
Jam menunjukan pukul 06.00 pagi. Lara akhirnya terbangun dari tidurnya yang lelap semalaman.
"Hoam..." Lara meregangkan sendi kedua tangan dan lehernya. Tubuh Lara merasa segar setelah semalaman tertidur nyenyak sampai tidak sadar sudah sepagi ini. Mungkin efek dirinya yang sudah beberapa hari tidur tidak nyenyak. "Mungkin karena merasa dijaga oleh Vander aku jadi tidak merasa was was ataupun gelisah saat tidur."
Gadis itu beranjak dari tempat tidurnya tak lupa ia melipat selimutnya.
Setelah melakukan beberapa gerakan peregangan Lara pun keluar dari kamar untuk mengambil air putih.
Lara berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Setelah minum air putih, Lara pergi ke ruang tamu untuk menemui Vander.
"Kenapa lampunga masih gelap?" Ungkap Lara saat ke ruang tamu yang ternyata masih sepi.
Sepertinya Van masih tidur? Lara pun memastikan dengan melihat ke sofa dan ternyata benar, Van memang masih tertidur.
"Sepertinya dia masih mengantuk?"
Karena tidak ingin mengganggu tidur pengawalnya, Lara pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.
**
Selang satu jam Vander akhirnya terbangun dari tidurnya. Matanya langsung melihat ke arah jam yang terpampang di dekatnya. Ternyata sudah jam 07.30.
"Sial! Aku telat bangun!" Ucap Vander yang kemudian cepat-cepat beranjak dari sofa.
Ia yang teringat akan Lara, langsung berjalan ke kamar dimana nonanya itu tidur semalam. Namun saat Vander ingin mengetuk pintu kamar, ia malah mendengar suara-suara dari arah dapur. Takut ada yang mencurigakan Van pun langsung balik badan dan berjalan ke dapur untuk memastikan.
"Nona Lara?" Ujar Vander melihat Lara yang tengah membuat sarapan di dapur.
"Selamat pagi," sapa gadis itu diikuti senyum manisnya.
Apa ini? Bagi Vander, pemandangan pagi ini sungguh langka, pemandangan yang seumur hidup tak pernah ia rasakan. Melihat sosok Lara yang menawan mengenakan celemek dan menyapanya dipagi hari sungguh nikmat surgawi bagi Vander.
"Van?"
"Iya Nona?"
"Kenapa bengong? Cepat sana bersih-bersih dan bersiap setelah itu kita sarapan bersama. Aku sudah buat sarapan untuk kita," ucap Lara.
Vander yang masih belum percaya dengan apa yang ia lihat saat ini mencoba menyadarkan dirinya. "Nona aku sedang tidak bermimpi kan?"
Lara membulatkan matanya. "Kau ini aneh, tentu saja saat ini bukan mimpi! Sudah sana cepat bersih-bersih dan bersiap kalau tidak aku akan marah padamu," ujar Lara.
"Baik Nona," Van pun segera pergi untuk bersih-bersih dan ganti baju.
Lima belas menit kemudian.
Van yang sudah berpakaian rapi datang ke meja makan. Disana Lara yang sudah tampak cantik duduk menunggunya untuk sarapan bersama.
Van menarik kursi dan duduk tepat dihadapan Lara. Ia bisa melihat menu sarapan bersama secangkir teh dan secangkir kopi tersaji dihadapannya. "I- ini Nona yang siapkan semua?"
Lara mengangguk. " Aku sudah buatkan sarapan untuk kita, kau suka roti panggang kan? Aku juga sudah buatkan kopi untukmu," imbuhnya.
Van tersenyum bahagia bercampur rasa haru.
"Eh kenapa diam saja? Kau tidak suka menunya ya?"
__ADS_1
"Tidak Nona, justru saking senangnya aku jadi merasa kalau ini mimpi. Karena seumur hidupku, ini pertama kalinya ada orang yang menyiapkan sarapan khusus untuku," terangnya.
Lara jadi iba mendengar pekataan Vander. Tentu saja bagi Van yang sejak kecil sudah ditinggal sang ibu ditambah ayahnya yang tak peduli padanya membuat pria ini tak pernah bisa merasakan hal-hal seperti ini. Dibanding Van kehidupanku jauh lebih beruntung saat itu, meski ayah ibu sudah meninggal tapi saat masih hidup, mereka selalu memberikanku kasih sayang penuh sejak kecil.
"Ayo dimakan," pinta Lara.
Vander pun mengangguk lalu mulai memakan rotinya. "Iwni ewnak," ujar Van dengan mulut penuh roti.
"Kau suka?" Tanya Lara.
"Iya."
"Kalau begitu aku akan sering buatkan sarapan untukmu," tukas Lara.
"Eh? Tidak usah Nona, Nona adalah bosku mana boleh Bos seperti itu!"
"Tidak apa aku suka kok membuatkan Vander sarapan setiap hari," balas Lara.
Seketika hati Vander seperti dipenuhi angin musim semi yang hangat. "Ke- kenapa Nona suka?"
"Karena aku suka melihatmu makan dengan wajah senang, aku suka melihatmu memuji makanan yang aku buat, dan aku suka melihatmu yang sedang makan."
Van bingung, "Kenapa suka melihatku yang sedang makan?"
"Karena Vander sangat imut kalau sedang makan, pipinya menggembung seperti roti saat sedang mengunyah," ungkap Lara.
