Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Janji, kepercayaan, dan cinta


__ADS_3

Vander tampak diam, sorot matanya yang dingin menatap ke arah jemarinya yang tengah memutar-mutar bolpoin peraknya. Raut wajah yang meski tenang namun jelas menunjukan aura kemarahan pada dirinya sendiri, hingga luapan emosi yang tertahankan itu pada akhirnya dilampiaskan pada bolpoin peraknya yang berakhir patah di jemarinya sendiri.


"Sekarang apa yang harus kulakukan? Wanita licik itu mencoba mengacamku. Dan Lara, bagaimana dengan perasaannya saat ini saat ia mengetahui rumor ini? Dan Rey, dia sangat menyayangi Lara, bagaimana jika dia tahu berita itu, pasti dia akan sangat kecewa padaku."


Kebimbangan bercampur rasa bersalah karena merasa tidak tahu harus apa, membuat Vander merasa jadi manusia tidak berguna saat ini. "Aku harus selesaikan ini semua."


...🍁🍁🍁...


Saat ini Jeden yang terlihat tengah melakukan perjalanan ke kota RK, tak sengaja malah mendengarkan berita radio di mobil tentang rumor kedekatan Vander dan Emily. Mendengar hal itu Jeden yang penasaran, segera meminta anak buah yang menyupirinya untuk menaikan volume radionya.


"Berita yang menarik," ucapnya setelah mendengar berita itu di radio.


Pria itu pun langsung meluncur ke media sosial. Tepat seperti dugaannya, rumor kedekatan Emily dan Vander kini jadi salah satu topik teratas yang paling banyak dibicarakan oleh orang-orang di situs berita dan hiburan. Setelah mendengar dan melihat rumor kedekatan Vander dengan Emily, Jeden jadi semakin yakin kalau Lara dan Vander pasti memiliki masalah tersembunyi dihubungan mereka saat ini, tapi apa? Jeden kemudian berpikir, "Sepertinya aku bisa memanfaatkan momen ini untuk menjauhkan Lara dari pria sialan itu."


Jeden tersenyum seolah telah memiliki rencana dengan memanfaatkan rumor ini. Ia pun kemudian mengambil ponsel dari saku jasnya, dan menelepon Cindy, mata-matanya yang juga bekerja di Laizen.


Cindy : Halo, aku belum ada info baru lagi. Tapi yang jelas kau tahu kan berita rumor Vander dan Emily yang tengah ramai dibicarakan?


Jeden : Ya aku tahu hal itu, oleh karena itu aku ingin kau bantu aku.


Cindy : Bantu apa? Bukankah saat ini aku tengah membantumu dengan jadi mata-mata.


Jeden : Iya kau benar, tapi kali ini aku ingin kau melakukan satu hal


Cindy : Apa itu?


Jeden : Aku ingin kau ...


Cindy : Apa kau sudah gila? Tidak, aku tidak berani sejauh itu, aku pasti bisa dilacak oleh tim IT Laizen, dan juga kau jangan salah, tuan Vander itu lumayan melek teknologi dia bisa dengan mudah mencari alamat IP-ku. Aku tidak mau jika harus menyebarkan rumor dengan ID-ku, itu sama kau mengirimku ke sarang harimau.


Jeden : Kau tenang saja, kau hanya perlu membuat akun media sosial lalu buat rumor ini semakin liar. Soal identitasmu aku sudah punya hacker handal untuk melindungi IP-mu.


Cindy :.... Tapi aku takut sekali tuan, bagaimana kalau aku sampai dipecat bahkan dipenjara?


Jeden : Kubilang tenang saja, aku yang jamin. Atau kalau kau tidak mau lalukan, aku bisa saja menyebarkan foto-foto dirimu saat di hotel tanpa busana itu ke media sosial.


Cindy : Huh? A- apa maksudmu. K- kau, darimana kau tahu aku... (Cindy langsung ketakutan mengetahui Jeden memiliki file foto-fotonya yang sedang berada di sebuah hotel tanpa busana)


Jeden : Jadi putuskan segera. Kau mau, atau tidak melakukan apa yang aku minta?


