Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Penguntit


__ADS_3

"Sial! Aku gagal mengikuti Lara, sepertinya supir Lara sadar kalau aku mengikuti mereka!" Maki Jeden yang kesal karena rencananya gagal menguntit Lara. Pria itu emosi dan langsung menenggak sebotol liquor untuk menenangkan diri. "Kalau begini terus, akan semakin sulit bagiku menemui Lara. Apalagi dia tinggal di Caelestis Garden sekarang, mengingat penjagaan disana sangat ketat, dan tidak sembarangan orang bisa masuk jika tidak punya akses khusus dengan penghuninya langsung."


Kalau sudah begini terpaksa Jeden harus memutar otak mencari celah lain, atau bahkan minta bantuan lagi pada Gauren. "Tidak, aku tidak mau lagi minta bantuan pria gila itu, dia pasti memintaku membayar mahal kalau aku minta bantuannya. Ini saja hutangku padanya bunganya terus bertambah, padahal perusahaanku saja belum resmi kubuka. Ditambah pria itu sangat menakutkan, dia manusia penuh obsesi gila."


Jeden sudah kapok bersentuhan dengan Gauren setelah ia tahu semua catatan kriminalnya yang baik tercatat resmi dan yang tidak. Bahkan yang tak tercatat sudah tak terhitung banyaknya. Pria itu berusaha membuat negara sendiri, ia bahkan mengumpulkan banyak pulau untuk keperluannya membangun wilayah. Sayangnya sejak Vander mengambil alih Crux Land, separuh kedigdayaannya sudah runtuh. Kini pria itu hanya bisa menjalankan pionnya dari jauh karena terbatas izin masuk ke berbagai negara.


...🍁🍁🍁...


Di Lavioletta, Lara bersama Yuna dan juga Emily melakukan pertemuan. Dalam pertemuan itu Yuna menjelaskan kalau, fashion show yang akan di gelar di Conery Palace tiga hari lagi sangat krusial, karena disana nantinya akan ada ratusan media baik dalam maupun luar negeri, yang dagang untuk meliput. Oleh sebab itu Yuna meminta semuanya untuk saling bekerja sama demi kesuksesan pagelaran besar tersebut.


"Jadi aku minta kita semua harus kompak. Ingat, Laizen grup sudah mempromosikan acara ini dengan skala global jadi jangan sampai buat tuan Vander kecewa."


"Baik Nona Yuna!" Jawab mereka serempak.


Setelah selesai perteman, akhirnya Emily pun. mencoba gaun rancangan Lara yang akan dipakainnya nanti. Dan siapa sangka, saat melihat dirinya di cermin memakai gaun itu, Emily langsung terpesona dan sontak memuji dalam hati. Sial! Ternyata rancangannya bagus sekali! Tapi kenapa harus si Lara menyebalkan itu pembuat gaun ini!


"Bagaimana pendapatmu nona Emily tentang gaunnya?" Tanya Yuna.


"Bagus sih, tapi memang dasar modelnya aku jadi apapun itu akan tetap bagus," ucapnya tak mau mengakui kehebatan Lara.


Seketika Lara langsung menatap Emily dengan wajah masam. Dasar sombong! Kalau ada model lain, aku sih lebih memilih model lain yang pakai daripada dia!


Setelah selesai semua urusan di Lavioletta, baik Lara dan Emily pun pamit.


"Nona Yuna, kalau begitu aku duluan ya, karena masih banyak yang harus kukerjakan di kantor," ucap Lara.


"Iya Lara terima kasih sudah datang, dan semoga acaranya nanti sukses besar."


"Baik aku pergi bye!" Lara pun pergi, diikuti Emily yang tiba-tiba menyusul diriny yang tengah berjalan keluar. Wanita itu tiba-tiba saja malah mengajak Lara shoping, dan tentu saja hal itu langsung ditolak saat itu juga.


"Ya ampun kau ini sedendam itu ya padaku, sampai segitunya menolak. Aku kan hanya mau ajak dirimu berbelanja, atau sekedar duduk di kafe masa tidak mau sih!"


