
Keesokannya Van dan Lara sudah berjanji untuk bermain billiard hari ini. Disana Lara yang memakai atasan crop top berlengan pendek bermotif floral dipadukan bawahan rok panjang belah samping berwarna senada, duduk menunggu suaminya yang sedang ada urusan.
"Kenapa Vander belum datang juga ya?" Ucap Lara sambil celingak celinguk memastikan suaminya sudah datang atau belum.
Karena sudah menunggu cukup lama Lara pun menelepon suaminya.
Lara : Halo sayang kau dimana?
Vander : Aku sedang ke tempat billiard kau lama menunggu ya?
Lara : Aku bosan saja sendirian disini, cepat datang ya!
Vander : Baiklah aku segera datang tunggu aku .
Lara : Oke aku tunggu.
*
Wanita pun kembali dengan sabar menunggu sang suami sambil menikmati segelas minuman yang sudah ia pesan tadi. Dan tidak lama kemudan ada seorang pemuda yang tiba-tiba saja duduk di hadapan Lara dan menyapanya.
"Hai!"
Lara tak menjawab seraya mengabaikan pria yang tidak ia kenal itu.
"Nona cantik bisa aku temani dirimu, sepertinya kau sendirian saja."
"Tidak usah terima kasih, aku sedang menunggu suamiku datang," tegas Lara.
"Suami? Oh aku kira kau belum menikah. Tapi... Meski begitu kita bisa kan berkenalan? Perkenalkan aku—" Pria itu mengulurkan tangannya kepada Lara seraya mengajak berkenalan. Sayangnya uluran tangan pria itu bukannya disambut oleh Lara melainkan oleh suaminya. "Aku Vander suami wanita ini," ucap Vander tegas.
Melihat suaminya datang Lara pun bangkit dari duduknya dan lansung menghampiri suaminya itu.
"Um tu-tuan aku— aku hanya ingin..."
"Apa kau ingin menggoda istriku?" Ucap Van dengan nada datar namun matanya jelas memberikan tatapan tidak suka.
Melihat pria itu seperti kesakitan tangannya digenggam oleh sang suami, Lara pun meminta suaminya agar melepaskan pria tersebut. Diminta Lara Vander menurut dan melepaskan tangan pria itu dan membiarkannya pergi.
"Maaf gara-gara aku lama kau jadi diganggu pria tengik tadi," ucap Vander lalu mengecup kening istrinya.
"Sudahlah, lebih baik ayo kita main billiard aku sudah lama tidak main soalnya," ajak Lara yang tampak sudah tidak sabar untuk main.
Mereka berdua pun main billiard dengan perasaan senang. Tak jarang Vander memuji kemampuan sang istri dalam bermain billiard.
"Aku tidak menyangka istriku pandai sekali memainkan permainan ini," puji Vander.
"Kau juga hebat, bagaimana kalau kita bertaruh siapa yang duluan dapat poin paling banyak?" Lara tersenyum penuh percaya diri.
"Siapa takut!" Balas sang suami.
Mereka berdua pun secara bergantian bermain. Keduanya berasaing cukup sengit hingga membuat sebagian pengunjung lain antusias dan menyaksikan persaingan antar suami istri itu.
Saat Lara tengah dalam giliran bermain tiba-tiba saja mata elang Vander menangkap seorang pria yang diam-diam mengambil foto istrinya. Tidak suka istrinya seolah di kuntit begitu, Vander pun langsung menghampiri pria itu dan merampas ponselnya.
"Hei tuan kenapa kau ambil ponselku tuan?!" Ucapnya tak terima ponselnya dirampas oleh Vander.
"Untuk apa kau diam-diam terus menerus mengambil foto istriku?!" Suara Vander yang keras membuat orang-orang disana pun jadi menyaksikannya, begitupun Lara yang langsung berhenti bermain dan menghampiri sang suami yang sedang menghardik seorang pria tak dikenal.
"Van ada apa?" Tanya Lara.
"Pria tengik ini seenaknya mengambil fotomu!"
"Apa?!" Lara kaget mendengarnya.
"Untuk apa kau mengambil fotoku diam-diam, apa kau seorang penguntit!" Ujar Lara marah tidak terima.
