Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Merasa Aneh


__ADS_3

Di dalam mobil Lara memperhatikan suaminya saat menyetir, menurut Lara suaminya itu terlihat agak berbeda dari biasanya. Merasa khawatir ia pun bertanya, "Vander apa kau baik-baik saja?"


"... Aku, ya aku baik-baik saja."


Ia menggenggam satu tangan suaminya lalu berkata, "Tolong jangan menanggung bebanmu sendirian, berbagilah denganku jika ada hal yang mengganggu dipikiranmu."


Vander lalu tersenyum dan mengusap kelapa sang istri, seolah menegaskan kalau dirinya baik-baik saja dan tidak perlu dicemaskan.


"Sekarang kita mau kemana?" Tanya Vander.


"Cari makanan hangat, kebetulan aku mau makan yang gurih dan berkuah agak manis," ucap wanita itu.


"Kalau begitu bagaiman kalau kita makan ramen?"


Lara langsung mengangguk setuju.


*


Setibanya di kedai ramen mereka berdua langsung memesan ramen kesukaan masing-masing.


"Silakan dinikmati Tuan dan Nyonya," ucap penjual ramen tersebut menyajikan ramen buatanya.


Lara yang sudah ingin makan sejak dari tadi pun langsung mensruput mie ramen kesukaannya itu.


"Hmmm... Ini enak sekali!" Ungkapnya penuh kenikmatan.


Berbeda dengan sang istri, Vander yang duduk di sebelahnya malah tiba-tiba saja minta izin pada sang istri untuk mengangkat telepon.


"Jangan lama-lama ya sayang," pungkas Lara yang masih merasa kalau suaminya itu agak aneh.


Sementara Lara sibuk makan, Vander langsung mencari tempat sepi dan mengangkat panggilan dari Eva tersebut.


Van : Kau dan orang-orang busuk itu mau mengancamku apa lagi!?


Eva : Eits, galak sekali? Lagipula kenapa kau marah, aku kan sudah pernah bilang sebelumnya kalau kau tidak akan mudah jika berurusan dengan Crux. Oleh karena itu, aku sarankan lebih baik kau ikuti permintaan tuan Gauren untuk kembali, daripada semuanya malah akan lebih kacau lagi.


Van : Terkutuk kalian!


Eva : (Tertawa geli) Sudahlah, lebih baik kau  ikuti saja permainannya. Semua yang akan terjadi nanti kan tergantung dirimu sendiri, jadi pikirkan baik-baik, atau mungkin kau ingin istrimu—


Vander : Diam! Jangan pernah sekalipun mencoba melibatkan istriku dalam rencana busuk kalian!


Eva : Cih! Jujur saja aku muak mendengarmu sok posesif pada wanita itu. Sudahlah aku hanya ingin kau tau, setelah bom hari ini masih akan ada kejutan lain, jadi tunggu saja. Bye!


(Memutus panggilan)


"Eva?! Argh sial!" Vander memegangi pelipisnya seraya menenangkan pikirannya yang saat ini ingin sekali meledak rasanya.


Akhirnya Van kembali dan menghampiri Lara yang sudah selesai menghabiskan semangkuk ramen pesanannya.


"Angkat teleponnya lama sekali, memang siapa sih yang telepon?" Lara penasaran.


"Bukan siapa-siapa, hanya Aron."


Lara menggangguk seolah percaya, meski sebenarnya ia merasa ragu dengan jawaban suaminya itu.

__ADS_1


"Oh iya mana ramenmu?" Tanya Vander tidak sadar kalau istrinya itu sudah habis semangkuk dan kini tengah memesan mangkuk kedua.


"Vander sepertinya kau harus makan yang banyak deh, hari ini kau jadi agak kurang fokus!"


"Begitu ya? Mungkin efek kejadian yang tadi menimpamu aku jadi agak kacau pikirannya."


