
Dua minggu berlalu setelah kepulangan Lara dari kota RK, gadis itu terlihat duduk dikursi kerjanya sambil tersenyum menandai tanggal di kalender yang dipegangnya dengan spidol.
"Lusa adalah hari ulang tahunnya," ucap Lara tersenyum manis. Ya, lusa adalah hari ke tujuh belas di bulan ini, yang artinya hari itu adalah hari peringatan ulang tahun Vander. Karena Vander akan pulang besok, maka gadis itu memutuskan untuk menyiapkan hadiah kejutan ulang tahun kekasihnya itu hari ini supaya tidak ketahuan. Lara menggigit kecil kuku indah di jemarinya yang ramping, kebiasaan yang seringkali dilakukan gadis itu saat ia merasa bingung memutuskan sesuatu. "Kira-kira hadiah apa yang cocok untuk kado ulang tahunnya?"
Ia terus berpikir tentang hadiah untuk sang pacar. "Oh aku tahu!" Seolah mendapat jawaban dari kebutuannya, akhirnya Lara memutuskan untuk memberikan Vander sebuah jam tangan, mengingat dulu ia pernah berjanji untuk membelikan Vander sebuh jam tangan agar bisa melingkar di pergelangan tangannya yang kokoh dan berurat. "Ya, aku akan belikan dia jam tangan!" Lara akhirnya memutuskan untuk membelikan sebuah jam tangan untuk Vander terkasihnya.
"Tapi jam tangan apa ya bagusnya?" Ucap Lara sambil membuka web mencari tahu model-model jam tangan yang cocok ia berikan kepada kekasihnya.
Setelah setengah jam Lara berselancar memilah model jam tangan yang bagus di situs web, gadis itu akhirnya memutuskan untuk membelikan sebuah jam tangan quartz klasik buatan swiss untuk hadiah ulang tahun Vander. Sayangnya saat ia menelepon toko resmi merek tersebut untuk membeli jam tangan yang dimaksud, manajer toko tersebut malah mengatakan kalau, jam yang diinginkan Lara sudah lama tidak diproduksi. Hal itu karena memang jam tangan tersebut dari awal di design limited edition.
"Lalu aku harus dapatkan dimana?" Tanya Lara lewat telepon.
...
"Oke baiklah, terima kasih informasinya." Lara menutup teleponnya lalu menghela nafas seolah pasrah. Lara diberitahu kalau dirinya memang sangat menginginkan jam tangan itu, ia harus menghubungi langsung toko mereka yang ada di swiss. Bagi Lara tentu saja melakukannya, mengingat relasinya cukup banyak. Tapi itu memerlukan waktu sekitar 10 hari, sedangkan ulang tahun Vander lusa.
"Apa mungkin aku memang tidak ditakdirkan membeli jam tangan itu...?" pungkasnya agak kecewa. Tapi tak berselang lama, semesta seolah dipihaknya. Tiba-tiba saja saat Lara yang sedahg sembarangan menggeser layar ponselnya, mendapati iklan sebuah toko barang antik dan langka, yang mana disana menjual jam tangan yang diinginkan Lara. Bak gayung bersambut, gadis itu pun langsung kembali bersemangat. Ia pun memutuskan untuk pergi ke toko tersebut.
Ding!
Sementara itu tiba-tiba bel diruangan Lara berbunyi. Ia pun segera menyuruh masuk tamunya.
"Maaf mengganggu waktu anda Nona Lara," pungkas seorang pria yang kehadirannya seringkali tidak diharapkan oleh Lara.
"Ada apa Jeden?" Lara tidak mau basa basi.
"Aku kemari untuk meminta kau tanda tangani ini," Jeden menghadap Lara dan memberikan sebuah dokumen kontrak kerja salah satu partner Miracle.
"I- ini kontrak kerja baru? Kau tidak pernah bilang padaku soal kerjasama Miracle dengan perusahaan ini?" Lara merasa curiga karena tidak tahu soal kontrak tersebut.
Jeden setengah tertawa seolah meledek Lara.
"Untuk apa kau tau, bukankah kau lebih sibuk bersenang-senang dengan pria simpananmu?"
Lara terkesiap lalu menatap tajam ke arah Jeden.
Jeden tergelak lalu berujar, "Oh ayolah Lara tidak usah memasang wajah kaget begitu. Lagipula, kontrak ini murni aku dapatkan karena mereka tertarik dengan proposal yang aku berikan."
"Aku tau pengalamanmu di dunia bisnis tidak sembarangan. Tapi bagaimana pun aku masih CEO disini, jadi aku berhak tau dengan siapa saja perusahaan ini menjalin kerjasama!" Tegas Lara.