"T-t — tunggu dulu tuan dan Nona, aku bisa jelaskan. A- aku, aku ini sebenarnya hanya orang dari agensi model iklan. Aku melhat istri anda sangat cantik dan juga masih muda aku- jadi berpikir dia cocok untuk jadi model iklan produk kecantikan oleh karena itu aku memfotonya...!"
"Apapun alasanmu, mengambil foto orang lain terus menerus dengan maksud pribadi tanpa izin adalah pelanggaran privasi!" Ujar Vander yang tetap tidak terima. Ia pun segera menghapus foto-foto Lara dari galeri ponsel pria tersebut dan langsung melemparkan ponsel pria itu ke laut.
"Tuan kenapa kau membuang ponselku!" Pekik pria itu syok melihat ponselnya tercebur ke laut lepas.
"Aku hanya membuangnya bukan melaporkanmu atas perbuatan pelanggaran privasi. Jadi impas kan? Atau kalau kau nekat silakan saja menyelam dan cari sendiri ponselmu itu," Ucap Vander yang meski tenang namun sebenarnya tengah mengintimidasi.
"Sekarang pergi dari hadapanku dan istriku!" Titah Vander. "Pergi atau kau mau aku lempar ke laut juga!"
"I- iya aku pergi!" Pria itu pun bergi dengan perasaan kesal dan jengkel. "Argh sial! Kenapa dia malah membuang ponsel mahalku ke laut sih! Untung saja aku sudah sempat kirimkan foto gadis itu kepada Nona Eva, setidaknya aku akan dapat bayaran tiga kali lipat dari harga ponsel itu," Pungkas pria tersebut yang ternyata suruhan Eva.
**
Sementara itu Eva tampak sedang membuka pesan di ponselnya. Ia menerima pesan gambar foto Lara yang dikirim oleh orang suruhannya.
"Hem," Wanita itu tersenyum penuh kelicikan. "Aku akan segera kirim foto wanita ini ke tuan Gauren!" Eva lalu mengirim foto itu kepada bosnya.
Tak lama kemudian ponsel Eva kembali berdering, dan ternyata panggilan dari Tuan Gauren.
Eva : Halo Tuan, kau sudah terima pesan gambarku kan?
Gauren : Jadi itu wanita yang dekat dengan Vander saat ini?
Eva : Ya, dan tuan pasti sudah tau kelemahan Vander saat ini bukan?
Gauren : Ya, dan setelah ini aku pastikan Vander akan kembali ke Crux.
Eva : Tentu saja tuan.
Eva menutup panggilannya dan langsung tersenyum jumawa. "Kau lihat Vander? Tuan Gauren sudah turun tangan langsung itu tandanya kau sudah tidak bisa lari lagi!"
**
"Sial, beraninya ada orang mengunggah videoku!"
__ADS_1
Di kamarnya Karina terlihat murka dan tidak terima melihat video dirinya yang tengah mabuk beredar media sosial. Karina tidak mau namanya tercemar, tapi apa daya saat ia membaca kolom komentar ujaran buruk terlanjur banyak terlontar disana. "Sial, ini tidak bisa dibiarkan! Apalagi kalau Lara dan Van sampai tau video ini, mereka pasti akan menertawakanku!"
Karina yang tidak mau itu terjadi pun membanting ponselnya dan berteriak, "Argh! Kenapa aku yang malah sial begini! Kenapa semua keberuntungan harus berpihak pada Lara, bukan aku! Kalau bukan karena Lara sialan itu menikah dengan Vander, aku tidak akan pergi ke bar malam itu!" Karina lagi-lagi malah menyalahkan Lara pada apa yang menimpanya. Rasa bencinya terhadap Lara yang kian menumpuk mendorong kuat wanita itu untuk terus saja melakukan hal buruk kepada Lara. "Lihat saja aku akan buat Lara menyesal kali ini! Kalau aku tidak bisa dapatkan Vander maka dia juga tidak boleh!"
**
Sementara itu, di hari terakhir bulan madunya. Vander menyempatkan diri untuk bersantai minum di bar. Kebetulan karena Lara mengatakan dirinya lelah alhasil Vander pun pergi sendirian ke bar sementara sang istri beristirahat di kamar.
