
Pagi harinya sebelum ke kantor, Vander dan Robert terlihat mampir ke kedai kopi Miracle. Kebetulan memang mereka baru mau buka jadi belum ada orang yang datangย berkunjung.
"Wah kak Vander akhirnya kau datang ke coffee shop milik kami," ujar Gavin seolah terharu.
Vander datang sebenarnya karena ada urusan yang harus dibicarkan dengan Gavin, jadi dirinya sekalian saja mampir untuk mencicipi kopi di kedai Gavin yang banyak orang bilang rasanya nikmat sekali.
"Tuan Vander anda mau pesan apa?" Tanya Mira yang selaku manajer di kedai kopi tersebut.
"Americano tanpa gula."
"Dan tuan Robert?"
"Maaf, tapi aku tidak minum kopi nona Miranda."
"Oh tenang, kedai ini juga menyediakan berbagai teh. Apa kau mau coba?"
"Baiklah mungkin secangkir greentea boleh juga."
"Oke, akan segera kubuatkan."
Miranda langsung membuatkannya. Dan tak lama secangkir Americano tanpa gue dan teh hijau pun di sugguhkan kepada kedua pengunjung spesial itu.
Tanpa basa basi Vander langsung menyesap kopi tersebut.
"Bagaimana rasanya kak?" Tanya Gavin penasaran.
"Enak, nomor dua terenak setelah buatan istriku," jawab Vander tanpa ragu.
"Kalau paman Robert?"
"Ini enak sekali, pantas kalau kedai ini ramai pengunjung. Suasananya juga sangat friendly dan hangat, aku akan sering mampir kesini kalau ada waktu."
"Terima kasih paman Robert," ujar Gavin senang.
"Baik kita sudahi kuliner minumannya sekarang aku ingin bicarakan hal serius denganmu Gavin," ujar Vander mendadak nada bicaranya jadi serius. "Tapi sebelum itu, bisakah kau usir para pegawaimu yang sejak tadi terus-menerus memfotoku?" Pungkas Vander yang ternyata sadar kalau dirinya diam-diam difoto oleh para pegawai yang mengintip dari ruang staff.
"Oh baiklah akan kusuruh mereka ke lantai dua bersih-bersih."
"Tidak usah, biar aku saja yang suruh mereka pergi," tandas Miranda mengantikan suaminya itu.
"Terima kasih istriku," balas Gavin.
Miranda pun langsung dengan wajah seriusnya meminta para pegawainya naik ke lantai dua untuk bersih-bersih sebelum kedai buka.
'Tap- tapi kak Mira kami masih mau lihat tuan Vander. "
"Iya kak Mira, kapan lagi lihat dia sedekat ini. Dia sungguhan tampan sekali akuโ"
"Kalian pilih lihat Vander atau aku pecat?"
"Ba- baik, iya kami segera keatas." Akhirnya para pegawai itu pun pergi ke lantai dua.
Melihat Mira mengusir para pegawainya Vander pun berceletuk usil, "Sepertinya Miranda lebih dominan ya? Usia memang tidak bisa bohong."
"Aku hanya sedikit lebih muda kok, sudah jangan mengejekku! Katakan saja kakak mau bicara apa?"
Vander pun memberitahukan Gavin tentang hilangnya Jeden yang kemungkinan diculik.
"Apa diculik? Oleh siapa?"
"Itu tugasmu selanjutnya, mencaritahu hal itu. Tapi instingku berkata dia memang ada hubungan dengan Gauren. Karenq dari catatan yang sudah Robert selidiki, setelah aku mengakuisisi penuh Miracle yang bankrut dua tahun lalu, kemungkinan Jeden yang butuh dana akhirnya meminta bantuan Gauren."
"Kenapa kau seyakin itu kak?"
"Sebab aku tahu persis bagaimana Gauren bertindak. Sejak usia delapan tahun aku hidup bersama pria itu, bahkan dibanding orang tuaku sendiri aku lebih kenal dia, jujur saja aku sungguh pernah menganggap dia ayahku." Wajah Vander seakan sedih bercampur kecewa mengingat kenyataan yang ada. Pria yang pernah ia anggap sosok ayahnya sendiri nyatanya malah orang yang paling membuat hancur hidupnya.
