
"Ehem!" Van datang menghampiri pegawai cleaning service itu.
Pegawai itu pun kaget dan langsung menoleh ke hadapan Van.
"Kau sedang apa?"
"Um, ini a- aku— aku sedang membetulkan sedikit masalah disini." Tukang bersih-bersih menangani masalah listrik? Aneh!
Van memicingkan matanya. "Aku baru tau kalau tugas pegawai bersih-bersih itu termasuk membetulkan panel listrik juga?"
"I- itu karena— a- aku sedikit paham Tuan." Petugas itu menjawab dengan terbata-bata, seolah tengah kebingungan menjawab pertanyaan dari Van yang terasa mengintimidasinya.
Merasa tertekan pegawai itu pun menundukan kepalanya dan langsung izin ingin meneruskan pekerjaannya. "Tuan aku permisi kembali kerja."
Pegawai itu pergi dengan meninggalakan Van bersama kondisi panel listrik yang kapnya belum ditutup. Van sedikit paham sistem aliran listrik, ia pun memeriksanya untuk memastikan panel itu baik-baik saja.
"Tidak ada yang aneh tapi...? Oh sial, aku terkecoh!" Van baru menyadari kalau ada kabel yang sepertinya hampir terpotong. "Pasti tadi pria itu mencoba memotongnya." Dengan cepat Van langsung berlari mengejar pria mencurigakan tadi.
Van berlari ke arah rooftop karena sepertinya pria itu pergi kesana.
"Itu dia!" Dugaan Van benar, pria itu beradan di atas rooftop dan terlihat sedang menelepon seseorang. Van dari arah belakang dengan tenang mendekati pria itu, kemudian langsung menjepit lehernya dan merampas ponselnya.
"Halo!" Van mencoba mencaritahu siapa orang yang tengah dihubungin cleaning service itu, namun sayang percakapannya langsung diputus saat itu juga. "Halo! Sial terputus!"
"Lepaskan aku!" Ujar pria yang berseragam cleaning service. Ia mencoba melawan Van namun oleh Van kakinya langsung dilumpuhkan untuk sementara.
"Lepaskan aku! Aku hanya orang suruhan! Lepas! Aku mohon!" Teriaknya meminta Van agar segera melepaskannya.
"Siapa yang menyuruhmu? Dan apa tujuan orang lain menyuruhmu. Katakan atau aku patahkan lehermu!"
"Ba- baik uhuk, ta- tapi lepaskan le- herku aku su- sulit berna- fas Tuan."
Van pun melepaskan jeratan tangannya dari leher pria itu.
"Cepat jelaskan padaku!" Desak Van.
Akhirnya pria itu pun bercerita kalau dirinya hanyalah suruhan dari seseorang yang menyebut dirinya mister M. Pria itu mengaku kalau ia sangat membutuhkan banyak uang untuk biaya istrinya yang mau melahirkan, dan anaknya yang mau masuk sekolah, sedangkan gaji sebagai cleaning service tak seberapa.
"Apa kau juga orang yang melempar batu bertuliskan ancaman serta pria di lift yang memakai hoodie di malam itu?"
"Iya Tuan iya, itu aku, aku yang melempar batu dengan kertas bertuliskan ancaman, aku juga yang berusaha menculik Nona Lara malam itu tapi gagal karena kau malah datang. Aku- aku benar-benar terpaksa melakukannya...," Ungkap pria itu sambil menangis.
Sorot mata Van begitu dingin. "Kau tau, apa yang sudah kau lakukan itu namanya tidak tahu diri! Tidak sadarkah kau? Nona Lara sudah baik memberikanmu pekerjaan di Miracle tapi ini balasanmu?!" Ujar Van.
__ADS_1
"Tapi aku butuh uang! Pria bernama mister M itu menawarkanku seratus ribu dolar jika aku mau melakukan apa yang ia suruh. Uang itu bagiku banyak sekali, dan aku membutuhkannya."
Van tertawa mengejek. "Jadi kau rela menjual jiwamu hanya demi uang tidak seberapa itu? Dasar bodoh!"
Pria itu menengadah melihat Van. "Apa maksudmu menjual jiwa?"
"Menjual jiwa dalam arti kau akan mati ditanganku segera!"
