Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Memori baru


__ADS_3

Pagi-pagi buta, Dominic akhirnya tiba di kota ZR tepatnya di apartemen Vander. Disana sudah ada Lara dan Robert yang sudah menunggu dokter tersebut datang.


"Dokter Dominic selamat datang," ujar Robert menyambut dokter tersebut.


"Hai Robert! Sejujurnya aku lelah sekali karena harus naik pesawat pribadi dari Crux kesini. Oh iya, dimana tuanmu dan—" Dominic seketika menoleh kesebelah Robert dan tampak kaget. "Tunggu, kau kan—?"


"Aku Lara, aku istrinya Vander. Orang yang kau hapus kenangannya dari ingatan suamiku," ungkap Lara seraya memperkenalkan diri.


Ah benar, wanita ini sungguh istrinya Vander. Tidak kusangka takdir secepat ini mempetemukan mereka kembali. Dominic yang sudah dari awal tahu soal Lara sepertinya tidak terlalu kaget melihat sosoknya.


"Sebelumnya izinkan aku memperkenalkan diri, aku Dominic dan— ah sudahlah, sepertinya Robert sudah memberitahumu tentang aku. Jadi apa yang kau ingin tanyakan padaku Nyonya Vander?"


Lara dan Dominic akhirnya memutuskan untuk mengobrol di ruang tamu. Disana Lara menanyakan kepada Dominic tetang kejadian apa saja yang sudah dialami Vander empat tahun lalu.


Ditanya begitu, Dominic malah duduk terdiam sambil menatap bengong seraya berpikir. Aku harus cerita darimana, wanita  yang aku hadapi saat ini adalah istri dari pasienku, pria yang juga telah menolongku dari penjara Crux saat dipimpin oleh Gauren dulu. Tapi... Vander sendiri pernah bilang kepada Dominic, kalau dirinya tidak ingin jika istrinya tahu tentang penderitaannya saat itu.


"Dokter Dominic, aku sangat berharap kau mau berbaik hati menjelaskan padaku apa yang terjadi. Karena jujur saja, mengetahui kalau ternyata suamiku menghapus ingatannya tentangku membuatku sakit," ungkap Lara dengan raut wajahnya yang terlihat begitu sedih dan pasrah.


Dominic lalu menghela nafas dan minta maaf pada Lara. "Sebelumnya aku minta maaf karena ikut membantu mewujudkan keinginan gila suamimu, tapi saat itu aku tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan gilanya itu. Ditambah waktu itu aku sungguh tidak tega dengan Vander yang terlihat begitu menderita memikirkanmu."


Lara tersenyum hambar dan kembali bertanya, "Jadi, apa alasannya Vander menghapusku dari ingatannya dokter?"


"Karena dendam, Vander bersumpah pada dirinya sendiri akan menangkap dan menghabisi Gauren. Namun dirinya berpikir, jika ia terus mengingatmu dirinya tidak akan bisa membalaskan dendamnya dengan maksimal, mengingat Gauren selalu mengancam Vander lewat dirimu, karena kau adalah satu-satunya kelemahan Vander. Oleh karena itu ia memutuskan untuk, menghapusmu."


"Begitu ya? Jadi— dia merasa lemah dan terkekang jika terus mengingatku?" Tutur Lara sedih.


"Nona, aku harap kau tidak salah sangka. Vander- dia sangat mencintai dirimu bahkan melebihi rasa cintanya pada siapapun di dunia ini. Dia hanya ingin melindungimu, meskipun aku tahu caranya agak kurang tepat."


Apapun itu, tetap saja bagi Lara hal itu menyakitkan. Dihapus dari ingatan seseorang yang sangat dicintai, hal itu sama saja seperti hidup dalam kekosongan.


"Tapi apa ingatannya tentangku masih bisa kembali lagi?" Tanya Lara dengan penuh harap.


