
Lara yang akhirnya sadar pun langsung bangkit dan merasa kaget saat tahu dirinya sudah berada diatas sebuah ranjang berukuran king size. "Dimana ini sebenarnya, kenapa aku ada disini? Dan..."Β Lara kembali kagat saat ia membuka selimutnya dan mendapati gaun pestanya sudah berganti jadi gaun tidur. Wajah Lara pun seketika ketakutan, ia mendekapkan kedua tangannya di dada."Kenapa aku bisa disini, dan siapa yang sudah mengganti pakaianku?"
Tak lama pintu kamar tempat Lara berada tiba-tiba terbuka, seseorang terlihat masuk membawa nampan berisi makanan. Lara yang sudah siap mau menyerang orang yang masuk dengan asbak pun langsung terlihat kaget saat melihat langsung wajah orang yang membawa nampan tersebut.
Lara yang tadinya mau memukul orang tersebut seketika langsung menjatuhkan asbak ditangannya, dan malah berlari memeluk orang dihadapannya itu sambil menangis. "Mira.... Aku rindu padamu..."
"Eits, Lara jangan terlalu erat memeluknya... aku bawa makanan," pungkas Miranda takut makanan yang dibawanya tumpah.
Setelah meletakan nampan tersebut di meja, akhirnya Lara dan Miranda pun kembali berpelukan. Kedua sahabat ini tampak sekali saling merindukan satu sama lain.
"Miranda aku rindu sekali padamu, sudah dua tahun sejak terakhir kali kau mengunjungiku di Kanada, kau sehat dan baik-baik saja kan?"
"Iya aku baik-baik saja kok, sudah jangan menangis dasar cengeng," ejek Mira yang sudah menganggap Lara adiknya sendiri.
"Syukurlah kalau kau sehat. Tapi... Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa ada disini Mira? Dan kenapa aku ditempat ini? Seingatku, semalam aku sedang berada di Caliente dan tiba-tiba saja lampu mati, setelah itu ada yang menyergapku dari belakang dan kemudian, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi."
"Aduh soal itu sebenarnya umβ darimana ceritanya ya, jadi begini..." Miranda kemudian menceritakan kronologis kenapa dirinya pada akhirnya bisa disini dan bertemu Lara.
"Apa? Jadi ini semua memang ulah Vander?"
"Yes, ulah si brengsek kaya raya itu. Aku juga awalnya kaget. Malam itu saat aku mencoba meneleponmu, tiba-tiba saja malah Vander yang mengangkat. Saat itu aku yang tadinya mau buat kejutan untukmu, malah aku yang dibuat terkejut oleh pria itu."
"Tunggu, seingatku ponselku habis batre saat acara, lalu bagaimana bisa kau menelepon ke ponselku?" Tanya Lara heran.
"Aku sih tidak tahu kalau itu, mungkin Vander men-charge-nya saat di mobil. Saat ditelepon ia sepertinya sedang tergesa-gesa, ia bahkan tak menjelaskan apapun dan malah langsung memintaku menemuinya di cottage ini. Dan kau tahu, saat aku tiba disini, aku benar-benar kaget melihat Vander, diaβ dia jujur saja semakin tampan, tapi juga aneh dan agak berubah peragainya.."
"Aneh?" Lara memiringkan kepalnya.
"Iya aneh, masa dia saat lihat aku seperti orang linglung yang tidak kenal denganku!"
Oh iya, Lara sendiri lupa kalau Miranda pasti tidak tahuΒ kalau sebagian ingatan Vander sudah dihapus. Jadi wajar saja jika Mira aneh melihat Vander yang tidak ingat dengannya.
"Mira, kalau itu sebenarnya karena Vander lupa ingatan." Lara pada akhirnya menceritakan tentang penghapusan memori suaminya itu ke Mira sahabat karibnya sejak kecil, meski tidak semua ia ceritakan sih.
"He?" Miranda pun terlihat syok dan menganga seolah tak percaya dengan cerita Lara barusan. "Kau serius? T- tapi kenapa dia masih ingat Gavin?"
"Kalau itu mungkin karena Vander adan Gavin sejatinya sudah saling mengenal jauh sebelum mengenalku. Karena sebenarnya memori yang dihapus Vander hanyalah memori tentangku dan orang-orang yang berhubungan denganku saja. Jadi kalau bahasa medisnya Vander mengalami amnesia selektif dimana hilang ingatan sebagian."