"Ya aku tau, oleh karena itu aku meminta tanda tangamu," ucap Jeden dengan ekspresi santai.
Jeden dia tampak lebih tenang, aku seperti bisa merasakan pria ini memiliki maksud ditiap ucapan dan mimik wajahnya saat ini.
"Jadi Nona, tolong segera tanda tangani dokumennya supaya kinerja perusahaan kita bisa lebih cepat," tegas Jeden. Mau tak mau Lara harus menandatanganinya mengingat ini juga demi kelancaran perusahaan.
Setelah dokumen kontrak tersebut selesai ditanda tangani oleh Lara, Jeden pun bergegas mengambilnya kembali.
"Terima kasih, Nona Lara," ucap Jeden sopan. Hal itu justru membuat Lara semakin curiga dengan sikap Jeden.
"Jed, aku harap kau tidak sedang merencanakan sesuatu dibelakangku!" Pungkas gadis itu.
Jeden tersentak mendengarnya, pria itu lalu tersenyum seraya menahan tawa. "Nona Lara Hazel, kau itu memang sangat naif!"
"Apa maksudmu!?" Seru Lara tak terima.
"Tidak ada, aku hanya ingin ingatkan kau satu hal. Semua orang didunia ini pasti punya maksud dan tujuan dalam hidupnya, jadi jangan terlalu naif!"
Lara mengerutkan alisnya.
"Ku beritahu, lebih baik kau bersiap karena hidup ini terus berjalan dan itu juga berlaku untukmu Nona Lara Hazel, jadi tunggulah saatnya!"
Meski datar namun bagi Lara, ucapan Jeden itu terdengar seperti peringatan keras.
"Oh iya satu lagi," Jeden kembali menoleh kearah Lara. "Nona Lara sebaiknya kau jangan terlalu lama bermain petak umpet, kerena cepat atau lambat kau pasti akan ketahuan juga akhirnya," ucap Jeden lalu pergi.
Entah kenapa ucapan-ucapan Jeden barusan berhasil membuat batin Lara terusik. "Aku tidak tahu persis apa yang ia maksudkan padaku. Tapi Jeden kali ini terlihat setenang itu, aku tidak bisa menebaknya."
**
Di kantin Miracle Gavin dan Mira terlihat tengah berbincang sambil menikmati secangkir kopi. Semakin hari sepertinya kedua orang ini memang terlihat semakin akrab dan sering menghabiskan waktu bersama. Ditengah perbincangannya dengan Gavin yang cukup seru, tiba-tiba saja Miranda mendengar segerombol pegawai tengah bergosip disebelahnya menyebut nama Lara.
Mendengar nama Lara disebut, hasrat keingin tahuan Mira pun tak terelakan. Ia pun langsung meminta Gavin agar berhenti bicara agar bisa fokus menguping pembicaraan beberapa pegawai yang tengah bergosip disebelah meja mereka.
"Kenapa kau suruh aku diam tiba-tiba sih!" Protes pria barwajah imut itu.
"Sttt... Sudah diam, lihat mereka disebelahku ini sedang bergosip dan aku dengar mereka menyebut nama Lara, memang kau tidak penasaran?"
"Benarkah?" Seketika Gavin pun juga ikut penasaran, dan akhirnya ikut menguping pembicaraan mereka.
Para pegawai yang terdiri dari wanita dan pria itupun mulai serius bergosip;
__ADS_1
Hei kalian sudah tau belum yang sedang hot dibicarakan sekarang?
Apa?
Itu loh kemarin aku lihat di salah satu beranda media sosialku ada foto Nona Lara yang tertangkap kamera sedang berciuman dengan seorang pria yang belum diketahui identitasnya.
Bernarkah? Semua yang baru tau seketika jadi penasaran dan mengeceknya sendiri, tak terkecuali Miranda dan Gavin. Mereka langsung meluncur ke media sosialnya dan mencari tau. Ternya benar, ada akun samaran yang menyebarkan foto Lara sendang beciuman dengan pria di basement parkiran. "Wah komentarnya hampir seribu?" Pungkas Miranda yang tidak menyangka akan seramai itu dibahas. Pasti seluruh karyawan hampir berkunjung ke postingan tersebut.
Semua yang baru melihatnya foto Lara jadi ikut bertanya-tanya siapa pria yang bersama Lara itu.
"Ini kan kak-" Mira langsung membekap mulut Gavin yang hampir saja mau mengungkap identitas pria difoto itu.
