
Beberapa minggu setelah Lara ditemukan. Hingar bingar kota ZR yang ramai dan modern sudah kembali normal. Orang-orang juga sudah mulai beraktifitas kembali, termasuk mereka yang jadi korban Gauren, sebagian sudah pulih total dan kembali bekerja. Saham Laizen Group yang beberapa waktu lalu sempat mengalami penurunan kini juga berangsur semakin baik, bahkan melonjak naik di bursa saham internasional.
Dominic yang beberapa waktu lalu tak punya waktu karena sangat sibuk membuat serum, kini seolah bisa lebih santai menikmati waktunya layaknya orang biasa pada umumnya.
Dan sebagian besar waktu luanganya itu ia gunakan untuk terus mengejar Rena agar mau kembali padanya. Meskipun sulit, Dominic akan tetap mengejarnya sampai wanita itu kembali padanya.
"Dominic sudah kubilang stop mengikutiku!" Seru Rena yang saat itu baru saja keluar dari kafe untuk sarapan.
"Aku hanya ingin mengajakmu berkencan saja kok!"
Rena memberi peringatan. "Dengar ya dokkter Dominic, aku tidak mau kencan denganmu, lagipula kita bukan remaja lagi. Usia kita sudah dipertengahan tiga puluhan, jadi berhentilah bersikap layaknya kita seperti sepuluh tahun lalu."
"Oh ayolah Rena, sekali ini saja beri aku kesempatan." Dominic memohon bahkan dia tak segan-segan merengek dijalanan, hingga menjadi bahan tontona orang-orang yang lewat.
Dasar pria menyebalkan! Karena tidak mau semakin dibuat malu, akhirnya Rena memberi kesempatan pada Dominic.
"Wohoo! Baiklah lusa kita kencan!"
Apa kesempatan ini akan jadi momentum Dominic untuk bisa mendapatkan kembali hati Rena? Entahlah...
...****************...
Di tempat lain, Gavin dan Miranda tampaknya semakin harmonis saja. Menurut Mira setelah tahu akan segera jadi ayah, Gavin memang akhir-akhir jadi lebih dewasa baik tingkah dan sifatnya. Dan kabar baik lainnya adalah, kedai Miracle yang sempat ditutup kini sudah dibuka kembali.
"Akhirnya kita bisa buka kedai ini lagi," ucap Mira yang berdiri di sisi dekat ruangannya, merasa senang melihat para pengunjung berdatangan ke kedainya.
"Kau jangan terlalu semangat, ingat kau sedang hamil," sahut Gavin.
"Iya Gavin, kau ini terlalu berlebihan deh!"
Gavin memeluk Mira dari belakang. "Aku hanya ingin jadi suami siaga saja, apa salah?"
"Tidak sih, tapi... ngomong-ngomong kau ingin anak laki-laki atau perempuan Gavin?"
"Keduannya, maksudku baik laki-laki atau perempuan, aku suka asal itu anak kita."
Jadi semakin penasaran bagaimana rumah tangga mereka saat setelah anak mereka lahir nanti?
...****************...
Sementara Eiji, ia yang kini bekerja sama dengan pemerintahan pusat tata kota untuk membangun tatanan kota dengan infrastruktur yang lebih baik. Ia terlihat sibuk sampai-sampai ia belum sempat menengok Lara. Untungnya mereka masih suka saling ngobrol lewat sambungan telepon, sehingga Eiji bisa tahu kabar tentang Lara.
Eiji : Bagaimana kabarmu? Ah ini sudah masuk minggu persalinanmu bukan?
Lara : Kau benar kak.
Eiji : Kau sudah siap?
Lara : Oh ayolah kak... ini adalah kali keduanya aku melahirkan, kenapa kau tanya seolah aku baru pertama kali akan melahirkan.
Eiji : Aku hanya khawatir saja.
Lara : Kakak tenang saja, Vander dan bibi Frida menjagaku dengan baik. Kali ini aku akan ditemani suamiku melahirkan jadi janga khawatir.
Eiji : Kau benar, aku sepertinya jadi berlebihan mengingat saat di kanada dulu kau melahirkan Rey sendirian.
Lara : Terima kasih karena selalu memperhatikanku. Aku tidak tahu lagi harus membalas semua kebaikanmu dengan apa kak...
Eiji : Hiduplah dengan bahagia itu sudah cukup bagiku. Umโ kalau kau sudah melahirkaย nanti aku akan menengokmu dan bayimu.