Cindy : Sesujujurnya aku sejak awal tidak memiliki hak untuk menolak kan?


Jeden : Ya seharusnya kau tahu sejak awal kan?


Cindy : Licik kau tuan Jeden!


Jeden : Aku bukan licik nona Cindy, melainkan cerdik, aku hanya berpikir dua langkah didepanmu.


Cindy : Baiklah, tapi kau janji harus benar-benar menjaga identitasku!


Jeden : Tenang saja, semua akan aman.


Akhirnya mau tidak mau, Cindy pun terpaksa menuruti apa yang diminta oleh Jeden untuk menjadi anomim dan menyebarkan rumor lebih parah lagi tentang Vander.


Jeden seketika tersenyum jumawa, "Setelah ini dramanya akan semakin seru."


...🍁🍁🍁...


Di ruangan, Lara yang tengah mengerjakan tugas-tugasnya nampak tidak terlalu fokus. Ia bahkan berkali-kali harus mengulang print out data, akibat banyak salah pengetikan. Nyatanya Lara masih kepikiran soal interview Emily yang ia baca tadi siang, meskipun sejauh ini Vander nampak seperti begitu mencintainya dan begitu memujanya, namun beberapa tahun lalu ketika dirinya lupa ingatan dan tidak ingat Lara bukan berarti ia tidak punya hubungan dengan wanita lain kan? Atau kemungkinkan memang dulu Vander pernah memiliki kedekatan dengan Emily? Siapa yang tahu.


Lara menatap ke arah meja kerja Vander yang saat ini tengah kosong karena ditinggal meeting. Ia kemudian bertanya-tanya, "Apa mungkin pria sehebat dia selama empat tahun tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun? Aku rasa itu mustahil, mana mungkin tidak ada wanita, dia tampan, kaya raya, punya segalanya, danβ€” bagaimana pun aku tahu dia pria normal yang punya hasrat, bagaimana ia memenuhi hasratnya biologisnya yang tinggi itu, kalau tidak berhubungan dengan wanita?" Lara menghela nafas. "Memikirkan semua ini membuat kepalaku berat."


Lara akhirnya memutuskan untuk ke pantry dan membuat teh kamomil untuk menenangkan dirinya.


Di pantry Lara terlihat duduk sendirian sambil memikirkan segala keraguannya terhadap sang suami saat ini. Tentu saja hal wajar bagi seoranh istri untuk curiga dan cemburu, mengingat selama empat tahun ia hidup berpisah dari suaminya dan sama sekali tidak komunikasi. Ditambah status Vander yang milyarder muda dan punya banyak pesona, pasti banyak wanita-wanita disekelilingnya. Saking kepikirannya, Lara sampai-sampai membayangkan kalau suaminya itu punya banyak selir.


"No! ini kan bukan zaman kekaisaran lagi, mana mungkin dia punya selir! Astaga... Kenapa sih, gara-gara interview si Emily itu aku jadi begini!" Keluh Lara sambil memegangi kedua pelipisnya. "Tapi kalau pun benar empat tahun lalu dia punya wanita lain, apa iya itu Emily? Tapiβ€” tapi aku kan lebih cantik dari Emily, aku juga sudah melahirkan anaknya pasti Vander akan lebih memilihku kan?" Lara mulai merasa gelisah, ia takut yang ia bayangkan tadi adalah benar adanya.


"Tidak!" Pekik Lara. "Bagaimana pun aku tidak terima, kalaupun memang mereka pernah dekat, akuβ€” aku pastikan Vander akan memilihku dibanding Emily itu. Karena bagaimanapun Vander sudah janji padaku dulu, kalau hanya aku yang akan jadi wanita terpenting dihatinya sampai akhir hayatnya." Lara mencoba meyakinkan dirinya.


...🍁🍁🍁...


