Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Terpojok


__ADS_3

"Gara-gara dirimu aku jadi hampir lupa menghadiri rapat dengan jajaran direksi," keluh gadis itu sambil berusaha menaikan reslesting belakang bajunya.


"Meskipun begitu kau juga menyukainya bukan?" Ucap Van sekaligus membantu gadis itu menaikan resletingnya.


Jujur saja Lara tidak pernah mengira kalau pada akhirnya ia sungguh akan bercinta di ruangan kantornya sendiri.


"Lain kali mari kita melakukannya di dalam lift ya," bisik Vander di telinga Lara.


"Vander jangan gila!" Pekik Lara tak habis pikir mendengar ide gila kekasihnya itu.


Van mendekap erat Lara dari belakang, dan menciumi rambutnya yang harum.


Sementara Lara sendiri terlihat nyaman dipeluk seperti itu oleh Vander. Ingin rasanya terus begini lebih lama lagi, namun sayangnya Lara harus segera pergi ke ruang meeting setelah ini.


"Van hentikan..," ucap gadis itu dengan suaranya yang lirih meminta agar sang pria berhenti menciumi lehernya.


"Oh ayolah Vander, aku ada meeting sebentar lagi jadi lepaskan aku— Egh..!" Lara dibuat menjerit kecil kala kekasihnya itu menggigit kecil lehernya hingga membekas merah di lehernya.


Segera Lara pun protes, "Van kenapa kau malah meninggalakan tanda di leherku!"


"Maaf aku kelepasan," ucap Vander tanpa rasa bersalah.


"Kalau orang kantor sampai lihat tanda ini, dan hubungan kita ketahuan oleh mereka bagaimana?"


Vander tidak menjawab, dirinya hanya diam terpaku dengan raut wajah datarnya tanpa kata. Lara langsung menarik wajah Van mendekat ke wajahnya dan menatap pria itu dalam-dalam.


"Kenapa kau diam? Aku tanya apa yang akan kau lakukan jika suatu hari nanti hubungan kita pada akhirnya ketahuan?"


Van menudukan keningnya menempelkannya ke kening Lara dan tersenyum kecil. "Aku akan tetap mencintaimu, dan berada disisimu."


Mata Lara bekaca-kaca ia langsung memeluk Van dengan eratnya dan berkata, "Van, jujur saja aku takut. Sejak kita akhirnya menyatu jujur saja aku sempat takut dan berpikir kalau kau akan meninggalkanku suatu hari nanti."


Dipeluknya gadis itu kedekapannya. "Jangan takut, aku akan selalu ada bersamamu sayang..." Suara Vander yang berat terdengar sangat lembut mencoba menenangkan Lara.


"Kau berjanji?"


".... Ya!"


"Terima kasih, aku mencintaimu Vander!"


"Aku juga, aku mencintaimu, kau adalah dewiku, wanitaku, dan segalanya untukku."


Mereka lalu saling melepaskan pelukannya.


"Yasudah kita sudah terlalu lama disini, sepertinya aku harus pergi," pungkas Vander.


Lara mengangguk paham.

__ADS_1


"Kalau begitu aku pergi dulu ya Nona," tukas pria itu.


"Eh Van tunggu dulu!" Lara menghentikan langkah Van dan mendekatinya.


"Ada apa?"


Lara langsung merapikan kerah kemeja Vander yang berantakan. "Kau ini, apa jadinya kalau pegawai lain sampai lihat kau keluar dari sini dengan pakaian berantakan begini?" Omel gadis itu.


"Tinggal bilang saja kalau kita habis bergulat mesra hingga membuat Nona menarik kerahku sampai begini," pungkas Van diikuti tawa garingnya.


"Heh! Kau ini kenapa sih kalau sudah berkaitan dengan 'hal mesum jadi semangat begitu!"


"Memangnya ada pria normal yang tidak senang kalau bahas hubungan—mm"


"Sstttt..." Lara menutup mulut Van dengan telapak tangannya. "Sudah, iya kau pria yang hebat, perkasa, dan semuanya, sekarang pergilah aku mau ada meeting."


"Oke!"


Vander akhirnya mencium bibir Lara dan pergi.


***


Lara akhirnya tiba jug di ruang meeting untuk rapat dengan para jajaran direksi.


"Semuanya maaf aku sedikit terlambat, silakan kembali duduk," ucap Lara meminta  peserta rapat duduk kembali.


"Maaf, aku ada urusan sebentar tadi," balasnya berbisik.


Jeden yang juga ada dikursi jajaran direksi perusahaan menatap ke arah gadis yang baru saja tiba di ruangan tersebut. Pria itu tampak syok karena tak sengaja melihat tanda merah di leher sebelah kanan Lara. Sial! Tanda merah dilehernya itu... apa dia terlambat apa karena bersama pria itu? Jeden terlihat marah memikirkannya.


"Nona Lara seharusnya kau profesional, mengingat kau adalah CEO di perusahaan ini," sindir Jeden.


"Maaf, apa maksud anda tuan Jeden?"


"Kau tidak sadar, dengan dirimu datang terlambat tanpa alasan jelas, hal itu sudah membuat kami disini meragukan kapasitasmu sebagai pimpinan."


Lara merasa tertampar dengan ucapan Jeden. Ia sadar kali ini dirinya memanglah salah kali ini Lara pun membungkuk dan meminta maaf sekali lagi "Tuan Jeden Lee, aku secara personal sekali lagi meminta maaf pada anda dan jajaran direksi lainnya atas keterlambatanku."