"Tapi sekarang dia sudah ingat dengan dirimu kan?"
Lara menggeleng, "Dia mungkin agak sedikit sulit ingat lagi masa lalunya yang dihapus. Tapi bagiku kini tak masalah, meskipun tak ingat namun cintanya padaku tak berubah sama sekali. Jujur, aku awalnya juga marah dan kecewa tapi kupikir, rasa cintaku mengalahkan segalanya. Bagiku dia yang saat ini mencintaiku dan Rey dengan sepenuh jiwanya itu sudah cukup."
Miranda tersenyum menatap Lara seraya bangga, ia tidak menyangka kini gadis kecilnya kini benar-benar sudah tumbuh jadi wanita dewasa.
"Oh iya Mira, lalu dimana Vander, apa dia baik-baik saja?" Lara tampak mengkhawatirkan suaminya.
"Vander dia baik-baik saja, tadi dia kembali lagi ke Caliente untuk menyelidiki kejadian disana katanya."
"Semoga dia baik-baik saja," ucap Lara berharap dikala rasa cemas.
"Kau tenang saja, suamimu itu kan jagoan pasti dia akan baik-baik saja. Toh disana juga ada Gavin dan pihak polisi."
"Ya, kau benar."
...πππ...
Sementara di ballroom Caliente, petugas penyidik terlihat tengah menyelidiki motif penyerangan di ballroom tersebut, salah satunya dengan cara identifikasi mayat yang tertembak disana. Jadi di insiden semalam memang terdapat dua orang korban jiwa yang tertembak, satunya adalah tamu undangan dan yang satunya adalah orang yang berniat menembak walikota. Teruntuk penembak walikota, ia mati tertembak pistolnya sendiri. Hal itu karena saat Vander mencoba menggagalkan rencananya, pria itu malah mau mencoba menyerang Vander yang mana pada akhirnya malah ia yang terbunuh karena Vander yang langsung memutar tangang pria itu saat ingin menarik pelatuknya, alhasil pistolnya malah mengara dan mengenai perutnya sendiri.
Vander bersama, Robert dan juga Gavin, nampaknua membantu polisi dalam proses penyelidikan. Sayangnya setelah beberapa jam, polisi hanya bisa menemukan motif kejahatan pria yang ingin membunuh pak walikota, sementara orang lain yang memang berniat mengusik Vander seolah hilang tanpa jejak.
"Kak Vander lalu bagaimana? Apa ini ulah Gauren musuhmu itu?" Tanya Gavin.
Vander bepikir sejenak, "Bisa jadi bisa tidak, tapi yang jelas orang yang mengusikku sudah pasti orang yang sudah mengetahui seluk beluk denah hotel ini."
"Tuan Vander, apa mungkin di kantor ada mata-mata atau sejenisnya? Aku merasa sekarang ini semakin banyak orang yang semakin tidak senang melihat kemajuan Laizen Grup," ungkap Robert.
Yang dikatakan Robert memang ada benarnya, tapi siapa?
"Oh iya tuanku, beberapa waktu lalu tuan kecil menelepon, ia bertanya padaku kemana nona Lara saat ini. Ini sudah jam dua pagi, dan tuan kecil belum tidur ia pasti khawatir dengan mamanya."
"Ah iya kau benar."
"He? Jadi Kakak sudah bertemu dengan Vander junior?"
"Vander junior?" Van mengerutkan keningnya mendengar ucapan Gavin.
"Iya, aku memanggil Reynder dengan sebutan Vander junior, karena dia sangat tampan sepertimu kak," jelas Gavin.
"Jadi kau ternyata kenal dengan putraku dan istriku?" Tanya Vander.
"Tentu saja aku kenal kak Lara dan Vander kecil, kan aku dulu jadi garda depan pendukung kalian berdua. Lagian kakak kenapa dulu pergi meninggalkan kak Lara sendirian sih, kanβ"
"Tuan Gavin ikut aku sebentar," ujar Robert menarik kerah baju Gavin.
