Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Tidak bisa dimaafkan


__ADS_3

Hari itu Lara yang menggunakan rok high waist selutut dengan atasan kemeja tanpa lengan yang dipadu cap blazer berwarna pastel, nampak modis memasuki salah satu gedung agensi yang menaungi banyak model terkenal.


Dengan highheels tinggi wanita itu berjalan menuju ke tempat dimana Emily berada saat ini. Ya, tujuan Lara sejak awal ke tempat itu memanglah untuk menemui Emily.


Melihat Lara berjalan melewati model-model lain, sebagian model yang juga bernaung di agensi itu pun mengenali Lara dan saling membicarakannya.


Hei itukan nona Lara?


Ah ya itu dia, cantik sekali. Dia itu desainer paling cantik yang pernah aku tahu. Bahkan dia lebih cantik dari modelnya kurasa.


Lihat caranya berjalan juga sangat bagus, andai dia jadi model sepertinya dia akan jauh mengalahkan si Emily sombong itu.


Tapi dia mau apa kesini?


Apa dia kesini mau mengajak kolaborasi dengan model lain untuk rancangan terbarunya?


Aku ingin sekali pakai rancangannya. Rancangan gaunnya di event Lavioletta waktu itu, aku dengar laris manis.


"Nona Lara Hazel!" Seru salah satu model memanggilnya. Lara yang mendengarnya pun langsung menoleh dan tersenyum.


"Ah lihat, dia senyum padaku!" ucap model itu girang.


Lara kemudian berjalan menghampiri para model itu dan bertanya, "Apa kalian melihat Emily Hasaki?"


"Oh nona Emily, dia itu ada di lantai dua ruang VIP, model sekelas dia mana mau bergaul dengan kami yang hanya model biasa."


"Tenang saja, kalau kalian kerja keras kalian pasti bisa setara Emily bahkan lebih, jadi semangat!" Ujar Lara memberi semangat.


"Nona Lara anda baik sekali, suatu hari aku juga ingin bisa pakai rancangan anda."


"Ah ya semoga, kalau begitu aku permisi dulu."


Lara kemudian lanjut ke lantai atas menuju ruang VIP tempat dimana Emily berada saat ini.


Setibanya di depan ruang VIP, Lara langsung bertemu dengan Naomi sang manajer dan mengatalan kalau dirinya ingin menemui Emily.


"Jadi bisa kan aku bertemu nona Emily?" Tanya Lara memastikan.


"Kalau itu, umβ€” biar aku tanya dulu padanya ya Nona."


"Oke."


Di ruangannya, Emily yang terlihat baru saja selesai melakukan perawatan kuku pun dihampiri oleh sang manajer.


"Hei Emily, diluar ada yang mau bertemu dengamu," ungkap Naomi.


"Siapa? Apa dia penting?" Dengan gaya sombongnya model itu seolah merasa orang paling penting disana.


"Yang ingin menemuimu adalah, Lara Hazel."


"Huh?" Emily nampak sedikit terkejut mendengar Lara datang langsung menghampirinya sampai kesini. Mau apa dia kesini? Aku ladeni tidak ya?Tapi kalau aku tidak ladeni nanti wanita sialan itu berpikir aku takut padanya.


"Baiklah, suruh dia masuk kesini temui aku," ucap Emily yang akhirnya bersedia bertemu Lara.


Naomi pun langsung memberitahu Lara agar ia masuk untuk menemui Emily di dalam.


Setibanya Lara di dalam ruangan, ia langsung disambut oleh Emily yang sudah berdiri sambil memegang segelas wine.


"Sebelumnya ada angin apa nona Lara sampai datang menemuiku disini?"


Tanpa banyak basa-basi Lara yang terlihat serius berjalan menghampiri Emily lalu menamparnya.


PLAK!


"Awwhh, wanita sialan! Beraninya kau menamparku!" Ujar Emily sambil memegangi pipi kanannya yang juga kemarin habis dicakar oleh Reynder.


"Bahkan tamparan itu tidak cukup untuk membalas perbuatanmu pada putraku!"


"Oh?" Emily tersenyum kecil ketika akhirnya paham maksud kedatangan Lara kesini. "Anakmu mengadu apa saja, pasti dia mengadu sambil menangis danβ€”"


"Emily dengar, kau itu tidak seharusnya membawa anak kecil dalam urusan kita. Lagipula apa maksudmu mengatakan soal berita rumor itu kepada putraku huh?"


