
...SALIB YANG DIPIKUL...
Di temukan nya Li Qin membuat Tanaka sebisa mungkin dan sesering mungkin, ingin selalu mengungkapkan rasa syukur dan cinta serta memberi penghargaan setinggi-tinggi nya kepada Tuhan. Karena telah memberikan kesempatan untuk menemukan wanita masa kecil yang telah menduduki posisi sebagai kekasih hati sekaligus orang yang di sayangi nya.
Sekalipun mereka belum menjadi pasangan kekasih tapi, melihat Li Qin dalam keadaan hidup sudah sangat membuat nya bahagia tidak harus jadi kekasih. Saat ini Tanaka masih belum siap untuk memberikan kabar kepada ibu nya Li Qin kalau putri kesayangan nya sudah berhasil di temukan dalam keadaan hidup, karena ia masih terbayang dengan isak tangis serta kehancuran sang ibu ketika ia kembali beberapa waktu yang lalu dikampung tanah kelahiran nya dan Tanaka mengkhawatirkan kondisi mental serta fisik sang ibu Li Qin jika mengetahui keadaan Li Qin yang begitu memprihatinkan.
"Tunggu Li Qin benar-benar pulih seperti semula barulah nanti aku langsung membawa Li Qin bertemu dengan orang tua nya" jawab Tanaka lagi dan hal itu hanya di angguki oleh Laura.
"Kau yakin ibu mu tidak membocorkan nya lebih awal.?" kata Laura lagi
"Aku akan membicarakan ini pada papa ku" kata Tanaka.
"Ibu mu hanya terlalu gegabah dan shock dengan semua yang terjadi dan mengira kalau kamu dan ayah mu sedang menyerang Valdis, hingga ia tidak memiliki waktu untuk berfikir, Eehmm.. Aku hanya mau bilang kalau ucapan dari ibu mu jangan terlalu masukkan ke dalam hati" Laura mencoba mengingatkan kepada Tanaka yang seperti nya begitu enggan melihat dan menyapa ibu nya.
"Seperti nya aku butuh ruang bersama Li Qin" kata Tanaka tanpa mau merespon ucapan terakhir Laura mengenai sang ibu.
"Baiklah, seperti nya kamu memang butuh ruang untuk sendiri." Jawab Laura dan ia langsung keluar dari kamar Tanaka.
Sejak kepergian atau lebih tepat nya hilang nya Li Qin, Laura dan Valdis sering berkomunikasih tentang beberapa hal yang mungkin Li Qin terlibat dan bisa di jadikan patokan untuk memulai pencarian. hingga ke dua nya bisa sebersahabat sekarang ini, semua itu di sebabkan karena komunikasi keduanya yang nyambung tanpa ada embel-embel, pada hal jika dipikir-likir sebelum nya Tanaka selalu bersikap dingin pada Laura dan tidak ada niatan untuk menyapa sedikit pun kecuali kepada prof.
*
__ADS_1
*
*
Satu jam setelah kepergian Laura meninggal Tanaka dan Li Qin yang masih tertidur di ranjang pasien di dalam kamar pribadi Tanaka, Selama satu jam pula Tanaka menunggu Li Qin membuka mata nya yang seperti nya enggan untuk terbuka.
"Apa kah kau selemah itu hingga membuka mata mu saja di siang hari begitu sulit" kata Tanaka sambil mengelus setiap luka yang mulai mengering dan harus di akui kalau obat dari dokter pribadi keluarga nya itu sangat luar biasa.
engh.. Li Qin perlahan mengerang kecil karena tidurnya mulai terusik dengan sentuhan-sentuhan Tanaka pada mulut luka yang belum sepenuh nya tertutup.
"Bangunlah, aku rindu suara mu" kata Tanaka dan Li Qin perlahan membuka mata nya, ia berusaha menetralkan pandangan mata nya dari silau sinar matahari yang menembus kaca jendela.
"Kau hanya salah waktu saja" kata Tanaka "Sekarang sudah siang, mungkin sebentar lagi akan menjadi sore dan kau malah masih betah dengan sapaan pagi mu pada hal jelas-jelas matahari telah menembus kepala mu sekarang" kata Tanaka dan Li Qin pun tersenyum, kali ini senyuman di wajah nya mulai tampak karena lebam dan bengkak yang ada di wajah nya sudah mulai pulih.
