
Vander yang diantar Robert akhirnya tiba di dermaga. Mengenakan kemeja berwarna gelap dipadukan mantel hitam panjang, pria itu kemudian keluar dari dalam mobil mercy warna hitamnya.
"Robert kau tunggu saja disini!"
"Baik Tuan."
Vander pun langsung berjalan menuju ke gudang tua yang dimaksud Gavin. Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya ia tiba juga di tempat itu. Di luar gudang nampak Gavin yang mengenakan jacket kulit berwarna coklat sudah menunggu kedatangan Vander sejak tadi.
"Kak, aku sudah menangkapnya. Sebenarnya aku sih hanya menyuruh Lori dan Moyes menangkapnya, dan setelah itu aku.."
Vander lalu menoleh dan menatap Gavin dengan tatapannya yang dingin. Sontak Gavin pun jadi tegang dan akhirnya berhenti bicara.
"Oke aku diam, ayo kita masuk ke dalam saja."
Gavin mengantar Vander masuk ke gudang tersebut. Gudang itu sudah sangat tua dan lapuk, hal itu terlihat dari suasana di dalamnya yang berbau lembab dan kayunya sudah mulai reot.
"Tuan kami sudah tangkap wanita ini!" Lapor Moyes.
Dari tempatnya berdiri, Vander bisa melihat seorang wanita yang kini barada diantara Lori dan Moyes. Wanita itu duduk diatas kursi dengan keadaan kaki dan tangan terikat di kursi, serta mulut dan matanya ditutup.Β Vander kemudian berjalan ke arah dimana wanita itu.
"Buka penutup matanya!" Titah Vander.
Lori yang berdiri disebelah wanita itu pun langsung melakukan perintah Vander. Setelah penutup matanya dibuka, wanita itu pun langsung terbelalak kaget dan ketakutan, seolah seperti melihat seorang malaikat maut dihadapannya.
"Kenapa syok begitu melihatku nona Cindy?" Ucap Vander sambil agak tersenyum. Sayangnya senyum pria itu memiliki arti lain, senyum yang bukan dimaksudkan sebagai tanda kebahagiaan dan suka cita, melainkan sebaliknya. Wanita itu semakin ketakutan melihat raut wajah Vander yang begitu dingin dan tak terbaca.
Di samping kanan dan kiri Cindy berdiri Lori dan Moyes yang menjagawasinya, sementara Gavin yang berdiri di belakang Vander tampak tak sabar menunggu apa yang akan dilakukan oleh kakak angkatnya yang gila itu.
Melihat Cindy menatap gemetar ketakutan, Vander lalu meminta Moyes membuka penutup mulutnya. Dengan kasar pria itu pun membuka plester penutup mulut wanita itu.
"Bghh... Tuan Vander, aku mohon ampun padamu, aku terpaksa melakukan semua ini karena diancam, kumohon..." ungkap Cindy sambil menangis dan menghiba.
Sayangnya, suami Lara itu tampak sama sekali tidak iba, melihat wanita itu meminta pengampunannya. Ia malah meminta Gavin memberikannya selembar kertas yang berisi catatan buruk serta aib Cindy, dan membacakannya.
"Cindy Hao, dua puluh sembilan tahun, pernah menjadi simpanan pejabat diusia dua puluh dua tahun, suka bergosip, suka membully saat masih sekolah, menelantarkan ibunya yang sakit, dan obsesi pada bosnya sendiri."
Vander memicingkan matanya seraya menatap jijik pada Cindy. "Jadi kau suka padaku? Ah sayangnya aku tidak suka pada wanita jelek menjijikan sepertimu, dan aku bahkan sama sekali tidak menganggapmu sebelumnya. Tapi yang aku heran, bagaimana bisa wanita dengan catatan buruk sepertimu bekerja di perusahaanku? Sepertinya aku harus pecat HRD yang meloloskanmu. Tapi sudahlah saat ini bukan itu yang terpenting..." Vander mermas kertas ditangannya itu dan melemparkannya ke wajah Cindy
"Yang terpenting sekarang adalah, siapa yang menyuruhmu membuat thread palsu tentangku itu?" Vander mulai mengintimidasi.