"Tuan, anda tenang saja, kami akan selalu menjadi sayap yang bisa kau andalkan dimanapun kau berada," pungkas Robert menyemangati tuannya.
"Terima kasih kalian semua. Sekarang yang harus kita lakukan adalah bekerjasama menyisir seluruh kota dan cari semua info tentang pria itu sedetail mungkin."
Mungkin aku juga harus minta bantuan Lara? Secara dia kan mengenal Jeden sejak dulu, pasti dia punya info yang mungkin orang lain tidak tahu.
...๐๐๐...
Di ruangannya, Lara yang baru saja selesai menyusun jadwal pertemuan meeting Vander untuk minggu depan, tiba-tiba saja dibuat kaget karena mendapatkan satu e-mail resmi dari Lavioletta. Dan isi pesan itu adalah surat tawaran untuk dirinya bergabung menjadi salah satu desainer resmi disana. Tentu saja setelah membaca isi tawaran dari Lavioletta tersebut, Lara langsung tampak senang dan kegirangan. Akhirnya impiannya jadi desainer sudah ada di depan mata. Hanya saja masalahnya sekarang ini adalah, dirinya masih terikat kontrak resmi sebagai sekretarisnya Vander.
"Aku ingin sekali menerima tawaran pekerjaan ini, tapi kalau aku keluar dari sini, bagaimana dengan Vander?" Mengingat track record sekretaris Vander yang sebelum Lara masuk semuanya hampir tidak mampu bertahan dan berakhir di pecat.
"Sebaiknya aku bicarakan hal ini pada Vander dulu, ya meskipun aku sekarang pemilik sah Laizen Grup, tapi tetap saja posisiku adalah karyawannya Vander jadi aku harus menghormatinya."
...๐๐๐...
"Sial! Kenapa setelah aku kirim foto itu ke Vander tidak ada respon sama sekali?!" Emily kesal sekaligus heran, karena ekspekstasi kalau Vander akan marah pada Lara sepertinya tidak terjadi sama sekali. Padahal dirinya sudah berharap kalau setelah itu hubungan Vander dan Lara akan merenggang, tapi nyatanya malah tidak.
"Argh! Aku harus apa sekarang? Bagaimana caranya supaya mereka berdua itu saling membenci?!" Emily tampak kesal dan frustasi karena bingung mencari cara untuk menjauhkan Lara dengan Vander.
"Apa aku jebak saja Vander agar mau bermalam denganku? Tapi.. sepertinya hal itu tidak mungkin, secara pria itu terlalu sulit untuk dijebak dengan trik murahan semacam itu. Mau tidak mau aku harus cari kelemahannya, tapi apa?"
Saat tengah sibuk membuat rencana busuknya, tiba-tiba saja Naomi masuk ke ruangan Emily dan memberitahukannya kalau, pemotretan untuk katalog musim gugur Lavioletta yangย baru akan segera dimulai. Naomi pun menyuruh sang model untuk segera ke studio pemotretan.
"Iya aku datang!" Tandas Emily yang tidak suka diburu-buru.
...๐๐๐...
Setelah menemani Vander meeting dengan CEO perusahaan raksasa dari Amerika di salah satu hotel milik Laizen grup, keduanya pun pulang berdua tanpa di supiri oleh Robert.
Di parkiran saat Vander baru saja ingin membukakan pintuย untuk Lara, sekretarisnya itu tiba-tiba saja malah bilang, "Vander, biarkan aku yang menyetir mobilnya."
Vander mengerutkan keningnya. "Kenapa tiba-tiba ingin menyetir?"
"Umโ ingin saja, soalnya sudah lama sekali tidak menyetir, boleh ya...?" Bujuk Lara.
Melihat istrinya begitu ingin melakukan hal tersebut, Vander pun seolah tak kuasa melarangnya, meskipun ia sejujurnya lebih suka kalau Lara tidak usah menyetir.
"Oke..."
"Yey!" Lara yang begitu senang pun langsung menyelonong masuk ke tempat kursi kemudi sementara Vander duduk disebelahnya.