Setelah menghabiskan bergelas-gelas minuman beralkohol, tak lama muncul seorang wanita yang berpakaian ketat dan super terbuka datang menggoda Vander. Wanita itu terus mengganggunya meski nyatanya Van sendiri sama sekali tak menoleh ke arah wanita itu.
"Tuan yang tampan kau sendirian saja, mau aku temani?"
"Aku sendirin dan kalaupun ingin ditemani pastinya bukan olehmu, karena kau sama sekali tidak menarik bagiku," ucap Vander datar.
"Aku suka pria yang jual mahal sepertimu," ucap wanita itu tidak menyerah dan tetap menggoda Vander.
Sampai pada akhirnya sosok Lara yang memakai gaun tidur tiba-tiba datang dan mengusir wanita yang menggoda Van tersebut pergi.
"Hei kau siapa mengusirku?!" Ucap wanita penggoda itu tak terima.
"Sayang, coba beritahu wanita tidak tau diri ini siapa aku?" Titah Lara pada suaminya.
"Dia istriku! Karena istriku sudah minta kau untuk peergi maka pergilah dari sini!" Tegas Vander pada wanita itu. Sayangnya wanita itu keras kepala dan tak juga pergi, alhasil Vander kesal dan menyiram minuman ke baju wanita tersebut hingga basah kuyub dan akhirnya kesal lalu pergi.
Lara sendiri setengah tertawa melihatnya.
"Kau senang sekarang dia sudah pergi?" Ucap Van pada sang istri yang kini duduk disebelahnya.
Lara mengangguk pelan.
"Oh iya tadi kau bilang kau lelah dan ingin tidur saja, kenapa malah tiba-tiba kesini?"
"Kenapa memangnya?! Apa kau kesal gara-gara aku datang kau jadi tidak bisa berduaan dengan wanita penggoda tadi?" Lara cemburu.
Pria itu pun menyentuh dagu Lara dan mengecup bibirnya. "Bicara apa kau, istriku sangat sempurna secara fisik, bagaimana mungkin aku tergoda wanita macam tadi? Lagipula aku tidak suka wanita jelek," ucap Vander.
Lara terdiam wajahnya agak memerah. "Huh! Tukang gombal!"
"Lalu kau belum jawab pertanyaanku, kenapa kau jadi kemari?" Tanya Vander lagi.
"Itu... Itu karena aku tidak bisa tidur dan—"
Vander tersenyum dan menggoda istrinya. "Dan apa Nyonya Vander?"
"Dan aku ingin memelukmu," ucap Lara.
"Lalu?"
"Aku tidak terlalu suka tempat ini, jadi ayo kita pergi," ungkap Lara. Vander pun menurutinya dan segera bangkit dari kursinya.
"Ayo," ajak Vander mengulurkan tangannya.
"Van aku merasa lelah berjalan, bisakah kau—"
Sebelum Lara selesai bicara Van sudah langsung meraup tubuh istrinya dan menggendongnya keluar dari bar menuju ke kamar mereka. Namun saat berjalan menuju ke kamar, tiba-tiba Lara berubah pikiran dan malah meminta sang suami membawanya ke luar menuju deck.
"Kenapa malah mau ke deck malam-malam dingin begini?" Tanya Vander.
"Aku mau melihat langit malam ditengah lautan,
"Baiklah tapi sebentar saja ya?"
Lara mengangguk setuju. Vander pun langsung membawa istrinya itu ke deck. Disana mereka memandangi indahnya langit malam yang dihiasi gemerlap cahaya bintang.
"Van kalau kau lelah menggendongku, turunkan saja dulu aku."
"Kau tidak berat samasekali buatku."
"Aku senang punya suami yang sangat kuat," ucap Lara lalu menggigit dan menghisap leher Vander hingga merah.
"Kenapa tiba-tiba—"
"Tanda kau milikku agar tidak ada wanita lain berani menggodamu lagi," ucap Lara.
Vander tersenyum senang dan mereka pun kembali memandangi Langit indah itu.
"Bintang-bintang itu bersinar sangat cantik diatas langit," pungkas Lara.
"Kau tau, aku rasa para bintang itu bersinar seperti dirimu di kehidupanku," ungkap Vander.
"Kenapa begitu?"
