
"Kenapa kau terlihat seperti kaget begitu? Apa ada yang salah dengan pertanyaanku barusan?" Tanya Mira merasa curiga
"Oh tidak apa-apa. Eh iya dimana noda lipstiknya?" Tanya Van sambil mengusap-usap bibirnya.
Dengan tatapan penuh curiga Mira menatap Vander. "Van, kau dan Nona jangan-jangan kalian—"
DRIP DRIP!! Tiba-tiba ponsel Vander bergetar. Ini kesempatan bagi Vander untuk kabur dari jeratan pertanyaan Miranda.
"Mira kau bicaranya nanti saja aku ada telepon, sudah dulu ya!" Pungkas Van lalu pergi sambil mengangkat panggilan teleponnya.
"Sial dia malah pergi! Aku jadi benar-benar curiga dan ingin tau, sebenarnya sudah sejauh apa sih hubungan Nona dengan pengawalnya itu? Kalau sudah begini tidak ada cara lain, aku harus tanyakan sendiri pada Nona langsung!" Miranda pun segera menemui Lara diruangannya.
**
Bel ruangan Lara berbunyi.
"Masuklah...," jawab Lara.
"Oh Miranda kau sudah kembali ya, ada apa?" Tanya Lara melihat asistennya itu masuk ke dalam ruangannya.
Miranda dengan wajah serius duduk menghadap Lara.
Miranda kenapa ya, kenapa kelihatannya serius sekali?
"Nona Lara, bisakah kau jujur padaku?"
"Jujur apa maksudmu?" Lara tidak paham dengan pekataan Mira.
"Sebenarnya hubunganmu dengan Vander sudah sejauh apa?"
Diberi pertanyaan begitu tiba-tiba oleh Mira, tentu saja Lara langsung tampak panik. "Eh, ke- kenapa kau tiba-tiba tanya seperti itu?" Lara terlihat seolah pura-pura tidak paham.
"Nona tidak perlu pura-pura begitu, aku tau kau menyukai pria itu. Dan aku lihat Nona dan Van akhir-akhir ini jadi semakin dekat. Satu lagi, tadi sekretarismu bilang, kau mengunci ruanganmu hampir satu jam lamanya apa itu kau bersama—"
"Iya!" Jawab Lara seketika.
"Apa maksudmu kata 'iya'?"
Lara tersenyum hambar, sepertinya Lara memang sudah tidak bisa lagi menyembunyikan hubungannya dengan Van dari Mira.
"Iya, aku dan Vander... kami berpacaran!"
"Apa?" Mira langsung terlihat syok dan tercengang dengan pengakuan Lara barusan. "No- Nona kau tidak sedang bercanda kan?"
Lara menggeleng. "Tidak sama sekali, aku memang berpacaran dengannya dan kami saling mencintai."
"Tunggu dulu tunggu dulu!" Mira mengatur nafasnya wanita itu benar masih tidak bisa percaya dengan ucapan bosnya itu sama sekali. "Tapi, bagaimana mungkin seorang Lara Hazel berpacaran dengan pengawalnya sendiri? Sungguh hal itu benar-benar sulit kupercaya," Mira sampai dibuat geleng kepala karena tak habis pikir dibuatnya.
"Kenapa kau heran Mira, kau kan tau sendiri aku mencintai Vander dan dia juga mencintaiku, lalu apa yang salah kalau kami berhubunngan?" Ungkap Lara.
"Tentu saja salah!" Ujar Mira dengan nada marah.
Lara jadi syok mendengar Mira membentaknya seperti itu. "Mi- Miranda, kenapa kau jadi marah?"
__ADS_1
"Kenapa kau bilang? Nona kau tau tidak dimana posisimu saat ini? Kau itu CEO Miracle yang terkenal, banyak yang menyorotimu termasuk para pegawaimu sendiri dan rival bisnismu, kau masih tanya kenapa? Apa Nona tidak berpikir sampaikesana?" Pungkas Miranda dengan menggebu-gebu.