"Kau ingin tahu alasannya? Oh tentu saja supaya hubungannya dengan Vander jadi kacau! Memang apa lagi? Kau itu sebenarnya bukan adik sepupunya Vander kan, kau itu hanya pacar gelapnya atau bisa dibilang simpanannya Vander iya kan!" tuduh Emily.


"Ya, kalau aku simpanannya Vander memang kenapa? Aku memang pacar gelapnya lalu kenapa? Aku menikmatinya. Meski hanya pacar gelap setidaknya dia selalu memanjakanku dan melakukan apapun untukku, lantas apa masalahnya? Oh kau pasti iri, kau iri karena kenyataannya Vander lebih tertarik padaku dibanding kau yang katanya model papan atas tapi sama sekali tidak dilirik!"


"Tutup mulutmu jal@ng sialan!"


Lara tertawa garing. "Kau sebut aku jal*ng lalu kau itu apa? Dengar ya Emily, aku sungguh tidak peduli padamu mau bertingkah apapun, tapi kali ini aku tidak bisa tinggal diam karena kau sudah berani mengusik putraku yang jelas-jelas dia hanya anak kecil."


"Dia memang anak kecil, tapi dia sama sepertimu. Sama-sama penghalang untukku!"


"Kau sudah gila Emily."


"Iya aku gila, aku gila karena melihatmu yang sangat membuatku muak!"


"Sepertinya benar, melihat responmu saat ini aku jadi semakin yakin kalau kau adalah orang telah memberikan jus nanas pada putraku tempo hari, iya kan?"


"Haha... iya itu aku, dan aku menyesal kenapa tidak aku racuni saja sekalian waktu itu. Lagipula anak itu, apa dia sungguhan anaknya Vander, atau jangan-jangan dia anakmu dengan pria lain."


PLAK!


Tamparan kedua dari Lara mendarat di pipi kanan Emily lagi. "Kata-katamu tidak bisa dimaafkan! Kau wanita iblis!'


Emily tertawa puas. "Kau tampar saja aku lagi, tamparanmu itu bukan apa-apa. Asal kau tahu sejak awal aku sudah tidak suka padamu. Ditambah kau menghalangiku mendapatkan pria yang aku suka. Aku jadi semakin benci padamu dan anakkmu, dan setelah ini aku jadi semakin ingin menyingkirkanmu!"


Melihat Emily saat ini, membuat Lara tertawa seraya mengejeknya. "Kasihan, kau sebegitu putus asa ya? Sampai-sampai kau mencoba menghalalkan segala cara untuk dapatkan Vander. Seharusnya kau tanya pada dirimu, kenapa model terkenal sepertimu sudah mati-matian mencari perhatian namun pria itu tetap saja tidak tertarik. Harusnya dari situ kau sadar, itu tandanya kau tidak menarik sama sekali."


"Diam!" Emily ingin menampar Lara namun langsumg ditahan olehnya.

__ADS_1


"Kau pikir aku wanita yang mudah ditindas, sayangnya tidak. Aku bukan lagi gadis naif yang bisa ditekan atau digertak, aku kesini jelas untuk memperingatkanmu. Jangan pernah ganggu anakku, tapi kalau kau nekat lakukan itu, maka aku sebagai ibunya tidak akan tinggal diam!"


"Kau mengancamku Lara?"


"Itu bukan ancaman, tapi peringatan. Dan satu lagi, kau itu bukan levelku untuk mendapatkan Vander jadi berhentilah membuang harga dirimu untuk mendapatkannya." Sorot mata Lara terlihat benar-benar menujukan kemarahan saat ini.


"Aku permisi!" Lara kemudian pergi dari ruangan itu dengan wajah tegas terangkat.


PRRYANG! Emily melempar gelas wine ditangannya. "Lara sialan, lihat saja aku akan menyingkirkanmu!" Pekik Emily dengan penuh ke murkaan.


...🍁🍁🍁...


Setelah keluar dari gedung agensi itu, Lara kembali ke dalam mobil.Β Tori yang sejak tadi menunggu Lara di kursi supir, melihat raut wajah Lara yang marah bercampur khawatir pun bertanya. "Nyonya apa anda baik-baik saja?"