"Masa sih? Tapi kenapa aku malah merasa ada yang kau sembunyikan dariku?"


Van tertawa kecil lalu menatap sang istri dan mengusap kepalanya dengan lembut. "Tidak usah berprasangka macam-macam, yang penting kau baik-baik saja, karena aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk padamu."


Lara menatap suaminya. "Terima kasih karena selalu menjaga dan mengkhawatirkanku, tapi aku ingin kau lebih memikirkan dirimu sendiri. Sekarang makanlah dengan tenang, aku akan selalu disisini jadi jangan takut."


"Tapi aku'


"Ayo makan Vander, atau mau aku yang suapi?"


Dibujuk sang istri Vanderpun akhirnya makan.


**


Malam harinya saat tengah tertidur, tiba-tiba saja Vander terbangun. Tubuhnya saat itu sudah berkeringat, dan nafasnya pun tak beraturan. Pandangan matanya terlihat ketakutan, dirinya langsung menoleh kesamping memandang Lara yang sedang tertidur pulas disebelahnya. Vander membelai wajah sang istri dengan lembut, sementara raut wajahnya menunjukan rasa bersalah. "Maafkan aku Lara, aku tidak berpikir sejauh ini. Karena aku, kau jadi sering terjebak dalam bahaya." Mata Vander seketika berkaca-kaca menatapi istrinya yang begitu tenang di dalam tidurnya. Apa aku benar-benar sudah menjagamu saat ini?


Vander yang merasa gusar memutuskan untuk keluar menenangkan diri. Ia pun mengambil mantelnya dan pergi keluar untuk mencari udara segar.


Sambil menghisap sebatang rokok Vander berjalan di area sekitaran apartemen. "Sudah mau musim dingin," ucap pria itu menatap telapak tangannya sudah mulai memerah karena kedinginan.


Vander lalu bersandar di dekat pohon menikmati menghisap sebatang rokok dimulutnya. Ia lalu teringat dengan mimpinya tadi yang begitu buruk, Vander bermimpi melihat Lara sedang disiksa dan menangis ketakutan, sementara dirinya tak bisa menolongnya. Ia tak bisa membayangkan betapa takut dan tersiksa dirinya seandainya mimpi itu sungguh terjadi. "Apa mungkin mimpi itu sebuah tanda?" Vander tidak paham sama sekali.


Ia menatap keatas langit yang gelap tanpa bintang sama sekali, udara pun semakin dingin hingga menyeruak masuk menembus lapisan kulit. Keraguan pun mulai menghantui pikiran pria itu.


**


Pagi harinya saat sarapan pagi, Lara memperhatikan Vander tak menyentuh sarapannya dan hanya memandanginya saja. Melihatnya tak biasa begitu, Lara jadi semakin yakin kalau ada hal serius yang tengah dipikirkan oleh sang suami.


"Van, apa kau tidak suka roti isinya, kalau tidak suka biar aku buatkan sarapan lain," pungkas Lara memecah lamunan sang suami.


"Oh— tidak, aku suka sarapannya. Hanya memang hari ini agak tidak terlalu lapar saja," ucap Vander beralasan.


Lara menghela nafas panjang dan memasang wajah masam, lalu kembali memakan roti isi buatannya. Sejatinya itu bentuk rasa kesal Lara yang lelah, melihat suaminya yang sejak kemarin banyak diam dan terus beralasan aneh.


**


Di kantor Miracle nampak Miranda yang baru saja kembali bertugas dari luar kota berjalan menuju ke ruangan Lara.


Tok tok!


"Masuklah..." Ucap Lara yang dari jauh sudah terlihat tidak semangat. Melihat Lara tampak lesu begitu, Miranda pun langsung mendatanginya dan menanyakan alasan kenapa dirinya tidak bersemangat hari ini?


Duduk berhadapan dengan Mira, Lara kemudian bercerita kepada sahabatnya itu perihal suaminya yang akhir-akhir ini sepertinya menyembunyikan sesuatu darinya.


