
Malam harinya Lara melihat Vander duduk diatas ranjang seolah tengah menunggunya datang untuk menghampirinya. Dari caranya berjalan, gadis itu terlihat lesu. Vander pun langsung menariknya, dan membawanya duduk diatas pangkuannya.
"Kau kenapa?" Tanya Vander melihat wanitanya itu terlihat tidak seperti biasanya.
Lara hanya menggeleng dengan raut wajah datar.
"Kau masih memikirkan soal foto itu?" Vander mencoba menebak hal yang kini mengganggu pikiran gadisnya itu.
Lara menghela nafas, "Aku sudah berbaikan dengan Miranda."
"Itu bagus, lalu apa masalahnya?"
Lara bilang kepada kekasihnya itu kalau, sejak fotonya itu beredar luas ia jadi merasa takut dan risih setiap kali pegawainya di kantor memandanginya. Mungkin para pegawainya itu memang tidak mencemoohnya secara langsung, hanya saja tatapan mereka pada Lara seolah tengah memandang rendah dirinya. "Hal itu sangat menggangguku," keluh Lara.
Pria itu membelai pipi sang kekasih lalu menciumnya. "Kau jangan terlalu memikirkan ucapan orang lain diluar sana, karena mereka tidak tau apa-apa tentangmu. Dan lagi, kau adalah pimpinan di Miracle jadi jangan biarkan mereka merendahkanmu. Kau harus tunjukan pada mereka kalau kaulah bosnya bukan mereka."
Vander kembali mengecup pipi Lara, setelah itu bibirnya dan kemudian turun ke lehernya hingga bagian dadanya yang sedikit terekspos karena gaun tidur Lara yang rendah.
Gadis itu memejamkan matanya merasakan tiap kali bibir pria itu mengecup dan menyesap tiap bagian tubuhnya. "Nona Lara kau sangat cantik..." ucapnya tiba-tiba dengan nada sensual.
Lara tau prianya sudah menginginkannya sejak tadi, ia pun perlahan membuka tali pita yang terikat dibagian dada gaun tidurnya perlahan, namu seketika tangan Vander menghentikan gerak jemarinya, hingga membuat gadis itu terperanjat dan langsung mentap pria itu. "Ada apa Vander?"
"Malam ini, kita tidak usah melakukannya."
"Kau tidak menginginkanku?" Tanya Lara khawatir.
Vander tersenyum kecil lalu mencium bibir yang berwarna plum itu. "Aku bahkan setiap menit membayangkan bercinta denganmu, hanya saja malam ini aku tau suasana hatimu sedang tidak terlalu baik, jadi lebih baik kita tidur saja." Dibelainya pipi Lara yang halus dan kenyal itu oleh Van.
Gadis itu tersenyum kecil dengan tatapan lembut dimatanya yang bening. "Terima kasih ya, sudah selalu memahamiku."
"Sama-sama. Sekarang ayo tidur, aku takut malah jadi berubah pikiran dan memaksamu," ungkap Vander yang kemudian langsung menarik Lara berbaring didadanya.
Hangat, nyaman, dan terasa aman, hal itu yang selalu Lara rasakan tiap kali berbaring di dada bidang kekasihnya sambil dipeluk.
"Selamat tidur Vander..."
"Selamat tidur sayang."
*
Di bengkelnya, Gavin terlihat tengah sibuk mengutak-atik motor kesayangannya dengan wajahnya yang cemong karena noda oli. Pria itu tiba-tiba saja kaget dibuatnya saat ada seseorang yang menempelkan segelas kopi hangat panas ke pipinya.
"Ugh! Itu panas tau— huh? Kak Vander?" Mata pria berwajah imut itu membulat kala mengetahui yang melakukan hal itu adalah Vander.
"Ini untukmu!" Vander memberikan segelas kopi tang dibawanya itu untuk Gavin.
Setelah itu mereka terlihat duduk di dekat area bengkel, sambil menikmati kopi yang dibeli Vander tadi.