Lara yang jadi kesal karena terus saja didesak Emily pun akhirnya menegaskan kepada wanita itu kalau, dirinya tidak bisa karena masih harus mengerjakan hal penting lain.


"Sepeting apa sih!"


"Yang pasti lebih penting dari dirimu! Lagipula hari ini putraku sedang sakit jadi aku harus pulang cepat!"


"Apa? Rey sakit? Astaga... Anak manis itu sakit, aku jadi sedih mendengarnya," pungkas Emily yang sebenarnya hanya pura-pura simpatik.


Dasar wanita palsu, berpura-pura peduli pada anakku padahal maksudnya supaya bisa dapat perhatian papanya, licik!


"Maaf nona Emily aku harus pergi, permisi!" Lara pun pergi meninggalkan Emily.


...🍁🍁🍁...


Sekembalinya dari Lavioletta, Lara langsung mengerjakan ulang jadwal Vander yang berantakan. Ia terpaksa harus membuat janji dan juga pertemuan ulang antara Vander dan koleganya. Hal itu sangat menyulitkan, apalagi pikirannya kini agak tidak fokus karena memikirkan Rey yang sedang sakit, ingin rasanya Lara segera menyelesaikan pekerjaannya lalu pulang dan menemani putranya di rumah.


"Huh...! Akhirnya selesai juga," ucap Lara sambil meregangkan sendi-sendinya. Lara terlihat duduk sejenak untuk melepas lelahnya sebelum pulang. Dan tiba-tiba saja ponselnya berdering, mengira panggilan masuk itu dari sang suami, ternyata panggilannya dari Eiji.


Lara : Halo kak?


Eiji : Lara kau baik-baik saja kan? Malam itu kau hilang kemana? Kenapa aku mencarimu tidak ada dan aku meneleponmu, malah Vander yang angkat.


Lara : Ya... aku baik-baik saja. Oh iya malam ituβ€” aku um... diselamatkan oleh tuan Vander lalu dibawa pergi. Kalau soal ponsel, kebetulan memang tertinggal di mobilnya tuan Vander.


Eiji : Oh begitu, syukurlah aku senang mendengarnya, danβ€” maaf aku tidak bisa melindungimu malam itu.


Lara : Eh tidak masalah kok, lagipula itu kan bukan salahmu jadi santai saja. Um...kalau begitu aku tutup teleponnya ya kak, kebetulan aku harus segera pulang karena Rey sedang sakit hari ini.


Eiji : Rey sakit?!


Lara : Iya, tapi tenang saja, dia sudah agak baikan sekarang, tadi aku sudah cek lewat video call.


Eiji : Begitu ya, oke baiklah titip salamku untuk Rey.


Lara : Tentu, bye...


Lara mematikan panggilannya.


Di ruangannya Eiji merasa marah dan kecewa pada dirinya sendiri, ia merasa seperti pecundang tak berguna saat ini. "Kenapa? Kenapa malah pria itu yangΒ  jadi tempatnya berlindung? Bukankah aku yang lebih dulu mengenalmu Lara? Apa artinya diriku bagimu sebenarnya? Empat tahun kita sama-sama tinggal di Kanada, apa kau masih merasa aku tak cukup untuk bisa kau andalkan?"


...🍁🍁🍁...


Saat bibi Frida sedang menyiapkan makanan untuk Rey, tiba-tiba saja bel berbunyi.


"Siapa ya? Apa itu nyonya, tapi biasanya nyonya kalau pulang tidak pernah pencet bel?" Pikir Frida yang kemudian langsung berjalan untuk membukakan pintu.


Wanita paruh baya itu pun terdiam sejenak saat membuka pintu dan melihat siapa yang datang.


"Um- maaf nona, anda mencari siapa?" Ucap Frida.


"Oh aku Emily aku temannya Lara, dan aku kesini untuk menengok Rey, karena kata Lara dia sedang sakit jadi aku mau menengoknya."

