
"Kenapa kau tinggalkan anakmu sendirian Nona Lara?" Ujar Vander.
"Em- itu, aku—"
"Paman Vander tolong turunkan aku," pinta Rey.
Vander pun langsung menurunkan bocah kecil itu dari gendongannya.
"Paman jangan marah pada mamaku dia tidak salah, dia sudah menyuruhku tidak pergi, tapi akunya tidak menurut dan malah pergi," jelas Rey pada Vander.
Lara pun langsung memarahi anaknya tersebut dan menyuruhnya segera minta maaf kepada Vander karena sudah merepotkannya.
"Paman Vander aku minta maaf karena sudah merepotkanmu," ungkap Rey yang sebenarnya tidak merasa menyesal sama sekali, karena berkat ia kabur dirinya jadi bisa lebih cepat bertemu dengan Vander.
"Sebagai orang tuanya aku juga minta maaf tuan," tandas Lara menunduk minta maaf pada sang atasan.
"Sudahlah, sekarang lebih baik kau ceritakan padaku, kenapa kau bisa sampai membawa anak ke kantorku."
Di mejanya Vander mulai menginterogasi Lara yang kini menghadapnya.
"Kalau itu karena—" Lara kemudian menceritakan kepada Vander keadaan di rumahnya saat ini, serta alasan kenapa dirinya sampai harus mengajak putranya itu ikut ke kantor. "Tuan aku janji ini terakhir kalinya aku mengajak putraku, jadi kumohon jangan marah apalagi sampai memecatku," ucap Lara.
Vander langsung menatap Lara, karena teringat akan pesan manis yang tadi pagi dikirimkan oleh sekretarisnya itu untuknya. "Jadi alasan Nona Lara mengirimiku pesan bernada manis karena ingin membawa anak kesini, agar aku tidak marah ya?"
"Eh, pesan manis apa? Bukannya Tuan yang tadi pagi malah menggombaliku," jawab Lara malu-malu.
Jadi, pesannya bukan Lara yang mengirim? Lalu siapa...? Vander seketika menoleh ke arah Rey yang kini tengah duduk disofa. Melihat tiba-tiba Vander menatapnya begitu, Rey pun jadi takut dan tak berani menatap balik. Bagaimana ini kalau seandainya paman Vander tau kalau ternyata yang mengirimi pesan dengan simbol love itu aku, bukan mama..
"Tuan sekali lagi aku minta maaf, karena gara-gara aku dan putraku, kau malah jadi repot begini."
"Tidak masalah, lagipula aku juga bertemu dengan anakmu secara tidak sengaja di atap gedung."
Van sendiri heran, kenapa anak sekecil Rey bisa-bisanya tersesat dan malah menemukan dirinya diatap gedung setinggi itu. Padahal sejauh ini jarang sekali orang selain dirinya dan Robert yang akan datang ke atap gedung.
Flashback on
Saat Vander tengah menghisap sebatang rokok diatas atap Laizen tower, ia tiba-tiba saja merasa ada seseorang yang datang. Sontak Vander pun langsung menoleh ke belakang, dan siapa sangka Vander malah melihat seorang anak kecil yang tiba-tiba muncul disana.
"Paman kau itu..." Ujar pria kecil tersebut saat melihat Vander menoleh ke arahnya.
"Bocah kecil, kau kan..." Vander langsung ingat dengan sosok bocah kecil tersebut.
"Iya, ini aku yang waktu itu paman tolong dari penjahat saat di toilet mall, kau masih ingat aku kan, paman bermasker hitam?"
Vander yang tertawa kecil langsung membuang putung rokoknya dan berjalan menghampiri anak itu.
"Lalu kenapa sekarang kau bisa ada disini?" Tanya Vander.
"Um— aku tersesat dan kakiku membawaku kemari," jelasnya dengan santai.
Vander berjongkok lalu bertanya pada anak kecil itu kenapa dirinya bisa tersesat disini. "Apa orang tuamu bekerja di perusahaan ini?"
Rey mengangguk. "Mamaku kerja disini."
"Benarkah? Siapa dia?" Tanya Vander penasaran dengan siapa sebenarnya orang tua pria kecil itu.