Gavin tersenyum kecil setelah menyesap segelas kopi cappucino yang diberikan oleh Vander. "Ternyata kau masih ingat kopi kesukaanku ya Kak?"
Van hanya tersenyum datar dan malah bertanya, "Apa bekas pukulanku masih sakit?"
Gavin memegang bekas luka disekitar bibirnya. "Ya masih sedikit nyeri saja, paling besok sembuh," terang Gavin.
"Aku pikir kau akan menangis kesakitan," ujar Vander seraya mencairkan suasana.
"Aku tau Kakak memukulku juga tidak serius kemarin, karena kalau serius pasti akan lebih parah lagi lukanya."
Vander merasa tenang ternyata Gavin masih paham dirinya. Ia lalu mengacak-ngacak rambut di kepala Gavin dan berkata, "Maafkan aku sudah memukulmu kemarin."
"Huh?" Gavin agak sedikit aneh mendengar Van tiba-tiba minta maaf, karena setau dirinya Vander adalah manusia yang sangat jarang bilang maaf ke orang lain.
"Kenapa kau seperti kaget?"
"Ti- tidak apa, hanya saja melihat kak Vander minta maaf aku jadi agak aneh mendengarnya," ungkap Gavin.
"Lara menyuruhku minta maaf padamu."
"Oh... jadi karena kak Lara yang minta?" Meski begitu Gavin tau kalau Van di dalam hatinya juga merasa menyesal. "Oh iya Kak, apa kau sudah tau orang yang menjebak kak Lara waktu itu?"
"Ya!"
"Siapa?" Gavin terlihat sangat ingin tahu.
"Si rubah betina Karina!" Sorot mata Vander langsung menunjukan kemarahan saat menyebutkan nama Karina.
"Karina? Siapa dia?" Tanya Gavin yang memang belum pernah melihat Karina.
"Dia CEO appletree, wanita licik yang sangat berambisi menjatuhkan Lara!"
__ADS_1
"Ah iya aku tau, Mira beberapa kali pernah menyebutkan tentangnya dan melihatnya lewat media sosial. Ah jadi benar kata Mira kalau wanita itu jahat!"
Vander menghela nafasnya seraya membuang segala resah yang ada di dadanya.
"Tapi aku tidak tahu harus bagaimana saat ini. Aku tidak bisa dengan mudah menghabisi Karina lalu membuang mayatnya agar dia tidak lagi bisa mengganggu Lara. Karena bagaimana pun Karina pasti memiliki sokongan orang berpengaruh di belakangnya." Vander tersenyum pilu, ia merasa kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi Lara dengan semestinya.
"Sudahlah Kak," Gavin menepuk pundak kakak angkatnya itu. "Walau belum maksimal, tapi kau kan sudah berusaha. Lagipula ada cara lain supaya kau bisa dengan utuh menjaganya."
Van yang tengah meneguk kopi langsung memicingkan matanya. "Apa maksudmu?" Tanya Vander yang kemudian meneguk kopinya lagi.
"Nikahi saja Kak Lara!"
"Uhuk uhuk!" Seketika Vander syok sampai-sampai ia tersedak kopi mendengar perkataan Gavin barusan.
"Kau gila!" Pekik Vander pada Gavin.
"Loh kenapa? Kakak kan sangat mencintai kak Lara, ya nikahi saja dia! Lagipula kalian sudah sama-sama dewasa kan...?"
Van memijit pelipisnya. "Kalau semudah itu memutuskan menikah, sudah kunikahi semua wanita yang aku temui!"
"Jadi kakak tidak ingin menikahi kak Lara?"
"Bukan begitu! Hanya saja bagiku... menikah itu tidak semudah itu, ditambah lagi status diantara kami apa mungkin?" Van sepertinya memiliki pandangan sendiri terkait pernikahan.
Gavin menatap Vander dengan tegas seraya meyakinkannya. "Kak! Kau itu tampan, gagah, dan sangat handal melakukan banyak hal, kenapa harus merasa rendah diri begitu sih? Kemana perginya Vander Liuzen yang percaya diri?"
