aku hanya bilang namamu keren, itu saja kok!" Untung dia tidak dengar.


Van tersenyum seolah tidak tahu padahal ia dengar apa yang diucapakan Lara sebenarnya.


"Vander,"


"Huh?" Van kaget mendengar Lara memanggil nama aslinya.


"Bolehkan aku panggil nama aslimu, soalnya aku suka."


Van mengangguk. "Nona boleh panggil aku dengan panggilan apa saja."


"Kalau aku panggil sayang juga boleh?"

__ADS_1


Van terkejut lalu tiba-tiba menghentikan mobilnya.


"No- nona panggil apa?" Van terbata-bata.


Sontak Lara langsung tertawa geli melihat ekspresi wajah Van saat itu.


"Nona?"


"Maaf ya Vander tapi sungguh wajahmu saat kaget itu lucu sekali!" Terang Lara sambil terkekeh.


Van jadi malu sekali rasanya. Dasar gadis kecil, beraninya dia menjahili dan menertawakanku! Dia tidak sadar yang dia tertawakan adalah pria dewasa yang lebih tua darinya.


"Kau diam saja, kau marah ya?" Tanya Lara melihat Vander tak bereaksi apa-apa.


"Tidak Nona, aku hanya kaget saja kau berkata begitu."


"Yasudah maaf, kalau begitu sekarang kita ke apartemenmu ya?"


"Apa? Apartemenku?" Tanya Van kaget.


"Iya, aku kan mau ambil pakaianku yang tertinggal disana," jelas Lara.


"Oh baiklah kalau begitu."


Akhirnya Vander pun kembali menjalankan mobil menuju ke apartemennya.


**


Karina terlihat duduk di depan layar laptop di ruangannya. Ia terlihat tengah mencoba mencari informasi soal Van namun tak mendapatkan hasil apa-apa. "Huh! Aku sudah cari berkali-kali tetap saja tidak ketemu info apapun tentang pria itu!" Ujar Karina kesal. "Yang aku tau hanya namanya Van, aku ingin tau lebih jauh soal pria itu. Aku ingin dia mendekat dengaku." Karina sepertinya memang sungguh menyukai Van, dan ingin mendapatkannya. "Apa aku terima tawaran dari Jeden saja?" Karina mempertimbangkan soal tawaran Jeden tadi siang, tapi dirinya ragu mengingat Jeden itu juga orang yang cukup licik, ia takut malah dirinya yang akan dirugikan nanti. "Sebaiknya aku memang harus dekati Lara dulu, dengan begitu aku akan bisa dekat dengan Van." Rencana apa yang akan dilakukan Karina demi mendekati Van?


**


Setibanya di apartemen Vander.


Lara pun langsung ke kamar mandi untuk mengambil pakaiannya yang tertinggal. Ia melihat pakaian dalamnya ternyata berada dipaling atas, sudah pasti Van melihatnya setiap kali dirinya mandi. "Bagaimana ini Van lihat pakaian dalamku?" Ujar Lara dengan wajah memerah karena malu.


Vander menunggu di depan pintu kamar mandinya. Tak lama Lara keluar dengan membawa tentengan berisi pakaian kotor.


"Nona mau pulang sekarang atau?"


"Jujur, aku tidak mau pulang ke kediamanku," ucap Lara dengan nada lirih.


Vander pun kaget mendengarnya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like, comment, vote 💜


__ADS_2