"Yang pasti dia adalah pegawai paman yang paling cantik."
"Pegawaiku banyak yang cantik."
"Tapi mamaku paling cantik diantara semuanya," ungkapnya bersikukuh.
Vander pun malah tertawa kecil dibuatnya, ia lalu mengusap kepala Rey dan menggendongnya. "Sudahlah pria kecil, aku antar kau ke tempat resepsionis."
"Ah tidak mau! Aku mau ikut paman Vander saja sambil menunggu mamaku datang!" Rey merrngek. "Paman harus bawa aku bersamamu. Lagipula mama juga kan mau bilang terima kasih pada paman karena sudah menolongku di mall waktu itu."
"Jadi kau cerita soal kejadian itu pada mamamu?" Tegas Vander memicingkan matanya.
"Eh ti- tidak kok paman, jangan marah dulu. Aku laki-laki mana mungkin ingkar janji, aku hanya bercerita kalau paman mengantarku ke informasi saja waktu itu, tidak bilang yang lainnya, sungguh!" Jelas Rey agar tidak membuat Vander salah paham.
Anak ini! Vander menatap Rey dengan perasaan aneh. Entah kenapa Vander yang sejatinya risih dan tidak suka dengan anak kecil, tapi dengan Rey dirinya seolah tidak risih sama sekali.
"Paman! Ayo kita ke ruanganmu cepat!" Ajak Rey.
Bahkan dia beraninya memerintahku! Anak ini menyebalkan tapi kenapa aku tidak bisa menolaknya. Ini aneh! "Oh iya siapa namamu anak kecil?"
"Namaku... Reynder Hazel, aku anaknya mama Lara Hazel."
"Apa?" Vander seketika terperangai kaget mengetahui kalau ternyata pria kecil yang kini digendongannya adalah, anak Lara sekretaris pribadinya. "Jadi kau anaknya Lara?" Vander seketika jadi merasa kesal mengetahui kalau sekretarisnya itu memiliki anak dari pria lain. Secara logika Van seharusnya marah dan benci dengan Rey, tapi entah kenapa dirinya malah seolah tidak bisa, dan tidak ingin membencinya.
Flashback off.
"Jadi anakku boleh disini dulu kan Tuan?"
"Ya mau bagaimana lagi, asal dia tidak menganggu pekerjaanmu tidak masalah," jawab Vander.
Setelah diputuskan, Rey pun hari ini akhirnya ikut berada dengan Lara di ruangannya. Pria kecil itu tampak senang sekali, dirinya merasa saat ini seolah memiliki keluarga lengkap. Melihat ada mamanya dan paman Vander yang ia inginkan untuk jadi papanya.
Lara yang melihat Vander bekerja baru ingat belum membuatkannya kopi, ia pun bergegas untuk membuatkan kopi untuk bosnya tersebut.
"Mama aku juga mau jus," pungkas Rey meminta sang mama mengambilkannya jus sekalian.
"Okey!"
Dan sementara Lara pergi mengambilkan kopi dan jus, tiba-tiba saja Rey datang menghampiri Vander yang kini sedang bekerja di meja kerjanya.
Pria kecil itu bahkan tanpa izin langsung menyelonong duduk dipangkuan Vander.
Merasa tidak bisa marah pada Rey meski memgganggunya, Vander pun terpaksa meladeni pria kecil itu dan berhenti bekerja.
__ADS_1
"Ada apa?" Pungkas Vander menatap pria kecil menggemaskan yang ada di pangkuannya saat ini.
"Paman jujur padaku, menurutmu mamaku cantik tidak?"
"Ya, dia cantik, bahkan sangat cantik lalu kenapa?"
"Um— apa paman suka pada mamaku?"
He? Vander heran lalu langsung setengah tertawa, "Bagaimana bisa makhluk kecil sepertimu tanya soal begitu?"
"Tentu saja bisa, aku sayang mamaku, ditambah dia sangat cantik, aku khawatir dia akan diganggu pria lain, oleh karenanya aku– aku ingin—"
"Kau ingin menjodohkanku dengan mamamu begitu?"