"Oke meeting selesai, kalian semua silakan kembali lagi bekerja," titah Vander menutup pertemuan saat itu.


Para petinggi divisi pun satu-persatu keluar ruangan, hingga tersisa di ruang meeting hanya ada Vander yang baru saja selesai menandatangani dokumen


"Ada lagi yang harus aku tanda tangani?" Tanya Vander sambil memberikan dokumen itu pada Robert yang ada berdiri disisinya.


"Tidak ada tuan, dokumen berikutnya masih dipelajari oleh bagian lain, dan Nona Lara. Oh iya nona dimana dia sekarang?"


"Dia izin istirahat siang ke kedai kopinya Mira."


"Oh kedai Miracle itu, aku dengar kedai itu memiliki racikan kopi yang sangat enak, apa tuan sudah coba?"


"Belum, mungkin lain kali. Bagiku kopi terenak tetap buatan istriku," jawab Vander.

__ADS_1


"Tuan aku kagum pada anda, karena meski terlihat dingin dan garang saat jadi atasan, tapi dibalik itu semua ternyata anda ini sangat romantis," puji Robert.


Vander pun langsung tersenyum, "Bagiku dia segalanya. Aku akan lakukan apapun untuknya dan juga anak kami, itu sumpahku pada diriku sendiri."


"Selain pimpinan yang hebat, anda ternyata juga suami dan ayah yang luar biasa. Dan anda setia sekali pada Nona, anda bahkan tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun selama empat tahun lalu."


"Kau terus memujiku, mau minta naik gaji ya?" gurau Vander.


"Ah bukan begitu tuan, hanya saja...." Selama empat tahun berpisah dengan Lara, Robert jadi saksi hidup sama sekali tidak pernah melihat tuannya itu melakukan hubungan dengan wanita manapun. Bahkan sekedar melepas hasrat biologisnya pun tidak pernah ia lakukan dengan wanita manapun, padahal ia bisa saja setiap malam gonta ganti teman tidur, namun hal itu tidak ia lakukan. Tapi nyatanya selama empat tahun yang Robert tahu, Vander hanya memilih untuk membayar wanita yang sekedar menemaninya minum setelah itu ia pergi dari bar dengan keadaan mabuk.


"Tapi kalau boleh tahu, kenapa anda yang maaf aku tahu anda pria normal danβ€”"


"Ya, aku normal, aku punya nafsu seksual yang tinggi, tapi entah kenapa hanya dengan istriku saja itu muncul. Saat melihat wanita lain rasanya aku tidak berhasrat sama sekali. Dulu bahkan selama empat tahun aku pikir aku ini tidak normal, karena saat itu aku seperti tak bisa merasakan hasrat biologisku muncul. Barulah saat Lara kembali, entah kenapa malah kebalikannya, aku jadi setiap saat mengingatnya, mengingat aroma tubuhnya jadi mau melakukannya setiap saat," ungkap Vander hingga membuat wajah Robert agak merah karena malu.


"Eh tapi dibanding aku, kau lebih aneh bagaimana bisa kau belasan tahun tidak pernah lagi berhubungan, kau ini normal kan?"


"Ehem, aku sejak tragedi berdarah di Crux kan sudah memutuskan untuk mengabdikan seumur hidupku untuk anda tuan jadi aku tidak lagi peduli soal hasrat, ataupun cinta lawan jenis. Lagipula... cintaku hanya untuk Maria, mendiang istriku yang meninggal bersama calon anakku dua belas tahun yang lalu karena dibunuh oleh pria iblis itu."


Faktanya istri Robert dan calon anaknya telah dibunuh oleh anak buah Gauren atas perintahnya. Dan setelah hidup dengan banyak beban, pada waktu itu Vander yang datang sebagai penolong dan harapan baru untuk Crux dan juga Robert, membuat pria itu memutuskan untuk menjadi pengabdi setia Vander dan membatunya membalas kan dendam pada Gauren.