Pria itu ketakutan melihat sorot mata Van yang seolah ingin membunuhnya.
"Bagiku, siapapun yang berani menyakiti Nona Lara maka akan aku buat dia hancur!"
"Tuan ampuni aku... Aku benar-bener butuh uang huhu...aku mohon jangan membubuhku." Pria itu sampai menyembah dikaki Van. "Kau menjijikan!" Van yang benci sikap randahan seperti itu pun segera menyinkirkan tangan pria itu dari kakinya. "Dasar manusia tidak tau terima kasih!"
"Tuan ampuni aku... Jangan bunuh aku, aku punya anak dan istri... aku mohon..." Pria itu terus mengiba dan memohon bahkan bersimpuh dihadapan Van.
Van yang tandinya ingin membunuh pria ini entah kenapa berubah pikiran. Ia berpikir kalau pria ini bisa dimanfaatkan suatu hari nanti.
"Berdiri!" Titah Van.
Pria itu pun dengan susah payah berdiri sebisa mungkin.
"Aku akan memberimu satu kesempatan asalkan, kau harus mau menuruti apa yang aku minta."
Pria itu tampaknya masih berpikir.
"Ba- baik Tuan aku mau menuruti apapun yang kau perintahkan." Pria itu akhirnya menuruti apa yang dikatakan oleh Van.
"Bagus! Tapi harus kau ingat, kalau kau ketahuan berniat sekali saja mengkhianatiku, maka jangan salahkan aku jika anak dan istrimu yang akan menanggungnya!"
"I- iya Tuan aku bersumpah kepadamu"
"Tunggu."
"Apa lagi Tuan?
"Siapa namamu?"
"Namaku Riko."
"Riko, sebelum kau enyah dari Miracle, bawa ini!"
Van memberikan check seharga 100 ribu dolar pada Lucas
__ADS_1
"Ini?" Pria itu tampak bingung memegangnya.
"Ambil uang itu pergilah yang jauh!"
"Te- terima kasih Tuan, kau sungguh murah hati," ucapnya terharu.
"Ingat, aku ini bukan tipe pemberi kesempatan dua kali, jadi jangan kecewakan aku."
"Pa- paham Tuan aku akan ingat itu."
"Sekarang enyah dari sini!" Usir Van. Ia memijat pelipisnya. "Siapa mister M yang dia maksud? Aku belum pernah mendengar soal mister M, apa dia punya dendam dengan Miracle?" Van semakin penasaran.
***
Di ruangannya Lara masih terus memikirkan kata-kata Jeden di ruang meeting tadi. Di satu sisi ia tersinggung dengan ucapan Jeden tapi disisi lain ia merasa ucapan Jeden adalah sebuah fakta menyakitkan yang sebenarnya ia tidak sadari. "Mungkin yang dikatakan Jeden ada benarnya, dibanding Ayah dan Kakek, dedikasiku untuk Miracle tidak apa-apanya," ungkap Lara diikuti senyum kesedihan. Keyakinan Lara untuk bisa memimpin Miracle seolah mulai goyah.
Ding dong! Tiba-tiba suara bel di ruangan Lara berbunyi.
"Masuk...," ucap Lara.
"Nona ada apa?" Tanya Van menghadap Lara. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat raut wajah Lara yang sepertinya sedang sedih.
"Nona Lara apa kau sedang tidak enak badan?"
Lara menggeleng.
"Lalu Nona kenapa terlihat sedih begitu?"
"Aku hanya sedang tidak semangat kerja saja."
"Lalu?"
Lara tiba-tiba melihat ke arah jarum jam. "Masih sore." Lara bangkit dari kursinya memakai blazernya lalu menenteng tasnya.
"Nona mau kemana?"
"Van aku mau kau temani jalan-jalan," ucap Lara.
Van yakin ada yang dipikirkan Lara, tapi ia tidak ingin bertanya apa yang tengah dipikirkannya, karena takut malah akan membuatnya semakin sedih.
"Van kenapa bengong, ayo!" Ajak Lara yang sudah jalan duluan.
"Baik" Saat ini mengikuti apa yang ia inginkan adalah hal yang paling benar aku lakukan.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa ya di Vote, Like, Comment 💜