Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Insiden


__ADS_3

Malam harinya, di ballroom hotel Caliente yang megah, suasana gemerlap pesta pun kian terasa. Dekorasi berkelas dari Laizen hotel yang mewahz menjadikan ballroom tersebut layaknya ruangan di istana nan megah. Semua tamu undangan yang datang pun tampak elegan dan berkelas, dengan outfit formal yang mereka kenakan. Dibanding pesta perayaan ulang tahun, mungkin pesta tersebut lebih cocok disebut pesta adu gengsi antar orang-orang kelas atas. Lihat saja, selain urusan politik dan bisnis, mayoritas tamu disana pasti membicarakan tentang gaya hidup mereka yang glamor sambil pamer kekayaan. Ya tipikal bahasan kaum kelas atas yang terbiasa dengan gaya hidup hedon.


Tak lama kemudian, akhirnya tamu kehormatan pak walikota pun datang, ya siapa lagi kalau bukan CEO Laizen yang tampan dan kaya raya. Saat pria itu masuk semua mata tertuju padanya terutama kaum hawa, mereka seolah tak berkedip menatap Vander yang saat itu mengenakan tuxedo hitam dan dasi kupu-kupu layaknya bangsawan. Tubuhnya yang tinggi dan tegap membuatnya tampak seperti seorang model yang tengah berjalan dipanggung runaway. Sontak sebagian wanita disana pun langsung memuji-muji Vander sambil berharap akan dilirik oleh pria tersebut. Tentu saja hal itu membuat Emily yang juga menjadi salah satu tamu undangan disana merasa kesal, dengan tingkah para wanita itu yang baginya tidak selevel degannya. Karena bagi Emily hanya dirinyalah yang cocok untuk mendampingi  bos Laizen grup itu.


Namun sebaliknya, meski dirinya disambut heboh dan diperhatikan orang-orang di ballroom, Vander sepertinya tidak peduli sama sekali, yang ia lakukan justru hanya terus berjalan menghampiri walikota untuk memberikannya ucapan selamat ulang tahun.


"Selamat ulang tahun tuan walikota, semoga kau selalu bahagia," ucap Vander sambil menjabat tangan pria tua itu.


"Terima kasih tuan Vander, sungguh kehormatan bagiku bisa mengundang milyarder dunia sekelas anda datang ke pesta orang tua sepertiku."


"Sama-sama tuan walikota."


"Oh iya tuan Vander, ini istriku Carla dan putriku Cheryl."


"Terima kasih atas kehadiran anda tuan Vander," ucap istri walikota. Sementara Cheryl yang usianya sepertinya seumuran dengan Lara tampak tersipu malu saat menjabat tangan Vander.


"Aku Cheryl, senang bertemu dengan anda tuan."


"Ya, aku Vander senang bertemu kau juga."


"Tuan Vander, anakku usianya tahun ini dua puluh enam tahun, dan tahun lalu dia baru saja mendpaat gelar master bidang sastra di universitas London. Putriku juga sangat menyukai hewan dan—"


"Oh iya maaf tuan walikota, tapi sepertinya anda harus menemui tamu lain, jadi lebih baik anda fokus menyapa tamu lain, karena aku juga mau mengobrol dengan tamu lain dulu."


"Ba-baiklah tuan Vander."


Sebenarnya Vander sengaja memotong pembicaraan walikota karena dirinya sadar, kalau pak walikota tadi sedang berusaha untuk mendekatkan putrinya dengan dirinya. Bagaimana mungkin dia mencoba menjodohkanku dengan wanita lain, sementara aku sudah punya istri dan anak yang luar biasa.


Disana Vander terlihat mengambil minuman, dan seperti biasa banyak sekali penjilat yang berusaha mendekati Vander agar dirinya mau memberikan suntikan dana, dan juga bekerjasama dengan perusahaan mereka.


Orang-orang busuk ini sungguh menjijikan! Mungkin hal itu yang ingin Vander ucapkan kalau bisa saat itu juga.