Tentu saja Cindy langsung ketakutan dan gemetar dibuatnya.
"Ji-ji- jika aku beritahu, apa anda akan melepaskan aku?"
"Itu semua tergantung dirimu," balas Vander dengan suaranya yang berat.
Cindy belum juga mau mengatakannya.
"Masih diam? Oke baiklah..." Vander yang mulai hilang kesabaran langsung menyuruh Lori dan Moyes memotong rambut wanita itu sampai habis.
"Baik Tuan!"
"Tidak jangan! Aku mohon, b- ba- aik aku akan bicara, tapi kumohon jangan potong rambutku tuan..." Pintanya sambil menangis
"Aku- aku disuruh oleh olehβ Jeden Lee!" Seru Cindy lalu menangis ketakutan.
"Jaden Lee?" Vander mengerutkan alisnya sambil bertanya-tanya dalam benaknya, siapa Jeden Lee? Tentu saja Vander tidak ingat, itu karena efek penghapusan memorinya waktu itu. Berbeda dengan Vander, Gavin justru langsung ingat soal pria bernama Jeden tersebut.
Gavin lalu mendekati Vander dan berbisik, "Kak, kau pasti lupa tentang Jeden, tapi tenang saja aku jelas masing ingat dengan pria busuk itu. Sekarang ini lebih baik kau selesaikan saja hukuman wanita jelek ini, baru kita cari Jeden."
"Ya, kau benar," jawab Vander.
Karena tidak mau lama-lama, Vander pun langsumg meminta Cindy agar segera membuat pengakuan, kalau thread semua itu adalah palsu buatannya lewat video.
"Tapi- t- tapi dengan begitu wajahku akan terlihat, aku- aku tidak mau!"
"Kau tidak punya hak untuk menolak, lakukan atau kubuat kau menyesal!" Ancam Vander.
Cindy yang masih berpikir Vander tidak serius pun malah diam saja. Hal itu membuat Vander tidak senang, ia pun kembali menyuruh Moyes dan Lori untuk memotong habis rambut, serta menyayat kulit wanita itu.
Baik Lori dan Moyes pun langsung mengeluarkan gunting dan pisau dari saku mereka. Melihat tajamnya pisau dan gunting, Cindy pun benar-benar gemetar ketakutan, sampai pada akhiranya ia pun menuruti apa yang diperintahkan Vander. Akhirnya Cindy membuat video klarifikasi lalu mempostingnya di akun media sosial yang sama seperti yang ia gunakan untuk memfitnah Vander waktu itu.
"Oke!" Ucap Vander setelah video itu berhasil diposting.
"Tu- tuan Vander, setelah iniβ se- setelah ini, kau akan bebaskanku kan?" Ucap Cindy dengan nada memohon.
Vander lalu tersenyum dan berkata, "Sayangnya aku tidak janji apa-apa sejak awal, aku hanya bilang 'tergantung' dan ternyata kau tidak cocok dimaafkan. Sejujurnya aku paling benci dengan penghianatan, kau telah berhianat dengan membantu musuh, oleh karena itu tempatmu seharusnya di jeruji besi!"
"Apa! t- ti- tidak tuan jangan!"
"Lori, Moyes! Kalian seret wanita hina itu ke kantor polisi, dan penjarakan dia atas dasar fitnah dan perundungan!" Titah Vander tanpa ragu.
"Baik Tuan!"
"T- tu- tunggu! Jangan- Jangan kumohon! Aku tidak mau masuk penjara, tuan ampuni aku...! Tuan Vander...! Aku akan menyembah kakimu kalau perlu tapi jangan jebloskan aku ke penjara tuan... tuan!" Wanita itu meraung dan memohon, sayangnya Vander bukan pria murah hati yang akan mudah mengasihani orang lain. Pria itu malah memilih langsung pergi keluar dari gudang tua itu, diikuti Gavin yang berada dibelakangnya.
