Pengawalku Gelandangan Tampan

Pengawalku Gelandangan Tampan
Di kamar mandi?


__ADS_3

Pagi menjelang siang, mata Lara yang masih berat perlahan terbuka. Tubuhnya yang terbujur tanpa sehelai busana masih tertutup rapat oleh selimut tebal yang menyelimutinya.


"Astaga! kenapa tubuhku jadi sakit semua begini!" Keluh Lara saat dirinya ingin mengulet meregangkan otot-ototnya. Hampir seluruh tubuh gadis itu rasanya sakit sekali, rasanya hampir seperti baru dipukuli terutama dibagian bawah perutnya. "Oh iya semalam kan— aku dan Vander sush..." Wajah cantiknya tiba-tiba memerah mengingat apa yang sudah dirinya lewati semalam bersama Vander. Ya, pada akhirnya dirinya sudah menyerahkan mahkotanya kepada kekasihnya itu. Lara menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena malu. Sesungguhnya ia masih tak percaya kalau dirinya sudah melakukan 'hal itu'. Tapi dengan keadaan tubuhnya yang sakit begini mana mungkin ia mengelak kalau kenyataannya iq sudah melakukannya. Ditambah bercak darah di atas sprei pun menjelaskan kalau kejadian semalam adalah nyata.


"Tapi, dimana Van sekarang?" Tanya Lara mencari dimana kekasihnya itu berada.


"Nona Lara!" Ujar Vander yang baru saja kembali dari luar.


"Van- ouch!" Lara ingin sekali bangun dan menghampiri Van, namun keadaan tubuhnya yang masih nyeri saat ini membuatnya agak sulit untuk bergerak.


Dengan sigap Van yang masih menggunakan piyama hotel langsung duduk menghampiri Lara yang masih duduk bersandar di sandaran kasur karena merasa sulit untuk berjalan.


"Nona apa kau baik-baik saja?" Tanya pria itu dengan tatapan matanya yang lembut dan penuh rasa khawatir. Jemarinya yang panjang membelai pipi Lara yang merona seperti bunga sakura yang baru mekar.


"Kau habis darimana?"


"Aku baru saja dari luar meminta petugas hotel untuk membakar bajuku dan gaunmu yang semalam," jelasnya.


Ya, pakaian Van semalam banyak terdapat noda darah. Oleh karenanya ia harus menghilangkan barang bukti agar pihak kepolisian yang tengah menangani kasus kematian dua orang yang dibunuhnya semalam tidak dikaitkan olehnya dan Lara. Untungnya di toilet cctvnya sudah dirusak duluan oleh kedua penjahat itu jadinya tidak akan ada rekaman bukti, toh Van sendiri memang tak bersalah ia membunuh kedua penjahat itu tujuannya adalah untuk menolong Lara.


"Lalu kejadian semalam—"


"Nona tidak usah khawatir, semua sudah ditangani polisi dan aku pastikan kau sama sekali tidak akan dibawa-bawa."


Lara bernafas lega. "Syukurlah kalau begitu.  Tapi aku masih agak takut, semalam itu—" Lara sepertinya masih agak syok dengan kejadian semalam.


Van mengusap lembut pipi Lara. "Hei dengar, aku ada disini. Aku akan selalu menjagamu aku tidak akan biarkan siapapun menyakitimu." Van mencoba menenangkan Lara.


Lara pun tersenyum cukup lega mendengar ucapan Van barusan, "Terima kasih Vander."


"Oh iya Nona, apakah tubuhmu baik-baik saja?"


Aduh pakai tanya? kau Pikir saja sendiri berapa kali kau terus menghantamku semalam! Sampai badanku remuk semua rasanya.


"I- iya. Hanya saja semuanya masih agak sakit," jawab Lara malu-malu.


Van tiba-tiba jadi merasa bersalah.


"Nona aku minta maaf!" Ujar Van sambil berlutut.


"Eh ka- kau kenapa Vander, kenapa kau berlutut dan minta maaf?"


"Aku minta maaf padamu, karena aku sudah melakukannya padamu padahal semalam itu kan— aku sedang tidak sepenuhnya sadar. Jika Nona mau menghukumku maka hukumlah. Aku akan menerimanya apapun itu," ungkap Vander.


