
...LUKA HATI IBU KANDUNG...
Ditengah malam yang hanya ada suara jangkrik.
Tok.. tok.. pintu di ketuk dengan sangat kuat, seoalah sipelaku tidak sabar dan kehilangan etika dalam berkunjung, terutama saat mengetuk pintu rumah orang lain yang hampir seperti ingin mendobrak pintu.
"Buk, ini sudah larut malam" tegur satpam yang melihat jam sudah menunjukkan pukul 23:00 WITA "Tuan dan nyonya beserta tuan muda sudah pasti tidur dan sangat tidak baik jika bertamu tengah malam, apa lagi membangunkan mereka" sambung satpam, mungkin lebih tepat nya penjaga yang juga adalah seorang abdi negara.
"TANAKA.. TANAKA... BANGUNLAH.." teriak si ibu tanpa memperdulikan perkataan penjaga yang menegur nya, wanita tua itu masih keras kepala berteriak, dan tentu nya gedoran pintu yang kuat membuat petugas kewalahan, serta mengusik tidur nyonya Valensia beserta suami. sedangkan, Tanaka hanya memandangi dengan malas seorang ibu yang sedang menggedor pintu dari balkon lantai atas.
ceklek.. pintu terbuka dan wajah dingin yang seolah murka terpampang dengan sangat jelas di raut wajah tuan Hul, sedangkan Valensia masih dalam keadaan setengah sadar dan melingkarkan tangan nya di lengan kekar sang suami.
"Ada apa ini" tanya Valensia, yang sudah sadar dari alam mimpi dan begitu kaget.
"Siap, lapor bu.! saya sudah memperingati akan tetapi ia berusaha menerobos" tentu nya mustahil bagi seorang abdi negara untuk menyeret seorang ibu-ibu, sekalipun tindakan nya tengah malam ini salah.
"masuk" dari suara dingin tuan Hul, sudah dipastikan kalau kedatangan wanita tua ini sangat membuat tuan rumah terganggu.
"Kenapa kau kemari.?" tanya tuan Hul dengan suara serak yang tidak bersahabat lagi.
__ADS_1
"aku ingin bertemu dengan Tanaka" jawab ibu tua yang seperti nya juga tidak merasa bersalah dan tidak meminta maaf.
tuan Hul paham tujuan sang ibu "masuk.!" masih dengan aura dingin dari nya.
kini Valensia dan suami serta ibu tua itu sudah berada dalam satu ruangan yang luas dan megah, tentu saja ruang tamu "hm" respon tuan Hul yang langsung melirik Valensia istrinya, seolah mengerti dengan lirikan suami, Valensia segera bangkit berdiri dari tempat duduk nya nenuju lantai atas memanggil sang putra nya.
Sesampai nya di kamar, Valensia tidak mengetuk pintu karena melihat Tanaka tengah berdiri di balkon ruang tamu yang ada di lantai ke dua. "kamu belum tidur nak.?" tanya Valensia sambil berjalan kearah putra nya dan hanya diangguki berkali-kali oleh Tanaka.
Valensia mengelus punggung Tanaka, memberikan serta menyalurkan kekuatan pada nya "dibawah.." kata Valensia dan belum sempat meneruskan kalimat nya karena sang putra sudah lebih dulu menyela.
"aku tau, dan aku akan segera turun" jawab Tanaka, kemudian Valensia pun hanya mengangguk saja dan turun kelantai dasar tanpa menunggu Tanaka.
"Mohon tunggu sebentar ya bu, Tanaka akan segera turun" kata Valensia dan hanya di jawab oleh tatapan yang sudah mengeluarkan air mata.
Perlahan Tanaka melangkah kan kaki dengan sangat berat, satu per satu anak tangga ia turuni dengan sangat susah payah. ia, seolah bingung bagaimana cara nya menghadapi ibu Li Qin. Ya.. wanita yang tidak sopan bertamu dan menggedor-gedor pintu di tengah malam adalah keluarga satu-satu nya yang dimiliki oleh Li Qin.
Yang juga seorang wanita tua yang menantikan ke hadiran dari putri tunggal nya yang telah menghilang lebih dari tiga tahun lama nya, wanita tua yang terus menerus menangis, menangis dan menangis tiada henti di dalam doa juga di setiap keseharian nya untuk putri tersayang nya yang telah menghilang tanpa ada yang bisa menemukan keberadaan nya.