"Tujuan hidupku saat ini hanyalah untuk melayani anda tuan, karena anda yang memberiku harapan hidup, karena aku tahu hanya anda bisa menghabisi pria biada itu."


"Kau benar, salah satu tujuan kita sama, yaitu menghabisi Gauren dan orang-orangnya sampai jadi abu."


...🍁🍁🍁...


Lara yang terlihat mampir ke kedai kopi milik Mira saat jam makan siang, terlihat memesan caramel macchiato. Meski dirinya kurang suka minum kopi, namun Lara sangat suka caramel macchiato buatan kedai Miracle ini. Nama kedai kopi Mira sendiri sengaja dinamai dengan kata Miracle yang mana dulunya adalah, nama perusahaan milik mendiang kedua orang tua Lara.


Duduk di depan meja bar sambil menikmati Caramel Macchiato, Lara tampak berkali-kali membuang nafas. Mira yang selaku pemiliki sekaligus manajer kedai pun langsung menghampiri temannya itu dan bertanya, "Hei nona kenapa kau ini, sepertinya beban dikepalamu sedang berat ya?"


Lara masih terdiam, namun sebagai orang yang kenal Lara sejak kecil, Mira seolah bisa menebak apa yang tengah dirisaukan oleh teman dekatnya itu. "Soal interview Emily itu kan?"


"Ya, kau benar."


"Kenapa kau harus lesu begitu, bukankah sudah jelas itu wawancara pasti hasil karangan model sombong itu!" Tandas Mira.


"Tapi bagaimana kalau benar? Maksudku, ya kau tahu aku dan Vander kami empat tahun hidup terpisah dan saling tak mengenal kala itu, bisa jadi kan kalau saat itu Vanderβ€”"


"Oh ayolah Lara, aku saja bisa lihat betapa cintanya Vander padamu, masa kau terkecoh dengan provokasi wanita gatal itu sih! Kalau begitu kau akan kalah jatuhnya. Ingat, kau istrinya sah sementara dia hanya model sombong yang suka goda suami orang


Lagipula kau lebih cantik dan lebih asli dari dia, jadi apa yang harus kau risaukan?" Ujar Mira mencoba meyakinkan Lara.


Kalau dipikir apa yang dikatakan Mira memang benar adanya, tapi bagaimanapun Lara itu wanita pasti ada saja rasa cemburu dan overthinking, apalagi dirinya tidak tahu sama sekali apa yang terjadi pada Vander selama empat tahun lalu.


"Sudah jangan dipikirkan lagi, aku yakin suamimu yang tampan nan banyak uang itu tidak akan tinggal diam. Dan Lara, disaat seperti ini kau seharusnya menekan dan minta pembuktian padanya."


"Sini aku bisiki" Mira pun membisikan Lara cara untuk menguji Vander apakah dia benar-benar mencintainya atau tidak.


"Huh? Masa begitu, bukankah kalau begitu kesannya aku ini malah seperti wanita matrealistis yang gila harta?"


"Sudah percaya saja padaku oke? Lakukan apa yang aku beritahu, dan kalau dia rela melakukannya demi dirimu, sudah pasti cintanya seribu persen tidak, bahkan satu juta persen. Kau harus ingat, dalam hidup pria hanya ada tiga godaan, yaitu Harta, tahta, wanita. Kalau kau bisa membuat pria itu bertekuk lutut padamu maka sudah dipastikan dia itu menjadikanmu ratu di hidupnya."


Lara tersenyum kagum menatap Mira.


"Kenapa kau malah senyum melihatku begitu?"


"Tidak, hanya saja aku tidak menyangka kalau Miranda yang aku tahu sejak dulu orangnya datar, tapi soal pria sepertinya kok pengalaman sekali sih! Jangan-jangan kau begitu juga ya sama Gavin?"


"I- itu..." wajah Mira memerah, ia tidak mungkin bilang kalau nyatanya ia memang lebih dominan dibanding Gavin saat berhubungan.


