TENTARA PENGGANTI

TENTARA PENGGANTI
VLT 213


__ADS_3

...HARI YANG CERAH, TAHUN YANG LALU...


"Hari minggu yang cerah" ucap sersan Ucok dengan semangat yang redup dan tatapan nya pada langit-langit biru yang cerah.


"tapi, terasa seperti tahun yang lalu" jawab Tanaka, wajahnya tidak segarang dulu lagi. Melainkan sekarang aura Tanaka lebih dingin dan mendominasi serta tatapan nya lebih mematikan, didalam sorot matanya berisikan keputus asaan karena kasus Li Qin yang belum ada titik terang nya.


"tiga tahun sudah kita melalukan pencarian dengan berbagai cara dan penyelidikan, akan tetapi tidak ada satupun yang berhasil dari semua cara" sambung Bambang.


"Mungkinkah ini namanya perjuangan yang harus dihentikan saat ini juga.?" jawab sersan Ucok dan Bambang menatapnya dengan tatapan nyalang.


"Apakah kau, sudah tidak setia kawan lagi.?" tanya Bambang pada Ucok


"Bukan, akan tetapi pihak polisi sudah menghentikan penyelidikan dan pencarian nya hari ini. aku bahkan tidak bisa lagi memikirkan cara apa lagi yang harus kita pakai dan bagaimana kondisi Li Qin saat ini, aku hanya berharap dalam kondisi apapun dia harus tetap hidup.!" jawab Ucok yang diangguki oleh Bambang.


"Bagaimana kalau kita meminta bantuan ayah mu.?" kata Bambang yang tiba-tiba saja memiliki ide.


"Betul, bukankah beliau hingga kini masih dijuluki setan senjata api karena kelihaian dan taktik luar biasa yang beliau miliki dalam melumpuhkan lawan.?" sambung Ucok.


Ya.. benar, hingga kini tuan Hul memang belum turun tangan dalam kasus Li Qin yang tiba-tiba hilang di malam kematian Vini. walau begitu, tidak ada satupun yang berani menduga kalau Li Qin adalah dalang dari apa yang terjadi pada Vini, justru Li Qin dianggap dicuri oleh orang suruhan atau musuh bebuyutan mereka.


"Aku akan mencobanya" jawab Tanaka dengan dingin dan auranya benar-benar mematikan.


*

__ADS_1


*


*


Senja mulai terlihat dengan kondisi langit yang setengah gelap sesaat matahari sedang ingin tenggelam. dan akan segera menyisakan cahaya jingga yang terkadang memiliki banyak warna yang memilukan hati Tanaka.


"Li Qin, sekarang kamu berada dimana dan sedang melakukan kegiatan apa.? aku merindukan dirimu, aku benar-benar tidak tau kamu berada dimana dan melakukan hal apa seperti waktu dulu. Dulu kita memiliki janji, bisakah kau tepati dulu sebelum kau hilang, agar aku bisa kuat berharap untuk nenemukan mu." Mata sendu yang bersorotkan kekosongan dengan bibir keluh yang penuh dengan umpatan dan kerinduan.


"Hari-hariku semakin suram dengan hilangnya dirimu, tidak biasanya kau seperti ini Li Qin.!" kata Tanaka dalam kesendiriannya, terasa kepedihan dan kepiluan seolah tubuhnya bisa merasakan sakit yang dirasakan oleh Li Qin. gadis yang ia sukai sejak masih kecil dan enggan untuk menemukan cinta lain selain Li Qin


"Seberapa suram hari-harimu selama tiga tahun ini.?" tanya Valdis yang datang tiba-tiba dengan raut wajah masam dan suramnya


"Tidak sesuram tatapan matamu.!" tegas Tanaka


"ck.. kau terus menangisi dia yang entah berada dimana" ketus Valdis dan semua respon yag diberikan Valdis tidak pernah dicurigai oleh Tanaka berhubung kembarannya sudah seperti itu sejak dulu, ia memiliki sifar dingin dan tidak tersentuh dan juga sulit untuk memprovokasi apa lagi menasehati kakaknya yang kepala batu.


"lalu.??" tanya Valdis seolah ingin cerita lebih dari Tanaka.