"Benar sekali!" Seru Reynder. "Jadi paman suka tidak sama mamaku?"
Van memandangi Rey lalu tertawa.
"Kenapa tertawa? Aku ini serius, paman kau tidak tahu berapa banyak pria diluar sana yang suka pada mamaku?"
"Berapa?"
"Banyak sekali! Salah satunya paman Eiji, paman Andy, dan di kantor ini juga aku tau banyak yang suka pada mamaku. Tapi kau tenang, selagi aku tidak menyetujui mamaku dengan pria lain, dia tidak akan pacaran. Jadi semua terserah aku, dan aku cuma setuju mamaku dengan dirimu."
Anak ini dengan mudahnya menyodorkan ibunya padaku? Hem... meski menyebalkan, menarik juga anak ini. "Tunggu, kau menjodohkan mamamu denganku, bagaimana dengan ayahmu apakah dia..."
Seketika tatapan Rey berubah sedih, "Papaku dia— dia sepertinya tidak akan pernah datang, jadi— uh?"
Vander tiba-tiba menepuk dan mengusap kepala Rey lalu berkata. "Tidak perlu bersedih, jangan buat Lara jadi ikut sedih melihatmu sedih. Pria itu harus kuat!"
Rey pun kembali semangat dinasehati begitu oleh Vander. "Tentu saja aku tidak akan sedih lagi, asal paman Vander mau menerima mamaku," ucap Rey yang kemudian memeluk pria itu.
Vander yang awalnya ragu untuk membelas pelukan Rey, akhirnya mengusap-usap punggung Reynder, pria kecil yang sejatinya adalah darah dagingnya sendiri. Anak ini benar-benar tidak pernah merasakan sosok ayah kah? Jika iya, aku tahu sekali perasaannya.
"Sudah kau teruskan belajarmu, aku harus kerja sekarang, urusan ini kita bisa bicarakan lain waktu."
"Tapi kapan? Kapan lagi aku akan ketemu sama paman, ini saja aku harus pura-pura tidak enak badan dan rewel dulu dihadapan mama, eh!" Rey langsung menutup mulutnya karena keceplosan bicara.
Anak ini manipulatif juga, sifatnya agak berbeda degan Lara tapi aku suka. Van tersenyum kecil dibuatnya, "Kau tenang saja, aku seratus kali lebih cerdas dari yang kau bayangkan, jadi hanya mencari alasan untuk kita bertemu tentu saja hal yang sangat mudah buatku. Jadi tenang saja, oke!"
"Em!" Rey mengangguk percaya dengan ucaapn Vander, dan ia pun segera kembali ke tempatnya sebelum sang mama datang.
...🍁🍁🍁...
Jam makan siang tiba, Lara pun menyuruh Rey untuk segera cuci tangan sementara dirinya menyiapkan bekal untuk mereka makan siang. Sementara itu dari meja kerjanya, Vander yang sejak tadi memperhatikan Lara merasa kagum sekaligus tidak tega di saat bersamaan. Wanita ini, dari caranya mengurus anak tampaknya dia memang ibu yang baik, dia bahkan mengurus detail semua kebutuhan anaknya sendiri. Sayangnya dia begitu bodoh dalam memilih suami, bagaimana bisa dia sudah dicampakan suaminya, tapi masih mau dengan susah payah mengurus dan membiayai anaknya seorang diri. Antara dia bodoh atau terlalu cinta dengan suaminya yang brengsek itu.
"Paman Vander ayo makan bersama kami! Mamaku sudah masak makanan yang super enak untuk makan siang kita!" Rey memanggil Van untuk bergabung makan siang bersama.
Dengan senang hati Vander pun beranjak dari kursinya dan menghampiri mereka untuk makan siang bersama.
Ketiganya kini makan siang bersama, situasi pun terasa sangat hangat. Melihat momen ini mata Lara pun dibuat berkaca-kaca jadinya. Suasana seperti ini adalah impiannya sejak dulu, makan siang bersama suami dan anaknya adalah impian Lara. Sayang, dia masih belum ingat padaku, tapi setidaknya Vander tampak nyaman bersamaku dan Rey saat ini. Aku harap kedepannya akan semakin baik, aku akan terus berusaha membuatnya ingat padaku.