"Karena langit malam akan terus gelap jika tidak ada cahaya bintang yang meneranginya. Layaknya hidupku, jika tidak ada dirimu maka warna hidupku hanya akan jadi layaknya langit malam yang gelap gulita. Oleh karena itu Lara, terima kasih karena sudah mau menerangiku. Tetaplah menjadi bintang dan terangi aku."
Lara mengecup pipi Vander dan berterima kasih karena Vander telah memberikan bulan madu yang sangat berkesan. "Aku tidak akan pernah lupakan momen ini, aku mencintaimu Vander."
"Aku juga Lara." Mereka pun saling berkecup mesra.
**
Dua hari kemudian setelah pulang dari bulan madunya, Lara tampak sudah kembali bekerja. Ditemani Gavin yang kini menjadi supir sekaligus pengawalnya yang baru pasca Vander yang sudah keluar, wanita itu tampak sibuk menatap layar laptop di kursi belakang
"Huft," pungkas Lara menghela nafas karena akhirnya selesai mengerjakan pekerjaannya.
"Kak Lara kita mau kemana lagi?" Tanya Gavin sambil fokus menyetir.
"Um— Karena ini sudah jam segini lebih baik kita tidak usah langsung kembali kentor. Lebih baik bawa aku ke toko buku saja, kebetulan ada yang mau aku beli disana," ucap Lara.
"Okey..." Gavin pun mengarahkan laju mobilnya menuju ke toko buku.
*
__ADS_1
Sementara itu Jeden yang baru saja tau soal viral video Karina pun menelepon Karina.
Karina : Halo!
Jeden : Hei kenapa videomu ramai sekali di media sosial?
Karina : Cerewet! Aku tidak mau bahas itu, aku sendang ada urusan penting jika tidak—
Jeden : Tunggu, urusan penting apa?
Karina : Bukan urusanmu! Sudahlah aku sibuk.
Karina langsung mengakhiri percakapannya dengan Jeden. "Lebih baik Jeden tidak tau soal rencanaku kali ini. Karena kalau tau pasti dia tidak akan suka."
**
Di toko buku, Lara ditemani Gavin berkeliling mencari buku yang ingin dibelinya sambil diselingi obrolan ringan.
"Oh iya kak, kau sudah menonton videonya karina yang mengamuk dibar beberapa hari yang lalu?" Tanya Gavin.
"Sudah."
"Lalu tanggapanmu?"
"Yasudah, memang aku harus apa? Itukan ulahnya sendiri."
"Apa kau tidak senang melihatnya dihujat banyak netizen?"
Lara berhenti sejenak dan menghela nafas. "Aku tidak tau mau senang atau tidak, yang jelas aku menganggap itu karma untuk Karina. Tapi selebihnya aku tidak tau dan tak mau tau. Karena jujur saja aku tidak peduli sama sekali soal wanita itu. Selama dia tak menggangguku dan kehidupanku aku tidak peduli."
"Begitu ya?"
"Sudahlah tidak penting juga membicarakan orang itu," tandas Lara.
"Kak Lara benar, itu tidak penting. Tapi kalau tentang bulan madumu bagaimana?" Ucap Gavin penasaran.
Pertanyaan itu mematik Lara dan membuatnya senyum-senyum. "Tentu saja luar biasa."
"Pantas kakak auranya makin terpancar sepulang dari bulan madu. Oh iya sebenarnya kalian menikah sudah berapa lama sih?"
"Astaga, kami baru sepuluh hari resmi jadi suami istri. Lagipula kenapa kau tanya soal bulan maduku, bukankah lebih menarik kalau bahas hubunganmu dengan Miranda?" Lara melirik dengan tatapan usil pria berwajah imut disebelahnya itu. Alhasil Gavin pun jadi malu.
"Jadi bagaimana proses kalian bisa akhirnya pacaran? Bukannya kalian itu dulu pertama kali bertemu layaknya anjing dan kucing. Aku penasaran, Miranda yang kaku itu sampai bisa menerimamu jadi pacarnya itu kenapa? Ayo ceritakan padaku," Bujuk Lara menggoda Gavin.
"Kami- kami ya... berjalan begitu saja. Hanya saja aku merasa Mira lebih dominan dariku dalam banyak hal," ungkap Gavin malu-malu.