Belum selesai menghadapi para penjilat, Vander malah masih harus menghadapi para wanita kurang belaian yang sejak tadi terus saja menggodanya, bahkan sebagian ada yang sudah punya suami tapi masih saja menggoda Vander. Apa para wanita jelek ini tidak punya kerjaan? Selalu saja menggangguku seperti parasit!


Ingin sekali Vander memaki para wanita gila itu agar bisa segera lepas dari mereka, sayangnya itu agak sulit, mengingat bagaimanapun reputasi Laizen ada dipundaknya. Argh sial! Lara sayang aku dikeroyok wanita-wanita jelek ini! Rengek Vander dalam hati.


Untungnya tak lama kemudian muncul Eiji yang tanpa sepengetahuan Vander, ternyata juga jadi tamu di pesta tersebut. Bak seorang pahlawan Eiji datang dan meminta para wanita itu untuk pergi dulu karena dirinya mau bicara serius dengan Vander.


"Tuan Eiji anda sopan sekali, kami tidak mungkin menghalangi dua pria tampan yang mau mengobrol, kalau begitu kami akan pergi."


Akhirnya para wanita pengganggu itu pergi juga. Ujar Vander dalam hati. "Terima kasih tuan Eiji kau sudah datang, sepertinya kau populer dikalangan wanita," ujar Vander.


"Ah tidak juga, sepertinya kalau dibanding anda aku kalah jauh dalam hal apapun."


"Jangan merendah, kau kan sudah mengalahkanku saat tanding jetski."


Eiji tersenyum getir mengingat kejadian itu."Tidak, saat itu kau sengaja melakukannya. Karena tujuanmu sejak awal bukan menang lomba tapi hal lain yang tidak perlu aku sebut."


Vander tersenyum kecil. Ya mau tak mengaku juga percuma saja, Eiji bukan pria bodoh yang tidak mungkin tak menyadari hal seperti itu.


"Oh iya, aku dengar Lara sekarang tinggal di Caelestis Garden, itu kawasan apartemen milik Laizen grup kan?"


"Yap!" Jawab Vander kemudian menenggak gelas wine lagi.


"Kenapa kau sejauh itu, apakah semua pegawai dapat fasilitas seperti Lara? Bukakah kau bisa dituduh sebagai atasan yang pilih kasih kalau terlalu spesial memperlakukan Lara, dan Lara dia bisa jadi akan membuat pegawai lain cemburu dan iri karena kau sangat mengistimewakan sekretarismu itu?"


Vander menyeringai menatap Eiji. "Tuan Eiji, aku mau tanya. Kenapa kau terlalu ikut campur dengan kehidupan Lara? Bukankah dia hanya teman masa kecilmu saja? Dan soal fasilitas itu urusanku. Lagipula sejauh ini tidak ada karyawanku yang merasa keberatan, lalu apa masalahnya? Lagipula Lara berhak mendapatkannya, dia sudah banyak membantuku. Dan dia satu-satunya sekretaris yang bisa cocok dan mengimbangi cara kerjaku."


"Aku kenal Lara jauh sebelum dirimu, dan aku tahu apa yang kau tidak tahu tentangnya. Termasuk soal Lara dan suami baj¡ngannya itu yang sekarang entah dimana keberadaannya."


"Kau!" Vander ingin sekali menghajar Eiji saat itu juga namun tidak mungkin, ia pun hanya bisa mengepalkan tangannya demi menahan amarahnya yang tengah bergolak saat ini. Meski emosi namun Vander masih terlihat tenang dan tak menunjukan kemarahannya. "Tuan Eiji, aku rasa pembicaraan kita soal Lara tidak perlu dilanjutkan, karena jujur saja aku ingin menjalin hubungan kerjasama denganmu murni karena pekerjaan, jadi karena kita sudah sama-sama dewasa lebih baik bahas hal lain saja. Aku tidak mau mencampur adukan pekerjaan dengan masalah pribadi."