"Apa kau sudah tanyakan padanya langsung?"


"Sudah Mira, tapi kau tau sendiri suamiku itu sulit dipaksa, kalau bukan keinginannya sendiri bercerita dia tidak akan cerita," ungkap Lara jengkel.


"Kalau menurutku, mungkin Vander sedang butuh waktu sendirian jadi aku rasa lebih baik kau menghormatinya. Ya paling tidak beberapa hari kemudian kalau dia sudah kembali seperti biasa, baru kau tanyakan ada apa sebenarnya."

__ADS_1


Lara menimbang saran dari Miranda yang ia pikir ada benarnya juga.


"Kau harus tau Lara, ibuku pernah bilang kalau kehidupan saat sudah menikah itu pastinya akan berbeda dengan saat kita masih pacaran," ungkap Mira.


"Memang sih... saat kita sudah menikah, kita dituntut harus sudah bisa menerima semua kurang dan lebihnya dari pasangan kita apapun itu. Karena dalam pernikahan tidak ada kata putus yang ada hanya kata 'cerai' dimana tidak ada satupun di dunia ini yang ingin pernikahannya berkhir dengan kata 'cerai'."


"Nah itu kau tau," balas Miranda tersenyum.


"Kau pandai menasehatiku perihal kehidupan rumah tangga, tapi kau sendiri kenapa belum mau menikah?" Ucap Lara pada sahabatnya itu.


"Kalau itu aku memang belum kepikiran melangkah lebih jauh lagi saja, aku mau menjalani hubunganku dengan Gavin dengan santai, tidak mau buru-buru."


Lara mengangguk paham. "Takdir hidup manusia memang penuh kejutan ya? Aku sendiri tidak menyangka diusiaku yang belum genap dua puluh dua ternyata malah sudah jadi istri," ungkap gadis itu yang kadang masih tak menyangka kalau dirinya sudah menikah.


"Aku tidak menyangka kau lebih muda dariku tapi sudah bisa yakin untuk menikah," ucap Miranda tak menyangka.


Lara sendiri tidak tau kenapa bisa seyakin itu saat dilamar. Karena yang ia rasakan saat Van melamarnya waktu itu hanyalah ia percaya dan yakin pada pria itu, makanya Lara langsung menerima lamaran dari Vander.


**


Sepulang dari kantor Lara yang disupiri oleh Gavin, tiba-tiba saja ingin membeli kue kering favoritnya di salah satu toko kue paling terkenal di kota ini. Lara kemudian meminta Gavin mampir sebentar ke toko kue yang dimaksud.


"Kakak yakin tidak mau aku temani ke dalam toko?"


"Tidak usah, kau disini saja, aku juga tidak terlalu lama kok!"


Sekitar tiga puluh menit, akhirnya Lara kembali bersama tentengan berisi kue-kue yang dibelinya. Gavin pun turun dari mobil dan membantu Lara membawakannya ke dalam


"Ini!" Lara menyerahkan satu tentengan yang berisi kue kesukaan Miranda kepada Gavin.


"Ini apa?"


"Itu kue kering kesukaan Miranda, besok kau berikan pada Mira, oke?"


"Gavin terlihat senang sekali. "Terima kasih Kak, kau baik sekali memperhatikan hubunganku dengan Mira."


"Sama-sama, kau juga baik sekali. Sudah ayo cepat kita pulang, aku harus masak makan malam soalnya."


"Oke...!"


Diperjalanan pulang tiba-tiba Lara saja mendapati telepon dari pak Jah. Ia pun segera mengangkatnya.


"Halo pak Jah ada apa?"


...


"Apa?! Kau tidak sedang membuat lecucon kan?!"


....


Lara seketika mematikan ponselnya dan langsung tertunduk diam.


...🌿🌿🌿...


TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE. PLIS PLIS PLIS 💜

__ADS_1


__ADS_2