"Bisa saja, tapi itu semua tergantung Vander. Karena bagaimanapun hanya dia yang berkuasa untuk membuka atau menutup ingatannya sendiri. Sementara aku hanya bisa membantunya sebagai dokter. Tapi Nona, dalam hal ini kau bisa terus mencoba merangsang ingatan Vander dengan hal-hal kecil yang bermakna, asalkan jangan terlalu dipaksakan, karena aku takut kalau dipaksakan malah akan membuat mentalnya tidak stabil."


Lara mengangguk paham. Jadi aku harus lebih bersabar lagi? Ya, hanya itu yang bisa kulakukan saat ini. Tapi setidaknya saat ini sudah tidak ada yang kututupi dari Vander. Setelah ini tinggal menunggu waktu, sebrapa jauh dia bisa mengingatku lagi seperti dulu.


...🍁🍁🍁...


Di apartemen, Rey yang baru saja kembali dari sekolah dan ganti baju bertanya kepada Emika, sebenarnya kemana mamanya itu pergi? Kenapa mendadak sekali?


"Aku juga kurang tahu persis, soalnya di telepon kak Lara hanya bilang kalau ada pekerjaan mendadak."


Selang beberapa saat kemudian, bel pun berbunyi. Segera Emika pun membukakan pintu.


"Kak Lara?"


"Mama?" Mendengar suara mananya datang, Rey pun langsung melesat menemui sang mama dan memeluknya.


"Mama, kenapa tiba-tiba semalam pergi? Mama sibuk sekali ya?" cecar Rey.


Lara tersenyum dan mengusap lembut kepala putranya itu lalu meminta maaf. "Maafkan mama yang tiba-tiba pergi semalam, dan sebagai gantinya mama belikan ini!" Lara membawa tentengan berisi eskrim dari kedai kesukaan Rey.


"Wah eskrim! Kalau begitu, sini biar es krimnya ku taruh di pendingin dulu," ujar Emika yang langsung membawa es krim pemberian Lara itu ke lemari es.


Setelah itu Lara pun menganjak putranya itu duduk di sofa untuk mengobrol sebentar, sebelum dirinya pergi lagi.


"Mama, apa dirimu akan pergi lagi?" Tanya Rey yang sebenarnya tidak mau kalau mamanya itu terlalu sering meninggalkanya.


Sebagai seorang ibu, tentu saja Lara juga tidak mau sering meninggalkan anaknya. Tapi mau bagaimana lagi, kali ini ia harus rela sementara jarang bertemu Rey mengingat Vander kini lebih butuh dirinya.


Tidak ingin putranya sedih dan merasa ditinggalakan, Lara pun memberi pengertian pada sang putra alasan kenapa ia harus sering meninggalkanya beberapa hari ini. "Kau tau kan, betapa mama sangat sayang padamu? Mama pergi karena ada urusan pekerjaan. Tapi setelah ini selesai mama janji tidak akan sering lagi meninggalkanmu."


"Memangnya mama kemana? Kenapa tidak Paman Vander saja yang pergi untuk pekerjaan, dia kan laki-laki. Setauku yang lebih wajib bekerja itu kan laki-laki bukan perempuan!" Rey tampak masih tidak rela kalau mamanya pergi terus.


Lara menghela nafas. "Iya sayang, mama pergi bekerjanya kan juga untuk menemani paman Vander."


"Huh? Jadi- mama perginya dengan paman Vander?"


"Iya."


Ya ampun mamaku, kenapa kau tidak bilang dari tadi sih kalau perginya bersama paman itu! Rey yang tadinya murung pun tiba-tiba berubah ceria dan malah berkata, "Yasudah mama, kalau begitu mama cepat kembali bekerja. Kasihan paman Vander sendirian kalau mama terus berlama-lama disini!"


"Eh kenapa malah mengusirku?" Ujar Lara heran melihat tingkah anaknya yang tiba-tiba berubah suasana hatinya.