Sekeluarnya dari gudang, Vander kemudian sejenak menghirup udara segar di pinggir dermaga sambil menghisap rokok. Disana ia terlihat berbincang dengan Gavin membicarakan tentang Jeden Lee.
"Jadi Jeden Lee dan aku kenyataannya saling kenal?Dan dia juga pernah jadi pemiliki Miracle, perusahaan milik keluarga Lara yang dua tahun lalu berhasil aku akuisisi kepemilikannya karena sudah hampir bankrut."
"Benar kak, dan waktu dulu, kau serta pria itu sering berseteru, terutama soal kak Lara. Setauku Jeden sejak dulu mengejar kak Lara, hanya saja kak Lara pada akhirnya malah memilihmu yang notabennya waktu itu hanya seorang pengawal bekas gelandangan. Itu sebabnya dia sakit hati sampai detik ini padamu," terang Gavin.
"Persetan dengan lupa ingatan ini, aku jadi sulit mengingat semua kejadian beberapa tahun silam," Vander tampak frustasi lalu mematikan rokoknya.
"Sudahlah kak, yang terpenting kau kan tetap memenangkan cintanya kak Lara. Kau harus bersyukur, dari semua pria tampan kaya raya yang dulu mengejar kak Lara, dia malah memilihmu yang cuma mantan gelandangan dan pengawalnya."
"Kau benar, aku terlalu tamak dengan pemikiranku sendiri tanpa peduli perasaan Lara kepadaku." Vander setengah tertawa mengingatnya, seketika ia merasa bodoh sekali karena sudah berpikir pendek untuk menghapus ingatannya, padahal sejak awal hal itu jelas tidak menjamin dirinya hidup tenang waktu itu.
"Aku ini memang tolol! Sungguh memutuskan mengahapus masa lalu dengan dalih melindungi Lara, adalah keputusan terbodoh dan penyesalan terbesar dalam hidupku." Setiap kali ia mengingat keputusannya itu bodoh, Vander benar-benar merasa menyesal hingga kadang malu rasanya melihat dirinya sendiri.
__ADS_1
Gavin menepuk pundak kakak angkatnya itu dan memberinya semangat. "Sudahlah kak, tidak ada gunanya juga terus menyesal, bagaimanapun kau tetap peran utamanya. Musuhmu masih banyak menunggumu di depan sana, jadi kau harus semakin kuat, dan anak istrimu, mereka juga pasti ingin lihat dirimu bahagia."
Seketika Vander tersenyum lalu merangkul Gavin sambil mengacak-acak rambutnya. "Kata-katamu sekarang jadi dewasa sekali ya bocah!" Ledek Vander sambil tertawa.
"Kak kau jangan begitu, bagaimanapun sekarang aku seorang suami, jadi harus berwibawa," pungkas Gavin sambil merapikan kembali rambutnya.
"Aku bangga padamu Gavin," Puji Vander seraya bangga pada pria yang ia sudah anggap adiknya sendiri itu.
"Hehehe... dipuji dirimu aku jadi malu kak,"
Vander lalu mencoba memukul Gavin namun segera ditangkisnya.
"Aku sudah semakin jago berkelahi kak, jangan remehkan aku."
Vander menyeringai kecil. "Ya, reflekmu memang bagus. Sayangnya kau masih gampang lengah."
"Eh?"
Vander memperlihatkan tanganya yang sudah memegang dompet dan kunci motor Gavin.
"Kak, ka- kau ini sudah kaya masih saja lihai mencopet!"
"Habitku dijalanan tidak akan bisa hilang bodoh, sudahlah ayo pergi. Nyonya bosku sedang menungguku pulang saat ini," ujar Vander lalu melemparkan kembali kunci dan dompet milik Gavin pada pemiliknya.
...πππ...
Di kediamannya, Jeden yang sudah tahu berita kalau Cindy tertangkap pun segera bergegas menghilangkan jejak dengan cara melarikan diri dari kediamannya saat ini.
"Wanita bodoh, dia pasti telah membocorkan identitasku pada Vander sialan itu, aku harus segera melarikan diri dari sini!"