Karena semuanya sudah hadir, rapat yang dihadiri oleh semua jajaran direksi dan kepala divisi Miracle itu pun dimulai. Selama hampir satu jam rapat berjalan cukup kondusif meski tak jarang adu argumen panas terjadi. Semua dewan direksi dan direktur masing-masing divisi mengutarakan permasalahan mereka di depan Lara.


"Nona Hazel, aku rasa anda memang harus menjual sebagian saham Miracle ke perusahaan lain. Setidaknya dengan begitu stabilitas keuangan perusahaan ini yang semakin lama kian menipis bisa terbantu," ucap salah satu dewan direksi.


Saat ini memang harga saham sampai pasokan utama perusahaan tengah diambang batas stabil. Dan jika terus seperti ini bukan tidak mungkin Miracle bisa collapse.


"Nona Lara, anda harus lakukan sesuatu, karena jika tidak, terpaksa kita harus melakukan PHK besar-besaran karena kesulitan membayar gaji karyawan sebanyak ini."


"Aku dapat laporan juga semakin hari investor perushaan kita satu persatu memilih mundur karena melihat keadaan Miracle saat ini yang kian memburuk."

__ADS_1


"Semuanya tenang, aku tau kita saat ini sedang berada di masa sulit, tapi... Aku harap kita semua jangan hilang keyakinan. Aku yakin Miracle bisa bangkit lagi," ucap Lara.


Jeden yang sejak tadi memperhatikan Lara sontak tertawa seraya meremehkan gadis itu.


"Tuan Jeden apa ada yang lucu?" Tegur Lara.


"Aku tertawa melihatmu Nona Lara."


Lara menyipitkan matanya menatap Jeden tajam. "Apa maksudmu?"


"Nona, disini kita berkumpul untuk mendapatkan solusi bukan semangat. Para jajaran direksi dan kepala divisi, kami semua ini sedang meminta saran anda bukan kata-kata mutiara dari bibir anda," ungkap Jeden


"Tuan Jeden benar Nona, kami disini butuh solusi darimu. Tolong bergeraklah Nona nasib perusahaan ini ada ditangan anda," desak kepala divisi lain.


Jeden terlihat puas melihat Lara saat ini di cecar oleh para kepala divisi. Gadis itu terlihat seperti anak kucing kecil yang tak berdaya.


"Dan satu lagi," Jeden kembali bersuara, " Ada baiknya jika kau sudah tidak mampu lagi mengemban tugasmu sebagai CEO maka lebih baik, mundurlah..."


Lara terkesiap dengan ucapan Jeden. Apa maksudnya bicara begitu di depan para dewan direksi?


Lara menatap tajam ke arah Jeden yang juga melihat ke arahnya dengan senyum penuh kepuasan.


Kau lihat Lara, ini belum seberapa...? Kedepannya aku akan buat kau lebih sulit lagi.


"Begini saja," Jeden menyarankan agar menentukan dengan suara terbanyak apakah Lara masih pantas untuk menjabat di kursi CEO atau tidak.


Lara langsung syok dibuatnya, bagaimana ini? Jeden! Kali ini dia benar-benar sedang menekanku kah?


"Tunggu! Hal seperti ini tidak bisa diselesaikan semudah ini. Dan untuk jabatanku, semua itu ditentukan dengan pembagian saham perusahaan. Saham milikku masih tetap yang terbesar jadi tidak boleh ada yang menggantikanku, sampai ada pemilik yang sahamnya melampauiku," jelas Lara.


"Kalau begitu aku bersedia berikan sahamku pada tuan Jeden," pungkas Tuan Rowen pemilik 13% saham miracle. Jika benar ia memberikan sahamnya pada Jeden, maka saham total Jeden bertambah menjadi 33%. Sisanya dua orang lain yakni Tuan Jimmy dan Tuan Yamazaki masing-masing memiliki 10% saham. Jika Jeden mendapati semuanya, otomatis Lara akan turun jabatan.


Lara benar-benar terpojok dan kehabisan kata kali ini. Gerahamnya mengatup menahan rasa emosinya yang kian mengusik.


Miranda melirik ke arah Lara, jujur ia merasa tidak tega melihat gadis itu dibuat terpojok saat ini.


Aku harus hentikan rapat ini! Miranda selaku moderator pun meminta agar rapat ditunda karena suasananya sudah tidak lagi kondusif.


"Miranda..." Lara mengarahkan telapak tanganmya ke Miranda seraya menyuruh asistennya itu agar diam.


"Semuanya, aku selaku CEO Miracle mohon maaf jika belum memenuhi ekspektasi kalian. Aku sendiri jauh dari kriteria pemimpin yang hebat, tapi kalian juga harus tau aku disini berdiri bukan untuk diriku sendiri tapi kita semua. Aku harap kalian bisa membantuku mempertahankan perusahaan ini," ucap Lara.


"Dan jika kedepannya kalian memang ingin sebuah perubahan, tolong beri aku waktu setidaknya sampai pertengahan kuartal akhir, setelah itu hasilnya aku kembalikan kepada kalian dan dewan komisaris. Jika pada akhirnya kalain semua tetap ingin agar aku turun jabatan, maka demi kebaikan Miracle aku dengan berbesar hati akan turun dari jabatanku sebagai CEO."


Jeden lagi-lagi mengulum senyum angkuhnya. Pria itu benar-benar merasa jumawa karena telah berhasil membuat Lara berada di dalam tekanan perusahaannya sendiri.


Bersambung...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜


__ADS_2