Lara : Terima kasih, kau memang pamanย yang super baik.
Eiji : Yasudah kalau begitu, aku tutup dulu teleponnya oke?
__ADS_1
Lara : Iya, sampai jumpa.
Eiji : Sampai jumpa.
Meskipun Eiji tak bisa memiliki Lara, tapi ia tau kalau wanita yang ia cintai kini berada bersama pria yang tepat. Dan setidaknya kini Lara tak lagi terlalu menjaga jarak dengannya, dan bisa berkomunikasi dengan santai. Eiji tersenyum lalu menghela nafas. "Hidup ini memang seharusnya terus berlanjut bukan?"
...๐๐๐...
Di kediamannya Lara yang tengah duduk di sofa terlihat sibuk merajut selimut untuk calon akan keduanya yang akan segera lahir. Bibi Frida yang datang membawakan Lara cemilan dan minuman hangat, langsung menasehati Lara agar dirinya segera istirahat, sebab ia lihat sejak tadi nyonyanya tersebut tak berhenti merajut selimut.
"Nyonya, aku hanya takut anda kelelahan, tuan bilang aku harus menjaga nyonya, dan kalau sampai ada apa-apa dengan anda, aku takut tuan akan marah padaku."
"Ya ampun bibi, aku itu hanya merajut sambil duduk santai. Lagipula aku ingin membuatkan anak keduaku selimut yang sama seperti yang kubuat untuk Reynder beberapa tahun lalu."
Bibi Frida tersenyum melihat ke arah Lara. Ia senang sekali akhirnya bisa melihat nyonyanya itu hidup tenang, sambil menunggu hari persalinannya tiba.
"Bibi kenapa malah melihatiku begitu?"
"Tidak apa-apa, hanya saja rambut nyonya sepertinya tumbuh panjangnya cepat juga ya."
Lara tersenyum senang, mengingat ia sejatinya memang lebih suka rambut panjang dibanding pendek.
"Aku pulang!" Seru Rey yang baru saja pulang sekolah. Pria kecil itu langsung menghampiri mamanya dan menunjukan hasil gambarnya disekolah.
"Mama lihat ini. Aku dapat nilai paling bagus dikelas!"
"Wah hebat sekali, tapi ayo cepat cuci tangan dan ganti pakaian dulu," ucap Lara setelah itu ia kembali sibuk merajut selimut
"Mama tidak mau melihat gambarku ya?" Ucap Rey yang langsung murung.
"Bukan begitu sayang... Mama hanya..."
"Terserah! Aku tidak mau bicara sama mama!" Rey ngambek dan kemudian pergi ke kamarnya mengunci pintu.
Tak lama, Lara datang dan mengetuk pintu kamar Rey. Ia meminta putranya itu untuk membukakan pintu dan bicara dengannya.
Ayolah Rey sayang, kita bicara kenapa kau akhir-akhir ini jadi mudah marah padaku?
"Itu karena mama sudah tidak suka padaku karena sebentar lagi akan ada adik yang lebih kecil, lebih lucu, dan disukai!"
Rey buka pintunya sayang...
Pada akhirnya Rey membuka pintu kamarnya dan membiarkan mamanya masuk. Di dalam kamar, sepasang ibu dan anak itu duduk berdampingan diatas ranjang. Disana Rey masih berwajah masam dan tak mau bicara apapun.
"Kamar Rey benar-benar seperti kamar anak laki-laki ya, kamarnya keren tapi mama tidak tahu apa saja nama mainan di kamarmu ini?"
"Mama mana tahu, mama kan tidak paham mainan anak laki-laki! Lagipula mainanku hanya punyaku, aku tidak mau berbagi mainan dengan adikku," Jawab Rey masih tak mau menatap mamanya. Lara merasa sepertinya Rey memang tengah di fase takut menjadi kakak, pasti ia berpikir jika adiknya lahir ia akan tidak disayang lagi.
Akhirnya Lara menanyakan apa yang ia sangkakan barusan. "Rey, apa kau merasa takut mama tidak sayang dirimu lagi setelah adikmu lahir?"
Rey terkesiap. "Um itu..."
"Rey bilang saja apa yang kau rasakan saat ini," bujuk Lara.
"Umโ sebenarnya aku takut mama akan tidak suka lagi padaku karena akan ada adik baru yang lebih kecil dan lucu daripada aku. Aku takut semua yang aku punya diambil adikku, terutama kasih sayang mama...," ungkap Rey dengan polosnya
Lara tertawa kecil.
