Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Kiriman Bunga


__ADS_3

Mereka yang membawa Lara pun berhenti dan menoleh ke arah suara itu datang.


Ah dia pemilik toko barang tadi! Batin Lara saat melihat Aron.


"Cih siapa kau!" Desis wanita pemilik tempat pelacuran itu.


"Aku kenalan wanita ini, lepaskan dia!" Titah Aron.


"Melepaskannya? Jangan harap! Wanita ini punya fisik yang sangat sempurna, dia akan jadi asetku yang berharga!"


Aron tertawa geli, "Nyonya sepertinya kau cari mati ya? Kau tau siapa Nona ini?"


Wanita itu melihat ke arah Lara. "Siapa memangnya?"


"Kau seharusnya sudah tau dari penampilannya saja dia bukan pegawai wanita biasa."


"Apa maksudmu?"


Lagi-lagi Aron tertawa mencemooh. "Wanita ini adalah Lara Hazel, pemimpin Miracle group salah satu perusahaan ternama dikota ini!"


"Apa?" Nyonya itu langsung kaget dan langsung menyuruh anak buahnya melepaskan Lara.


Begitu dilepaskan Lara langsung menjauhkan diri mendekati Aron. Lara benar-benar tidak menyangka wanitu itu ternyata menipunya. "Aku kira kau sungguh wanita yang sedang sakit ternyata kau menjebakku.  Katakan siapa yang menyuruh kalian!?" Ujar Lara.


Nyonya itu langsung terdiam seribu bahasa.


Lara yang tidak terima dengan perbuatan mereka pun memberi peringatan. "Aku dengar tempat ini eksklusif, semua pekerjanya adalah wanita yang bersedia bekerja untuk kalian tanpa paksaan. Tapi kenyataannya tadi kalian mencoba menjualku secara paksa. Jika kau tidak mau memberi tau siapa yang menyuruh kalian, maka aku akan melaporkan kalian ke polisi agar tempat ini ditutup karena sudah melakukan tindak percobaan penculikan dan perdagangan manusia terhadapku!"


"Tunggu, ja- jangan laporkan pada polisi! Aku- aku sebenarnya diminta oleh seorang pria yang aku tidak kenal untuk membawamu, dan dia juga sepertinya disuruh orang lain," akhirnya nyonya itu berkata jujur kalau dirinya disuruh oleh orang tak dikenal.


"Siapa orang lainnya?"


"Aku juga tidak tau, yang jelas dia memanggilnya Nona di telepon."


Nona siapa?


"Sudahlah Nona Lara, lebih baik kita pergi dari sini, aku khawatir akan ada melihatmu," pungkas Aron.


Lara dan Aron pun akhirnya pergi dari sana. Tak lama kemudian tiba-tiba Gavin dan Mira juga datang mengkhawatirkan Lara.


"Kak Lara kau tidak apa-apa kan?" Gavin terlihat sangat panik dan ketakutan. Begitupun Mira ia langsung memeluk gadis itu merasa lega karena Lara baik-baik saja.


"Kalian bagaimana bisa kemari?" Tanya Lara.


"Sebenarnya..."


Aron kemudian meceritakan kronologinya, dimana saat Lara meninggalkan tokonya, Aron melihat ponsel Lara tertinggal di tokonya. Merasa masih dekat, Aron lansung mengejar mobil Lara dan mengikutinya dengan mobilnya. Tak lama ponsel Lara berdering dan itu dari ternyata panggilan dari Gavin, kebetulan Aron kenal dengan Gavin dan mengangkat panggilannya lalu menyuruhnya mengikuti GPS Lara.


"Ja- jadi tuan ini dan Gavin...?"


"Ya kak Lara, aku temannya kak Aron!"

__ADS_1


"Tuan Aron apa kau juga..."


Aron mengangguk. "Aku juga mengenal Vander."


Lara sungguh tak menyangka kalau dunia ini begitu sempit.


"Oh iya ini ponselmu," Aron mengembalikan ponsel milik Lara.


"Terima kasih tuan Aron."


"Sebaiknya kita segera pergi dari sini." Karena hari sudah semakin malam, Miranda pun menyuruh agar segera pergi dari sini sebelum semakin larut.


Mereka pun setuju dan pulang.


Kali ini Miranda pulang bersama Lara sedangkan Gavin mengikuti dan menjaga mereka dari belakang


Setibanya mereka bertiga di apartemen, sebelum bersih-bersih ia mengatakan pada Gavin dan Miranda agar kejadian hari tidak diberitahukan pada Vander dulu.


"Kenapa tidak?" Ujar Miranda.


"Aku hanya tidak mau dia jadi kepikiran, lagipula ini salahku jadi biar aku saja yang beritahu dia nantinya."


"Ya ini memang salahmu! Kau harusnya sudah tau dan belajar dari pengalaman kalau, tidak aman jika kau pergi sendirian!" Ucap Miranda yang tampak kesal sekali.


"Aku juga merasa tidak baik kalau menyembunyikan sesuatu, apalagi kejadian hari ini jelas ada dalang dibaliknya. Kak Lara, aku rasa akan lebih baik jika kau bilang lansgung pada Kak Vander," ungkap Gavin


"Tapi..."


"Ah sudahlah Gavin birkan saja. Keras kepalanya Nona Lara kita memang sulit dihilangkan, biarkan dia lakukan semaunya! Aku mau mandi saja," ujar Miranda yang terlihat kesal dan lelah.