Mendengar perkataan Tanaka, Li Qin baru menyadari kalau ternyata ia tidur terlalu lama hingga melewati pagi. "Kau semakin gagah saja Tanaka" puji Li Qin
"Kau juga semakin jelek" kata Tanaka, karena ia bingung bagaimana cara merespon Li Qin. Lebih tepat nya ia takut kalau mengatakan Li Qin cantik dalam kondisi seperti ini malah jadi bommerang dan kesedihan bagi wanita itu dan beruntung Li Qin semakin tersenyum.
"Haha.. seperti nya aku harus terus seperti ini agar terus mendapatkan pujian yang tulus dari mu" kata Li Qin, lega rasa nya karena ucapan Tanaka tidak membuat Li Qin tersinggung ataupun sedih.
Tanaka menatap lekat nanar pada wajah Li Qin, ia melihat sebuah trauma besar yang berusaha ditutupi oleh wanita itu dan di dalam sana terdapat kesedihan juga ketakutan yang begitu besar. Dan semua itu sedang mati-matian di sembunyikan oleh nya agar seolah terlihat semua baik-baik saja, semua ia tutupi dengan senyuman yang di ada-adakan.
__ADS_1
"Aku bahagia kau masih bisa untuk berpura-pura kuat" sindir Tanaka pada Li Qin yang masih terus menatap diri nya dan Li Qin yang terus di tatap jadi merasa salah tingkah, sampai beberapa kali membawa jari telunjuk nya untuk bertemu gigi lalu menggigit nya kecil untuk menghilangkan ke gugupan nya.
"Hah.. jangan memandangi ku seperti itu" tegur Li Qin yang sudah tidak bisa lagi menangkis tatapan aneh dari Tanaka
"Jangan bilang kalau kau merindukan tatapan mata ku yang tidak kau lihat selama lebih dari tiga tahun, hingga saat ini ketika aku memandangi mu kau menjadi semakin terpanah" goda Tanaka dan seletika wajah pucat pasif Li Qin mulai memancarkan semburat merah merona di wajah nya.
"Ternyata selain kau yang semakin gagah, kau juga semakin tidak tau diri" ketus Li Qin dan itu membuat Tanaka tertawa terbahak-bahak karena berhasil membuat Li Qin kesal.
Dari kejauhan Valensia memandangi interaksi Li Qin dan putra nya Tanaka, sebelum nya ia tidak pernah melihat senyuman dan tawa lepas dari bibir putra sulung nya itu. tapi dengan Li Qin, ia dapat melihat dengan bebas dan sepuas nya tawa serta semburat kebahagiaan dari Tanaka.
"Pemandangan yang sangat indah bukan.? ketika kamu bisa melihat sumber kebahagiaan yang sesungguh nya, yang putra mu inginkan.?" kata Valr yang telah berdiri di belakang Valensia sejak tadi, ia juga melihat senyum Valensia yang begitu hangat pada putra nya.
"Aaah.. iya" jawab Valensia sedikit terkejut dan ketus, karena Valr dan Valensia masih belum bermaafan sejak kejadian semalam.
"Tahun keberapa ini, kau masih menggunakan perilaku ngambek mu pada suami mu.?" tanya Valr dan Valensia yang memang tidak bisa marah dengan lama pada suami nya langsung memeluk Valr dengan manja seperti tingkah nya yang dulu.
"Maafkan aku, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak marah" kata Valensia dengan air mata nya
Valr yang membalas erat pelukan sang istri sambil mengelus punggung kecil dan imut istri nya juga ikut meminta maaf pada Valensia "Maaf, aku tidak tau dari mana memulai semua cerita ini pada mu hingga kamu bertindak gegabah seperti orang bodoh. tapi, ini lah salib yang harus kita pikul dan hadapi bersama sebagai orang tua"
Hei.. Leader, habis baca pencet itu jempol 👍 tanda like.! jangan asal baca saja, lupa buat ngelike🙄 cepat like dan itu vote nya sekalian jangan lupa apa lagi sungkan🙄 noh, terakhir jangan lupa VOTE VOTE nya kudu bintang ⭐⭐⭐⭐⭐ jangan kurang ye.. bye..bye..bye
__ADS_1