__ADS_1


Frida bertanya-tanya siapa Emily ini? Tentu saja ia tidak bisa mengizinkan orang luar masuk seenaknya ke dalam, apalagi bertemu taun kecil.


"Nona Emily, aku minta maaf sebelumnya. Tapi sayangnya nyonya Lara belum pulang, dan aku tidak diizinkan untuk memperbolehkan orang luar masuk kecuali anggota keluarga."


Aduh pelayan ini merepotkan sekali sih! "Tapi bibi pelayan, aku ini sungguh temannya Lara, unit aku tinggal juga di lantai ini kok, lagipula aku kemari kan hanya mau menengok saja tidak lebih." Emily terus mendesak Frida agar mengizinkanya masuk. Dan tak lama kemudian, datang Lara yang baru saja pulang dari kantor. Ia agak kaget melihat Emily ada di depan unit apartemennya.


"Emily, kau sedang apa disini?" Ujar Lara.


"Wah Lara, akhirnya kau pulang. Lihat, aku bawa buah-buahan untuk Rey kecil."


Lara memicingkan matanya menatap Emily.


"Nyonya, tadi nona ini bilang dia kenal dengan anda. Tapi aku tidak berani mengizinkannya masuk karena nyonya bilang tidak boleh ada orang asing yang masuk, kecuali ada izin dari anda."


Lara melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Emily dan berkata, "Bibi Frida aku memang kenal wanita ini, tapi kau sudah benar karena tidak sembarangan membiarkan orang lain masuk."


"Baik kalau begitu, aku mau mengantarkan makanan dulu untuk tuan kecil," pungkas Frida lalu pergi.


Lara kemudian mengizinkan Emily masuk tapi hanya sampai ruang tamu. "Silakan duduk," ucap Lara yang kemudian juga duduk menyilangkan kakinya layaknya seorang nyonya besar di hadapan Emily.


"Jadi kau kemari mau menjenguk putraku?"


"Iya aku mau menjenguknya, ini buktinya aku sudah bawa buah," ucap Emily sambil menunjukan keranjang buah yang ia bawa. Disana Lara yang tidak percaya pada Emily pun terus menatapnya seolah mengintimidasi.


Apa-apaan sih wanita ini! Sok sekali gayanya didepanku, dia pikir hanya karena dia pemilik unit ini dan sepupunya tuan Vander, dia jadi bisa sesombong itu!


"Jadi Lara aku boleh kan menengok Rey kecil?" tanya Emily.


"Umβ€” sayangnya tidak bisa, maaf ya Emily," jawab Lara dengan santai seraya menolaknya mentah-mentah.


Emily seketika naik pitam dibalas begitu oleh Lara, namun ia mencoba untuk menahan amarahnya dengan cara mencengkram roknya sendiri. Sialan, jadi niat dia mengundang hanya mau mempermalukan aku!


Biar kutebak? Pasti Emily saat ini sangat kesal, hehehe salah sendiri. Dia pikir aku ini bodoh, aku tau niat busuknya menjenguk Rey hanya untuk cari perhatian saja kan? Dasar wanita licik!


"A- kalau begitu biar aku lihat saja Rey dari jauh, setelah itu aku akan pergi." Emily bersikukuh memaksa melihat Reynder.


Tak lama kemudian, bibi Frida pun keluar dari kamar Rey sambil membawa nampan berisi mangkuk sisa makanan Rey.


"Em... Bibi, Rey sedang apa sekarang?" Tanya Lara.


"Tuan kecil dia sekarang sedang tidur nyonya."


Lara melihat ke arah Emily. "Nah kau dengar sendiri kan Emily, anakku dia sedang tidur saat ini, jadi qku rassisa pergi saja sambil kau bawa kembali keranjang buahmu."


Emily memicingkan matanya. "Bawa kembali apa maksudmu. Apa kau pikir buah yang aku bawa ini racun!"


"Eh? Ma-maksudnya?"