Sambil membawa tas berisi uang dan juga berkas berharganya, Jeden melarikan diri dari apartemennya dengan dibantu oleh anak buahnya yang sudah menunggu dibawah.
"Saat ini yang terpenting aku harus kabur dulu, setelahnya akan kupikirkan lagi!"
Di bawah Jeden langsung masuk ke mobil dan melarikan diri dengan mobil yang dikemudikan oleh anak buahnya tersebut.
"Cepat kita ke kota RK!" Titah Jeden.
Namun anak buahnya tak menjawab sama sekali ia hanya terdiam dan terus melaju mengemudikan mobilnya.
"Hei kau tuli, kenapa kau tidak menjawabku!" Seru Jeden kesal, dan seketika mobil itu pun berhenti mendadak.
"Bodoh, kenapa berhenti mendadak sih! Eh ka- kau siapa?" Jeden tampak kaget saat tahu pria yang menyupirinya ternyata bukanlah anak buahnya.
Tak lama mobil yang dikendarai Jeden pun diserbu oleh beberapa orang tidak dikenal dengan jas serba hitam.
"Kalian siapa- mau apa kalian!" Pekik Jeden ketakutan. "Hei kalian tidak, to- tolong aku, tolong...!" Jeden diringkus orang-orang misterius itu dan langsung dibawa pergi entah kemana.
...πππ...
Emily yang tengah makan di restoran bintang lima dengan manajernya, tiba-tiba saja mendengar pengujung lain yang mengatakan kalau thread yang beredar tentang Vander dan wanita masa lalunya itu hanya fitnah.
Oh jadi semua hanya fitnah?
Sudah, sudah!
Lihat deh pengakuannya menjijikan sekali, melihatnya aku jadi berpikir, mana mungkin tuan Vander yang tampan dan tersohor itu mau dengan wanita jelek di video itu.
Karena penasaran, Emily pun langsung berselancar ke media sosial untuk melihat sendiri video klarifikasi tersebut.
Dari pengakuan tersangka, ternyata pembuat thread itu mengaku melakukannya segaja untuk memfitnah Vander agar namanya jelek, hal itu ia lakukan sebab dirinya merasa sakit hati karena tidak pernah dihiraukan oleh Vander.
"Oh, jadi penebar thread sampah itu pegawai dari Laizen sendiri?" Ujar Emily yang tak habis pikir dengan itu semua. "Dan alasan dia melakukannya karena diabaikan rasa sukanya oleh Vander? Heh, lucu sekali wanita busuk ini. Wajahnya saja jelek begini, tapi berani mimpi dicintai oleh tuan Vander!"
"Iya, kau saja yang model papan atas sampai saat ini belum juga bisa menarik perhatiannya," celetuk Naomi.
"Bicara begitu lagi, aku robek mulutmu Naomi!"
"Maaf- maaf."
Sekarang memang belum, tapi sebentar lagi aku pasti akan dapatkan dia dan akan kusingkirkan wanita jal@ng dan putranya yang menyebalkan itu, tunggu saja!
...πππ...
Selain Emily, di ruang kerjanya Eiji juga terlihat baru saja selesai menonton video klarifikasi dari Cindy. Setelah menonton video tersebut, Eiji jadi agak merasa tidak enak akan kejadian tadi siang bersama Lara. Dirinya berpikir kalau, tidak heran Lara marah, karena pada kenyataannya Vander hanya di fitnah.
"Sepertinya rasa cemburuku yang terlampau besar, membuatku begitu semangat untuk menjatuhkan Vander di depan Lara. Padahal kalau dipikir hal itu sangat memalukan, aku berusaha mendapatkan cinta wanita yang aku sukai tapi dengan cara menjatuhkan sainganku disaat lemah. Ternyata aku memang tetap saja pecundang," sesal Eiji.
...πππ...
Setibanya di apartemen, seperti janjinya tadi di kantor, Vander langsung saja menuju ke unit apartemen Lara untuk makan malam disana.
Pria itu pun membuka pintu dihadapannya dan bekata, "Aku pulang...'