Cih! Pengecut! Pikir Eiji.

__ADS_1


Tak lama kemudian, tiba-tiba muncul Emily yang datang dan langsung merangkul lengan Vander dan berkata, "Tuan Vander ternyata kau disini. Aku dari tadi mencarimu loh..."


Vander mengerutkan alisnya. Apa-apaan wanita ini! Ia melihat ke sekelilingnya dan baru sadar kalau, ternyata ada banyak kamera media yang menyorotinya saat ini. Sial ini pasti sengaja!


"Oh baiklah tuan Vander, nona Emily, aku tidak mau mengganggu kalian yang mau mesra-mesraan. Jadi aku permisi dan silakan kalian berdua bersenang-senang," ungkap Eiji lalu pergi.


Brengsek! Pasti Eiji berpikir kalau aku ada hubungan dengan Emily! Vander benar-benar kesal, dirinya merasa sepertinya Emily sengaja melakukan hal ini supaya mereka jadi bahan gosip. "Nona Emily, lepaskan aku!" Ucap Vander pelan.


"Tidak, banyak media yang menyoroti kita. Aku yakin mereka berpikir kalau kita ini ada hubungan."


"Jangan main-main denganku, kau kira kau siapa?! Lepaskan atau aku yang paksa kau melepaskan!" Ancam Vander.


"Tidak mau, aku rasa kau harus kerjasama denganku, kalau tidak imejmu akan jelek seandainya kamera menangkapmu mau berbuat kasar padaku!"


Sudah kuduga, wanita ini memang sejak awal sudah terlihat licik!


Saat wartawan tengah menyoroti Vander dan Emily, tiba-tiba saja fokus tamu mendadak berpaling ke arah pintu masuk ballroom. Disana alhasil para awak media pun ikut penasaran dan berbalik badan melihat ada apa sebenarnya. Termasuk Vander dan Emily yang juga penasaran melihatnya.


Seorang wanita bergaun warna ruby dengan potongan model sabrina terlihat memasuki ballroom. Wanita itu berambut gelap panjang berhiaskan korset bunga platinum, dengan wajahnya yang sangat simetris dan berdagu mungil, serta bibirnya yang berwarna merah terang tampak memukau orang-orang disana.


Wah nona itu cantik sekali...


Dia siapa ya?


Gaun dan yang pakai cantik sekali!


Ya ampun dia siapa sih, cantik sekali!


Astaga Yuna sepertinya terlalu berlebihan memberiku gaun, jadinya orang-orang? melihatiku! Pikir Lara yang agak tidak nyanan jadi sorotan.


"Lara?" Ucap Eiji saat melihat ke arah pintu masuk ballroom.


Lara kenapa dia disini? Vander tampak terkejut sekaligus terkesima melihat kehadiran istrinya yang ia tidak tahu sama sekali.


Lara yang tampak berjalan menghampiri pao walikota untuk, memberi ucapan selamat ulang tahun sekaligus memberikan titipan dari Yuna.


"Maaf nona muda, tapi anda siapa?" Tanya walikota.


"Perkenalkan aku Lara, aku datang hari ini menggantikan nona Yuna Vergara karena beliau berhalangan hadir. Dan ini titipan hadiah dari nona Yuna untuk anda pak walikota." Lara memberikan kado titipan Yuna tersebut kepada walikota.


"Oh jadi anda utusan nona Yuna, kalau begitu terima kasih dan silakan nikmati pestanya."


Lara pun kemudian pergi untuk mengambil minum. Jujur saja ke pesta yang orang-orangnya tidak di banyak dikenali membuat Lara bosan dan ingin cepat pulang rasanya. Ditambah lagi melihat para wartawan yang berkerumunan membuat Lara langsung kesal rasanya. "Sudah kutebak pasti bakal seperti ini, Emily genit itu pasti diundang juga dan sekarang dia terus menempeli suamiku, menyebalkan sekali! Dasar wanita genit yang kurang kasih sayang!" Gerutu Lara lalu kembali meneguk segelas jus guna menghilangkan rasa kesalnya. Lara berpikir, andai saja dirinya dan Vander tidak perlu sembuyikan statusnya mereka, pasti ia bisa dengan leluasan menggandeng suaminya saat ini.