"Tidak kok sayang, sudah mari makan lagi. Ini kau banyak makan sayuran supaya sehat!" Lara memindahkan banyak sayuran brokoli ke mangkuk putranya tersebut. Sayangnya Rey malah protes karena dia memang agak susah makan sayuran.
"Aku tidak mau makan!" Rey mulai tantrum.
"Yasudah kalau tidak mau makan, kalau sakit bukan salah mama," balas Lara yang tidak mau memanjakan anaknya.
"Tapi aku kan tidak suka sayur mama, terutama brokoli dan buncis i hate them!" Rengek Rey.
"Rey makan, jangan sampai mama marah ya," tegas Lara.
"No!" Rey bersikukuh tidak mau makan kalau masih diminta makan banyak sayuran.
Sementara Vander yang melihat perseteruan ibu dan anak ini pun agak bingung harus bagaimana. Tapi apa yang dikatakan Lara itu benar, anak seusia Rey harus makan penuh vitamin dan protein secara seimbang. Oleh karena itu, selain daging Rey harus banyak makan sayur dan buah.
"Ehem, kau harus menurut pada mamamu," ucap Vander tiba-tiba.
"Paman kenapa membela mama—"
"Aku dulu juga termasuk tidak suka sayuran, tapi saat aku tahu mendapatkan makanan itu sulit, aku jadi berpikir semua makanan yang ada harus kita hargai, jadi Rey jangan teralalu pilih-pilih makanan, makan semua masakan yang dibuat Lara," jelas Vander.
"Tapi paman Vander—"
"Tidak ada tapi, kalau tidak mau makan kau keluar saja dari sini!"
"Oke, aku makan," sahut Rey takut yang kemudian langsung mau memakan sayurannya meski terpaksa.
Lara menatap Vander sambil menahan senyum. Meski agak kerasa, tapi dia sangat membantuku membujuk Rey. Ketegasan seorang ayah memang sangat diperlukan oleh Rey
"Kau berhutang terima kasih padaku Nona Lara, aku tunggu hadiah terima kasihmu," bisik Vander tiba-tiba ditelinga Lara, hingga membuat wajah wanita itu jadi merah padam. Baru kupuji sudah begini lagi, dasar licik!
Setelah selesai makan siang, tiba-tiba saja Rey menunjukan hasil gambarnya kepada Lara dan Vander.
"Eh, kau gambar kita bertiga?" Tanya Lara melihat gambar Rey yang jelas menunjukan wajah ketiganya versi gambar.
"Gambarmu bagus, bakat menggambar ibumu menurun padamu ya," ungkap Vander. "Oh iya selain gambar kau bisa apa lagi?" tanya Vander
"Banyak, aku pandai dibanyak hal, dan yang akhir-akhir ini aku ingin lakukan adalah, mengoperasikan pesawat RC aeromodelling, sayangnya mama tidak mau belikan."
"Bukan tidak, tapi belum lagipula siapa yang bisa mengajarimu main itu," sahut Lara.
"Kau suka aeromodelling?"
"Ya,"
"Baiklah aku akan belikan itu buatmu dan mengajarimu."
"Benarkah Paman?"
__ADS_1
"Yes!"
"Ta- tapi Tuan itu kan—"
"Sttt" Vander menyuruh Lara diam. "Nona Lara ini perjanjianku dengan anakmu bukan denganmu, jadi kau tidak diajak."
"Tapi dia kan anakku!"
"Lalu?" Vander menatap tajam ke arah Lara.
"Tidak jadi." Ah sepasang anak dan papa ini menyebalkan sekali, sekalinya bicara banyak mereka malah cocok dan mengabaikanku! Tapi... setidaknya Vander secara tidak langsung melakukan tugasnya sebagai papanya Rey.
Malam hari pun menjelang, Lara yang akhirnya selesai dengan semua pekerjaannya pun bersiap untuk pulang. "Rey sayang, apa kau—"
Lara menoleh menatap Rey ke sofa, namun ternyata putranya itu malah tertidur. Lara kemudian berjalan menghampiri putranya bermaksud untuk dibangunkan.