"Ta..ta..tanaka" sapa mama Li Qin yang berdiri seolah ingin menghampiri Tanaka yang masih susah menuruni anak tangga, dengan suara yang sudah bergetar dan air mata yang sudah membasahi pipi nya.
__ADS_1
Ekspresi Tanaka sangat dingin, wajah nya semakin gelap dan suram kala telinga nya mendengar isak tangis yang begitu memilukan dari mama Li Qin.
"berhentilah menangis, kau membuat ku tuli" inilah kata sapaan yang paling ketus dan pertama yang mampu keluar dari mulut Tanaka dan hal itu tidak membuat sang wanita tua kaget ataupun tersinggung, berhubung dia sudah jauh mengetahui kalau anak laki-laki tuan Hul selalu bersikap dingin namun, penuh dengan kasih sayang.
"Ma..ma..maafkan ibu" mama Li Qin menundukkan kepala dan berbicara dengan sesegukan, tidak ada lagi raut wajah riang dari wanita tua ini. Terlihat sangat jelas kerutan diwajah nya yang sudah di usia tua membuat Tanaka semakin tidak tega pada nya..
Di bumi ini memang tidak ada Sorga, tapi di bumi ada telapak kaki malaikat yang bagaikan sorga. karna semua yang berdiri di muka bumi ini adalah maha karya Tuhan, hingga ia menciptakan manusia dengan dua jenis kelamin untuk bisa bersatu dalam takdir nya dengan banyak cara yang ia tuliskan sebelum manusia baru di lahirkan. tentu akan sangat sakit ketika seorang malaikat yang telah melahirkan manusia baru mendengar kabar hilang nya seorang putri kesayangan nya dan tunggal.
"aku belum menemukan keberadaan nya dan semua pihak tidak mampu melacak dimana dan siapa dalang dari hilang nya Li Qin." kata Tanaka yang sudah tau tujuan dari mama Li Qin, dan lagi-lagi isak tangis memilukan semakin tidak terdengar dari mulut wanita tua ini saking sakit dan terluka nya.
Valensia yang bisa merasakan hal apa yang tetangga nya ini rasakan, dengan sangat lembut ia mengelus dan memeluk mama Li Qin. didalam dekapan nya, ia memejamkan mata dan berdoa. berharap kebaikan dan kuasa Tuhan bekerja untuk memulangkan Li Qin, baik dalam keadaan hidup dan maupun mati.
"Jadi, jangan berharap banyak padaku karena akupun juga tidak tau bagaimana cara nya untuk menghibur dan menguatkan diri ku sendiri atas hilang nya Li Qin" jelas Tanaka.
Begitu sakit, begitu pilu.! inilah luka hati seorang ibu kandung, yang telah mengandung selama sembilan bulan lama nya yang harus ia tanggung ketika kehilangan sang putri dan juga inilah yang tengah di rasakan oleh Tanaka bersamaan dengan Valensia. "Aku sungguh tidak bisa menjanjikan mu sebuah harapan, karena aku takut hasil nya akan sia-sia" inilah kali pertama dalam catatan kehidupan Tanaka ia mengungkapkan ketakutan nya akan sesuatu hal.
"Tapi, aku akan melakukan sesuatu yang paling terbaik.! jika nanti hasil nya tetap sama maka, aku memohon maaf sebesar-besar nya pada mu. aku aku juga meminta pengampunan yang tulus dari mu" kata Tanaka, tubuh nya langsung berbalik dan manaiki tangga dengan sangat cepat tanpa, menunggu respon dari semua orang yang ada diruang tamu.
Tuan Hul dan Valensia hanya melihat kepergian Tanaka dengan diam tanpa bersuara, semua jelas mengetahui kalau Tanaka bukan tidak tau tatakrama dan sopan santun ketika berbicara dengan orang yang lebih tua dari nya, hanya saja ia tahu berbicara dengan mama Li Qin di saat suasana hati kedua nya sedang terpuruk akan sangat sia-sia dan percuma.
__ADS_1
Hei.. Leader, habis baca pencet itu jempol 👍 tanda like.! jangan asal baca saja, lupa buat ngelike🙄 cepat like dan itu vote nya sekalian jangan lupa apa lagi sungkan🙄 noh, terakhir jangan lupa VOTE VOTE nya kudu bintang ⭐⭐⭐⭐⭐ jangan kurang ye.. bye..bye..bye