
Vander bertanya-tanya ada apa sebenarnya? Apa yang dikatakan Mira ditelepon hingga membuat ekspresi wajah Lara tiba-tiba kaget dan langsung panik begitu?
"Ba- baik Mira aku akan segera kesana sekarang!" Ucap Lara yang kemudian mematikan panggilan itu.
"Nona ada apa? Kenapa kau terlihat panik?" Tanya Vander merasa khawatir.
"Van sekarang juga kita ke Miracle!" Titah Lara diaselimuti rasa panik.
"Ke Miracle, memangnya apa yang terjadi Nona?" Van benar-benar ingin tau apa yang sudah terjadi sebenarnya.
"Gudang Miracle kebakaran Van, kita harus segera kesana!"
Van langsung bereaksi kaget mendengaranya. Dan tanpa banyak kata Vander pun langsung melajukan mobilnya menuju ke perusahaan Lara tersebut.
Di sepanjang perjalanan Lara tampak sangat gelisah, ia terus saja melihat keluar jendela memperhatikan laju mobil sambil berharap dengan tidak sabar agar dirinya segera tiba di Miracle saat itu juga.
"Van bisa lebih cepat lagi, aku benar-benar ingin tau keadaan Miracle saat ini!" Raut wajah Lara tak bisa bohong ia sungguh gelisah dan tidak tenang saat ini.
Karena ponselnya mati, Lara bahkan berulang kali menggunakan ponsel Van untuk berkomunikasi dengan Miranda via telepon untuk mengetahui keadaan Miracle saat ini.
Di dalam perjalanan menuju Miracle Lara melihat ada dua mobil pemadam kebakaran melintas dengan suara sirine tanda darurat. "Dua mobil pemadam itu pasti tengah menuju Miracle!" Ucapnya jadi semakin panik.
Melihat Lara saat ini Van jadi khawatir dibuatnya. Karena tidak ingin melihat Lara terlalu panik, Vander pun mencoba untuk sedikit menenangkanya.
"Nona Lara kau harus tenang, aku yakin semua pasti sudah ditangani dan semua akan baik-baik saja."
Lara jadi takut sekali mengingat, sudah empat puluh tahun Miracle berdiri dan ini pertama kalinya terjadi insiden seperti ini. Hal itu pun membuatnya jadi berpikiran buruk. "Van, bagaimana kalau ada korban jiwa disana, bagaimana kalau apinya merambat kemana-mana? Bagaimana kalau—"
Van tiba-tiba meraih satu tangan Lara yang lebih kecil dari miliknya dan mengenggamnya erat. "Nona aku mohon tenanglah," tutur Vander dengan lembut supaya Lara tenang.
Dengan mata berkaca-kaca Lara menatap Vander seolah mengisyaratkan kepada pria itu kalau dirinya sedang merasa tidak baik-baik saja.
"Nona kau harus mengontrol emosimu. Saat ini yang terpenting adalah tidak ada korban jiwa dalam musibah ini," jelas Vander.
"Tapi aku takut Vander."
"Kau tidak perlu takut Nona, ada aku yang akan selalu ada disisimu," ucap Vander dengan suaranya yang berat dan lembut.
**
Lara dan Van akhirnya tiba di Miracle. Tarlihat asap dari kobaran apinya bahkan mengepul tebal sejak pertama mereka masuk ke area kantor. Selepas itu Lara langsung membuka sabuk pengamannya dan buru-buru berlari untuk memastikan keadaan gudang yang terbakar tersebut. Bahkan Van sampai dibuat khawatir melihat Lara yang berlari mengenakan high heels.
__ADS_1
"Nona hati-hati!" Serunya.
Terlihat para petugas pemadam bekerja keras memadamkan kobaran api, dan Lara hanya bisa memandang dari kejauhan dengan perasaan bersalah.
"Ini benar-benar terbakar? Kenapa bisa terbakar?" Tanya Lara sambil mengepalkan kedua tangannya tanda kekecewaannya pada diri sendiri.
"Nona Lara!" Ujar Miranda yang langsung datang menghampiri.
Lara pun bertanya kepada Mira apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa sampai bisa terjadi kebarakan ini? Lara sungguh tak mengerti dengan semua kejadian ini.
Sayangnya Mira juga sama seperti Lara, ia tidak tau penyebab kebakaran ini, entah karena kelalaian atau memang sengaja dibakar Miranda tidak mengetahuinya.
"Nona kau harus sabar," ucap Mira menguatakan bosnya itu.
Lara di dera rasa marah dan kecewa dengan dirinya sendiri. Ia merasa semua ini salahnya mengingat sebelumnya tidak pernah ada kejadian seperti ini.
"Aku gagal Mira... aku bukan pemimpin yang baik. Aku bahkan tidak bisa menjaga perusahaan keluargaku sendiri! Benar-benar tidak berguna aku ini!" ungkap Lara menyalahkan dirinya sendiri.
Mira memeluk Lara lalu berkata, "Tidak Nona, ini semua bukan salahmu. Semua kejadian ini murni kecelakaan yang mana kita semua juga pasti tidak pernah menyangka sebelumnya."
Lara tidak tau harus bereaksi apa saat ini. Yang jelas setelah kejadian ini Lara jadi semakin sadar, menjadi pimpinan perusahaan memanglah tidak mudah.
"Van, apa kau ikut memadamkan api?" Tanya Mira melihat Vander bercucuran keringat.
"Iya tadi aku membantu petugas pemadam agar apinya cepat padam."