Vander tertunduk bingung. "Entahlah... tapi aku punya banyak pertimbangan soal itu." Khawatir Gavin makin melebar bahas soal menikah, Vander pun tiba-tiba langsung pamit pergi.
"Kakak aku akan selalu mendukungmu menikahi kak Lara!" Seru Gavin memberi semangat pada Gavin yang melenggang pergi.
**
"Ugh! Capeknya..." Ucap Lara sambil mengretakan jari-jarinya setelah selesai mempelajari proprosal proyek Miracle yang akan bekerja sama dengan salah satu pemilik sektor pekebunan kapas di RK. Vander yang baru kembali dari RK mengatakan kalau, warga disana setuju untuk bekerjasama menjadi pemasok kapas bagi sektor tekstil Miracle.
Lara melipat tangannya diatas meja dan menyandarkan kepalanya diatasnya seraya bersantai sejenak. Tak lama kemudian ponselnya berbunyi. Tangannya pun langsung meraba-raba dimana ponselnya tanpa melihat.
"Siapa?"
Melihat nama kakeknya tertera dilayar melakukan panggilan video, Lara pun terlihat senang bukan main. Gadis itu pun langsung mengangkat panggilan videodari kakek dan neneknya itu.
Lara : Kakek, Nenek! Aku rindu sekali pada kalian!
Kakek : Halo cucu kesayanganku.
Lara jadi terharu mengingat sudah beberapa bulan mereka belum berkomunikasi lagi.
Kakek : Sayang kenapa kau menangis.
Lara : Aku rindu pada kalian, rindu sekali...
Nenek : Kami juga rindu padamu sayang, jangan menangis hatiku jadi sedih melihatnya.
Lara pun menghapus air matanya langsung karena tidak ingin kakek neneknya khawatir.
Kakek : Oh iya sayang, kakek dan nenek sudah memutuskan akan kembali ke ZR minggu depan.
Lara : Benarkah? (Gadis itu senang bukan kepalang)
Lara : Jadi kalian akan tinggal disini lagi?
Nenek :Ya, kami ingin pulang karena ingin merayakan ulang tahunmu yang ke duapuluh dua akhir tahun nanti.
Kakek : Kau semakin dewasa, aku rasa kau sudah pantas punya pendamping. Dulu nenekmu seumurmu sedang mengandung ayahmu.
Lara : Kakek jaman sekarang usiaku masih terbilang muda.
Nenek : kami tidak ingin memaksamu kok, kami hanya berharap ada pria yang bisa melindungimu saja.
Setelah mengobrol dengan cukup panjang, akhirnya Lara memutuskan untuk mengakhirinya, melihat di jerman saat ini sudah malam. Namun saat dirinya mau menyudahi, tiba-tiba saja Vander malah menyelonong masuk ke ruangannya. Lara pun jadi gelagapan seketika.
Kakek : siapa yang datang?
"Um itu..."
Vander langsung menghampiri Lara dan bertanya sedang apa. Alhasil kakek nenek Lara pun melihat sosok Vander dilayar ponselnya.
Kakek : Oh anak muda siapa kau?
Van langsung kaget sejadinya, ia sendiri tidak tau kalau Lara sedang video call.
__ADS_1
Van : Oh aku...
Lara : Dia pacarku!
Entah kenapa Lara langsung refleks mengatakan hal itu.
Astaga gadis ini! Van hanya bisa pasrah kali ini.
Nenek : Nak, jadi kau pacar cucuku?
Kakek : Kau tampan sekali, siapa namamu?
Vander : Namaku Vander, iya aku kekasih Lara.
Kakek dan Nenek Lara terlihat menyukai Vander, untuk beberapa saat mereka pun bahkan sudah bisa berbincang sambil sesekali bercanda. Hingga pada akhirnya memang sudah saatnya mengakhir mengingat Lara tidak mau kesehatan kakek neneknya jadi buruk karena terlalu lama memandangi layar.
Kakek : Oh iya Vander! Sebelum panggilan ini berakhir, demi nama besar keluarga Hazel, berjanjilah padaku kau akan jaga dan bahagiakan Lara.