"Kenapa harus sembunyi begitu ya pacarannya, padahal itu kan hak Nona Lara untuk menjalin hubungan dengan pria. Atau jangan-jangan prianya itu mantan penjahat atau sejenisnya makanya tidak boleh ketahuan?" Celetuk salah satu penggosip itu.
"Sepertinya aku harus segera telepon Lara untuk membahas ini!" Ujar Miranda. Wanita itupun langsung beranjak pergi sambil menarik Gavin.
"Aduh kenapa pakai tarik tangan segala sih!" Protes Gavin.
Setelah pergi dari kantin, Miranda yng masih bersama Gavin, langsung duduk di area lobi yang cukup sepi dan menelepon Lara untuk mengajaknya bicara soal foto yang ramai itu.
Mira: Halo Nona kau dimana?
Lara : Um— aku sedang keluar,
Mira : Apa?! Keluar, dengan siapa?! (Khawatir)
Lara : Aku— aku pergi sendiri.
Mira : Sendiri? Kau gila ya!
"Eh ada apa?" Sahut Gavin mendengar suara Mira yang seperti marah.
Mira : Kau mau apa pergi sendiri? Kenapa tidak bilang padaku atau Gavin sih! (Miranda marah karena khawatir)
Tak lama Gavin meminta Mira mengaktifkan loudspeaker agar ia juga bisa bicara pada Lara
Gavin : Halo Kak Lara kau dimana? kenapa pergi sendiri? Kalau kak Vander tau dia pasti mengamuk.
Lara : Maafkan aku, tapi aku ada urusan pribadi sebentar, tidak akan lama kok! Aku jamin.
Mira : Tapi ini sudah sore menjelang petang dasar bodoh!
Lara : Mira... aku janji hanya sebentar. Lagipula aku menyalakan GPSku kok, kalian pasti tau aku dimana.
Lara : Iya Gavin, aku janji kok. Sudah ya aku lagi mengemudi takut menabrak jadi sampai jumpa, dah...!
"Dasar gadis keras kepala!" Pekik Mira kesal dengan Lara. Merasa khawatir, Gavin dan Mira pun memutuskan untuk menyusul Lara.
**
Lara yang berniat membeli kado jam tangan untuk Vander akhirnya tiba di toko barang langka yang dimaksud. Wanita itu langsung masuk ke dalam toko yang semua hiasannya benar-benar full bergaya klasik abad ke -19.
"Selamat datang..." Ucap si pemilik toko yang tidak lain adalah Aron teman Vander. Melihat Lara, Aron merasa tidak asing dengan wajahnya. Gadis ini... Bukankah Nona muda dari keluarga Hazel kan? Aron memperhatikan dengan seksama gadis muda nan cantik yang kini tengah melihat-lihat di dalam tokonya saat ini.
"Tuan..." Tutur Lara mengacaukan Aron.
"Ah iya maaf aku tidak fokus, oh iya kalau tidak salah kau ini... putri tunggal dari keluarga Hazel kan?"
Lara melebarkan mata beningnya. "Ah kau tau aku?"
"I- iya aku pernah melihatmu di surat kabar, dan majalah bisnis." Lara Hazel masih muda dan sangat cantik, tidak heran jika Vander tergila-gila padanya.
"Um Tuan kenapa melihatiku begitu?" Ucap Lara melihat Aron memperhatikannya dengan serius.
"Eh, ma- maaf Nona, aku hanya kaget ternyata kau labih cantik lagi kalau dilihat langsung."
Lara tersenyum malu. "Terima kasih pujiannya."
"Oh iya Nona kemari mencari apa?"
"Um— aku cari jam tangan ini," Lara memperlihatkan gambar jam tangan yang dicarinya itu.
"Oh iya aku punya, sebentar aku ambilkan."
Pria itu lalu kembali dan dengan membawa jam yang dimaksud Lara.
"Ini bagus sekali..." Lara terlihat sangat menyukai desain jam tangan itu, kombinasi warna gelap dan natural jam itu pasti cocok untuk Vander.
"Kalau boleh aku tau, jam itu untuk siapa Nona?"
"Untuk pria yang sangat berarti untuk," jawab Lara tersenyum manis seraya membayangkan wajah pria yang dimaksud.
__ADS_1
Apa untuk Vander? Sepertinya gadis ini memang sangat tulus pada Van, ya setidaknya itu yang dirasakan Aron terhadap Lara.
"Baiklah aku mau jam ini, berapa yang harus aku bayar?"