"Kenapa malah tertawa?"
"Karena kau itu kadang konyol seperti papamu." Lara meraih tangan putranya dan berkata, "Rey dengar, kasih ibu tidak mengenal usia. Bahkan jika Rey nanti sudah besar Rey akan tetap jadi anak mama yang berharga, jadi bagaimana bisa kau berpikir mama akan melupakanmu?"
"Teman-teman kelasku bilang, kalau kita punya adik pasti orang tua kita akan lebih sayang adik, dan melupakan anak yang lebih besar."
__ADS_1
"Jadi kau percaya bualan aneh itu?"
"Maksudnya? Jadi mama tidak akan mengabaikanku kan?"
"Anak nakal, tentu saja tidak mungkin. Aku melahirkanmu dengan sekuat tenaga serta pertaruhan nyawa, dan membesarkanmu dengan segenap hati jiwa dan raga. Mana mungkin aku melupakanmu, bagaimanapun kau adalah hartaku yang tak ternilai!" Lara kemudian memeluk putranya tersebut.
"Rey... mama bukan ibu sempurna, tapi mama akan berusaha jadi ibu terbaik untukmu dan adikmu. Jadi jangan pernah berpikir aku akan melupakanmu, aku akan merasa jadi ibu yang buruk kalau kau berpikir seperti itu."
Mendengar semua perkataan mamanya, Rey merasa yakin kalau mamanya tidak akan pernah mengurangi kasih sayangnya meski adiknya lahir nanti. "Maafkan aku mama... Aku hanya takut mama akan mengabaikanku."
"Tentu tidak akan, bagiku selamanya anak-anakku adalah kesayanganku. Kau dan adik-adikmu nanti akan selalu dapat cinta yang sama dariku."
Sepasang ibu dan anak itu saling berpelukan.
...๐๐๐...
Di Laizen tower, Vander yang tengah memimpin jalannya meeting pun terlihat sangat serius membahas proyek baru Laizen group yang akan dikerjakan di waktu mendatang.
Seperti biasa Vander tampak sangat berkarisma dalam memimpin jalannya meeting. Segala pemikirannya yang visioner tak hentinya mendapat decak kagum dari para pegawainya.
"Oleh karena itu, aku ingin Laizen Group membuat beberapa gebrakan dalam beberapa industry populer. Karena perusahaan ini sudah jadi salah satu dari sepuluh perusahaan dengan pertumbuhan terbaik di dunia, maka akan semakin banyak perusahaan dunia yang ingin mengajukan kerjasama dengan kita, oleh karena ituโ"
Drip Drrripp! Ponsel Vander tiba-tiba berderap.
"Maaf, tapi aku harus angkat telepon dulu." Karena teleponnya dari Lara, Vander yang biasanya tidak akan mengangkat panggilan saat meeting pun melanggar prinsipnya demi istri tercinta.
"Halo ada apa?"
...
"Apa?! Oke aku paham." Vander menutup teleponnya.
"Semuanya, aku rasa meeting hari ini cukup sampai disini."
"Lho, tuan memang ada apa?" Tanya Robert yang merasa tidak biasanya melihat Vander menghentikan meeting secara tiba-tiba.
"Aku ada urusan penting dan harus segera kembali."
Robert berpikir, apa mungkin terjadi sesuatu pada nyonya Lara?
"Tuan, apa ada hal gawat terjadi?" Tanya salah seorang pegawainya.
Vander tak menjawab dan malah menatap para pegawainya dengan tatapan tajamnya, seolah memperingati mereka agar jangan terlalu ingin tahu urusannya.
"Ba- baik tuan, aku tidak akan banyak tanya lagi."
Vander berdiri dari kursinya lalu menghela nafas dan berkata, "Semuanya aku minta maaf karena mengehentikan meeting tiba-tiba. Aku harus pergi karena istriku akan melahirkan jadi meeting hari ini terpaksa aku tutup selamat sore," Vander kemudian berjalan pergi meninggalkan ruang meeting diikuti Robert dibelakangnya.
Sebaliknya, para pegawainya malah masih berada disana dan seolah dibuat tercengang setelah mendengar perkataan bos mereka barusan.
"Istri?"
"Melahirkan?"
"Memang bos kita sudah menikah ya?"
"Siapa istrinya?"
Semua pegawai Vander berhasil dibuat bertanya-tanya dan bingung oleh bosnya.
Apakah status Vander dan Lara sebagai suami istri akan segera dipublikasikan?
...๐๐๐...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS