
SIAP GRAKK.!!
Pergi untuk berjuang dan pulang karna cinta. ketika jarak memisahkan dan membuat kita jauh dari pasangan. hal yang pertama dilakukan adalah berdoa agar segera didekatkan hingga tidak ada jarak diantara kita. saat kekhawatiran menguasai pikiran, ingatlah ketika awal pikiranmu menuntunmu tanpa paksaan untuk menerimanya sebagai pasangan hidupmu. saat keraguan menghantam hatimu bagaikan gelombang air laut yang pasang surut, percayalah ia yang mencintaimu akan merasakan hal yang sama sepertimu dan hal itu akan merusak jiwa dan pikiranmu.
dalam hubungan berlaku hukum Tabur dan Tuai.! setiap benih kepercayaan yang engkau tabur, kelak engkau juga akan menuai hasil dari kepercayaanmu. begitulah ibaratnya Valen dan Valr yang tidak menempatkan keragu - raguan singgah dipikiran mereka. walau sesungguhnya keadaan mengharuskan salah satu dari keduanya untuk meragukan pasangan.
namun, kedewasaan dan kepercayaan satu sama lain yang dimiliki keduanya membuat mereka menuai buah kesabaran selama tujuh bulan. dimana Valen akhirnya sadar siapa yang ada dalam hatinya dan Valr juga kembali dengan selamat membawa jutaan kelembutan dan keromantisan dalam keluarga kecilnya.
Seperti saat ini Valr dan tiga babysitter sedang kerepotan dengan tingkah menggemaskan dari baby gemeli yang mulai mengeluarkan suara aliennya dan tentu saja hal ini. membuat, Valr semakin gemes dengan baby gemelinya
"kheekdfdkskkssksaka, huaaa ,, emm .eem" ucap baby boy yang mengundang tawa bagi suster Sofia
"baby boy, kamu sangat menggemaskan" ucap Sofia
"Ini pak, baby girlsnya sudah selesai dimandikan" ucap Sonya dan memberikan baby girls pada Valr
"terimakasih sus, kamu boleh istrahat" jawab Valr
Jangan tanya Valen dimana. ia sedang tidur pulas dengan tubuh telanjang dibalutkan dengan selimut. pertempuran semalam membuat seluruh badan hingga pinggangnya remuk tidak bertulang karna ulah Valr saat menggesekkan kartu ATM yang ia juluki black card limited edition.
"malaikat kecil papa. selamat pagi sayang, selamat hari minggu, apa kabar.? tau tidak papa, dalam 2 minggu ini akan berada dirumah bermain bersama kalian. karna papa mendapatkan jatah libur" ucap Valr dan baby girls merespon dengan menjulurkan lidahnya diluar berkali - kali. reaksi itu membuat Valr begitu bahagia karna, merasa baby girlsnya memberinya ruang untuk menebus kesalahannya saat Valen melahirkan. tanpa, ada Valr yang menani.
"uhukk .. uhukkk .. hay kelasih hatiku" ucap Vano yang pura - pura terbatuk, mencolek pipi gembul baby girls dan menatap Valr yang sejak tadi tidak menyadari kepulangan Vano dan berdiri sejak 30 menit lalu diambang pintu.
"bang Vano, sudah pulang ternyata" sapa Valr yang baru mengetahui kepulangan abang sepupunya
"ck.! ada anak, orang tampan kamu lupakan" sindir Vano
"terimakasih bantuannya bang selama aku tidak dirumah" ucap Valr dengan tatapan yang tulus dan bersyukur karna, Vano sangat menjaga kepercayaan dan mandat dari Valr. termasuk menjaga ke lima wanita yang dipekerjakan dirumahnya
"tidak usah sungkan, kita keluarga. aku mau sarapan dulu sudah lapar sangat" ucap Vano yang segera berlalu menuju meja makan.
"lihatlah sepupu papa, malaikat kecilku. dia langsung berlalu karna cemburu melihat kecantikan mu" ucap Valr pada baby girls nya
Sejak Vano mengetahui sebagian kisah Ita dari mbok Inem. dirinya tidak lagi makan diluar, sekalipun seluruh tubuhnya sudah gemetaran karna menahan lapar dan bela - belain pulang kerumah agar ada alasan untuk masuk kedapur dan bertemu dengan Ita. walaupun, bukti ditangan belum rangkum 10% untuk menyatakan Ita adalah tunangannya yang diberitakan meninggal saat kecelakaan pesawat. namun, ia mencoba untuk tetap optimis dan tidak ada salahnya untuk mencoba mencari tau identitas Ita yang sebenarnya.
sesampainya didapur Vano melihat lima wanita dan dua baby boy disisi kiri Loren dan disisi kanan Sofia. keduanya berada diatas Stroller baby does langger. mereka berkumpul diruang makan sambil bercerita. tapi, sepertinya pembahasan diantara mereka sangatlah serius. seketika Vano tersenyum melihat wajah Ita yang begitu serius menanggapi pembicaraan Sofia, wajah serius yang sama sekali tidak pernah diperlihatkan oleh Ita pada siapapun sebelumnya.
__ADS_1
"suittt .. suitt .. bapak ganteng tersenyum tanpa gejala" ucap Ita disela - sela pembahasan yang serius dan semua mata tertuju pada Vano dengan seragam lengkapnya sedang berdiri masih dengan senyum dibibirnya.
"uhukk .. maaf aku lapar sekali" ucap Vano pura - pura terbatuk mengatasi groginya dengan pandangan yang tertuju pada Ita.
"biasanya saat seperti ini, ketika kupandangi wajahnya terus menerus, kutatap terus kedua bola matanya dengan senyum. dia tidak akan pernah grogi, bahkan membalasku dengan senyuman yang mengoda" ucap Vano membathin, mengingat kembali masa ketika ia bersama dengan tunangannya dulu
"pak ganteng, hallo.? bapak tentara tidak jadi ganteng.? hallo" panggil Ita sejak tadi. tapi, sepertinya pak ganteng belum mau tersadar dari lamunannya hingga berakhir, muncullah ide Ita yang menarik lengan baju dinas Vano hingga tergeser melangkah kedepan.
"astaga Ita, kamu benar - benar ya" tegur mbok Inem pada ita
"iya, ada apa Ita.?" tanya Vano lembut
"itu pak ganteng, makanannya sudah tersaji" sambung Ita dan Vano melirik dimeja makan tersaji semua makanan dengan enam piring artinya mereka sarapan pagi bersama
"apa Valr, sudah sarapan.?" tanya Vano
"sudah pak ganteng dan kami kembali sarapan untuk kedua kalinya pagi ini, karna lauk nya menggugah selera" sambung Ita lagi.
"dasar, cantik - cantik perut buncit" sindir Vano
"mending pak, ketimbang cantik - cantik perut bunting" seloroh Sonya tanpa dosa dan berhasil membuat Ita, diam seribu bahasa. segera ia pergi kekamar mandi untuk meneteskan air matanya, terirat sekilas rasa sakit hati dari Ita atas ucapan Sonya. tapi, sesungguhnya Sonya tidak bermaksud menyindir Ita melainkan itu kalimat yang terucap secara spontan karna memang dia dan Ita sebelumnya tidak saling kenal satu sama lain.
"kamu seperti baru kenal Ita saja suster Sofia" jawab Loren dan diangguki oleh Vano seakan membenarkan pernyataan Loren
.
.
.
30 menit berlalu Ita kembali bergabung dimeja makan dengan pakaian yang baru dan rambut basahnya.
"wah .. Ita, kamu berhasil membuat kami menunggu dimeja makan. ternyata, kamu pergi mandi" ketus Vano
"hahaha .. ternyata kita menunggu Ita segar" canda Sonya
"hais pak ganteng, kalau kita semua disini belum mandi. lalu, siapa diantara kita yang merasakan wangi diantara bau" ucap Ita
__ADS_1
"enakk saja, kami masih wangi baby ya" jawab Loren
"ayo makan, saya sudah sangat lapar" ajak Vano dan sarapan pagi berjalan sangat baik hingga bunyi telepon Sofia berkali - kali mengundang perhatian mereka tapi, tidak ditanggapi oleh Sofia dan lagi - lagi mata tertuju padanya.
"kenapa tidak diangkat sus" tanya mbok Inem
"saya tidak mau terganggu saat sedang makan mbok" jawab Sofia dengan sopan
"apa sekarang, kamu sudah tidak takut lagi diputuskan suster Sofia.?" tanya Sonya kembali keceplosan
"tidak suster Sonya, lebih baik melepas dari pada bertahan namun, menyakitkan" jawab Sofia lemas.
"pilihan yang tepat.!" tegas Vano
"terimakasih pak" jawab Sofia sopan dan tersirat kesedihan dibola matanya saat menatap layar ponsel.
"jangan egois suster, angkatlah selagi ia ada waktu untuk mengingatmu" sambung Ita
"tidak mbak Ita, tidak ada yang harus dibicarakan" jawab Sofia kekeh
"berpisahpun harus dibicarakan suster Sofia" jawab Ita lagi seakan ngajak debat
"apa mbak Ita, juga seperti itu.?" tanya Sonya
"tidak.! aku tidak seperti itu. karna, aku tidak mengingat siapa kekasihku atau suamiku dan siapa aku. jika, saja aku diberi waktu mengingat maka tidak ku sia - siakan semua waktu ketika kekasihku menghubungiku sekalipun saat aku sedang marah" jawab Ita sedih bercampur bahagia entah kenapa dua rasa itu bercampur dihatinya.
Vano, mbok Inem dan ketiga babysitter lainnya diam dan memberikan senyum tulusnya pada Ita karna, mereka sudah mendengar semua cerita dari mbok Inem dengan izin Ita.
"Maaf mbak Ita, tapi. aku tidak sekuat dirimu.! aku wanita yang takut sekali ditinggal pergi oleh kekasih dan termasuk orang terdekatku" Sofia menundukkan kepalanya, rasa keibuan dan jiwanya yang penuh kelemah lembutan membuatnya cepat sekali bersedih.
"Suster Sofia, jangan pernah takut jika lelakimu pergi suster Sofia. seharusnya yang perlu kamu takuti itu ialah jika, dia tidak pergi memilih tetap bersamamu. tapi, hatinya milik orang lain. bagaikan tubuh tidak beraga, sayur tanpa ajinomoto" seloroh Ita dan berhasil membuat semua tertawa termasuk Valen dan Valr yang berdiri dipintu
"bapak, nyonya.?" ucap Sonya kaget dan segera berdiri
"duduklah suster Sonya, sudah berkali - kali kukatakan anggaplah rumah sendiri dan jangan menempatkan diri pada posisi pekerja melainkan anggota keluarga namun, taat aturan" ucap Valen tegas dan diangguki oleh mereka.
Tapi, sepertinya semua mata tertuju bukan pada ucapan Valen. melainkan, pada leher hingga paha Valen yang saat ini memakai celana pendek dan pakaian terbuka dimana terpampang sangat jelas stempel merah diseluruh leher hingga paha Valen yang putih mulus.
__ADS_1
"sepertinya lampu yang padam semalam ulah seseorang agar menganu" ucap Ita yang belum disadari oleh Valen dan Valr
Hayo .. hayo .. Valen pasti malu, stempel apakah itu.? kenapa sampai paha🤣🤣