Saat ketiganya disana tiba-tiba datang dua polisi menghampiri.
"Selamat malam kami dari kepolisian ingin menginfokan kepada Nona Lara Hazel pemilik Miracle, terkait penyelidikan terjadinya kebakaran saat ini," jelas polisi tersebut.
"Jadi bagaimana hasil penyelidikannya?" Tanya Lara.
Dari olah tkp yang dilakukan polisi, mereka yakin kalau gudang itu memang dibakar oleh seseorang, mengingat ada bau dan jejak bensin yang tersisa diarea sekitar tempat terjadinya kebakaran.
Vander yang diam-diam ikut menganalisa membenarkan. Ia berpikir jika kebarakan itu murni kecelakaan tidak mungkin ada bau bensin yang menyengat. Apalagi bangunan gudang di Miracle sejatinya adalah tempat penyimpanan bahan mudah terbakar. Tapi kenapa tidak ada petunjuk lain, misalnya jerigen yang dipakai pelaku untuk membawa bensin? Aku rasa pelakunya pasti cukup profesional, oleh sebab itu jejaknya sulit dilacak.
"Oh iya inspektur, apa kalian sudah mengecek cctv yang terpasang di area gudang?" Tanya Vander pada kedua polisi tersebut.
"Kami sudah mengeceknya tapi nihil, karena pelakunya lebih dulu merusak lensa cctvnya sebelum melakukan aksinya," jelas si polisi.
Benar dugaanku, pelakunya pasti bukan orang amatiran. Tapi siapa? Apa masih dengan lingkaran yang sama dengan yang meneror dan menyerang Nona sebelumnya-sebelumnya? Vander jadi semakin khawatir dengan keselamatan Lara.
__ADS_1
Setelah melakukan beberapa pertanyaan terkait penyelidikan, kedua polisi itu pun pamit pergi dan berniat meneruskan penyelidikannya esok hari. "Kalau begitu kami permisi, selamat malam," pungkas polisi-polisi itu lalu pergi.
Sorot mata Vander langsung menajam memikirkan sebab terjadinya kebakaran ini. Van bertanya-tanya soal motif pelaku. Kalau niat orang itu memang ingin menghancurkan bangunan Miracle, kenapa yang dibakar hanya gudangnya saja?
Vander lalu kembali memperhatikan sekeliling area yang yang masih diselimuti asap bekas kobaran api. Sampai secara tak sengaja pandangan tajamnya malah dibuat salah fokus dengan kehadiran seorang wanita berkacamata hitam, dan bermantel coklat melihat ke arahnya dari kejauhan.
Siapa wanita itu, sepertinya aku tidak asing dengan sosoknya? Wanita itu tampak menyeringai kemudian berbalik badan dan pergi. Vander semakin tajam memandang ke arah wanita yang sudah berbalik pergi itu, dan akhirnya pria itu pun baru tersadar kalau wanita itu, jangan-jangan Eva?
Vander bermaksud mengejar Eva, namun saat ia menoleh dan melihat Lara, seketika jadi tidak tega untuk meninggalkannya. Ia pun mengurungkan niatnya mengejar wanita itu karena tidak mungkin untuk meninggalkan Lara di saat seperti ini.
"Kalau begitu Nona Lara lebih baik kita pulang saja," ucap Vander.
Miranda pun mengiyakan perkataan Van barusan. Karena ini sudah malam jadi tidak ada gunanya juga kalau berlama-lama disini tanpa ada kejelasan.
Lara yang masih belum merasa tenang, akhirnya hanya bisa menurut pada pengawal dan asistennya itu.
"Nona Mira apa kau bawa mobil?" Tanya Van bermaksud mengantarkannya pulang sekalian.
"Aku bawa mobil, kau pergilah saja bawa Nona Lara pulang," pungkas Miranda.
"Baiklah kalau begitu aku dan Nona Lara pulang duluan, kau hati-hati dijalan," ucap Van yang kemudian pergi bersama Lara.
Mira masih terdiam di tempat. Disana ia memperhatikan Van dan Lara yang berjalan pergi. Entah kenapa dari tadi Mira merasa gelagat Vander seolah berubah tidak sepolos dan sedatar biasanya, seperti ada yang dia pahami dan sembunyikan.
Hal itu membuat Miranda semakin yakin kalau Vander sebenarnya bukanlah pria sembarangan. "Aku jadi ingat yang Van pernah katakan padaku dulu, soal orang yang harus dicurigai sebagai musuh sebenarnya bukan dirinya, lalu siapa orang yang dia maksud?"
Mira malah jadi pusing sendiri, "Argh, kenapa aku jadi pusing sendiri! Aku tidak megira pengawal gelandangan itu ternyata semisterius ini!"
**
Dari kediamannya Jeden yang baru pulang dari klub malam, tidak sengaja menonton siaran berita tentang kebakaran yang terjadi di Miracle.
"Apa? Kenapa aku baru tau soal ini?" Jeden sungguh tidak tau apa-apa soal kebakaran di Miracle. Pria itu pun merasa penasaran soal kebakaran itu lalu menelepon Lara, sayangnya tak ada jawaban. "Sial, kenapa ponsel Lara malah mati!" Pekiknya.
Jeden kemudian jadi teringat dengan ucapan Karina ditelepon tadi yang mengatakan, bisa saja melakukan hal nekat pada Lara jika Lara masih saja dekat dengan Vander.
"Apa mungkin ini ulah wanita itu?"
Bersambung...
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜
__ADS_1