"Hei hei paman, kau ini main tarik saja! Walau aku ini anaknya mudah akrab, bukan berarti kau bisa menarikku seenaknya!" protes Gavin.
"Maaf, tapi tuan Gavin sepertinya aku harus memberitahumu kejadian yang dialami tuan empat tahun lalu." Robert pun menceritakan kepada
"Huh? Kejadian apa, memang ada apa?"
"Begini, sebenarnya tuan Vander ituβ"
"Amnesia? Jadi maksudmu kak Vander lupa ingatan, t- ta- tapi kenapa dia masih ingat denganku?"
Robert menjelaskan kepada Gavin kalau amnesia Vander itu bukan karena kecelakaan, melainkan karena penghapusan sengaja yang dilakukan oleh Vander sendiri, dan hal itu membuatnya jadi sulit mengingat kembali kenangannya. Untungnya Vander masih mau menerima kenyataannya itu meski efeknya pasti ada.
"Oh jadi begitu, pantas saja. Dan seperti dugaanku, selama ini kak Vander pergi meninggalkan kak Lara dan kita semua karena memang ada alasannya, bukannya sengaja."
...πππ...
Setelah minum dan makan sedikit, Lara yang masih berada di cottage bersama Mira, tiba-tiba merasa tidak tenang karena teringat anaknya dirumah yang kini pasti mengkhawatirkanya. Karena ponsel Lara tertinggal di mobil suaminya, ia pun akhirnya meminjam ponsel Mira untuk menelepon putranya.
"Memangnya Rey tidak tahu kau pergi?" Tanya Mira.
"Dia tahu, hanya saja aku bilang padanya akan pulang sebelum jam dua belas, sementara ini sudah jam dua pagi."
Lara pun menelepon bibi Frida. "Ayo angkat...!"
__ADS_1
Frida : Halo?
Lara :Β Halo bibi Frida ini aku Lara.
Frida : Nyonya, akhirnya anda telepon tuan kecil sejak tadi menanyakan anda terus.
(Seketika ponsel Frida diambil alih Reynder)
Rey : Halo, mama! Mama kau dimana? Mama baik-baik saja kan? Papa bilang mama baik-baik saja, tapi aku belum tenang kalau belum dengar sendiri suaramu.(Suara Rey agak gemetar karena khawatir
Lara : Mama baik-baik saja, dan maafkan mama karena sudah buat dirimu jadi cemas.
Rey : Mama pulanglah cepat, akuβ aku mau lihat mama...
Lara : Iya sayang, mama akan pulang sebentar lagi. Kau sudah jangan khawatir lagi yaβ mama minta maaf.
Rey : Cepat ya Mam...
LaraΒ : Iya sayang
Rey : Aku tunggu ya, aku sayang mama...
Lara : Aku juga sayang padamu Rey.
Lara pun mengakhiri panggilannya, kini ia sudah merasa lebih lega.
"Jadi kau akan pulang?" Tanya Mira.
"Ya, aku akan minta Vander untuk segera menjemputku disini."
Tiba-tiba Mira senyum-senyum melihat Lara saat ini.
"Kenapa kau senyum-senyum?"
"Aku senang, aku melihatmu sekarang lebih bahagia dan bersemangat dibanding dengan dua tahun lalu. Aku senang akhirnya bisa melihat Lara yang ceria kini sudah kembali lagi. Sepertinya memang kebahagiaanmu terletak pada anak dan suamimu."
Lara tersenyum. "Mereka berdua adalah segelanya buatku, bagiku Vander dan Rey adalah alasan aku hidup sampai detik ini."
"Semoga kau selalu bahagia."
"Terima kasih Mira. Oh iya danβ kau sendiri, bagaimana denganmu dan Gavin? Apa kalian masih belum mau menikah?"
"Itu... Umβ sebenarnya aku dan Gavin, kami sudah menikah di bangkok dua bulan yang lalu. Saat itu entah kenapa setelah melihat upacara pernikahan disana, aku dan Gavin jadi ingin menikah juga, dan akhirnya kami pun menikah disana," ungkap Mira malu-malu.
"Benarkah? Aa... selamat ya Miranda, aku senang sekali mendengarmu akhirnya menikah dengan Gavin, sekali lagi selamat ya..." Lara memeluk sahabatnya itu saking senangnya.