"Hai nona kau sendirian?"


Tiba-tiba saja beberapa pria menghampiri dan mengajak Lara berkenalan.


"Nona, apa kami boleh menemanimu? Kami masih single loh!"


Memang siapa yang peduli mereka masih single atau tidak! Batin wanita itu.


"Oh iya boleh kami tau namamu?"


Lara diam saja dan tak menjawab, jujur ia merasa risih dengan kehadiran pria-pria dihadapannya saat ini. "Um— maaf aku mau kesana dulu."


"Eits! Nona mau kemana?" Semakin menjengkelkan, para pria itu malah menglangi Lara pergi. Untungnya ada Eiji yang segera datang sebagai penyelamat.


"Maaf tuan-tuan, nona ini kenalanku jadi kuminta jangan ganggu dia," ujar Eiji.


Melihat Eiji yang menatap penuh aura mengintimidasi, para pria itu pun menyerah dan akhirnya pergi.


"Huft! Untung kau datang kak," ucap Lara merasa lega.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa kan?"


"Ya, aku baik. Sekali lagi terima kasih ya."


"Sama-sama, oh iya bagaimana caranya kau bisa disini?"


"Um itu..."


"Jadi kau datang menggantikan nona Yuna?"


"Begitulah..."


"Lara, kau tahu tidak kesalahanmu apa?"


"Eh, a- apa salahku?" Lara panik takut dirinya tidak sadar akan salahnya.


"Salahmu adalah, karena kaubterlalu cantik jadi semua orang memperhatikanmu," kelakar Eiji.


"Ya ampun, kau ini buat aku panik saja!" Lara sedikit tersipu oleh gurauan teman masa kecilnya itu. Tapi setidaknya mengobrol sambil bergurau dengan Eiji sedikit menghilangkan rasa bosan Lara.


Sayangnya Vander yang ternyata melihat sang istri sedang tertawa bersama Eiji pun membuatnya tidak senang, sampai-sampai ia lepas kendali dan malah membentak Emily di depan wartawan.


"Tuan Vander kau kenapa?" bisik Emily.


"Bukan urusanmu, sekarang juga lepaskan tanganmu dariku atau kubuat kau malu seumur hidup," ucap Vander dengan raut wajahnya yang dingin. Merasa ngeri dengan acaman pria itu, Emily pun akhirnya melepaskan rangkulannya saat itu juga.


Setelah itu Vander tampak menyambar wine dari nampan seorang pelayan secara kasar, dan meminumnya. Ia bahkan tak membiarkan pelayan laki-laki itu pergi untuk membawakan wine pada tamu lain.


"Tu- tuan anda sudah minum hampir sepuluh gelas, aku- aku juga ha- harus membawanya untuk tamu lain jadi—"


Vander menatap pelayan itu dengan tatapannya yang tajam dan bengis. "Kau pikir aku bukan tamu!"


"B- bu- bukan begitu tuan, tapi—"


KKPPYAARR!


Vander tiba-tiba membanting gelas winenya ke lantai, hingga membuat pelayan itu gemetar ketakuta. Tamu lain pun ikut kaget dibuatnya dan bertanya-tanya, termasuk Lara sendiri. Vander dia kenapa? Apa dia melihatku bersama Eiji? Tapi apa iya dia cemburu sampai begitu? Seketika tatapan tajam Vander melesat ke arah sang istri, dan lewat tatapan itu Lara pun langsung paham kalau suaminya menyuruhnya agar tidak terlalu dekat dengan pria lain.


"Em— kak Eiji, aku mau ke kamar kecil dulu ya,"


"Eh Lara tunggu, aku—" Eiji lagi-lagi tak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikannya pergi.