"Sejak saat itu aku mencoba untuk selalu dekat dengan Li Qin dan mulai dari pura-pura bersikap dingin, sekedar bertanya tentang beberapa hal yang tidak penting ataupun tentang dirinya dengan aura dingin agar ia tidak mengetahui betapa aku kagum padanya, aku rasa dia juga merasakan kalau aku ingin selalu dekat dengan dirinya, setelah aku merasa kalau aku sudah bisa mendekati dirinya dia pun sudah menganggapku ada dan seolah nyaman denganku." sambung Tanaka


Dan Valdis berdiri tegap, mata elang yang tajam dan tidak akan pernah goyah dalam sikap berdirinya, terus mendengarkan semua cerita yang keluar dari mulut sang adik kembar nya.


"Apakah hanya aku yang memiliki rasa seperti ini.?" tanya Tanaka seolah memberikan nada sindiran mengingat dulu Valdis begitu menyukai Li Qin.

__ADS_1


"Mungkin aku juga, memilikinya.! tapi, aku tidak boleh mengkhianati Vini lebih jauh lagi" tegas Valdis dan seolah tidak meminta balasan lagi dari kembaran nya, didalam nada bicaranya juga terdapat nada-nada kesedihan yang mendalam serta penyesalan yang besar namun entah ditujukan kepada siapa.


"Baiklah, aku akan mencarinya walau umurku habis oleh pencarian nya" jawab Tanaka memutuskan dan langsung pergi begitu saja.


"carilah, sampai kau tua dan beruban" canda Valdis yang tidak diopeni oleh Tanaka, justru ia hanya melambaikan tangan kanan nya sebagai simbol terserah.


"Aku yakin kau juga mencarinya diam-diam, dan aku berharap akulah yang menemukan nya" sambung Tanaka yang terdengar seperti teriakan kecil


"Kau tidak akan menemukannya sebelum aku puas menyembunyikan nya." gumam Valdis dan disaat yang sama Tanaka berhenti dan langsung berbalik menatap punggung tegap Tanaka dengan ribuan kupu-kupu yang membawa seribu tanya yang sama.


"Kak.." Panggil Tanaka dengan lembut, dan Valdis langsung menoleh dengan kedua tangan yang dimasukkan disaku celana disertai tatapan dingin yang seorangpun tidak bisa melihat isi pandangan nya.


"Aku masih adik mu.!" tegas Tanaka pertanyaan nya menghadirkan satu tanya dibenak Valdis.


"Aku, tetap kakak mu" jawab Valdis dengan tegas dan seolah kedudukan nya tidak boleh diganggu gugat.


"Berhentilah menipu dirimu, seolah semuanya salah dan kau benar" lanjut Tanaka, sebetulnya tidak ada maksud dari ungkapan nya. hanya saja ia merasa kalau selama tiga tahun ini, sang kakak merasa bersalah atas kepergian Vini dengan cara yang tragis dan tidak mampu menolong, juga tidak berhasil menjadi sandaran untuk kekasihnya berbagi cerita dipundak sang kakak, hingga semua hal benar tetap salah dimatanya.


"Semua yang kulihat salah akan salah dan benar biarkan itu tetap benar.!" tegas Valdis yang hanya diangguki tanpa ragu oleh Tanaka dan iapun segera berbalik pergi tidak menoleh kebelakang lagi.


Kepergian Tanaka terus dilihat oleh Valdis hingga hilang dari pandangan nya, ia menatap punggung lebar dan kokoh yang lebih atletis darinya, badan tegap dan tinggi yang menggambarkan bahwa sang adik tidak bisa dikalahkan.


"termasuk wanita yang kau rebut dariku, adalah sebuah kesalahan.!"

__ADS_1


"Tidak menyukai tapi, mencintai.! sangat menyayangi namun selalu menyiksa. ck.. ini begitu menarik bagiku" gumam Valdis dengan senyuman smirk yang menakutkan.


Hei.. Leader, habis baca pencet itu jempol 👍 tanda like.! jangan asal baca saja, lupa buat ngelike🙄 cepat like dan itu vote nya sekalian jangan lupa apa lagi sungkan🙄 noh, terakhir jangan lupa VOTE VOTE nya kudu bintang ⭐⭐⭐⭐⭐ jangan kurang ye.. bye..bye..bye


__ADS_2