"Iya, aku baik-baik saja," jawab Lara yang padahal sebaliknya. Saat ini ia malah jadi makin khawatir kalau kedepannya Emily malah akan melakukan hal yang lebih nekat lagi.


"Nyonya sebaiknya anda bilang ke tuan Vander saja. Aku yakin tuan pasti tidak akan tinggal diam kalau tahu hal ini."


Lara sebenarnya ingin, tapi melihat sang suami saat ini juga sedang punya masalah, dirinya merasa tidak tega jika harus membebaninya lagi dengan urusan lain. "Aku rasa saat ini biar saja masalah ini aku urus sendiri."


"Baik kalau menurut anda baiknya begitu, tapi kalau nyonya butuh bantuanku tolong katakan saja."


"Iya Tori, terima kasih ya."


Seketika tiba-tiba saja ponsel Lara berbunyi.Β Ia pun langsung mengangkat panggilan yang ternyata dari Eiji.


Lara : Halo kak Eiji ada apa?


Eiji : Lara hari ini, apa kita bisa ketemuan?


Lara : Umβ€” aku rasa bisa. Dimana?


Eiji : Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, bisakah kau datang menunggu di taman yang ada di dekat alun-alun?


Lara : (Lara berpikir sejenak)... Oke aku akan tunggu disana, nanti akan aku kabari kalau sudah sampai.


Eiji : Baik, sampai ketemu.


Lara : Bye.


Lara menghela nafas, sejujurnya ia tidak tahu apa ini benar atau tidak. Ia tahu suaminya pencemburu berat, apalagi pada Eiji. Tapi bagaimanapun Lara sangat menghormati dan juga peduli pada pria itu. Apalagi ia sudah banyak sekali berjasa selama empat tahun Lara menjalani hidup di Kanada. Mungkin aku akan beri pengertian sedikit pada kak Eiji agar tidak terlalu sering memintaku bertemu dengannya.


"Tori, tolong bawa aku ke taman dekat alun-alun kota."


"Baik nyonya."


...🍁🍁🍁...


Di Laizen tower Gavin yang diminta Vander datang bertemu dengannya, akhirnya menemui pria itu di atas atap Laizen tower. Disana seperti biasa Vander akan terlihat menikmati sebatang rokok dengan pakaian yang agak tidak rapi.


"Jadi kak, ada apa memanggilku kemari?" Ujar Gavin yang sedikit gemetar karena sebenarnya ia agak fobia ketinggian.


"Kau ini, sudah tau aku punya fobia malah sengaja memintaku kemari."


"Tapi buktinya kau bisa juga kemari, gedungku ini tingginya empat ratus tujuh puluh satu meter, sekaligus jadi salah satu gedung tertinggi di dunia. Tapi kau bisa kesini, itu cukup keren!" Puji Vander sambil tertawa.


"Sudahlah jangan buat aku lebih jauh berjalan, intinya kakak minta aku untuk lakukan apa?"


"Okey, aku kesini memintamu untuk menangkap seseorang dibantu Lori dan Moyes."


Vander kemudian memanggil kedua pria yang wajahnya hampir sama itu untuk mendampingi Gavin. "Mulai sekarang kalian Lori dan Moyes akan jadi satu tim dengan Gavin untuk membantuku dalam hal apapun jika aku butuhkan. Oleh karena itu mulai sekarang, apa yang Gavin suruh kalian harus lakukan!" Titah Vander pada kedua pria tersebut.


"Siap tuan, aku dan adikku Moyes akan menuruti semua yang tuan Gavin perintahkan."


"Eh kak, aku- kan bukan anggota Crux ke- kenapa kau?"


"Memang, tapi aku mau kau jadi salah satu sayap yang bisa aku andalkan. Karena hanya kau yang aku percaya dan paham betul kondisi ZR saat ini."


Diberi kepercayaan begitu tentu saja Gavin senang dan bersedia membantu kakak angkatnya itu. "Baiklah kalau memang itu permintaanmu. Lalu sekarang apa yang harus kami lakukan?"


"Cari dan tangkap wanita di foto ini," Vander melemparkan selembar foto kepada Gavin. "Lakukan penangkapan dengan rapi seperti biasa! Setelah itu hubungin aku."


"Oke siap, hey kalian dua bersaudara, ayo ikut aku!"


"Baik kak Gavin!"