Astaga! Bagaimana bisa gadis kecil ini mengatakan hal memalukan seperti itu tentangku. Vander jadi malu sekali dibuatnya.
Lara berharap momen seperti ini sering terjadi, karena entah kenapa sejak ada Vander muncul di kehidupannya, banyak hal berharga yang justru baru Lara sadari setelahnya. "Sudah ayo teruskan sarapannya setelah itu kita berangkat," ucap Lara.
**
"Sekarang aku harus menghubungi Lara untuk mengajaknya bertemu nanti di restoran."
Karina mengambil ponselnya dan menghubungi Lara.
Karina : Halo Nona Lara.
Lara : Ada apa Nona Karina pagi-pagi sudah menghubungiku?
Karina : Aku sengaja pagi-pagi menghubungimu untuk mengajak bertemu nanti sore jam empat di restoran Verona. Aku ingin kita menandatangani kontrak kerjasama antara Miracle dan Appletree disana.
Lara : Jadi kau sudah yakin dengan kerjasama kita?
Karina : Tentu saja, aku tidak pernah tidak serius soal bisnis.
Lara : Oke kalau begitu aku akan menemuimu disana jam empat nanti.
Karina : Ah iya Lara satu hal lagi, aku ingin kau datang bersama tuan Van.
Lara : Kenapa aku harus mengajaknya?
Karina : Karena aku ingin mentraktirnya hari ini, kemarin dia tidak bisa menerima ajakanku karena alasannya harus selalu menjagamu. Kali ini aku mengajakmu juga jadi kali ini dia bisa ikut kan?
Lara : ….. Baiklah!
__ADS_1
Karina : Oke kalau begitu sampai jumpa nanti sore.
~
Karina menutup teleponnya, senyumnya pun langsung mengembang kala rencanannya kali ini berjalan mulus. "Rencanaku kali ini cukup lancar, meskipun aku harus ikutkan Lara tapi setidaknya aku bisa ada kesempatan bertemu dengan Van lebih lama, sisanya akan kupikirkan nanti di restoran bagaimana cara aku supaya bisa lebih dekat dengan pria itu!" Karina tampak puas.
**
Di perjalanan menuju kantor tiba-tiba suasana hati Lara jadi tidak terlalu baik setelah menerima telepon dari Karina.
Vander yang duduk mengemudi disebelah Lara pun bertanya, "Nona, kelihatannya ada yang membuat suasana hati Nona jadi kurang baik?"
Lara menoleh ke arah Van dan menyuruhnya berhenti sebentar. Tak lama Vander pun menghentikan mobilnya.
"Kenapa Nona minta aku berhenti?"
"Van jujur padaku, apa kau sudah lama kenal dengan Karina Foster?"
Van heran kenapa Lara tiba-tiba tanya begitu.
"Memang ada apa Nona?"
"Jawab saja!"
"Aku baru bertemu Nona Karina tiga kali itupun secara tak sengaja."
"Menurutmu, apa Karina cantik?"
"Huh?" Van semakin merasa aneh dengan pertanyaan Lara.
"Jawab, apa Karina cantik?"
"Bagiku yang paling cantik diantara yang tercantik adalah Nona Lara."
"Kau bilang begitu bukan hanya mau menyenangkanku saja kan?" Tanya Lara seperti tak percaya.
Van pun memicingkan matanya, mendekatkan wajahnya dan menatap Lara dengan intens. "Nona, aku bukan pria yang suka basa basi, jadi apapun yang keluar dari mulutku adalah apa yang aku pikirkan. Lagipula..." Van tiba-tiba mendekatkan bibirnya ke telinga Lara lalu berbisik, "Nona kau punya wajah yang sangat menawan dan manis, rambutmu juga indah, bentuk tubuhmu idaman banyak wanita, ukuran dadamu juga sangat sempurna, kau seksi dan imut disaat bersamaan jadi apa yang membuatmu iri dengan wanita lain yang tidak sepadan dengamu?"
"Hentikan!" Lara seketika mendorong tubuh Van menjahuinya. Wajah dan telinga Lara benar-benar dibuat memerah dengan bisikan Vander barusan. "Sudah tidak usah kau teruskan lagi aku tidak akan tanya hal itu lagi," tutur Lara yang wajahnya masih seperti kepiting rebus.
Van pun hanya tersenyum seolah puas menggoda bosnya itu.
"Van sebenarnya aku hanya mau bilang, kalau nanti sore aku akan makan bersama dengan Karina. Dan dia memintaku untuk mengajakmu juga makan bersamanya, katanya sebagai ganti karena kemarin kau menolak diajaknya pergi," jelas Lara.
"Apa maksud Nona bertanya seperti tadi adalah untuk memastikan kalau aku suka pada Nona Karina atau tidak, begitukah?"
"Eh! Um, itu— sebenarnya aku, ah sudah intinya nanti kita makan bersama Karina titik!" Tegas Lara tak mau lagi memperpanjang.
Mana mungkin Lara bilang kalau ia cemburu Van dekat Karina. Lagipula ini demi perusahaan, mau tak mau Lara harus mengikuti keinginan Karina demi kelancaran kerjasama perusahaan.
Vander yang tengah menyetirpun lagi-lagi hanya tersenyum kecil. Meski tak memberitahunya dengan jelas, tapi pengawalmu ini paham maksud ucapan dan tingkahmu Nona Lara Hazel.
Bersambung...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH💜
__ADS_1