"Jangan dibangunkan!" Seru Vander.
"Tapi..."
"Biar saja, nanti aku yang antar kalian pulang," ucap Vander.
"O- okey," balas Lara langsung.
...🍁🍁🍁...
Akhirnya dengan disupiri Robert, Lara pun sampai di depan apartemennya. Rey yang masih tertidur pun akhirnya digendong oleh Vander untuk dibawanya masuk ke dalam apartemen.
"Tuan, jika kau keberatan biar aku saja yang gendong Rey," ungkap Lara.
"Menggendongmu sekaligus juga aku bisa," jawab Vander yang kemudian menyuruh Robert menunggu di mobil, sementara dirinya membawa Rey masuk ke apartemen Lara.
Setibanya di dalam, Vander langsung meletakan tubuh Rey diatas tempat tidurnya.
Lara pun segera menyelimutinya dan mencium kening putranya itu. "Selamat malam Rey sayang," ucap Lara lalu keluar bersama Vander meninggalkan kamar tersebut.
Di depan kamar Rey, Vander tiba-tiba bertanya, "Kau setiap hari seperti ini? Mengurusnya anakmu, bekerja mencari uang, mengerjakan pekerjaan rumah dan semua nya sendirian?"
Lara tersenyum hambar dan mengangguk.
"Hei!" Vander menyentuh kedua pipi Lara dan mengahadapkan wajahnya ke hadapannya.
"Siapa pria brengsek itu? Siapa yang tega membuatmu dan anakmu begini?"
Lara menatap Vander dengan mata sendunya yang penuh kerinduan. "Dia memang brengsek tapi aku mencintainya, dia ada didekatku namun seperti jauh sekali."
"Kau masih mencintai pria itu?"
"Ya, aku masih mencintainya."
"Kau bodoh atau terlalu dibutakan cinta?"
"Keduanya."
"Kalau aku minta kau lupakan dia apa kau bersedia?"
"Tergantung."
"Sebesar itukah pria itu mencintaimu?"
"Sangat besar."
"Kalau memang begitu, lalu kenapa dia meninggalkanmu?!"
"Aku tidak tahu."
"Lara Hazel, kau anggap apa sebenarnya aku?"
Lara tertawa pilu dan menapikan wajah, "Seharusnya pertanyaan itu untukmu Tuan Vander. Sebenarnya apa artinya aku untukmu?"
"Kau terlalu sulit aku artikan Nona," ucap Vander yang kemudian ingin mencium bibir Lara namun oleh wanita itu dihalangi oleh tangannya.
"Tuan Vander, jika kau sungguh ingin mendapatkanku, maka berusahalah sampai aku pada akhirnya bersedia menyerahkan semua milkku untukmu." Dimana itu saat akhirnya kau bisa mengingat diriku dengan seluruh pikiran dan hatimu.
"Kau menantangku?"
"Ya, karena aku hanya akan mencintai pria yang bisa mencintaiku lebih banyak daripada diriku mencintainya."
Vander menyeringai kecil. "Jadi kau memberiku kesempatan itu?"
"Ya, dan semua tergantung dirimu tuan Vander," ucap Lara mengusap bibir pria itu dengan jemarinya.
"Oke, jika itu maumu, aku terima tantanganmu."
"Aku menunggu."
Lara kemudian mengantar Vander keluar dari apartemennya.
"Aku pamit pergi dulu Nona Lara,"
"Tunggu!"
Vander menoleh, seketika Lara langsung menarik dasi Vander dan mencium bibir pria itu dan berterima kasih. "Itu hadiah terima kasih yang kau minta tadi siang."
Vander tersenyum kecil sambil memegangi bibirnya. "Terima kasih, lain kali akan kubuat kau lebih banyak memberiku hadiah yang lebih dari ini. Sampai jumpa besok, dan jangan terlambat."
"Oke!" Lara tersenyum kecil. Kau sudah menghapusku dari memorimu, dan sekarang giliranmu yang harus bertanggung jawab dengan berusaha mengingatku lagi.
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS 🙏