Akhirnya Gavin pun pergi melalukan apa yang diperintahkan oleh Vander bersama dua orang partnernya yang baru.


Tak lama Robert pun gantian yang datang menemui Vander, disana ia berkata kalau, prosedur pemindahan aset atas nama Lara sudah hampir selesai. "Tapi tuan, apakah anda yakin memberikan semuanya untuk nona? Maksudku, anda setelah itu tidak akan punya apa-apa lagi."


Vander tersenyum tanpa beban.


"Keputusanku ini adalah yang terbaik, bagiku itu semua tidak sebanding dengan apa yang Lara sudah berikan padaku. Dia memberiku semua yang aku butuhkan bahkan lebih, dia juga sudah memberiku Rey dan mungkin Rey lainnya akan menyusul. Jadi tidak ada alasan untukku tidak memberikan semua hartaku untuknya. Terlebih aku tahu Lara bukan wanita yang serakah, dia istriku dan juga ibu dari anak-anakku kelak, jadi aku yakin ini sudah benar."


...🍁🍁🍁...


Lara yang sudah tiba di taman dekat alun-alun kota pun segera menghubungi Eiji, namun belum sempat ia menelepon pria itu tahu-tahu Eiji malah sudah berada disana menghampirinya.


"Kak Eiji, kau buat aku kaget saja."


"Haha.... Maaf, sebenarnya aku sudah disini sejak tadi tapi aku lupa bilang."


"Lalu, kita mau kemana?"


"Ikut aku," Eiji menggengam tangan Lara dan mengajaknya pergi naik mobil ke sebuah taman bermain sederhana yang ada di pinggir kota.


Disana mereka jalan-jalan sambil membeli berbagai makanan yang dijual. Hal itu pun membuat Lara jadi nostalgia, pasalnya dulu saat SMP ia juga pernah diajak ke tempat ini juga oleh Eiji. "Benar-benar membuatku jadi nostalgia yang menyenangkan!" Ungkap Lara tersenyum. "Jadi ini maksudnya kau mau bertemu denganku?"


"Itu hanya salah satunya."

__ADS_1


"Hem, boleh juga idemu," tukas Lara yang kemudian lanjut jalan.


Eiji yang melihat Lara tersenyum bahagia pun berjanji tidak akan membiarkan siapapun merampas senyum itu darinya.


Setelah puas berkeliling, mereka lalu duduk di kursi taman. Disana mereka asyik mengingat masa lalu, hingga akhirnya berujung ke pembahasan berita Vander yang tengah heboh dibahas di media. "Oh iya tentang berita itu, bisa jadi memang tuan Vander itu punya hubungan khusus dengan mantannya. Tapi aku rasa wajar saja dia kan tampan, kaya raya danβ€”"


"Dia tidak seperti itu," sanggah Lara seraya membela Vander.


Eiji sampai tertegun melihat Lara tampak sekali membela bosnya itu.


"Kau sepertinya sangat membela Vander, kenapa? Apa karena kau karyawannya?"


"Aku membela dia karena aku tahu dia tidak mungkin seperti itu, diaβ€” meskipun tampak kejam tapi dia sangat baik," jelas Lara dengan mimik serius.


"Lara, kau ini kenapa? Kenapa kau sampai sebegitunya membela pria itu?!" Ujar Eiji mulai emosi.


Lara yang tak kalah emosi pun berdiri dan membalas ucapan Eiji, "Kak, aku tahu kau orang yang sangat baik. Tapi kali ini maaf, aku rasa kau tidak berhak mengatakan hal itu tentangnya."


"Oh ayolah semua pria bisa saja lakukan, jangan terlalu naif Lara."


"Aku bukan naif, aku hanya mengatakan kenyataannya."


Eiji setengah tertawa. "Kenyataan ya? Kenyataan kalau ternyata kau memang jatuh cinta pada pria itu kan?"


"Kak...!"


"Sudahlah... kenyataannya Vander Liuzrn memang sangat kaya raya, tampan, dan punya segalanya. Tidak heran juga sih bahkan seorang Lara Hazel pun pasti tidak akan tahan dengan pesona harta dan uβ€”"


PLAK! Lara menampar Eiji. "Apa maksudmu bicara begitu, kau pikir aku mengincar hartanya?!"


"Kalau bukan karena itu lalu apa?! Lara sadarlah, pria itu tidak pantas kau bela!"