"Hati-hati, santai saja, tidak usah ngebut," pesan Vander agak khawatir.
"I know."
"Jangan lupa pastikan kaca spoin sudah nyaman untuk jangakauan penglihatanmu."
"Iya..."
"Dan fokus sertaโ"
__ADS_1
"Oh ayolah Vander kau ini berisik sekali, aku sudah bisa dan punya lisensi menyetir sejak usia sembilan belas tahun jadi jangan berlebihan begitu deh!"
"Maaf, aku hanya tidak mau terjadi sesuatu padamu."
"Tenang saja, lebih baik kau diam dan rasakan bagaimana amannya dirimu disetiri olehku. Lagipula kalau terjadi sesutu padaku kan ada suami sekaligus pengawalku yang tampan disebelahku menhjagaku," ucap Lara sambil tersenyum santai.
Vander pun menghela nafas. "Baiklah nona Lara, jadi kita mau kemana?"
"Nanti juga kau akan tau," tandas Lara yang kemudian melajukan mobil tersebut.
...๐๐๐...
Selama di perjalanan, Vander dan Lara mengobrol santai. Sambil terus mengawasi sang istri Vander pun tiba-tiba saja bertanya, "Lara, bagaimana kehidupan di sekolahmu dulu?"
Seketika Lara menaikan kedua alisnya mendengar pertanyaan suaminya tersebut. "Kau ingin tahu aku kehidupanku saat remaja dulu?"
"Iya, aku ingin tahu."
"Em- bagaimana ya, disekolah aku..."
"Biar kutebak, kau sangat populer dikalangan pria."
"Bagaimana kau tahu?"
"Tidak usah cerita juga semua orang tahu."
"Aku sih sebenarnya merasa biasa-biasa saja. Tapi saat SMP dan SMA, hampir semua siswa sekolah mengatakan kalau hidupku sangat sempurna seperti tuan putri. Mereka bahkan sering memanggilku Lara Hime, yang dalam bahasa jepang bararti putri Lara."
Vander terkekeh.
"Kenapa tertawa, memangnya lucu ya?"
"Tidak, hanya saja aku tengah membayangkan dirimu saat masih sekolah pasti sangat manis dan imut."
"Hei tapi dengar ya, aku itu populer bukan hanya karena cantik, melainkan populer karena aku ini dulu sempat jadi ketua klub desain dan fotografi."
"Wow!" Vander terkesan.
"Aku juga pernah dapat juara umum saat kelas dua SMA, dan aku juga cukup pandai main tenis lho..."
"Kalau begitu kapan-kapan mari kita tanding tenis!"
"Boleh siapa takut."
"Oh iya ada berapa pria yang menyatakan cinta padamu?"
"Suamiku, kau penasaran ya?" Goda Lara.
"Iya aku penasaran sekali. Apakah sebanyakย pria di kantor yang memberikanmu banyak coklat, barang, dan surat."
"Eh, da- darimana kau tahu? Aku kan belum cerita padamu soal itu."
"Radarku menangkap info lebih cepat daripada kecepatan internet negara ini," ucap Vander.
"Waktu sekolah aku tidak ingat, umโ tapi mungkin sepuluh, dua puluh, atau lebih? Entah aku lupa. Yang jelas salah satunya itu Jeden yang adalah seniorku di akademi."
Mata Vander langsung menajam mendengar nama itu disebut Lara. "Oh pria itu..." Vander menatap serius.
Kenapa tiba-tiba wajahnya tampak marah sekali begitu aku sebut Jeden? Apa dia masih cemburu pada Jeden? Tapi bukankah sejak amnesia dia lupa pada Jeden?
"Sayang, jangan terus menoleh ke arahku kalau sedang menyetir," tegur Vander yang meski tatapanya lurus saja namun tahu kalau istrinya berkali-kali menengok ke arahnya.
"Oh iya si Jeden itu, dia dulu saat sekolah bagaimana?"
"Jeden, dia siswa yang populer. Dia pintar, ramah dan populer dikalangan gadis-gadis di sekolah juga."