"Lihat wajahmu merah," Lara langsung tertawa geli. "Ah aku tahu, kau pasti tipe yang lebih dominan ya kalau berhubungan, iya kan? Hayo mengaku saja."


"Diam kau anak kecil!" Miranda malu-malu.


"Hei Mira, aku ini lebih pengalaman darimu soal yang begitu, jadi mengaku saja," bisik Lara yang langsung membuat Mira benar-benar malu.


"Lara diam!" Pekiknya semakin malu.


"Haha... Mira- Mira, kau itu ternyata masih polos sekali deh kalau bahas hal itu, ingat kalau urusan hubungan aku lebih pengalaman darimu," ucap Lara bergurau.


...🍁🍁🍁...


Tak lama kemudian datang Lara yang baru saja kembali dari istirahatnya. Melihat Lara sudah kembali, Robert yang ada di ruangan pun permisi pergi dari ruangan mereka.


"Aku permisi tuan, nona..."


Lara meletakan tasnya lalu menatap suaminya yang juga malah menatapnya balik lalu tersenyum dan berkata, "Kau sudah kembali, aku pikir kau akan kembali setengah jam lagi."


"Tadinya ingin, tapi masih banyak yang harus dikerjakan makanya kembali lebih cepat." Lara seketika ingat nasihat dari Mira soal pembuktian cinta. Dirinya antara ingin tapi ragu melakukannya.


Ya ampun, kenapa malah bimbang begini. Ayolah Lara kau bisa!


Akhirnya Lara menghela nafas lalu menghampiri suaminya.


"Ada apa? Kau mau mengatakan sesuatu nona Lara?" Tanya Vander sambil senyum menatap tanpa canggung Lara yang malah tampak sebaliknya.

__ADS_1


"Tuan tidak, maksudku Vander, aku ingin bicara denganmu."


"Tentu, katakan saja."


Lara mengehela nafas lagi barulah berkata dengan lantang, "Vander apa kau sungguh tidak memiliki hubungan dengan Emily ataupun wanita lain saat waktu itu kita berpisah?"


Vander tersentak kemudian tertawa kecil.


"Jawab aku kenapa malah tertawa?"


"Habisnya kau tanyanya tegang begitu, biasanya kalau serius kau akan mena-"


Lara tiba-tiba duduk diatas meja Vander lalu menarik dasi suaminya. Dengan tatapan tajam ia mendekatkan wajahnya ke arah sang suami dan bertanya, "Kau sungguh tidak pernah ada hubungan dengan Emily kan?"


"Menurutmu?" Balas Vander dengan tenang.


"Tuan Vander aku bertanya jadi jangan malah tanya balik,"


"Kalau aku jawab iya atau tidak, mana yang kau akan lebih percaya?"


Lara seketika terdiam lalu melepaskan tanganya dari dasi Vander. Matanya yang tadinya menajam kini seketika berubah sendu penuh kekhawatiran. "Aku tidak tahu, setelah membaca interview Emily aku jadi gelisah, bimbang, dan takut. Aku seperti dalam ambang batas dimensi, separuh pikiranku berusaha mempercayai perkataan Emily, tapi hatiku berkata sebaliknya. Aku takut kauβ€”"


Vander menggenggam kedua tangan istrinya, menatapnya dengan lembut dan berkata, "Aku pun tidak tahu harus menjawab apa, aku tidak ingin berkata seolah memaksamu agar kau percaya padaku. Karena percaya atau tidak, itu sepenuhnya hakmu, yang bisa aku lakukan hanya yakin dan membuktikannya padamu. Tapi kalaupun kau masih belum percaya, aku hanya perlu melakukan pembuktian yang lebih, lebih, dan lebih baik lagi, sampai akhirnya aku layak untuk kau percayai."


"Vanβ€”"


"Dengar, kenyataanya aku ini hanya pria biasa. Aku tidak sempurna, tapi aku selalu merasa luar biasa ketika kau berada bersamaku dan mengandalkanku. Jadi Lara, jika boleh aku meminta padamu, maukah kau tetap bersamaku setidaknya biarkan aku berusaha untuk menjadi layak dan bisa kau percayai untuk tetap mendampingimu?"