"Kau yang sadar! Kau ini yang kenapa? Kenapa kau seperti bukan kak Eiji yang kukenal, kenapa kau terlihat ingin sekali menjatuhkan Vander didepanku?!"


"Karena aku tidak suka kau selalu dekat dan peduli sekali dengannya!"


Lara tercengang tak menyangka. "Karena itu?"


"Iya karena itu, aku tidak suka melihatmu bersamanya, peduli padanya, dekat dengannya aku tidak suka itu semua, aku cemburu. Dan yang pasti Vander tidak akan bisa membahagiakanmu!"


Lara menatap Eiji dengan raut wajah tak menyangka. "Dengar, bahagiaku itu bukan kau yang menentukan kak, dan satu hal. Aku mau dekat dengan siapapun itu semua terserah aku, kau tidak ada hak mengaturnya."


"Tapi aku hanya ingin melindungimu dari pria brengsek yang mungkin menyakitimu lagi."


"Terima kasih atas kepedualianmu selama ini, jujur aku berhutang banyak padamu. Tapi soal hidupku kumohon jangan terlalu mengaturku seolah kau tahu segalanya tentangku."


"Lara akuβ€”"


"Maaf tapi sepertinya peetemuan hari ini sampai sini saja, aku permisi!" Lara kemudian pergi dengan perasaan kecewa pada Eiji.


"Argh!" Pekik Eiji yang kesal dengan semua keadaan saat ini. "Kenapa malah jadi begini!" Pria itu kesal dan marah. Tadinya Eiji ingin meminta kesempatan Lara untuk membuka hati untuknya sekali lagi, tapi pada yang terjadi malah berakhir seperti ini. "Pecundang, aku memang pada akhirnya hanya akan jadi pecundang!" Keluhnya menertawakan diri sendiri.


...🍁🍁🍁...


Di ruangannya Vander baru saja membaca pesan dari Gavin lewat ponselnya. Di pesan itu tertulis,


From Gavin.


^^^Kak, aku sudah menangkap orangnya, dan sekarang aku bersama Lori dan Moyes ada di gudang tua dekat dermaga pantai.^^^


Vander pun membalas.


Oke, aku akan segera kesana sekarang.


Sehabis membalas pesan dari Gavin, Vander pun bersiap untuk pergi keluar menemuinya.


Melihat suaminya akan pergi, Lara pun bertanya, "Kau mau kemana?"


"Aku ada urusan mendadak dengan Gavin, ada hal yang harus aku urus."


"Oh..." Lara tampak agak murung saat itu. Melihatnya Vander jadi berpikir kalau istrinya sedih karena akan ditinggal olehnya. Ia pun segera menghampiri sang istri untuk memastikan kalau dia baik-baik saja.


"Lara, kau baik-baik saja sayang?"


Sebenarnya Lara murung karena masih agak kecewa dengan sikap Eiji tadi serta ingat masalahnya dengan Emily. Tapi karena dirinya tidak mau membuat Vander khawatir ia pun berusaha terlihat baik-baik saja.


"Tidak, aku baik-baik saja kok. Aku hanya sedikit kepikiran denganmu, kau pasti lelah ya menghadapi ini semua," ucap Lara sambil membelai wajah suaminya.


Vander lalu tersenyum dan mencium puggung tangan istrinya. "Selagi ada dirimu bersamaku semua masalah pasti bisa aku lalui."


"Oh iya, nanti malam kita makan bersama ya ditempatku, bisakan?" Tandas Lara.


"Tentu saja."


"Kau mau aku buatkan masakan apa? Spaghetti dengan daging asap? Fetuccini, atau kari daging sapi, atau sup miso dengan udang asam manis?"


"Semua aku suka dan semua pasti enak kalau kau yang masak."


"Oke, aku akan masak spesial malam ini buatmu."


"Aku tidak sabar makan masakanmu. Baiklah kalau begitu aku pergi dulu ya." ucap Vander.


Lara kemudian mencium bibir suaminya. "Hati-hati, sampai jumpa nanti malam."


"Tunggu aku ya sayang..." Ucap Vander sambil mengedipkan sebelah matanya lalu pergi.


Lara tersenyum meratapi kepergian suaminya. "Aku akan selalu mendoakanmu suamiku."


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS πŸ™


__ADS_2