"Cocok denganmu yang tuan putri sekolah kalau begitu."
"Tidak kok, aku sejak dulu hanya menganggapnya teman karena dulu mendiang orang tua Jeden itu teman mendiang kedua orang tuaku, makanya kami sejak kecil sudah saling kenal. Tapi... Entah kenapa sejak lulus sekolah tinggi dan kerja di Miracle dia berubah, jadi suka memaksa, kasar, dan sombong."
Lara menghela nafas. "Kadang aku rindu sosok kecilnya yang dulu sangat baik dan ceria."
"Ehem, kalau kau rindu dia, kenapa kau memilihku yang cuma mantan gelandangan ini pada akhirnya?"
"Karena dari semua pria yang muncul di hidupku, cuma tuan Vander yang berhasil menyandera hatiku."
Vander tersenyum bangga. "Jadi aku cinta pertamamu?"
"Sayangnya bukan, cinta pertamaku kanโ kak Eiji!"
Vander langsung merengut tidak senang, sontak Lara pun tertawa dibuatnya. "Ya ampun tuan cemburuan, itu kan hanya cinta masa kecil. Lagipula pada akhirnya kau yang menang kan?"
"Ya kau benar sih tapi..."
"Kau sendiri, aku juga bukan pertama bagimu kan? Bahkan sebelum denganku kau itu sudah dengan mendiang Nagisa itu kanโ" balas Lara agak cemburu menyebut nama mantan Vander.
"Masa laluku itu cuma kenangan yang sudah kukubur dan tidak ada lagi bekasnya. Bagiku yang terpenting adalah saat ini dan selamanya, yaitu istriku."
"Dasar perayu ulung. Sekarang gantian kau jelaskan masa sekolahmu dulu bagaimana?"
Vander tak menjawab. Dirinya hanya tersenyum hambar, mengingat sejak kecil Vander tidak pernah merasakan sekolah di sekolah formal. Sejak usia delapan tahun dirinya sudah dibawa ke Crux dan dilatih untuk menjadi intel sekaligus mesin pembunuh. Ya awalnya emang tahun pertama disana ia diberi pendidikan normal disamaping latihan fisik. Namun saat usianya masuk sembilan tahun ia dikhususkan untuk fokus berlatih fisik, strategi dagang, IT, kata sandi sulit, hingga pelatihan yang mengoyak mentalnya, bahkan saat usia baru menginjak 13 tahun Vander sudah diberi tugas untuk membunuh seorang dalang kartel narkoba. Bukankah lebih baik Lara tidak tahu masa mudaku? Tidak penting juga kan?
"Hei kenapa malah melamun, biar kutebak kau sedang mengingat wanita-wanita yang kau dekati saat sekolah kan?"
Vander tertawa garing. "Aku memang suka perempuan cantik sejak kecil."
"Tuhkan benar!" Sahut Lara kesal.
"Makanya aku pilih Lara jadi istri, karena dia yang paling cantik diantara yang tercantik."
"Tetap saja mantanmu banyak!"
"Mereka yangย menganggapku pacar, mantanku hanya satu itu pun dia sudah meninggal. Bagiku, hati dan juga pikiranku selamanya hanya ada istriku, istriku, dan istriku, tidak ada yang lain."
Lara senyum malu-malu mendengarnya. "Sudahlah kita sudah sampai."
Lara kemudian memarkirkan mobilnya.
"Tempat ini agak jauh dari pusat kota kan?" Ujar Vander saat keluar dari mobil melihat sekelilingnya.
"Memang, karena ini kan kawasan pasar malam di pinggiran kota. Waktu kita masih pacaran dulu, kita beberapa kali pernah kencan disini, kau tidak ingat ya?" ungkap Lara.
"Jadi kita mau kencan?"
"Iya!" Angguk Lara yang langsung memeluk lengan sang suami dan mengajaknya berkeliling. Sambil berjalan santai, Lara dengan antusias menceritakan kenangan mereka dulu di tempat ini. Mendengarnya Vander ingin sekali bisa ingat momen itu, namun ia hanya bisa samar-samar mengingat.
"Maaf ya aku tidak bisa ingat sepenuhnya," ucap Vander merasa bersalah.