Seketika mata Lara berkaca-kaca mendengar ucapan Vander, ia pun langsung turun dari meja yang ia duduki dan memeluk suaminya. "Ya, aku mau selalu bersamamu. Aku akan memberimu kesempatan agar selalu bisa selalu disisiku. Aku mencintaimu Vander, maafkan aku meragukanmu..." Ia menangis memeluk Vander sambil duduk dipangkuan suaminya.


Tak ingin istrinya menangis lama-lama, Vander pun langsung mengusap air mata Lara dan mengecup keningnya. Hingga akhirnya Lara pun berhenti menangis.


Sambil mengusap air matanya Lara berkata, "Tapi kau harus tepati janjimu padaku."


"Janji?"


"Iya..." Lara memebelai kedua pipi suaminya dan berkata, "Kau janji kalau hanya aku satu-satunya wanita yang boleh memiliki hatimu, pikiranmu, dan ragamu."


"Tanpa diminta, aku sendiri yang akan menyerahkan semua hidupku untukmu sayang," ucap Vander lalu tersenyum.


Wajah Lara seketika tersipu malu melihat suaminya tersenyum semanis itu padanya. "Kau curang, kau selalu punya pesona buat aku jadi luluh," gumam Lara.


Vander tertawa geli. "Sudah lama tidak lihat nona Lara ngambek."


"Huh? Ka- kau ingat wajahku?"


"Umβ€” sebenarnya, akhir- akhir ini aku merasa ingatan masa lalu sering tiba-tiba muncul di benakku, dan maka itu aku yakin, sedikit-sedikit ingatanku tentang kita dimasa lalu pasti akan kembali utuh."


Lara tersenyum dan teharu. "Terima kasih karena tidak membuang ingatan kita sepenuhnya."


"Aku tidak akan membuangnya sedikitpun." Pria itu pun mengecup bibir merona milik sang istri.


"Oh iya Vander, sebenarnya ada satu hal lagi yang mau aku katakan. Umβ€” mungkin kedengarannya agak buruk, tapi aku ingin katakan."


"Apa?"


"Kau bilang kau akan melakukan dan memberikan apapun untukku kan?"


"Ya, lalu?"


"Kalau aku minta semua harta kekayaan yang kau. punya, apa kau mau berikan?"


Vander terdiam menatap Lara seolah bingung.


"Ah ya sebenarnya aku tidak bermaksud begitu tapi Mira bilangβ€”"


"Aku sedang urus."


"Huh?"


"Sebelum kau minta, aku memang sudah berniat dan memutuskan untuk memberikan seluruh harta dan asetku atas namamu. Sejak mengetahui kalau kau istriku aku minta Robert untuk mengurusnya. Tapi mungkin butuh waktu karena asetku itu banyak sekali." Vander kemudian berkelakar, "Jadi kau tidak usah takut kalau aku selingkuh, yang akan jatuh miskin itu aku."


Lara menatap Vander dalam-dalam, ia tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan pada pria yang ada bersamanya saat ini. "Vander jika ada penghargaan suami terhebat dan luar biasa, maka itu layak untuk disematkan padamu, bahkan kau lebih dari hebat."


"Aku tidak butuh penghargaan itu, yang aku butuh hanya Lara yang selalu mencintaiku dan menemaniku dalam keadaan apapun."


"Vander aku mencintaimu, sangat, sangat dan selamanya."


"Aku tahu."


Mereka pun berciuman dengan mesra.


..."Aku yakin memilih mencintai dan dicintai oleh Vander adalah pilihan terbaik serta takdir terindah dalam hidupku."...


..."Aku mungkin seperti orang bodoh yang rela jadi budak cinta seorang wanita. Tapi itu tidak masalah, selagi dia Lara aku akan rela terlihat bodoh."...

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS


__ADS_2