"Aku tidak mengusir, tapi kan mama harus bekerja! Sudah sana mama kembali ke paman Vander!" Rey yang awalnya tidak rela mamanya pergi, kini berbalik malah menyuruh mamanya segera pergi.


Anak ini! Pasti dia begini karena tau aku bersama pria itu. Dasar anak dan ayah sama saja senang sekali berbuat seenaknya padaku!


"Oke, oke mama pergi..." Lara akhirnya menurut dan bergegas pergi.

__ADS_1


"Loh, kak Lara sudah mau pergi lagi?" Ujar Emika yang baru saja kembali dari dapur.


"Iya bibi Emi, mama soalnya harus menemani bosnya saat kerja, jadi aku suruh saja segera kembali kerja, karena aku takut mama dipecat," jelas Rey.


Emika dengan tatapan usilnya pun menggoda Lara. "Oh begitu ya...? Jadi, kakak sejak semalam berduaan sama tuan bos ya?"


"Emika jangan menggodaku...!" Lara tampak tersipu malu, mengingat yang dikatakan Emika memang benar kalau semalaman ia memang bersama Vander.


"Haha lihat Rey, wajah mamamu merah," sahut Emika malah terus menggodanya, Rey yang melihatnya pun malah jadi ikut senang melihat mamanya tersipu malu.


"Aduh sudahlah, kalau begitu aku pergi dulu. Emika tolong jaga baik-baik putra kecilku dan ingat beri dia makan sayur dan buah setiap hari. Dan jangan lupa masak sesuai resep yang sudah aku tulis di catatan yang kutempel di pintu lemari es, okey!"


"Siap kak!" Sahut Emika.


"Dan kau pria kecil!" Lara menunduk menatap putra kecilnya yang menggemaskan itu dan menasehatinya agar tidak nakal dan membuat Emika susah.


"Oke siap mom!" Jawab Rey menurut.


"Anak pintar, aku pasti akan merindukanmu pria kecilku," ucap Lara lalu mecium kening putranya kemudian pamit pergi.


"Bye bye mama...!" Ucap Rey.


Akhirnya Lara pun meninggalkan apatemennya. Sementara Rey dan Emika tampak girang karena merasa hubungan Lara dan Vander jadi semakin dekat.


...🍁🍁🍁...


Di kediamannya, Vander yang hari ini tidak berangkat bekerja tampak duduk sendirian di ruang utama tanpa melakukan apa-apa. Disana pria yang masih mengenakan pakaiannya yang semalam tampak serius duduk dengan kedua kaki kedua dan tangan diatas pangkuannya. "Kemana sih Lara itu? Kenapa belum juga kembali?" Keluhnya tidak sabaran.


Melihat tuannya duduk sendirian menunggu Lara, Robert pun menghampirinya. "Tuan maaf, tapi ini sudah mau jam tujuh malam, aku rasa anda lebih baik segera mandi lalu bersiap untuk makan malam."


Mendengar ucapan Robert, Vander pun langsung memberikan tatapan tajam pada pria paruh baya tersebut, hingga membuatnya bergidik takut. "Ma- maafkan aku tuan."


"Haiz! Kemana sih wanita itu lama sekali!" Keluh Vander yang sudah sejak tadi menunggu Lara kembali.


"Tuan, tadi Nona bilang mau mampir ke supermarket sebentar membeli bahan masakan."


"Masakan, apa dia mau memasak buatku?"


"Sepertinya begitu," jawab Robert.


Wajah Vander seketika berseri mendengar hal itu. "Oh iya Robert, kau sudah pastikan ada supir yang mengantar jemput Lara kan? Aku tidak mau dia pergi sendirian!"


"Su- sudah tuan, supir yang juga memiliki kemampuan bela diri sudah aku perintahkan untuk mengantar kemanapun Nona pergi."


"Ta- tapi tuan, aku rasa anda harus bersih-bersih segera, karena..."