Lara terdiam raut wajahnya berubah pilu, ia tidak menyangka kalau respon Mira malah berbanding terbalik dari ekspektasinya. "Jujur, aku tidak menyangka kau akan marah padaku saat aku memberitahu hubunganku dengan Van. Aku kira kau akan mendukungku? Tapi kenyataannya kau malah marah," Ucap Lara dengan nada sedih.
Mira yang melihat Lara yang tampak bersedih jadi agak menyesal telah membentaknya. "Nona Lara aku tidak bermaksud—"
"Aku tau keputusanku ini gila, tapi Miranda...! Demi apapun, aku sudah tidak bisa lagi menahan perasaan cintaku pada Vander yang semakin tumbuh setiap harinya!" Pada akhirnya tangisan Lara pecah.
"Hampir dua puluh dua tahun aku hidup, dan pertama kalinya aku jatuh cinta pada seorang pria dia adalah Vander pengawalku sendiri. Aku tau keputusanku ini terkesan egois, tapi aku hanya ingin merasakan dicintai oleh pria yang aku cintai, apa itu salah?!" Pekiknya bersamaan dengan air matanya yang jatuh.
Sontak Mira langsung jadi merasa bersalah, jujur dirinya bukan bermaksud untuk melarang Lara jatuh cinta tapi kenapa harus dengan pengawalnya sendiri?
"Nona aku minta maaf, bukan maksudku untuk menghalangimu perasaanmu. Aku- aku hanya khawatir padamu, tolong berhentilah menangis," bujuk Lara yang juga jadi merasa sedih.
Lara mencoba terus menyeka air matanya yang terus menerus jatuh. "Kau tidak perlu minta maaf, hiks! Aku memang mengambil keputusan yang terkesan egois tapi aku sudah memikirkannya baik-baik. Kau tenang saja, aku akan menjalani hubunganku dengan Van secara rahasia dan hati-hati."
Miranda yang semakin tidak tega langsung memeluk Lara yang sudah seperti adik baginya itu. "Sudah Nona jangan menangis lagi. Hatiku sakit melihatmu begini, maafkan aku yang sudah membentakmu tadi," ungkap Miranda.
**
Sementara itu Vander mecari tempat sepi untuk mengangkat panggilan dari Gavin.
Van : Ada apa?
Gavin : Kakak, gawat bengkelku dihancurkan oleh seseorang!
Van : Apa? Siapa orangnya?
Gavin : Tidak, aku tidak tahu. Saat aku datang untuk membuka bengkel, bengkelku sudah dalam keadaan kacau dan berantakan. Aku minta tolong Kakak bantu aku mencari pelakunya.
"Sial! Beraninya mengganggu orangku!" Vander menampakan tatapan mata elang yang seolah ingin memangsa. "Eva? Apa ini juga ulahnya?"
**
Setelah lebih tenang dan tidak lagi tersulut emosi, Lara dan Mira akhirnya bicara dengan kepala dingin sambil minum teh.
"Jadi... Nona sungguh yakin dengan pria itu?"
Lara mengangguk lalu menyesap tehnya.
Mira menghela nafas, "Yah... Kalau sudah begini aku bisa apa, aku juga tidak mau jadi penghalang kebahagiaan Nona. Hanya saja aku berharap kalian bisa benar-benar hati-hati menjalani hubungan kalian. Aku tidak mau Nona kena masalah yang akan merugikan dirimu sendiri."
"Aku tau Mira, terima kasih ya karena sudah sangat peduli padaku. Tapi tolong dukung dan percaya padaku, karena bagiku kepercayaanmu adalah hal yang penting. Aku tidak mau hubungan kita renggang hanya karena ini," ungkap Lara.
Miranda tersenyum. "Nona, sekali lagi aku minta maaf karena sudah marah padamu tadi. Dan... Selamat ya, tidak kusangka gadis kecilku yang cerewet kini sudah dewasa bahkan sudah punya pacar," ujar Miranda.
"Terima kasih Mira, aku jadi jauh merasa lebih lega sekarang setelah memberitahumu."
"Tapi ingat, kalau si Vander itu berani menyakitimu, akan aku cincang tubuhnya!" Pungkas Miranda.
Lara tertawa. "Memang kau berani mencincangnya?"
"Berani saja, wanita itu kalau sudah marah lebih seram daripada pria!" Pungkas Mira seolah berpose menunjukkan otot lengannya.
__ADS_1
Lara pun lagi-lagi dibuat tertawa mendengar ucapan asistennya tersebut. Aku tau Mira marah tadi karena peduli padaku, tapi bagaimanapun aku dan Van kami saling mencintai.
**
Dengan kecepatan tinggi Van mengendarai mobilnya menuju ke bengkel Gavin.
Setibanya di bengkel Vander langsung menghampiri Gavin.
"Kak Vander!" Seru Gavin.
Van kini melihat langsung keadaan bengkel Gavin yang awalnya bagus kini sudah dalam keadaan hancur dan kacau. Bahkan semua mobil dan motor pelanggan yang sedang diservis pun ikut dirusak.
"Lalu apa langkah yang akan kau ambil?" Tanya Vander pada Gavin.
"Yang jelas pertama-tama aku harus mengganti kerugian kendaraan para pelanggan yang rusak, setelah itu aku akan mencaritau siapa orang dibalik ini semua! Dan untuk sementara aku putuskan akan menutup bengkel ini."
"Lalu mereka?" Van melirik ke arah para pegawai dan montir yang bekerja di bengkel milik Gavin.
"Mereka?" Gavin baru ingat kalau ia juga punya karyawan.
"Bagimanapun bengkelmu adalah sumber mata pencarian mereka. Kalau kau menutup bengkel ini, lalu bagaimana dengan pekerjaan mereka? Apa kau yakin mereka akan langsung mendapatkan perkerjaan lain setelah keluar dari sini?"
Gavin baru sadar. "Kau benar Kak, sebagian dari pegawaiku memang menggantungkan hidup mereka dan keluarganya di bengkel ini, tapi aku harus apa?"
Gavin terlihat gamang dan tidak tak tau harus berbuat apa, mengingat semua alat-alat bengkelnya sudah rusak dan suku cadangnya pun ludes dicuri, belum lagi kendaraan pelanggan yang rusak dan semua harus diganti rugi. "Dengan keuntungan bengkel sekarang sangat tidak mungkin aku membayar ganti rugi dan memulihkan semuanya sekaligus secepat itu Kak, aku tidak punya uang sebanyak itu!"
Van mengepalkan tangannya, dalam keadaan seperti ini dirinya seolah tak bisa berbuat apa-apa. Andai Vander masih di Crux mungkin biaya kerusakaan dan semuanya bisa ia tanggung dengan mudah. Sayangnya saat ini ia hanyalah pengawal yang bahkan digaji oleh kekasihnya sendiri.
"Kakak?" Panggil Gavin melihat Van seperti melamun.
"Begini, kau ganti semua kerugian pelanggan, setelah itu berapapun sisa uang hasil bengkelmu bayarkan untuk gaji para karyawan," jelas Van.
"Baik Kak Vander!"
"Dan besok kau temui aku di kantor Miracle!"
"Miracle itu?"
"Tidak usah banyak tanya, lakukan apa yang aku katakan! Sekarang aku harus pergi!"
"Baiklah akan aku lakukan semua perkataanmu tadi."
Van pun pergi meninggalkan bengkel tersebut dengan perasaan sedikit kecewa dan marah.
**
Lara yang baru saja kembali dari bawah tiba-tiba saja dihadang oleh sekretarisnya saat akan masuk ke ruangannya.
"Nona Lara maaf tapi aku mau menyerahkan ini," ungkap si sekretaris sambil memberikan sepucuk surat undangan untuk Lara.
"Eh undangan apa ini?"
Bersambung...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