Sementar Lara dia hanya terdiam dengan perasaan menyesal. Hari ini ia memang merasa sudah sangat merepotkan orang lain, hingga Miranda saja sampai terlihat kesal dan marah kali ini padanya.


**


Karina yang tengah bersantai sambil perawatan kuku tiba-tiba mendapati telepon dari orang suruhannya.


"Halo bagaimana?"


Aku sudah dapatkan foto-fotonya. Setelah ini akan aku kirimkan data fotonya dan juga hard copynya pada Nona.


"Kerja bagus! Tapi wanita itu?"


Sayangnya dia ditolong oleh seorang pria saat itu jadinya dia berhasil kabur dari tempat itu.


"Ah sial padahal akan seru kalau sampai dia sungguhan dijadikan pelacur ditempat itu! Tapi baiklah sudah cukup yang penting kau dapat fotonya saat dia di tempat itu."


Wanita itu tersenyum setengah menyipit. "Setelah ini drama akan dimulai Lara, kau bersiaplah..."


**


Keesokan harinya, Gavin dan Miranda terlihat pamit pergi dari apartemen Lara, mengingat Vander akan pulang hari ini.

__ADS_1


"Mira, Gavin, terima kasih ya kalian sudah mau menemaniku disini hampir satu bulan lamanya," ucap Lara mengantar kedua orang yang sudah ia anggap saudara itu ke depan pintu.


"Sama-sama Kak Lara, aku juga senang bisa makan masakan enakmu setiap hari disini."


Lara tersenyum senang mendengar Gavin berkata demikian. Namun senyuman itu perlahan memudar saat ia melihat ke arah Mira yang sepertinya masih marah pada dirinya akibat kejadian semalam. "Mira... kau juga terima kasih banyak sudah mau menemaniku."


"Sama-sama," balas Mira cuek.


"Kau masih marah padaku ya Mira?"


"Menurutmu?" Tandas Mira ketus.


"Mi- Mira aku..."


"Sudahlah kami pamit dulu, kau jaga diri baik-baik sampai Vander datang ya...!" Miranda lalu langsung pergi tanpa memeluk Lara seperti biasanya.


Gavin yang melihat Miranda cuek ke Lara jadi canggung sendiri. "Hei Miranda tunggu! Kak Lara aku permisi dulu kau jaga diri ya... dah...!


Kini Lara tinggal sendiri di apartemennya sambil menunggu Vander yang kemungkinan tiba siang hari ini.


**


Lara sejak tadi menelepon Vander tapi tak kunjung diangkat. Ia melihat kearah jam digital yang ada diruang tamu apartemennya. "Sudah mau masuk jam makan siang, lebih baik aku masak sekarang supaya kalau dia kembali bisa langsung makan siang."


Lara akhirnya turun ke dapur untuk memasak makanan untuk makan siang. Wanita itu mengingat rambutnya hingga menampakkan lehernya yang jenjang dengan surai rambut tipis-tipisnya yang masih terurai jatuh di lehernya.


Ia mengenakan celemek menutupi dress pendek motif bunga dengan tali kecil yang menggantung dipundaknya. Gadis itu pun mulai memasak, fettucini smoked beef adalah pilihan menu yang ia akan masak kali ini. Dia tau Vander bukan pria yang suka pilih-pilih makanan, jadi apa saja yang dimasak Lara pasti dia suka.


Saat tengah asyik memasak tiba-tiba bel berbunyi. Lara langsung menoleh "Apa itu dia?" Gadis itu mematikan ompor listriknya dan segera membuka pintu.


"Um— maaf ada yang bisa kubantu?" Tanya Lara melihat kurir membawa buket bunga mawar berwarna putih.


"Betul anda Nona Lara Hazel?" Tanya si kurir.


"Ya benar."


"Ini bunga untuk anda."


"Eh, dari siapa?"


"Maaf Nona, sayangnya si pengirim tidak menyebutkan namanya. Tolong Nona terima saja dan tanda tangan disini." Lara lalu menerima buket itu dan tanda tangan penerima.


"Permisi Nona," ucap si kurir lalu pergi.


"Bunga dari siapa ini?" Lara bertanya-tanya. Ia meletakan buket itu lalu meneruskan memasaknya yang sempat terhenti. Setelah selesai memasak tak lama datang lagi kurir lain membawa buket bunga lagi, dan kali ini mawar warna merah. Lara makin tidak paham ini ulah siapa memberinya sampai dua buket bunga mawar.


Selang beberapa saat datang lagi kurir ketiga, keempat, ke lima, ke enam, ke tujuh semuanya mengantarkan buket bunga mawar dengan warna yang berbeda-beda. Sampai akhirnya Lara kesal sendiri karena sejak tadi terus saja menerima buket bunga namun tidak ada nama pengirimnya. "Sebenarnya ini ulah siapa sih! Mau mengerjaiku atau apa! Menyebalkan sekali, kirim bunga tidak ada namanya!" Gerutunya kesal.


Dan lagi bel kembali berbunyi, "Tidak bisa dibiarkan!" kali ini Lara mulai hilang kesabaran. Dengan ekspresi kesalnya ia pun membuka pintu.


"Dengar ya Tuan— aku itu..." Lara seketika berhenti bicara melihat siapa yang datang kali ini.

__ADS_1


...🌿🌿🌿🌿...


TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜


__ADS_2