"Aku pulang...!" Terdengar suara Lara yang


baru masuk. Segera, Vander pun secepat kilat melesat menemui wanita yang sudah sejak tadi ditunggunya itu.


"Lara...!" Sambut Vander dengan suka cita layaknya anak kecil yang kegirangan.


Sejak diberi obat penenang dan obat trauma mentalnya, Vander sifatnya memang jadi lebih manja. Meskipun Vander memang cukup manja sejak dulu pada Lara, namun saat ini memang lebih manja. Dokter Rebecca sendiri memang bilang kepada Lara kalau dosis obat Vander yang tinggi memang sedikit mempengaruhi tingkah kepribadiannya, tapi untungnya dia bilang hal itu wajar adanya dan hanya efek sementara saja.


"Lara kenapa kau—" Raut wajah Vander seketika marah saat menyadari Lara yang pulang sambil membawa beberapa tentengan belanjaan di tangannya.


"Sini biar aku yang bawa!" Ujar Vander langsung mengambil semua tentengan belajaan Lara dan berteriak memangil Robert.


"Robert!"


"Iya tuan," sahut pria itu datang menghampiri.


"Aku minta kau segera pecat supir yang hari ini mengantar Lara, dan pastikan dia tidak punya pekerjaan lagi!"


"Huh?" Lara dan Robert pun langsung kaget mendengarnya.


"Vander kenapa kau tiba-tiba memecatnya?" Tanya Lara.


"Dia bodoh dan tidak berguna, bagaimana bisa dia membiarkan dirimu mengangkat belanjaan sendirian begini?"


Apa? Hanya itu alasannya? Lara sampai tak habis bagaimana mungkin hanya karena seperti itu dia sekejam ini.


"Kenapa masih diam saja!" Seru Vander.


"Ba- baik Tuan aku akan segera memecatnya."


"Tunggu dulu Robert!" Ujar Lara meminta agar Robert tidak memecat pria itu.


"Kenapa Lara? Dia harus dipecat, dia sudah membuat tanganmu yang cantik jadi merah karena menenteng belanjaan seberat ini," ungkap Vander sambil meletakan kedua tangan Lara dipipinya.

__ADS_1


Lara pun membelai kedua pipi suaminya itu sambil berkata, "Dengar, aku yang ingin membawa belajaan ini sendiri jadi itu bukan salah supirnya. Dia tadi sudah menawari membawakan belajaanku tapi aku menolaknya. Jadi aku minta kau jangan pecat supir itu okey?"


Vander hanya diam dan menatap Lara dengan nanar.


"Vander kau tidak mau menuruti permintaanku?"


"Okey aku tidak akan pecat dia, tapi jika lain kali terjadi hal seperti ini lagi aku tidak akan segan-segan memecatnya."


"Terima kasih ya, kau memang anak yang baik," puji Lara lalu mencium pipi Vander.


Seketika Vander malah menggendong Lara lalu berjalan membawanya pergi."


"Vander turunkan aku, belanjaanya belum dibawa ke dapur!"


"Biar Robert yang urus! Sekarang ayo kita mandi!" Ujar pria itu.


...🍁🍁🍁...


Di dalam bathtub, terlihat Vander yang sedang digosok punggungnya oleh Lara yang juga berada didalam bathtub yang sama.tiba-tiba minta maaf dengan nada sedih. "Lara aku minta maaf."


"Untuk apa?"


"Aku- aku membuatmu sedih, aku belum bisa— mengingatmu dan masa lalu kita. Jujur saja aku senang mengetahui ternyata kau istriku, tapi disisi lain aku masih bingung dan tidak tahu harus bagaimana, aku- tidak bisa mengingat apapun dimasa lalu kita, maafkan aku maaf!"


"Sudahlah!" Lara tiba-tiba memeluk suaminya dari belakang.