"Sebenarnya aku akan melepasnya lima ratus ribu dolar karena jam itu langka, tapi untukmu aku beri diskon jadi tiga ratus ribu dolar saja, bagaimana?"
"Benarkah?" Lara sampai tidak percaya diberi diskon sebanyak itu. "Jam ini aku tau harganya mahal tapi kenapa—?"
Aron hanya tersenyum lepas. "Karena aku bisa lihat ketulusanmu untuk pria yang kau cintai itu..."
"Oh.. kau baik sekali Tuan, kalau begitu aku setuju. Aku bayar pakai kartu bisakan?"
"Tentu."
Akhirnya Lara berhasil mendapatkan hadiah yang dia inginkan untuk Vander.
**
Gavin dan Mira terlihat berkendara mencari Lara.
"Bagaimana Lara dimana sekarang?" Desak Miranda bertanya keberadaan Lara saat ini sambil menyetir.
"Di peta yang terbaca dia ada di toko Osthetic, toko yang menjual barang langka dan antik. Tunggu? Bukankah itu nama toko milik kak Aron?"
"Aron siapa?" Tanya Mira.
"Dia— dia kenalanku. Sudahlah ayo kita segera kesana!" Pungkas Gavin.
Miranda lalu tancap gas menuju toko osthetic.
**
Sementara itu Karina yang gusar menunggu panggilan dari orang suruhannya, akhirnya bergegas mengangkat teleponnya yang berdering.
"Halo bagimana?"
Nona aku lihat Nona Lara sendirian ke toko osthetic
"Bagus! Kalau begitu segera lakukan rencana yang aku perintahkan!"
Senyuman di wajah Karina setelah menerima telepon itu penuh arti. "Aku harus bermain cantik untuk menjatuhkan bisa menjatuhkan Lara!" Karina tidak mau lagi salah langkah, karena beberapa waktu lalu ia sudah pernah mencoba menjatuhkan Lara dengan cara menyuruh orang untuk mengancamnya. Namun hal itu malah berakhir dengan Lara yang malah ditolong oleh seorang geladangan yang tidak lain adalah Vander! "Maka kali ini aku tidak boleh salah langkah lagi!"
**
Sementara itu, Lara terlihat panik mengantar seorang wanita paruh baya kesakitan yang ditemuinya sehabis dari toko Osthetic.
"Nyonya kita akan ke rumah sakit kau sabar dulu ya!" Lara menyetir dengan laju secepat yang ia bisa sambil terlihat panik melihat wanita itu kesakitan di kursi belakang.
"Sakit! Sakit!" Rintih wanita itu.
"Iya sabar ya Nyonya, aduh bagaimana ini...?" Ujar Lara panik.
"Ba- bawa aku ke- ke rumahku!" Pungkas nyonya itu.
"Tapi kau sakit, kau harus ke dokter!"
"Tidakk... ke rumahku!" Pekiknya bersikukuh. Lara ragu tapi melihat wanita itu bersikeras ia pun mengikuti maunya. Lara akhirnya menyetir sesuai arahan nyonya itu.
"Berhenti!"
"Eh di- disini?"
Lara keluar mobil sambil membantu Nyonya itu, dan tiba-tiba saja nyonya itu malah berdiri dengan sehat dan bugar.
"Nyonya kau sudah sehat?" Lara tak tak habis pikir.
"Ya aku sudah sehat, sekarang waktunya kau ikut aku!"
Nyonya itu seketika auranya berbeda sekali dengan tadi ditambah tiba-tiba saja ada beberapa pria mencurigakan datang.
"Bawa wanita ini masuk!" Suruh nyonya itu lalu membakar rokok dimulutnya.
Para pria itu lalu memaksa menarik Lara masuk ke sebuah tempat, yang kalau tidak salah itu tempat yang dikenal sebagai tempat pelacuran dan penyewaan pria atau wanita.
"Tidak! Lepaskan aku lepaskan aku! Nyonya kau menipuku! Kalian semua lepaskan aku!" Teriak Lara sambil terus meronta agar tangannya dilepaskan. "Kalian mau apa, aku akan bayar kalian tapi lepaskan aku! Aku tidak mau ke tempat hina ini!" Teriak Lara melakukan perlawanan.
"Aku tidak butuh uangmu, karena dengan wajah dan tubuhmu aku yakin akan banyak pria kaya rela mengantri untuk kesini!"
Mereka mau menjualku? Tidak ini mengerikan! "Lepaskan!" Pekik Lara sampai tenggorokannya kering.
"Lepaskan dia!" Pekik seorang pria.
__ADS_1
......🌿🌿🌿......
TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