Setibanya di dalam Vander langsung disambut oleh langkah kaki kecil yang berlari menuju ke arah Vander saat ini. Seorang pria kecil dengan mata hazel yang besar, berlari menyambut pria bermantel hitam yang baru saja masuk.
"Papa selamat datang...!" Seru Rey kecil menyambut papanya yang baru saja datang. Tanpa aba-aba Rey yang langsung memeluk papanya itu pun minta digendong.
"Papa aku ayo cepat kita makan, setelah itu bantu aku merakit gundam," ajak Rey.
"Tapi ini bukan hari libur, apa Lara sudah izinkan kau membuatnya malam ini?" Jawab Vander.
"Mama boleh ya... Papa kan jarang kalau malam kesini, atau aku ikut ke apartemen papa saja bagaimana?"
Vander melirik istrinya yang terlihat tengah meletakan piring-piring makanan ke meja, seraya menanyakan apakah usul putranya itu diterima atau tidak?
Sayangnya, sekali mama tidak akan jadi papa. Lara tetap saja melarang Reynder membongkar mainannya hari ini.
"Huh mama pelit, aku kan sudah kerjakan PR Ma...," rengek Reynder.
__ADS_1
"Lara, mungkin hari ini saja bolehkan," usul Vander yang mencoba membantu putranya. Sayangnya tahta tertinggi di dalam rumah tetap saja keputusan sang mama. "Sekali tidak tetap tidak boleh, kau juga Vander jangan teralalu memanjakannya."
"Tapi Rey kan sudah mengerjakan PRnya sayang..."
Lara tetap tidak mengizinkan.
"Huh mama tidak asik," ucap Rey ngambek.
"Sudahlah, lain kali saja ya?"
"Huh papa payah, masa tidak bisa membujuk mama," gumam Rey kesal.
"Bukan begitu Rey kau tidak tahu alasannya," Alasannya kalau aku melawannya nanti aku yang malah tidak diberi jatah. Aku tidak mau mengorbankan hakku demi seonggok robot mainanmu itu.
Karena tidak ingin anaknya kecewa, Vander pun memberi penawaran. "Begini saja, sebagai gantinya selain menemanimu merakit robot, akhir pekan nanti aku akan ajak kau berkuda, bagaimana deal?"
"Deal!" Sambut Rey yang langsung antusias dan tidak cemberut lagi.
"Oke, kalau begitu mari kita tos antar laki-laki!" Ajak Vander.
Sepasang anak dan ayah itu pun melakukan tos yang hanya mereka saja yang paham.
Melihat suami dan putranya nampak sangat dekat dan akrab, Lara yang melihatnya pun langsung tersenyum bahagia.
Didalam lubuk hatinya yang terdalam Lar berharap agar semua kebahagiaan ini tidak pernah usai.
Apapun yang terjadi, aku akan mempertahankan keluargaku. Anakku dan suamiku, mereka adalah milikku dan tidak ada yang boleh merebutnya.
Setelah selesai makan malam dan menemani putranya belajar, Vander yang diantar Lara keluar pun pamit untuk kembali ke apartemennya. Sebenarnya pria itu tidak ingin kembali, tapi karena ada yang harus ia kerjakan di ruang kerjanya, terpaksa ia harus kembali.
"Oh iya soal thread itu, aku sudah lihat video klarifikasinya. Dan kulihat semua komentar warganet kini sembilan puluh persen balik memihakmu. Apa itu semua rencanamu?"
"Menurutmu?" Vander mendongakan dagu tirus istrinya.
"Menurutku... kau sangat keren," ucap Lara sambil kedua tangannya bergelayut manja dileher suaminya.
"Kau baru sadar aku keren?"
"Kau ini, lalu bagaimana dengan nasibnya Cindy?"
"Itu urusan anak buahku, yang jelas dia akan dapatkan hukumannya. Dan..." Vander seketika tidak jadi bicara.
"Dan apa?"