"Aku sudah cukup bersyukur, setidaknya kau sudah tau kalau aku ini istrimu, dan selebihnya aku akan menunggumu dengan sabar sampai semua ingatanmu pulih kembali. Dan kalaupun— ternyata memorimu itu tidak bisa kembali lagi, maka aku akan membuat memori baru bersamamu lagi mulai hari ini, hingga kau tidak akan pernah bisa lupa padaku sampai kapanpun."


"Lara..." Pria itu membalikan tubuhnya dan menatap Lara dengan wajah penuh rasa bersalah. "Aku mungkin lupa ingatanku, tapi aku tidak pernah lupa akan perasaanku padamu. Kenyataannya dulu, sekarang, ataupun nanti perasaanku tidak akan pernah untukmu."


"Ya, aku tahu Vander." Kedua orang itu pun bercengkrama, dan berciuman dengan mesta.


...🍁🍁🍁...


Saat Rey dan Emika baru saja selesai makan malam, tiba-tiba saja bel berbunyi. Emika yang sedang cuci piring pun meminta Rey untuk membukakannya. Segera pria kecil itu pun berlari dan membukakan pintu.


"Selamat malam," ucap seorang pria yang muncul dibalik pintu.


"Paman Eiji? Paman...! Akhirnya kita bertemu," ujar Rey yang kemudian langsung memeluk pria tersebut saking rindunya.


"Siapa yang datang Rey?" Tanya Emika baru muncul.


"Bibi Emi, ini paman Eiji!" Terang Rey.


Oh jadi dia yang namanya Eiji, ternyata memang tampan. Ya ampun Kak Lara, kau sungguh beruntung sekali dikelilingi pria-pria tampan.


"Paman ayo masuk!" Ajak Rey yang kini berada digendongan pamannya itu.


"Um— dimana Lara?" Tanya Eiji.


"Mama sedang tidak ada dirumah karena ada pekerjaan bersama bosnya, jadi untuk beberapa hari kedepan tidak akan pulang," jelas Rey.


Apa Lara bersama dengan bosnya?


"Paman, jadi bagaimana? Paman mau masuk kan?"


"... Hem Rey, aku minta maaf kali ini aku tidak bisa mampir, mungkin lain kali. Tapi aku janji pasti akan mampir kesini lain waktu."


Eiji ingin bertemu Lara sayangnya wanita kalah sedang tidak ada dikediamannya.


...🍁🍁🍁...


Setelah selesai mandi bersama, Lara yang sudah berganti gaun tidur terlihat sedang disisiri rambutnya oleh Vander yang masih mengenakan bathrobe.


"Rambutmu sangat indah, dan harum," puji Vander menghidu aroma rambut istrinya.


"Kau suka rambutku Vander?"


"Ya! lebih tepatnya aku suka semua yang ada di dirimu Lara, aku suka kulitmu yang sangat halus dan lembut. Aku juga suka bibirmu yang memerah seperti buah ceri, aku suka aroma tubuhmu yang harum dan manis. Aku suka semuanya, sampai-sampai aku ingin mengurungmu terus bersamaku disini," tuturnya langsung mendekap Lara dari belakang dengan erat.


Lara tersenyum manis merasakan pelukan sang suami lalu berkata, "Kau tahu Vander, dari dulu kau selalu memuji dan memujaku seperti ini. Kau selalu membuatku merasa menjadi seorang wanita paling beruntung di dunia. Terima kasih..."


"Aku yang harus berterima kasih, karena kau telah jadi bagian dari hidupku. Aku ingin terus bersamamu sampai kapanpun Lara..."


Lara seketika berbalik badan dan melingkarkan kedua tangannya di leher Vander kemudian mengecup bibirnya. "Aku akan bersamamu, karena aku hanya milikmu."


Mereka pun saling berpelukan.


Meski ini berat dan sulit, tapi aku akan mencoba perlahan memahami keadaanmu saat ini Vander. Sampai pada akhirnya dia mengingat semuanya secara jelas, jadi aku akan bersabar sambil terus membuat memori-memori baru diantara kita.

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS 🙏...


__ADS_2