
INGAT YA.!
👉TANAKA itu, yang dulu kalian kenal dengan nama VALDI.
👉ALANA itu, yang dulu kalian kenal dengan nama LI QIN.
👉Kenapa nama mereka berubah.? jawabannya baca EPISODE 189.!
Menunggu adalah sesuatu hal yang sangat membosankan bagi semua mahkluk hidup di Bumi pertiwi ini, dimana mereka harus dihadapkan antara iya dan tidak, ada dan tiada. terkadang sabar kadang juga lelah memilih berhenti akan tetapi halnya berbeda dengan Tanaka dan Alana dimana Tanaka menunggu Alana membuka hati dan Alana menunggu Valdis memberi kepastian mereka saling menunggu sesuatu yang belum pasti iya.
Malam ini, suasana sedikit tidak bersahabat karna hawa panas tidak seperti malam sebelumnya ada angin sepoy - sepoy yang menyapa setiap malam dingin. benar - benar k
malam ini angin seakan enggan untuk masuk dalam kamar Tanaka sampai ia harus membuka bajunya karna keringat yang melucur deras didada bidang yang sempurna ditambah dengan pemandangan syahdu yang terpampang jelas roti sobeknya yang hampir terbagi dua belas kotak membuat semua mata yang melihat pasti akan memberikan diri secara cuma - cuma.
Malam itu dengan tujuan sekedar berbasa - basi saja bersama Tanaka, Alana memutuskan untuk pergi kekamar lelaki tampan yang dingin itu setelah mengetahui kalau Tanaka sudah dikamarnya. tanpa ada pikiran untuk mengetok lebih dulu, justru Alana menerobos masuk kedalam kamar dan tentu saja hal itu mengalihkan perhatian Tanaka yang sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
"Astaga" kata Alana kaget melihat pemandangan yang sempurna ditambah lagi keringat yang membasahi dada Tanaka membuatnya meneguk ludah bak air putih dalam satu gelas
"kenapa kau melototiku seperti itu" tanya Tanaka
."aaah, sempurna" jawab Alana
"apa kau sedang menggodaku, Alana.?" tanya Tanaka
"ckk dasar otak mesum" jawab Alana
"lalu ada apa Alana.? apa kamu sedang kangen padaku.?" tanya Tanaka
"hahahaha, iya aku kangen pada wajahmu tapi bukan namamu" jawab Alana tanpa dosa dengan polos
"aaaah, Valdis maksudmu.?" tanya Tanaka dan seketika wajahnya berubah dari baik kegeram, iapun meletakkan ponselnya diatas meja tanpa mematikan yang artinya seseorang itu juga bisa ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
"apa yang bisa ku bantu.?" tanya Tanaka pada Alana namun dengan aura yang sedikit mematikan.
__ADS_1
"aaaa.. ti.. tidak, tidak jadi" kata Alana
"kenapa.? katakanlaah, aku akan membantumu" kata Tanaka
"ckk, membantu mamak mu.! dengan auramu yang seperti ini saja kurasa virus coronapun takut mendekatimu apa lagi berniat masuk dalam tubuhmu untuk mengusikmu.!! apa lagi aku yang melihatmu langsung jadi membuatku kehilangan pertanyaan.!" kata Alana dalam hati.
