
...TIDAK ADA PASIEN YANG MAU MENINGGAL...
Memang dalam memilih dan memutuskan sesuatu kita pasti akan di hadap kan dengan berbagai tantangan yang begitu sulit untuk di tangani, apa lagi jika harus mengalah demi orang lain atau ke dua nya sama sama mengalah demi salah satu di antara mereka karena ke dua nya tidak ingin berada dalam lingkaran cinta segitiga yang menyesatkan.
Seperti contoh nya seorang Li Qin yang mengalah di antara Ele dan Tanaka sedangkan Ele juga mengalah untuk Tanaka dan Li Qin, walaupun Ele masih belum bisa melakukan apa apa karena diri nya yang selalu saja mengalah dan tunduk pada apa yang di katakan oleh Tanaka sang lelaki tamak. Berbeda dengan Li Qin yang tetap mempertahankan keras kepala nya dan tidak mau mengalah ataupun tunduk pada apa yang telah di perintahkan oleh Tanaka, wanita itu justru semakin tangguh dan mulut nya semakin tajam saja.
Kalau rencana yang di harapkan harus nya sebuah keberhasilan maka rencana yang sudah di buat sedemikian sempurna oleh Li Qin kini harus ia nyatakan sukses di awal dan gagal pada akhir rencana yang selesai ia lakukan, sungguh ini rencana yang benar benar gagal toral dari tujuan awal Li Qin, karena rencana dan tujuan awal nya adalah membuat Tanaka membenci nya setelah ia bersikap kasar dan menolak lelaki tamak itu dengan mentah.
Tetapi semua berbalik setelah semua rencana di jalan kan oleh Li Qin dan hal akhir yang terjadi ketika semua telah ia laksanakan sesuai dengan rencana nya malah sebalik nya, dimana ia tidak berhasil membuat Tanaka menjauh melainkan membuat Tanaka semakin bersemangat untuk mendekat dan menangkap diri nya. Seperti saat ini tubuh nya di bawa dan di banting hingga berada di atas ranjang Tanaka yang sudah dua kali mencumbui nya setiap kali ia mengumpati Tanaka, di tambah lagi ia sudah di kurung berdua di dalam kamar itu dengan Tanaka yang memegang semua akses berupa kunci untuk membuka pintu.
Masih di ruangan yang sama yaitu di dalam kamar lelaki tamaka dengan jiwa memerintah dimana saat ini Tanaka tengah mandi, sebetul nya lelaki tamak itu sengaja membasahkan tubuh nya ke air yang begitu dingin hanya untuk meredam satu jiwa yang tidak bisa ia kontrol dan bisa membuat nya menyakiti atau membunuh Li Qin detik ini juga secara sadis. Sedangkan Li Qin yang memang sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi dan tau pemberontakkan yang di lakukan akan berujung dengan sangat sia sia lalu, memilih untuk tidur saja di tambah lagi karena ranjang tempat tubuh nya rebahan yang saat ini ia tempati begitu nyaman dan empuk hingga membuat nya berhasil tertidur pulas di tengah kekacauan dan ke frustrasian nya.
__ADS_1
Dua jam berlalu setelah Tanaka selesai dengan ritual mandi nya kini lelaki tamak itu memilih duduk di kursi santai yang memang di sediakan dalam kamar nya dengan mata elang milik Tanaka masih memantau Li Qin yang benar benar tertidur dengan pulas di atas kasur empuk nya, selama dua jam itu juga Tanaka berjuang mati matian mengontrol jiwa ke dua nya yang begitu ingin membunuh Li Qin saat tidur.
Semakin Tanaka menatap tidur pulas wanita cantik yang baru pertama kali setelah lebih tiga tahun lama nya datang ke kamar pribadi nya, semakin besar juga rasa ingin segera menghancurkan Li Qin dan menggunakan situasi saat ini sebagai kelemahan dan kelengahan target karena, sesuatu dalam diri nya jika sudah muncul yang sungguh tidak akan pandang bulu. Ia bisa saja membunuh Li Qin tanpa ada jejak sama sekali, itulah yang sedang berusaha di kontrol oleh Tanaka.
Di lantai bawah tepat nya tempat Laura berada, seorang wanita cantik anak tunggal dari sang profesor Alex Minang tengah merasakan kegelisahan yang besar setelah mendengar dari mulut Ele kalau Li Qin di bawa paksa oleh Tanaka ke kamar nya sejak lima jam yang lalu ke lantai tiga dan, ditambah lagi rasa ketakutan dan khawatir nya semakin meluap kala Tanaka menelepon Laura dengan pesan yang tidak bisa di bantah agar diri nya dan Ele tidak ke lantai tiga dan mengganggu mereka berdua, padahal Laura tidak pernah menginjakkan kaki ke lantai tiga karena merasa kurang sopan.
"Ele, apa kau yakin setelah ini Li Qin pulang dengan tubuh sehat jasmani dan rohani.?" tanya Laura yang menggigit jempol kanan nya, petanda wanita itu begitu khawatir pada Li Qin.
"Ele, bagaimana ini.! aku tidak mungkin memberitahukan hal ini pada mami dan papi ku, kamu taukan kita disini hanya menompang saja dan pasti nya apa yang telah di mandatkan oleh pemilik rumah tidak boleh kita bantah" jelas Laura, sungguh ia sangat mengkhawatirkan kondisi Li Qin.
"Aaaku tidak tau, sungguh aku bingung memprediksi nya" ucap Ele..
__ADS_1
Laura yang teringat dengan sesuatu, memberitahukan kepada Ele "Yaampun Ele, syukurlah tadi aku sempat berbicara pada Santo mengenai mobil ambulance dan Santo bilang tidak masalah dan terserah mau di kembalikan kapan karena beberapa hari ini tidak ada pasien yang mau meninggal di rumah sakit" jelas Laura lagi ketika tadi Santo sebagai direktur rumah sakit menelepon Laura karena Li Qin tidak kembali setelah waktu yang ia janjikan dan Laura tanpa menyembunyikan apapun berkata jujur dan menjelaskan semua nya tanpa ada yang di kurangi.
Ele yang heran dengan perkataan yang baru saja ia dengar dari Laura, bertanya dengan wajah yang menahan tawa "Laura, kamu kira ada manusia yang mau meninggal.?" tanya Ele, sungguh ia ingin tertawa mendengar ucapan terakhir Laura di tengah ketakutan dan rasa khawatir nya pada Li Qin tapi, waktu nya tidak tepat untuk ia tertawa pada kelucuan ucapan Laura.
"Sudalah lupakan saja" ucap Laura
"Tapi, mobil ambulance.?" tanya Ele sedikit bingung "kenapa ada mobil ambulance.? maksud ku kenapa, direktu rumah sakit menanyakan mobil ambulance" tanya Ele pada Laura
Laura yang mendapatkan pertanyaan itu refleks menutupi kebohongan nya dengan elegan "karena Li Qin datang kesini dengan mengendarai mobil ambulance" ucap Laura tanpa ada ekspresi yang mencurigakan.
Hei.. Leader, habis baca pencet itu jempol 👍 tanda like.! jangan asal baca saja, lupa buat ngelike🙄 cepat like dan itu vote nya sekalian jangan lupa apa lagi sungkan🙄 noh, terakhir jangan lupa VOTE VOTE nya kudu bintang ⭐⭐⭐⭐⭐ jangan kurang ye.. bye..bye..bye
__ADS_1