"Terima kasih Lara."
...πππ...
Di kediamannya, Jeden terlihat sangat senang saat melihat media memberitakan tentang insiden penebakan di hotel Caliente. Pria itu merasa girang karena rencananya untuk mengusik Vander cukup sukses kali ini. Orang suruhannya pun berhasil kabur setelah membuat kekacauan disana.
"Setelah ini aku akan beri dia tekanan lain," ucap pria itu dengan wajah jumawa. Jeden kini merasa diatas awan karena merasa bisa mengusik Jeden tanpa ketahuan. Karena ia berpikir Vander tidak mungkin berpikiran apalagi curiga pada dirinya, dan tentu saja hal itu menguntungkan bagi Jeden.
Dan. selang beberapa saat, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Cindy, pegawai Laizen yang kini jadi mata-mata Jeden.
Cindy : Tuan aku ada info baru untukmu
Jeden : Apa itu?
Cindy : Dari info yang baru saja aku dapat, Lara sepertinya kini tinggal di Caelestis Garden.
Jeden : Apa? Caelestis? Apartemen kelas atas itu? Bagaimana bisa, bukankah dia hanya seorang sekretaris bagaimana mungkin dia tinggal di apartemen super mewah itu? (Bahkan Jeden saja masih berpikir dua kali untuk tinggal disana. Meski alasan utamanya karena ia tidak mau tinggal di apartemen yang berada dibawah nama Laizen grup.)
Cindy : Aku juga tidak mengerti, tapi aku rasa gosip kalau dia diperlakukan khusus oleh tuan Vander itu benar adanya.
Jeden : Begitu ya? Oke, kalau begitu terus kau awasi mereka dan segera laporkan apapun yang penting padaku!
Cindy : Okey...
Jeden tampak kesal mendengarnya. "Jadi mereka masih dekat, tapi mereka tak mengakui hubungan mereka? Cih! Pria sialan itu memang pandai sekali bersandiwara. Tapi tunggu saja, perlahan aku akan buat semuanya berbalik menyerangnya."
...πππ...
Pagi harinya saat Lara ingin membangunkan putranya ia malah mendapati putranya tampak lemas dan suhu tubuhnya lebih panas dari biasanya. Ia pun segera mengecek suhu tubuh Rey dan benar, suhu tubuhnya sampai 38.5 derajat. Alhasil Rey pun tidak bisa masuk sekolah hari ini. Setelah mendatangkan dokter Yose ke tempatny, Rey pun diperiksa kemudian diberi resep obat. Kata dokter, pemicu Rey demam adalah karena sistem imunnya sedang tidak fit, ditambah faktor lelah makanya jadi mudah diserang sakit.
"Tapi Rey baik-baik saja kan dokter?"
"Putramu baik-baik saja Lara, setelah makan makanan bergizi, minum obat dan istirahat cukup besok juga sudah pulih."
"Syukurlah kalau begitu."
"Yasudah kalau begitu aku pamit dulu, tolong sampaikan salamku pada suamimu."
"Iya dokter, pasti!"
Setelah mengantar dokter Yose keluar, Lara pun kembali ke kamar putranya itu. Disana Rey menyuruh Lara untuk berangkat kerja saja, Rey bilang dirinya tidak apa-apa kalau ditinggal. Sayangnya Lara sendiri masih merasa berat hati jika harus meninggalkan anaknya dalam keadaan sakit. Tapi disisi lain ia harus berangkat kerja, karena kebetulan hari ini adalah pertemuan penting yang membahas acara fashion week yang akan diadakan tiga hari lagi.
Akhirnya setelah saling bicara Lara pun memutuskan untuk berangkat kerja seperti permintaan putranya.
"Sayang, mama berangkat dulu ya. Kau harus sehat lagi. Setelah selesai pekerjaan mama pasti langsung pulang," ucap Lara seraya pamit sebelum ke kantor.
Rey yang masih berbaring di tempat tidurnya bertutupkan selimut pun berusaha tampak baik-baik saja. "Iya mama, aku kan sudah tambah besar.. Lagipula kan ada bibi Frida yang jaga aku disini."
"Tuan kecil benar nyonya, anda tenang saja aku akan jaga tuan kecil selama anda pergi."