"berhenti membayangkan tubuhku Alana, karna aku tidak akan memberikannya dengan cuma - cuma." kata Tanaka
"ckk, kenapa omonganmu tidak bisa disaring dulu pakai saringan teh" kata Alana sadar dengan pikirannya
"lalu kamu sedang apa dikamar laki - laki yang setengah bugil ini ditengah malam.?" tanya Tanaka
"heh.! aku tidak akan berbuat apa - apa padamu seperti ysng dipikiranmu bodoh" ketus Alana
"ppfft.." terdengar suara tawa dari telepon pandangan Tanaka dan Alana mengarah kesitu
"tunggu sebentar" kata Tanaka pada seorang lawan bicaranya ditelepon
"Alana kamu jangan percaya terlalu banyak, jangan juga mencintai terlalu banyak dan terakhir jangan berharap terlalu banyak.! sebab terlalu banyak rasa yang kamu simpan akan melukai hatimu dengan begitu banyak juga" kata Tanaka yang menebak kalau sekarang Alana sedang memikirkan suara yang tidak asing lagi ditelinganya
"aku sudah percaya sangat dalam" jawab Alana dengan pandangan masih pada ponsel Tanaka
"berhenti berharap Alana, itu akan menjadi usaha yang sia - sia bagimu" sambung Tanaka
"tidak akan ada yang sia - sia selama aku setia" jawab Alana
"sampai kapan kamu akan teruss seperti ini.? kamu sudah banyak membuang waktu untuk perasaan mu sendiri Alana" kata Tanaka tegas dengan tersirat seribu kecemburuan dinada bicaranya
"sampai aku tau dia bukan untukku" jawab Alana yang kini memandang kosong kearah dinding kamar Tanaka
"kamu sudah paham dengan kemungkinan yang terjadi lalu kenapa hati mu bisa sekeras ini Alana.?" tanya Tanaka sedikit membentak
"karna Ketika aku dan hatiku memilih dia untuk ku cintai, sejak itu aku yang lebih dulu memberikan rasa cinta untuknya dengan sangat tulus menurut kemampuan hatiku. Tetapi, tidak untuk menerima balasan dari rasaku.! aku hanya memberikan cintaku tanpa berharap dia kembali memberikan rasa cintanya untukku" jawab Alana
__ADS_1
"Seperti Cinta tanpa syarat.?" tanya Tanaka mencoba menggali seberapa besar rasa cinta Alana pada kembarannya
"ya, katakanlah seperti itu cinta tanpa syarat.! aku memiliki makna tersendiri dan arti yang mendalam dihatiku, tetang bagaimana aku harus setia dengan cintaku. karna aku mencintai dan menghargai orangnya.! tapi kalau untuk siapa mereka memberikan cinta itu sebenarnya terlepas dari tanggung jawabku, aku hanya menjalankan tugasku untuk mencintainya Tanaka termasuk ketidak sempurnaannya." kata Alana tanpa memandang wajah Tanaka
"apa itu termasuk dalam arti bahwa kamu benar - benar tidak peduli seberapa sakitnya hatimu ketika dia bukan untukmu.? kamu sedang mencintai apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki.? tanya Tanaka seakan ingin jawaban pasti
"aku menerima kelebihannya dan sangat mencintai kelemahannya dalam segala hal termasuk saat ia sama sekali tidak mengingatku atau bahkan tidak lagi sama sekali bisa kugapai Tanaka, saat aku menunggunya bertahun - tahun tanpa kabar padahal aku sudah berada diatap yang sama dengan saudara kandungnya dan aku masih menunggunya hingga saat ini setidaknya menyapaku" jawab Alana teguh
"tapi Alana, apa itu bukan opsesi untuk memilikinya.?" tanya Tanaka lagi
"Opsesiku adalah mamaksanya untuk kembali bukan untuk memilikinya karna cintaku untuknya tidak pernah menuntut untuk memaksanya bersamaku.! bahkan kalaupun pikiranku seperti itu, hatiku akan menghukumnya secara brutal" jawab tegas Alana
"tapi, Alana.!" tegas Tanaka namun Alana cepat menyela sebelum Tanaka melanjutkan perkataannya
"anggap saja ini Unconditional Love, mencintai tanpa pamrih tanpa berharap adanya balasan atau apapun itu dan aku selalu siap membahagiakan nya yang belum pasti akan jadi pasanganku" kata Alana.
"ini gila Alana.!" teriak Tanaka dengan nafas yang memburu dan berhasil mengagetkan Alana juga Vini yang kebetulan masuk dikamar Tanaka
"kakak.??" kata Vini pada keduanya dan melihat iba kepada Tanaka dan juga Alana
"KELUARRRRR.!!!" teriak Tanaka pada Alana, dia sepertinya tidak bisa lagi menahan gejolak emosi kecemburuan dalam dirinya
"Kakak.!" tegur Vini pada Tanaka yang langsung memeluk tanaka memberikan ketenangan disana
"Tanaka.? kau marah.?" tanya Alana
"keluarlah kak Alana, jangan lagi bertanya.!" tegas Vini yang masih memeluk Tanaka dan mengelus punggung Tanaka dengan tangannya yang gemetaran, setiap kali Tanaka seperti ini karna kecemburuannya terhadap Alana maka Vinilah yang menenangkan Tanaka
"Vini, jaga dia untukku" kata Alana pada Vini
Hayoo.. ada apa ini.?
Lalu siapa yang sebenarnya sedang menghubungi Tanaka sebelum Alana masuk ke kamarnya sampai Tanaka memilih untuk tidak mematikan sambungan telepon.?
__ADS_1