"Yap, Rey punya alegi pada nanas jadi dia tak bisa makan itu, maka dari itu aku mohon silakan bawa kembali. Dan terima kasih karena kau sudah mau perhatian pada anakku."


Wanita itu pun berdiri dan langsung membawa kembali keranjang buah miliknya. Dengan raut wajahnya yang dipaksa tetap tersenyum, Emily pamit pergi.


"Kalau begitu aku permisi."


Lara mengantar Emily keluar pintu dan langsung menutupnya kembali. Di luar Emily pun langsung menunjukan raut wajah aslinya yang marah dan tidak terima. "Awas kau Lara, akan kubalas kau nanti!"


Wanita itu pun kembali ke apartemennya dengan keadaan emosi yang meledak-ledak saat itu. Setibanya di dalam apartemennya, Emily langsung melempar keranjang berisi buah-buahan ditangannya lalu memaki dengan kasar. "Dasar wanita ja*ang sialan! Dia pikir dia siapa? Beraninya jal*ng itu mempermalukanku! Aku tidak terima! Akan aku balas dia!"


Mendengar teriakan sumpah serapah Emily, Naomi sang manajer yang tinggal bersama sang model pun langsung keluar kamar dan menemui Emily yang sedang marah-marah itu.


"Astaga... kenapa buahnya berantakan begini? Kau ini kenapa sih Emily?"


"Diam kau Naomi, aku sedang kesal!"


Naomi menghela nafas. "Biar aku tebak, pasti kau lagi-lagi kesal dengan wanita yang namanya Lara yang tidak lain adalah sepupu tuan Vander, iya kan?"


"Ya siapa lagi kalau bukan wanita sialan itu!"


"Musuhmu kalau dipikir lumayan banyak, tapi kenapa dengan Lara seprtinya kau benci sekali? Apa kau iri padanya?" Kalakar Naomi.


"Sialan kau Naomi! Tapi sungguh aku benci sekali dengan si Lara itu! Andai dia bukan kerabat tuan Vander, sudah kujambak, kutampar, dan kurobek mulutnya itu!" Ucap Emily emosi.


"Ya kan sudah kubilang, lebih baik kau menyerah saja deh. Lagipula masih banyak pria tampan dan kaya raya diluar sana selain tuan Vander."


"Ya memang, tapi yang seperti Vander Liuzen itu hany ada satu diantara sejuta pria. Pokoknya apapun itu, Vander harus jadi milikku titik!"


Naomi hanya bisa pasrah melihat Emily yang tidak mau diberitahu. "Ya terserah kau sajalah, yang penting pekerjaanmu tidak terbengkalai. Aku tidak mau model yang aku tangani secara eksklusif malah kerjanya dapat rumor terus."


"Iya-iya, dasar manajer cerewet! Sudahlah aku mau pergi ke spa saja. Aku butuh relaksasi," ucap Emily.


...🍁🍁🍁...


Sorenya Rey terlihat sudah cukup membaik, suhu tubuhnya juga sudah normal. Disana ia bersama terlihat sedang bersantai ditemani Lara yang kini tengah membaca majalah, sementara Rey main lego. Dan di tengah-tengah momen itu, tiba-tiba saja Rey bilang pada Lara kalau dirinya mau bicara dengan papanya.

__ADS_1


Namun karena Vander masih belum pulang, akhirnya Lara pun melakukan video call dengan sang suami.


Rey : Papa! (Tampak sumringah)


Vander : Halo jagoan, kata Lara hari ini kau sakit ya?Apa sekarang sudah baik-baik saja?


Rey : Iya, aku sudah sehat! (Sambil berpose memamerkan otot lengan)


Vander : Anak hebat.


Rey : Pa... Papa kenapa dua hari ini sudah tidak lagi kemari dan tidur disini?


Vander : Ah ituβ€”


Lara tiba-tiba bergabung di panggilan video tersebut.


Lara : Rey, papa kan sedang ada tugas di tempat yang jauh, jadi tidak bisa kesini.