__ADS_1
"Hei kenapa sedih begitu? Kalau tidak ingat kan kita bisa buat memori baru lagi disini," usul Lara.
Vander mengangguk dan tersenyum manis
Merreka berdua pun akhirnya menghabiskan waktu malam disana. Saat berkeliling, tiba-tiba saja Lara melihat stand yang menjual berbagai kostum halloween. Karena sudah masuk musim gugur, seperti biasa banyak pernak pernik halloween dijual dimana-mana. Lara pun mengajak suaminya kesana untuk beli pakaian.
Vander awalnya malas memakai hal seperti itu, namun bujukan sang istri akhirnya meruntuhkan prinsipnya. Tadinya Lara ingin dirinya dan Vander pakai baju pasangan, namun tiba-tiba saja ia punya ide lain dan malah membeli sepasang kostum seragam anak SMA.
"Lara kenapa kau beli ini?" Protes Vander heran.
"Umโ soalnya, aku penasaran ingin lihat dirimu pakai seragam sekolah, jadinya aku beli saja buat kita. Ya anggap saja hari ini kita ini murid yang sedang kencan," ungkap Lara yang langsung memaksa Vander mengganti bajunya.
Akhirnya keduanya berganti kostum seragam SMA. Lara yang sengaja mengikat rambutnya jadi dua, tampak manis dan semakin cocok pakai seragam itu. Sementara Vander dengan raut wajah masamnya yang tampak tertekan.
"Vander aku cantik tidak?"
"Kau pakai apa saja cantik, sementara aku merasa aneh!" Ujarnya kesal.
Lara pun tertawa geli melihat suaminya saat ini. Ia lalu mendekati Vander dan mengacak-acak rambutnya serta merapikan pakaian seragamnya. "Nah sudah..." Ucap Lara yang akhirnya berhasil membuat Vander masih tampak cocok mengenkan seragam SMA.
"Ah kalian benar-benar terlihat seperti pasangan SMA yang sedang kasmaran," puji paman pemilik toko.
"Hei pak tua kau bohong ya?" Ujar Vander seraya mengancam
"Ti- tidak kok tuan."
"Sudahlah sayang, kau sangat cocok asal kau perlihatkan wajah manismu yang kalau sendang manja jangan galak-galak begini!"
"Tapi Lara..."
"Sudah jangan protes, cepat bayar kostumnya lalu kita lanjut keliling." Kemudian Vander pun membayar kostum itu.
"Terima kasih kostumnya paman!" Seru Lara lalu lanjut pergi bersama suaminya.
Akhirnya pasangan itu pun berjalan menikmati malam yang indah di festival pasar malam pinggir kota. Disana Lara dan Vander terlihat layaknya pasangan muda belia saling bergandengan tangan, makan eskrim, berfoto di box foto, main permainan, dan banyak hal manis lainnya.
Sampai saat Lara tengah duduk menunggu Vander yang tengah membelikan dirinya kacang panggang madu, dirinya tiba-tiba saja malah dihampiri siswa SMA sungguhan. Disana para siswa laki-laki itu terlihat menggoda Lara dan mengajaknya pergi.
Ya ampun bocah-bocah ini, apa mereka tidak tahu yang sedang mereka goda ini wanita dua puluh lima tahun yang sudah punya suami dan satu anak!
"Ayolah gadis manis, ikut kami..." Salah seorang dari mereka mau menarik tangan Lara, untungnya tangan tersebut langsung ditahan oleh Vander.
"Beraninya kau mau sentuh pacarku," ujar Vander sambil mencengkram tangan siswa itu hingga kesakitan.
"Argh ma- maaf aku tidak tahu dia pacarmu, jad kumohon lepaskan tanganku sakit!" Siswa itu meringis kesakitan dan hampir menangis. Tidak tega melihatnya Lara pun meminta agar sang suami melepaskannya.
Vander pun melepaskannya dan murid-murid itu pun pergi.
"Sudah kuduga, seragam sekolah itu bukan ide bagus! Kau jadi digoda mereka kan," omel Vander
"Hehe... Maaf, tapi sungguh tadi kau seperti peran utama pria di drama-drama remaja yang ada di TV."