"Terima kasih bibi Frida, kalau begitu aku titip anakku, dan pastikan catatan makanan dan obat yang sudah aku tulis kau berikan padanya."
"Baik nyonya."
Lara sekali lagi pamit pada Rey sebelum pergi. "Sayang mama pergi dulu ya, kau menurut sama bibi Frida dulu, okey?" Lara mengecup kening putranya. "Kalau begitu aku pamit, bye sayang..."
"Bye mama..."
...πππ...
Lara berangkat diantar oleh Tori, karena mendadak kemarin sore Vander terbang mengunjungi pulau Crux, alhasil Lara harus me re-schedule ulang jadwal meeting dan kegiatan suaminya yang sudah terjadwal. Siapa sangka jadi istri sekaligus sekreraris dan seorang ibu ternyata lelah juga, pikir Lara.
__ADS_1
Dan saat di perjalanan menuju Lavioletta, tiba-tiba saja Tori menyadari kalau sejak tadi sepertinya mereka diikuti oleh mobil putih dibelakang mereka
Ia pun langsung mengatakannya pada Lara. "Nyonya, sepertinya mobil berwarna putih itu sejak tadi mengukuti kita?"
"Iyakah, mana?" Lara segera menoleh kebelakang untuk memastikan mobil yang mengikuti mobilnya. Melihat itu, Lara pun jadi agak panik dan menyuruh Tori untuk mengecohnya dengan berpura-pura mampir dulu ke salah satu kafe yang paling dekat.
"Baik nyonya." Tori pun segera berbelok dan melajukan mobilnya ke suatu kafe.
"Tori, agak cepat menyetirnya, mobil itu masih terus saja mengikuti kita!" Seru Lara mulai panik.
"Nyonya tolong tenang ya, aku akan berusaha mengecoh mereka." Akhirnya Tori membawa mobilnya berkelok tanpa tujuan pasti. Dan itu behasil, akhirnya pengendara mobil itu terlihat menyerah dan berhenti mengikuti mereka.
"Huft syukurlah sudah pergi. Tapi kira-kira siapa ya orang yang mengikuti kita?" Tanya Lara.
"Aku, juga tidak tahu. Yang jelas nyonya harus berhati-hati mulai sekarang. Oh iya apa nyonya tadi melihat nomor polisi mobil itu?"
"Nomor polisi? Oh iya, aku tidak kepikiran mengingat nomornya, aku hanya ingat jenis mobil dan warnanya saja."
"Sayang sekali, padahal aku mau melaporkannya kepada Tuan supaya bisa dilacak mobilnya."
"Oh maaf aku tidak berpikiran sejauh itu," sesal Lara merasa tak menyesal tidak bisa ikut membantunya.
"Tidak apa nyonya, lagipula tadi anda panik jadi pasti tidak kepikiran. Nanti biar aku saja yang selidiki lagi."
"Terima kasih ya Tori. Sekali lagi maaf karena tidak bisa membantu."
"Tidak apa nyonya, lagipula sudah jadi tugasku menjaga anda."
Sebenarnya siapa yang mengikuti mobil Lara tadi?
...πππ...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA DUKUNG CERITA INI YA DI VOTE, LIKE, COMMENT DAN GIFTNYA JANGAN LUPA.
>>BTW ini tanggal Lahir karakternya, sengaja nggak kukasih visual biar kalian bebas bayangin visualnya sendiriπ
Lara Hazel
born : 17 Maret 1997
height : 165 cm
weight : 50 kg
Vander Liuzen
born : 7 Oktober 1990
height : 185 cm
weight : 76 kg
Reynder Hazel/Liuzen
born : 27 agustus 2019
heigt : 114 cm
weight : 21 kg
Eiji Hartman
born : 23 April 1992
height : 186 cm
weight : 74 kg
Emily Hasaki
born : 24 September 1996
height : 170cm
weight : 51 kg
Jeden Lee
born : 9 Mei 1994
height: 183 cm
weight : 71 kg
Miranda Jah
born : 21 Januari 1994
height : 166 cm
weight : 49 kg
Gavin Chen
born : 22 Juni 1995
height : 182 cm
weight : 70 kg
Robert
born : 16 februari 1980
height : 180
weight : 71 kg
__ADS_1