ReyΒ  : Iya sih...! Habis kalau tidak ada papa, mama suka kesepian. Contohnya kemarin, kemarin aku lihat mama saat sedang menonton drama, tiba-tiba daja malah memeluk guling sambil berkata, Vander aku rindu padamu...! Begitu.


Vander : (tertawa geli) Apa mamamu serindu itu padaku?


Rey : Ya!


Lara yang ada diantara percakapan anak dan ayah itu pun hanya bisa menahan kesal dan malu, karena rahasianya dibongkar habis-habisan oleh anaknya sendiri.


Dan setelah Rey puas mengobrol di virtual dengan papanya, anak itu pun seketika izin mau ke kamar kecil. Sebenarnya Rey tidak terlalu ingin buang air, namun karena ia ingin melihat mamanya berduaan dengan papanya ia pun sengaja bilang mau ke toilet. Dan rencana Rey pun berhasil, papa dan mamanya kini saling bicara berdua di virtual.


Vander : Ehem! Jadi... kau rindu sekali padaku ya?


Lara : Ya... Kau pikir saja sendiri! (tampak kesal dan malu)


Vander : Aku rasa aku juga sama.


Lara : Sama apa?!


Vander : Sama denganmu, aku merindukanmu. Terutama belaian hangatmu yang kau berikan setiap malam. Kau tahu, melihatmu saat ini seolah aku ingin sekali bisa menembus layar ini dan menemuimu langsung. Lara... kau terlalu menggoda untuk dilihat lewat layar. Aku ingin sekali mencium dan menjamah seluruh tubuhmu lalu memakannya.


Mendengar ucapan Vander wajah dan tubuh Lara seketika panas dibuatnya.


Lara : Vander bisa tidak berhenti mengatakan hal-hal mesum, bagaimana kalau Rey dengar?


Vander : Dia tidak akan dengar, lagipula putraku sengaja kok meninggalkan kita berduaan.


Lara : Van... kapan kau kembali? (Dengan nada dan raut wajah manja)


Vander : Besok, aku janji besok aku akan kembali.


Lara : Baik aku pegang kata-katamu.


Vander : Kalau aku bohong besok, kau boleh kok menghukumku.


Lara : (Tersenyum licik) Kau yakin mau aku hukum?


Vander : Ya, tapi kalau aku menepati janjiku kau harus mau main denganku lebih dari sepuluh ronde.


Lara : Eh apaan! Sudahlah kau makin ngelantur bicaranya, sudah ah bye!


Lara akhirnya mematikan video callnya duluan.


...🍁🍁🍁...


Sementara Vander yang berada diruang kerjanya di Crux, terlihat tertawa setelah melakukan video call dengan sang istri dan anaknya.


Dan tidak lama kemudian datanglah Dominic, dokter yang melihat Vander senyam senyum sendiri itu pun langsung menghampiri dan menggodanya. "Saking senangnya, lihat tuh dibalik resleting celanamu ada yang mengeras."


Vander tersenyum lalu berkata, "Aku tidak tahan melihatnya, bahkan hanya dengan memikirkannya saja gairahku naik pesat."


"Istrimu cantik dan seksi, aku jadi penasaran kau melakukannya sehari berapa kali?"


"Lima, enam, tujuh, bahkan lebih dari sepuluh kali. Dan saat itu dia langsung seharian tidak bisa keluar kamar."


"Dasar maniac! Kasihan Lara..."


"Kenapa kau iri? Makanya cari pasangan sana!"


"Aku mau saja asal wanitanya seperti istrimu."


"Sialan kau dokter bodoh!"


"Oh iya, soal serum itu. Aku sudah putuskan akan mengujikannya ditubuhmu bulan depan, jadi kau bersiaplah."


"Aku siap kapan saja," sahut Vander dengan raut wajah serius.

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


HAI TEMEN-TEMEN JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA... DI GIFT DAN VOTE JUGA πŸ™


__ADS_2