"Terlalu banyak nonton drama, otakmu jadi aneh!"
"Biar saja, tapi sungguh kau tadi terlalu keras mencrengkram tangan anak itu, lihat dia sampai kesakitan."
"Keras apa? Itu bahkan tidak ada seperempatnya tenagaku, dianya saja lemah! Sudahlah ini kacang pesananmu, dan ayo kita pergi menonton atraksi kembang api!"
Akhirnya mereka pun menonton atraksi kembang api, mereka bedua melihat indahnya kembang api sambil bergandengan tangan.
"Cantik sekali..." Ucap Lara terpukau melihat warna warni kembang api yang meledak-ledak.
"Lebih cantik dirimu," balas Vander yang malah lebih fokus memandangi istrinya saat ini.
Lara tersenyum dan berkata, "Vander, jujur aku tidak tahu akan seperti apa nanti hubungan kita kedepannya. Tapi yang jelas aku sangat bersyukur karena sudah dicintai dan mencintai dirimu."
Pria itu membelai wajah sang istri lalu mencium keningnya. "Aku janji akan buat keluarga kita bahagia dan menua bersama."
"Aku percaya padamu Vander."
"Kau harus percaya."
Kedua insan itu pun berciuman mesra dibawah indahnya warna warni kembang api yang saling meletup bergemuruh dilangit malam.
...๐๐๐...
Di apartemennya tepatnya di ruang utama, Rey yang duduk di sofa sambil memegang gundam tampak kesal, mengingat hari ini dirinya terpaksa makan malam sendirian dikarenakan mama dan papanya belum pulang.
"Mereka kemana sih!" Protes pria kecil itu kesa karena sejak tadi menelepon mamanya ponselnya tidak diangkat, sementara menelepon papanya malah di reject terus. "Mereka lupa aku apa bagaimana? Mama juga, kenapa sekarang lebih pilih papa dibanding aku!" Protesnya.
Melihat hal itu, Tori yang kebetulan ada di ruangan itu pun memberi pengertian. "Tuan kecil tenang saja, papa mama tuan kecil kan sedang mencanangkan usaha memberikan adik buat anda, makanya harus sering berduaan."
"Eh maksudmu aku akan segera punya adik kalau biarkan papa dan mama berduaan sering-sering?"
"Emโ bisa dibilang begitu," jawab Tori asal.
Hem benar juga, lagipula kalau mama hamil pasti mama akan lebih sering dirumah. "Paman tori cara supaya mama cepat hamil bagaimana?"
"Eh, ituโ" aduh sepertinya aku salah bicara nih!
"Paman kenapa diam, jawab bagaimana cara supaya mama hamil cepat!"
"Ituโ umโ anuโ"
DING DONG!
Seketika terdengar suara bel
Kesempatan Tori melarikan diri. "Wah ada yang datang, aku buka pintu dulu ya tuan kecil!" Ucap Tori lalu segera melesat untuk membukakan pintu.
Karena ikut penasaran dengan siapa yang datang, Rey pun menyusul Tori dan bertanya, "Paman Tori siapa yang datang?"
Melihat seseorang di depan apartemennya, Rey pun langsung mengerutkan alisnya. Mau apa dia kesini?
...๐๐๐...
...TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA YA DI LIKE, COMMENT, DAN VOTE, SAMA GIFTNYA JANGAN LUPA YA... PLIS PLIS PLIS ๐...
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
IZIN PROMO NOVELKU YANG UDAH TAMAT, KALI AJA MAU BACA ๐
LOVE PETAL FALLS
SEASON 1& 2
Sinopsis:
__ADS_1
Lima tahun lalu kesucian Sara di renggut paksa oleh seorang pria hingga dirinya hamil. Lima tahun kemudian Sara menjalani hidupnya bersama Putranya. Kelopak cinta di hati Sara yang kering kini mulai tumbuh, mampukah Ryuzen Han menumbuhkan kembali bunga yang dulu pernah ia rusak?
YANG MAU BACA KLIK PROFIL AKU YA... ๐