"Tidak, aku hanya ingin bilang kalau masakanmu enak sekali. Kau memang istri terbaik." Tadinya Vander ingin bahas soal Jeden, tapi ia urungkan mengingat dari cerita Gavin tadi, Jeden dan Lara dulu sering tidak akur. Aku juga tidak mau kalau istriku malah jadi kepikiran pria itu kalau aku ceritakan soal Jeden.
Lara kemudian tersenyum dan memeluk suaminya. Karena sudah ketahuan oleh Emily hubungannya dengan Vander, Lara jadi merasa tidak perlu lagi terlalu menjaga jarak dengan suaminya kalau di apartemen.
Saat tengah memeluk suaminya, tak sengaja Lara melihat ada Emily yang ternyata tengah melihat dirinya dan Vander dari dekat kediamannya.
Melihat raut wajah cemburu Emily melihat dirinya dan sang suami berpelukan, hal itu justru membuat Lara berpikir untuk membuat Emily semakin cemburu.
Lara seketika semakin erat memeluk suaminya dan bertanya, "Vander diluar sana banyak sekali wanita cantik yang pasti menyukaimu, kenapa kau malah memilihku?"
"Huh?" Vander sampai bingung kenapa istrinya tiba-tiba tanya begitu.
"Jawab saja..."
"Karena hanya Lara satu-satunya wanita yang pantas untukmu."
"Kau yakin? Bahkan jika ada model sekelas Emily Hasaki kau tidak mau berpaling dariku?"
Vander tertawa, "Untuk apa berpaling dengan wanita lain, kalau aku sudah memilikimu yang jauh lebih sempurna."
"Satu lagi, kau bilang kau akan melakukan apapun untukku, apa itu benar?"
"Tentu saja apapun untukmu, ratuku," ucap Vander lalu mengecup tangan Lara.
Lara pun tersenyum licik seraya memprovokasi Emily yang ia tahu saat ini masih memperhatikannya bermesraan bersama Vander dengan penuh emosi yang meledak-ledak.
Lara jal@ng sialan itu, beraninya dia sengaja memprovokasiku!
Terakhir, Lara pun mengecup bibir suaminya.
Dan seketika gejolak api kecemburuan di batin Emily pun sudah tak bisa ditolerir lagi. Akhirnya Emily pun langsung memilih pergi dan karena tak sanggup melihatnya lagi.
Setelah melihatku dan Vander seperti ini seharusnya kau tahu dimana levelmu Emily! Sampai kapanpun suamiku tidak akan bisa berpaling dariku.
Setelah tau Emily pergi, Lara pun melepaskan ciumannya.
"Sayang kau kau ini kenapa?" Tanya Vander agak heran melihat istrinya tiba-tiba bersikap begitu padanya.
"Tidak apa-apa, aku hanya mengetes kau saja. Habisnya setelah melihat video Cindy aku jadi sadar, pasti masih banyak wanita diluar sana yang berusaha menggodamu," ungkap Lara.
"Memang, tapi sayangnya mereka tidak semenggoda dirimu," bisik Vander.
"Umβ iya sudah kalau begitu kau kembalilah, aku mau masuk dan siap-siap tidur."
"Oke, selamat malam nyonya Vander."
"Selamat malam, sampai ketemu besok" Lara kemudian masuk ke apartemennya.
Vander yang masih disana tiba-tiba tersenyum dan berkata, "Kau melakukan hal tadi karena ingin memberitahu wanita lain kalau aku milikmu kan? Jujur itu manis sekali."
...πππ...
Sementara di dalam kamarnya, Emily murka luar biasa setelah melihat Vander dan Lara bermesraan tadi. Saking murkanya wanita itu sampai mengamuk dan melempar semua parfum dan alat make up yang ada di meja riasnya
"Wanita sialan! Apa-apan dia, beraninya memprovokasiku seperti tadi! Dia pikir dia siapa memamerkan kemesran begitu? Kampungan sekali!" Emily geram sampai mengepalkan tangannya dan bersumpah dengan dengan penuh amarah. "Lihat saja, aku akan balas dia dengan seratus kali lebih menyakitkan! Kau tunggu saja Lara!"
__ADS_1
...πππ...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS π