
Lara dan Van di perjalanan menuju apartemen. Selama di dalam mobil Lara merasa Van agak berbeda. Meskipun terlihat tenang seperti biasanya saat menyetir, tapi Lara merasa ada hal yang sedang dipikirkan oleh pengawalnya itu sejak tadi.
"Vander."
"Iya Nona ada apa?" Sahutnya sambil tetap fokus menyetir.
"Apa ada yang sedang kau pikirkan saat ini?"
"Kenapa tanya begitu, apa Nona merasa aku sedang memikirkan sesuatu?"
Lara tidak bisa menjelaskannya, tapi kata hatinya mengatakan demikian. "Aku sih tidak tau pasti, tapi yang aku rasa memang sepertinya kau tengah kepikiran akan satu hal."
Lara sebenarnya ingin bertanya lebih banyak soal Van, soal masa lalunya, keluarganya dan bahkan kisah cintanya. Tapi untuk saat ini sepertinya sulit untuk bertanya lebih dalam mengenai hal-hal tersebut, apalagi melihat Van sepertinya bukan tipe pria yang suka banyak membicarakan dirinya sendiri.
"Aku memang sedang kepikiran sesuatu," ungkap Van tiba-tiba.
"Eh? Jadi apa yang membuatmu kepikiran coba ceritakan?" Tanya Lara penasaran.
"Aku kepikiran soal—"
"Iya apa...?" Lara benar-benar penasaran sampai wajahnya tampak serius sekali mendengarkan Vander.
"Aku kepikiran soal kenapa Nona Lara bisa cantik sekali," seloroh pria itu diikuti gelak tawa.
Wajah serius Lara langsung berubah jadi malu dicampur kesal, bisa-bisanya pengawalnya itu malah bercanda.
"Hais! Van kau itu menyebalkan, aku pikir dari raut wajahmu tadi kau akan cerita hal serius, ternyata malah mengatakan hal tidak penting!" Gerutu Lara kesal.
Vander menoleh melihat ekspresi kesal Lara saat ini, gadis itu mencebikan bibirnya sambil menyilangkan tangannya diatas perut.
Sepertinya dia ngambek?
"Nona jangan mendiamiku lagi, aku hanya bermaksud bercanda denganmu saja kok," pungkas Vander takut kalau bosnya itu ngambek padanya lagi.
Lara sebenarnya tidak ngambek hanya sedikit kesal saja. Tapi sepertinya memang Van belum mau mengatakan hal lebih jauh tentang dirinya kepada Lara. Hal itu wajar adanya mengingat Van dan Lara baru saja kenal sekitar dua bulan.
"Nona Lara jangan ngambek padaku ya?"
"Huh! Siapa yang ngambek, memangnya aku anak kecil yang apa-apa selalu ngambek!" Balas Lara tak terima dibilang ngambek.
Van pun hanya tertawa kecil sambil kembali fokus menyetir.
Lara berpikir kalau, untuk saat ini lebih baik memang tidak memaksa Van bicara banyak. Tapi aku berharap suatu hari nanti Vander mau lebih banyak terbuka kepadaku.
Nona Lara aku tau sebenarnya dirimu ingin sekali tau banyak tentangku. Tapi aku rasa semakin kau tidak tahu banyak itu malah lebih bagus, aku tidak mau kau ikut terseret dan masuk ke dalam sisi gelap kehidupanku dimasa lalu dan sekarang.
"Eh! Ada apa ini ?" Ujar Lara saat mobilnya tiba-tiba berhenti. "Van kenapa kau berhenti?"
"Aku juga tidak tau Nona kenapa mobilnya tiba-tiba tidak mau jalan," jawab Van yang juga keheranan.
"Apa mungkin bensinya habis?"
"Itu tidak mungkin lihat saja lambang tankinya masih banyak, lagipula aku selalu mengeceknya berkala setiap hari," terang Vander. Pria itu pun melepas sabuk pengamannya.
__ADS_1
"Vander kau mau kemana?"
"Aku mau keluar dan mengecek mesinnya dahulu, nona tunggu saja di dalam mobil."
Lara menuruti apa yang dikatakan Vander untuk tetap di dalam mobil.
Setelah kap mobil dibuka, Vander pun mengecek komponen yang ada di dalam mesin. Vander pernah kerja disebuah bengkel, meski tidak lama tapi setidaknya ia lumayan paham soal mesin kendaraan. "Aku sudah cek mulai dari air radiator, air wiper, kadar oli mesin, dan semuanya baik-baik saja. Tapi kenapa bisa tiba-tiba mobilnya mogok begini?" Ucap Vander yang tidak menemukan keanehan di mesin mobil tersebut.
Dari dalam mobil Lara malah kepikiran hal lain. "Tadi saat masih di kantor Van bilang kalau dia pernah bekerja jadi montir kan?" Kemudian entah kenapa Lara jadi membayangkan sosok Vander yang berkeringat tengah memakai baju montir sambil memegang alat-alat bengkel membetulkan kendaraan. "Pasti Van kelihatan seksi dan tampan sekali pada saat itu?" Ujarnya senyum-senyum sendiri.
"Astaga Lara kau ini!" Lara kemudian menggoyangkan kepalanya agar sadar dari hayalannya sendiri. "Bisa-bisanya aku malah berkhayal hal konyol semacam itu disaat begini!"
Takut semakin jauh berimajinasi Lara pun akhirnya menyusul Vander ke luar.
"Jadi kenapa mobilnya?" Tanya Lara menghampiri Van.
"Aku juga belum tau, agar tau aku perlu membongkarnya dulu."
"Yasudah dibongkar saja," ujar Lara dengan entengnya.
Van langsung menatap Lara dengan heran.
"Eh kenapa melihatku begitu? Aku salah bicara ya?"
"Nona tidak salah bicara, yang salah mobilnya kenapa harus mogok tiba-tiba."
"Eh, eh maksudnya apa ya?" Lara benar-benar tidak paham.
"Entah salah siapa, tapi yang aku tau di mobil Nona ini dibagasinya tidak ada satupun perkakas bengkel sama sekali," jelasnya.
"Jadi selama ini Nona tidak tau?" Van tak habis pikir dibuatnya.
Lara menggeleng dengan polosnya.
Kenapa Van harus heran? Bukankah itu hal wajar, mengingat Lara sejak lahir sudah diposisikan bagai seorang putri yang mana dikelilingi kemewahan dan selalu dilayani, jadi mana mungkin dia memikirkan perkara mesin mobil.
"Lalu kita harus bagaimana? Area jalan raya ini agak sepi, sepertinya juga tidak ada bengkel di dekat sini," ucap Lara setelah melihat sekeliling dan hanya ada beberapa mobil yang lewat sejak tadi.
Van tiba-tiba mengeluarkan ponselnya lalu menelepon seseorang.
"Van telepon siapa ya?" Gumam Lara penasaran.
Van : Cepat datang ke lokasi yang aku kirimkan padamu, aku butuh bantuanmu sekarang!
....
Van : Jangan banyak tanya nanti aku jelaskan!
....
Van kemudian mematikan ponselnya.
"Vander kau telepon siapa?" Tanya Lara.
__ADS_1
"Temanku dia seorang montir," jawabnya.
"Oh teman montir yang kau ceritakan tadi ya?"
Van baru ingat tadi saat Lara bertanya dikantor dirinya habis telepon siapa, Van malah berbohong dan bilang kalau ia menelepon montir kenalannya dulu. Sial aku lupa bilang pada Gavin soal ini!
"Van, iyakan teman montirmu itu yang kau ceritakan tadi?" Tanya Lara lagi.
"Iya Nona dia montir yang aku ceritakan tadi," jawab Vander tampak meyakinkan.
**
Di dalam mobil Jeden yang dalam perjalanan pulang teringat dengan penjelasan dari Dona tadi soal dirinya yang dibayar oleh Karina untuk memata-matai Vander dan Lara. Jeden penasaran untuk apa hal itu dilakukan oleh Karina. Akhirnya Jeden pun memutuskan untuk menelepon Karina untuk bertanya langsung apa tujuannya melakukan hal itu.
"Aku tidak peduli kalau wanita licik itu memata-matai Vander sialan itu, tapi jika itu ada hubungannya dengan Lara aku tidak bisa diam saja." Meski suka kasar, licik dan memaksa, sebenarnya Jeden memang benar sayang kepada Lara. Jadi tidak heran kalau dirinya khawatir saat mengetahui hal itu.
Karina : Ada apa tuan Jeden meneleponku tiba-tiba begini?
Jeden : Langsung saja aku tanya, apa benar kau menyuruh Dona pegawaiku untuk mengawasi Vander dan Lara?
Karina : (Diam sejenak)
Jeden : Jawab aku Karina Foster!
Karina : Ya itu benar.
Jeden : Untuk apa kau lakukan itu?
Karina : Untuk apa? Tentu saja untuk mengetahui hubungan apa sebenarnya diantara Lara dan Vander.
Jeden : Hub- hubungan apa maksudmu?
Karina : Jeden apa kau bodoh, kau tidak lihat mereka berdua itu dekat tidak seperti layaknya bos dan bawahan pada umumnya!
Jeden : Tertawa geli. Jangan gila, mana mungkin Lara yang bagaikan tuan putri menyukai pria kelas rendahan seperti Van busuk itu!
Karina : Terserah saja, yang jelas aku tidak akan biarkan Lara dan Vander bersama. Vander harus jadi milikku bukan gadis sialan itu!
Jeden : Ap- apa maksud ucapanmu Karina?! Kau sebut Lara gadis sialan? (Jeden tampak panik)
Karina : Kau tenang saja, aku tidak akan lakukan apapun pada Lara asal dia tidak merebut pria yang aku sukai. Tapi jika dia tetap saja tidak paham, maka jangan salahkan aku jika aku nekat berbuat lebih. Sudah ya aku sibuk!
Karina mematikan teleponnya.
"Halo Karina, karina! Sial dia mematikan teleponnya!" Jeden jadi gelisah setelah mendengar ucapan Karina tadi.
"Karina itu wanita yang licik dan tidak mau kalah, aku mengenalnya sejak masih sekolah dulu. Aku khawatir dia akan menyakiti Lara." Jeden pun meradang dan langsung menyalahkan Vander. "Gelandangan busuk ini semua karena kehadirannya! Bagaimana pun aku harus membuat Lara jauh dari pria itu segera! Aku tidak akan membiarkan Lara dalam bahaya hanya karena dekat dengan pengawal brengseknya!"
**
Lara dan Van masih menunggu montir datang. Selang beberapa saat, tiba-tiba muncul seorang pengendara motor yang mengenakan jaket kulit berwarna gelap dan helm berwarna merah, memarkirkan motornya persis di dekat mobil Lara yang mogok. Pengendara itu melepaskan helmnya lalu turun dan menghampiri Vander.
"Kenapa lama sekali!" Ujar Vander kepada pria yang baru saja menghampirinya itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA, LIKE, COMMENT DAN VOTENYA DONG BIAR AKU SEMANGAT NULISNYA 🙏😄💜