Di toilet Lara yang tengah cuci tangan jadi kesal sendiri dengan suaminya. "Dia yang minta menyembunyikan status pernikahan kami, tapi dia juga yang posesif dan cemburuan! Maunya apa sih Vander itu, padahal yang dekat-dekat sama wanita kan dia duluan, kenapa malah dia yang mengamuk?!"


Dan sekembalinya Lara ke ballroom, ternyata sedang ada sesi dansa bersama, disana tampak tidak ikut dansa meskipun banyak pria yang bergantian mengajaknya berdansa, termasuk Eiji.


Begitupun dengan Vander, pria itu sejak tadi hanya terus saja minum dan minum. Bahkan ajakan Emily yang agresif sekalipun tak membuatnya tertarik untuk berdansa. Mata Vander sejak tadi hanya terfokus pada satu wanita, yakni istrinya yang kini sedang terlihat menyantap hidangan bersama Eiji.


"Apa dia sedang membuatku cemburu? Dari tadi terus saja bersama si arsitek sok keren itu!" Vander tiba-tiba tersenyum penuh arti. "Baik, kalau kau mau buatku cemburu, akan kuberitahu bagaimana suamimu ini kalau cemburu!" Vander seketika berjalan untuk mendekati Lara, sayangnya tiba-tiba saja dirinya merasa ada hal yang aneh. "Tunggu," Vander menoleh kebelakang, pria itu sadar saat kalau seorang pria yang baru saja lewat didekatnya membawa senjata api. Gawat! Bagaimana bisa penjagaan sekelas walikota seburuk ini! Vander yang sadar kalau walikota mau dibunuh pun langsung memberi tahu pada keamanan khusus. Dan tiba-tiba saja lampu ballroom redup hingga membuat semuanya panik. Vander yang sadar kalau ada penyusup di hotelnya pun langsung meminta agar pihak teknisi hotel segera ke ruang pengendali aliran listrik. "Sial! Ternyata selain ada orang yang ingin membunuh walikota, ada orang lain yang memang sengaja ingin mengusikku!"


"Lara!" Vander langsung teringat istrinya yang juga ada di ballroom itu.


"Lara, Lara kau dimana!" Pekik Eiji yang mencari Lara diantara kerumunan gelap tamu yang berteriak panik dan saling mendorong.


"Ya Tuhan, ada apa lagi ini?" Lara yang tidak bisa melihat sama sekali pun mencoba membuat cahaya dari senter ponsel. "Tenang aku harus tenang..." Sebenarnya Lara takut sekali, namun sejak dirinya dulu sudah sering terjebak di situasi sulit bahkan kacau dirinya jadi lebih tenang, apalagi Vander pernah mengajarinya cara menghadapi situasi yang seperti ini adalah dirinya harus tenang. Lara yang berjalan dikegelapan mencoba menghindari tamu lain yang saling berteriak dan mendorong, namun apa daya saat Lara merasa memiliki cahaya diponselnya untuk memandu jalan, batre handphonenya malah mati. "Astaga! Kenapa harus mati disaat begini sih!"


Tapi mau bagaimana lagi, pada akhirnya Lara hanya bisa mengandalkan intusinya ditempat gelap, sambil terus berharap lampunya segera menyala. Lara kau harus tenang... Ucapnya dalam hati.


Namun sialnya, saat dirinya sudah setenang mungkin tiba-tiba saja ada seseorang yang membekapnya dari arah belakang.


Ya Tuhan, kenapa lagi ini? Siapa yang membekapku?! Lara yang panik mencoba untuk melepaskan diri, sayangnya dirinya malah keburu tak sadarkan diri setelah pundaknya dihantam keras.


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN TOLONG JANGAN DUKUNG CERITA INI DENGAN CARA DIVOTE, COMMENT, LIKE OKE! GIFTNYA JANGAN LUPA JUGA 🙏


__ADS_2