Kenapa dia minta maaf? Padahal kan aku juga akhirnya yang mengizinkannya?


Lara menyeringai licik.


"Bangunlah!"


Van berdiri.


"Kau tau kan semalam itu pertama kalinya buatku?"


"Aku tau," mengangguk dengan polosnya.


"Sini duduk mendekat padaku," pungkas Lara menyuruh Van duduk mendekat padanya.


Vander pun menurutinya.


Gadis itu mendekatkan bibirnya ke telinga Van dan berbisik dengan nada sensual. "Menurutmu, semalam aku bagaimana?"


Giliran Vander yang menyeringai licik. "Rasanya... Nona semalam luar biasa," ucap Van yang kemudian malah mengecup dan menyesap leher indah Lara.


"Egh...!"


"Vander stop!" Lara mendorong Van.


Van tertawa geli.

__ADS_1


"Kenapa tertawa?" Ujar Lara kesal.


"Karena kucing kecil baru saja mencoba menggoda serigala besar."


"Memangnya siapa yang kucing kecil?" Pukas Lara malu.


Van mencubit kecil dagu Lara yang mungil. "Kau masih teralalu dini untuk menggodaku sayang," ucapnya lalu mengecup bibir Lara. Sepasang kekasih itu berciuman untuk beberapa saat hingga akhirnya Lara lebih dulu menyudahinya karena tenggorokannya merasa kering.


"Ehem Van, aku haus," ungkap Lara sambil memegangi lehernya.


"Oh baiklah akan aku ambilkan air."


"Vander tunggu!" Lara menarik tangan Van yang baru saja ingin beranjak untuk mengambil air.


"Ada apa lagi Nona?"


Lara tiba-tiba mencium bibir Vander dan kemudian memeluknya erat. Hingga membuat Van jadi bertanya-tanya, " No- Nona ada apa? "


"Aku hanya ingin bilang, aku sudah memberikan semuanya bahkan hal paling berharga yang ada pada diriku padamu. Jadi– Van berjanjilah padaku, kalau kau tidak akan pernah meninggalkanku."


Vander menatap dalam-dalam Lara dengan matanya yang berwarna gelap. "Aku mencintaimu Lara Hazel."


"Aku juga."


Mereka lagi-lagi berciuman.


"Uhm Van, kau bilang tadi kan mau mengambilkan aku air minum."


"Ah maaf aku jadi lupa," pungkas Van malu-malu lalu segera mengambilkan air untuk Lara.


**


Miranda yang tengah menikmati hari libur sambil mendengarkan radio, tidak sengaja mendengar siaran berita di radio tentang kekacauan yang terjadi di ballroom hotel rosevelt di perhelatan pesta ulang tahun salah satu CEO terkenal.


"Apa?!" Miranda yang awalnya sedang rebahan santai seketika langsung beranjak bangun dan tampak panik. "Aku tidak salah dengar kan? Kekacauan di hotel rosevelt tadi malam dan menewaskan tiga orang?" Miranda langsung teringat dengan Lara. "Aku harus telepon Nona Lara untuk memastikan kalau dia baik-baik saja!"


Mira langsung megambil ponselnya yang ada di meja dan menelepon Lara saat itu juga.


Lara : I- iya aku baik-baik saja.


Mira : (Menghela nafas) syukurlah, soalnya aku tadi baru dengar berita katanya ada insiden di pesta Karina, jadi aku meneleponmu.


Lara : Aku tidak apa-apa Mira, aku baik-baik saja terima kasih sudah mengkhawatirkan aku.


"Nona Lara!" (Suara Van terdengar oleh Mira dari telepon)


Mira : Um— Nona apa kau di apartemen? (Seingat Mira Lara tinggal dikediamannya sejak kemarin)


Lara : Itu- iya aku sudah, sudah diapartemen. Ada apa memangnya?


Mira : Oh tidak apa-apa. Baiklah aku hanya ingin memastikan dirimu baik-baik saja. Kalau begitu sampai jumpa dan selamat hari libur.


Lara : Iya Mira selamat hari libur juga, bye


...


#


Lara menutup panggilannya. "Huft!"


"Apa Nona Miranda yang telepon barusan?" Tanya Vander.


"Em," angguk Lara.


"Apa dia—"


"No! Aku tidak bercerita soal aku yang hampir diculik semalam. Aku juga tidak bilang kalau kita ada dihotel sekarang ini."


Van mengangguk.

__ADS_1


"Oh iya ada apa kau memanggilku Van?"


"Aku hanya mau beritahu kalau air di bath up sudah siap, Nona sudah bisa mandi sekarang," jelas Vander.


"Oh baiklah aku akan kesana nanti."


Van merasa Lara masih belum bisa berjalan, ia pun berinisiatif mengangkat Lara dari atas tempat tidur dan menggendongnya.


"Van turunkan aku, aku— aku tidak pakai apa-apa!" Ujar Lara merasa malu.


"Kenapa kau harus menutupi buah dadamu?"


"A- aku, aku malu," ucapnya.


"Aku sudah melihat bahkan merasakan semuanya kenapa harus malu, lagipula tubuh Nona sangat indah. Adikku yang dibawah perut saja langsung tegang dan berdiri tegak."


"Vander kau ini! Memang yang semalaman tadi belum puas juga apa? Dasar gila!" Gerutu Lara.


"Nafsuku itu besar, jadi tidak akan pernah merasa puas, aku selalu mau lagi. Bahkan dengan membayangkanmu saja sudah bisa buat berdiri," jawabnya dengan enteng.


"Kau gila ya!"


Raut wajah Vander yang licik dibalut senyumnya yang mencurigakan membuat Lara panik.


"Tunggu, wajahmu kenapa tersenyum begitu?"


"Aku berencana untuk mengajakmu melakukannya lagi di kamar mandi. Nona pasti suka, akan aku berikan pengalaman baru lagi!"


"Kamar mandi? Kau ini mau bikin aku mati ya! Tidak, tidak turunkan aku!" Gelagat Lara panik. Astaga aku tau sulit menahan hasratnya, tapi kalau sebanyak ini melakukanny aku bisa sekarat!


"Santai saja aku sadar jadi aku tidak akan seganas semalam, jadi tidak akan sampai mati kok!" Balas Van dengan santainya sambil terus berjalan membawa Lara ke dalam kamar mandi.


"Vander turunkan aku! Dasar pria gila mesum!"


"Semalam juga awalnya Nona bilang tidak, tapi pada akhirnya sangat menikmati."


"Vander Liuzen!"


Van meletakan Lara ke dalam bathup berisi air hangat, setelah ia pun membuka seluruh pakaiannya dan terjadilahnya pergulatan dikamar mandi.


**


"Sial! Sial! Sialan!" Pekik Karina yang emosi sampai-sampai ia melempar vas bunga ke cermin.


"Semuanya berantakan! Rencanaku gagal total! Siapapun orangnya, beraninya orang itu mengacaukan pestaku semalam!" Ujarnya yang murka mengetahui ada yang mensabotase pestanya. "Aku harus caritahu siapa orang dibalik kekacauan dipestaku semalam. Aku yakin, dia bukan orang sembarangan. Karena tidak mungkin orang biasa bisa menyusup masuk!"


Drip drip! Derap Suara ponsel Karina terdengar, wanita itu pun langsung bergegas mengangkat panggilan tersebut.


"Halo! Bagaimana kondisi disana saat ini?"


...


"Jadi polisi masih kesulitan mencari petujuk dalang dibalik sabotase dipestaku semalam?"


...


"Apa?! Kau melihat Vander dan Lara barusan keluar dari hotel rosevelt berdua pagi ini?"


...


"Baiklah!"


"Brengsek!" Karina melempar ponselnya karena geram. "Jadi Lara dan Vander tidak ada semalam ternyata mereka menghabiskan waktu semalaman!" Karina semakin tidak terima mengetahui hal itu.


"Tidak bisa ini semua sudah tidak bisa, aku tidak rela kalau Lara lagi-lagi mendapatkan apa yang aku inginkan! Mulai hari ini tidak ada main-main lagi. Aku pastikan kau akan hancur Lara Hazel!"


Obsesi Karina mengalahkan Lara membuatnya semakin larut dalam kebencian yang tak berujung.


Bersambung...

__ADS_1


TEMAN-TEMAN PLIS JANGAN LUPA BUAT DIVOTE, COMMENT DAN LIKENYA BUAT SEMANGATIN AUTHOR MAKASIH 💜


__ADS_2