Vander : Aku berjanji kakek!
Kakek : Bagus.
Nenek : Baiklah sampai jumpa di Miracle ya... sayang.
Lara : Bye kakek nenek...
Setelah berkomunikasi dengan kakek neneknya Lara jadi terlihat lebih baik. Ia sudah tidak sabar lagi bertemu kakek neneknya minggu depan.
"Kau bahagia sekali ya?" Tanya Vander
Gadis itupun langsung melingkarkan tangannya di leher Van dan tersenyum sumringah menatapnya. "Iya, aku senang karena akan segera bertemu keluargaku lagi."
Vander melingkarkan tangannya di pinggang ramping Lara dan menariknya menempel ke tubuhnya lalu berbisik ditelinga sang wanita. "Karena suasana hatimu sedang baik, bagaimana kalau kita melakukan hal yang tidak jadi kita lakukan semalam?"
Telinga Lara memerah, bisikan sensual Vander membuat tubuhnya pun ikut bereaksi dan langsung memeluk dan mencengkeram erat punggung Vander.
"Aku anggap itu jawaban 'ya' darimu Nona..." Vander pun langsung mengangkat pinggul wanita itu dan menggendongnya menuju sofa panjang yang ada diruangan itu. Lara menempel erat digendongan Vander sambil terus mengecup bibir kekasihnya itu.
Gairah Vander yang menggila karena semalam tertahan pun membuatnya tidak bisa lagi menahan untuk memasuki tubuh Lara.
"Vander..."
"Nona Lara kau milikku!"
"Yes!"
**
Di tempat lain, Jeden akhirnya melakukan pertemuannya dengan tuan Rowen pemilik 13 persen saham Miracle. Setelah ia berhasil meyakinkan tuan Yamazaki dan tuan Jimmy, kali ini ia akan berusaha untuk membuat tuan Rowen yakin untuk mengalihkan saham yang ia miliki untuknya.
"Aku sebenarnya gamang, mengingat Miracle semakin lama justru semakin turun. Jujur saja aku ingin menjual sahamku tapi... melihat prospek kerja Tuan Jeden yang luar biasa, aku jadi mempertimbangan untuk mengalihkan sahamku padamu."
"Aku hanya ingin menyelamatkan Miracle," ucap Jeden mencari simpatik.
"Tapi kalau aku menyerahkan sahamku padamu, bukankah otomatis kau akan jadi pemegang saham terbesar di Miracle? Dan meksi begitu semua keputusan jabatanmu akan ditentukan dewan komisaris selaku pengawas."
"Aku tau jadi kau setuju bukan Tuan Rowen?"
Dan akhirnya Rowen pun setuju mengalihkan sahamnya untuk Jeden. Mereka berdua lalu berjabat tangan setelah itu Rowen pun pergi duluan. Sementara Jeden tampaknya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Mengingat akhirnya ia akan jadi pemegang saham terbesar Miracle dalam sepuluh hari.
"Kau lihat Lara? Tidak lama lagi kedudukan kita akan bertukar, dan kau yang pada akhirnya akan membutuhkanku."
**
Hari itu saat Lara tengah serius membicarakan proyek kerjasama Miracle dengan pemilik perkebunan di kota RK bersama Miranda, tiba-tiba saja Ana sekretaris Lara masuk dengan raut wajah panik. "Nona Lara gawat!"
"Ada yang terjadi Ana?" Tanya Lara khawatir melihat Ana yang terlihat panik saat ini.
"Nona Lara itu— itu dibawah..."
"Katakan yang jelas!" Tegas Miranda.
Lara pun menyuruh Ana untuk minum air dulu agar merasa lebih tenang.
Setelah Ana lebih tenang ia pun kembali bertanya, "Jadi, gawat kenapa Ana?" Wajah Lara tampak penasaran sekaligus cemas.
"Dibawah sana, aku melihat puluhan pegawai sedang melakukan mogok kerja dan demonstrasi di depan gedung kantor kita."
"Apa?!"
__ADS_1
...🌿🌿🌿...
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