"Misalnya dalam hal apa?"
"Banyak hal, misalnya kalau kita mau berkencan, memutuskan mau kemana, soal selera dan apapun itu semua sepertinya dia lebih dominan."
Mendengarnya Lara pun agak tergelitik jadinya.
"Kak Lara kenapa malah tertawa?" Protes Gavin.
"Habisnya wajahmu lucu sih! Sebenarnya hal itu wajar saja, mengingat meski hanya setahun Mira tetap saja lebih tua darimu. Dan wanita itu memang kenyataannya lebih cepat dewasa dibanding pria, jadi tidak heran . Dan kau harus tau, meski kenyataannya Mira lebih dominan, bagaimanapun kau itu laki-laki. Jadi apapun itu kau harus tegas juga tidak boleh selalu menurut saja. Tapi setauku Miranda itu meski tegas dia tidak bossy jadi tenang saja kau tidak akan ditindas olehnya, kecuali kalau kau ini masochist (kelainan seksual dimana seseorang senang jika disiksa atau merasakan sakit ketika berhubungan seksual ).
"Kak Lara kau sepertinya pengalaman sekali soal itu, apa kak Vander seorang masokis juga?"
"Huh? Ti- tidak, tentu saja suamiku tidak begitu lagipula...." Kalau dia ranjang yang jauh lebih dominan kan Vander tapi... Kalau ternyata dia punya kecenderungan ke arah sana bagaimana? Lara bergidik lalu menepuk pipinya. Aduh aku mikir apa sih soal suamiku!
"Kak Lara hei kenapa begong? Wajahmu kok merah begitu?" Ucap Gavin yang kemudian menyipitkan matanya. "Hayo kau sedang memikirkan apa?"
"Tidak ada sudahlah kau ini!" Ucap Lara kembali fokus mencari buku.
**
Setelah selesai membeli buku Lara dan Gavin pun bergegas kembali ke kantor. Namun saat mau masuk ke mobil tiba-tiba saja Lara merasa ingin ke toilet. Ia pun menyuruh Gavin menunggunya sementara ia ke toilet sebentar.
"Kak mau aku antar tidak?"
"Kau gila, aku mau ini kan ke toilet wanita!"
Lara pun bergegas pergi ke toilet sementara Gavin menunggunya dimobil. Namun sudah hampir setengah jam menunggu, Lara tak juga kunjung kembali, alhasil Gavin pun mulai panik dibuatnya. Karena takut terjadi sesuatu, ia pun bergegas menyusul ke toilet dan mengeceknya sendiri.
Gavin mengecek setiap toilet wanita bahkan bertanya pada pengunjung toilet lain namun Lara tidak ada juga yang melihatnya. "Astaga bagaimana ini!?" Gavin mencoba menghubungi Lara dan mencoba melacaknya lewat GPS namun ponselnya malah tidak aktif. "Aduh bagaimana ini, kak Lara kau dimana sih! Apa dia dibawa pergi orang? Bagaimana kalau itu benar, argh sial!" Ditengah rasa panik dan takut yang mendera, Gavin pada akhirnya memberanikan diri menghubungi Vander untuk memberitahukan kalau Lara hilang.
Sementara Vander yang baru saja selesai mengurus dokumen pribadinya di bank langsung mendapati panggilan dari Gavin.
Vander : Ada apa?
Gavin : Kak, Kak Lara hilang!
Vander : Dengar, jangan bercanda denganku soal Lara begitu atau kupotong lidahmu!
Gavin : Aku tidak bercanda kak, tadi... (Gavin menjelaskan kronologis kejadiannya)
Vander : Kau sudah cari diseluruh area disana?
Gavin : Sudah dan tidak ada, kak Vander aku minta maaf.
Vander : Simpan saja maafmu untuk nanti. Sekarang kau segera kepetugas minta rekaman cctv disana cepat!
Gavin : Ba- baik Kak!
"Brengsek!" Vander yang penuh dengan emosi langsung bergegas masuk ke mobil dan menyetir dengan kecepatan penuh.
"Siapapun yang berani membawa pergi istriku tidak akan aku ampuni!"
...🌿🌿🌿...
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT, DAN LIKENYA JUGA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜💜💜💜
__ADS_1