
...ELANOR SI GADIS LEMBUT...
Konon kata para petuah Desa kalau perempuan yang berhati lembut umum nya memiliki aura yang positif dan juga sangat murah senyum, Memiliki pribadi yang sangat sopan, santun dan berkepribadian begitu menarik yang selalu berhati lembut dengan tutur kata halus yang di miliki nya. Siapapun verada disisi nya pastilah terasa begitu menyenangkan serta menenangkan karena selalu berhadapan dengan kedamian, seperti Tanaka yang selalu mempertahankan Eleanor selama lima belas tahun tanpa berniat meninggalkan.
Di area parkir setelah berpidah dengan nyonya Gotardo, ada Valensia dengan aura yang telah berubah masam terlihat membuka pintu dan masuk ke dalam mobil yang tidak terbilang mewah itu. Diri nya duduk dengan rasa kesal karena nyonya Gotardo terus mencampuri dan memaksa Eleanor untuk mendesak putra nya sedangkan ia paham kalau Eleanor selama ini tidak pernah berani bertanya tentang hal itu pada putra nya.
"Ck.. zaman apa seoarang masih berlaku perjodohan dan memaksa, lucu nya yang di paksa adalah lelaki. Apakah dia sebodoh itu sampai sampai tidak memperhatikan kedepan seperti apa.? Wanita yang memaksa lelaki menikahi nya tidak lain dari wanita yang hampir tidak laku." kesal Valensia pada diri sendiri tanpa ada yang menjawab berhubung hanya diri nya yang ada di dalam mobil
*
*
*
Sementara di tempat lain, tepat nya dirumah milik Tanaka tempat dimana Ele tinggal untuk saat, sedsng me gerutu kesal di dalam kamar pilihan pemilik rumah terhadap nya. Tentu saja ia begitu kesal karena lagi lagi menerima telepon dari sang ibu yang terus memaksa nya untuk mendesak Tanaka agar segera menikahi diri nya.
__ADS_1
"Mami tidak pernah berubah dahulu dan sekarang, boro boro bertanya bagaimana kondisi ku.! ia justru lebih mementingkan bagaimana hubungan ku dengan Tanaka, kapan kami menikah atau kapan aku memaksa dan menuntut nya untuk menikahi ku" ketus Ele sambil menyibak nyibakkan selimut yang sudah ia rapikan sebelum nya.
"Huff, aku tidak akan mau menjadi wanita yang buruk di depan Tanaka bahkan dalam segala kondisi aku tidak akan mau meminta, membahas ataupun memaksa nya untuk menikahi ku karena setiap kami jika memang di takdirkan untuk bersatu maka apapun yang menjadi penghalang akan segera tersingkir tanpa aku harus masuk ke dalam dosa untuk menyingkirkan nya." ucap Eleanor yang memang berhati lembut bahkan ia sangat rela hancur berkeping keping untuk berdiri disisi Tanaka tanpa ada lagi niat untuk pergi dan berpura pura.
Eleanor memang wanita yang paras nya begitu identik dengan sosoknya yang lemah lembut dan mempesona. Bahkan di akui oleh Laura juga Li Qin bahwa tidak semua wanita memiliki sifat seperti Eleanor yang sanggup bertahan tanpa dendam ataupun cemburu dengan Li Qin. Sekalipun selama lima belas tahun sang ibu nyonya Gotardo terus memaksa dan pernah sesekali meminta Ele agar menjebak Tanaka, akan tetapi hal kotor itu tidak pernah di lakukan oleh Ele dan terpaksa ia mengakui sebuah kebohongan pada sang ibu agar ia tidak terus menerus di tekan oleh sang ibu.
Eleanor juga selain menjadi wanita yang positif, diri nya juga termasuk dalam golongan wanita yang begitu penyabar dan hal ini semakin memperjelas bahwa sebenarnya Eleanor betul terbukti berhati lembut. Diri nya yang seorang wanita sabar dan tidak mudah marah apalagi pendendam sungguh menunjukkan bahwa ia adalah pribadi yang sangat istimewa terkhusus dalam hal kesabaran menghadapi Tanaka adalah salah satu sifat terbaik yang ada dalam diri Ele dan hal itu di akui oleh prof.
Jadi hal wajar jika Tanaka tidak mampu melepaskan Eleanor setelah diri nya menggenggam wanita bak berlian langka itu, ya.. sekalipun tidak seindah yang di bayangkan karena Tanaka tetap saja belum membawa nya melangkah ke jenjang yang lebih serius karena perhatian dan cinta Tanaka seolah berfokus pada Li Qin saja.
Selesai makan Tanaka memberi waktu untuk nenatap setiap orang yang masih bertahan di meja makan, ia benar benar melihat ekspresi semua yang ada di sekitar nya hingga nyonya Alex nenyadari hal itu dan bertanya pada putra yang sudah ia anggap sebagai putra nya.
"Ada apa nak.?" tanya nyonya Alex dengan menyelidik pada Tanaka, hingga fokus prof juga ikut teralihkan kepada Tanaka.
"Aku tidak melihat Li Qin selama beberapa minggu ini, apakah dia masih tinggal di rumah ini.?" tanya Tanaka dengan raut bimbang, khawatir, kangen hingga segala ekspresi nya bercampur padu dan tentu saja hal itu membuat alis Laura terangkat sebelah.
__ADS_1
"Tumben" ucap Laura dan segera di tegur oleh nyonya Alex yang merupakan sang ibu dari Laura.
"Ish, Laura kamu ini jangan suka merespon dengan sembarangan" tegur nyonya Alex "Jangan dengarkan Laura ya Tanaka dia agak kurang labil, Li Qin masih tinggal disini tapi terkadang pekerjaan membuat nya harus pergi dan pulang lebih cepat juga lebih larut malam" ucap nyonya Alex, tentu saja dia sedikit berbohong karena mana mungkin dia mengatakan kepada pemilik rumah kalau Li Qin sengaja menjauhi diri nya dan berusaha agar tidak saling bertemu meski hanya berkontak mata.
"Bekerja.? pasien banyak.?" tanya Tanaka membeo dan di angguki oleh nyonya Alex
"Iya, dia mejelaskan seperti itu kepada ibu ketika ibu tanya beberapa minggu yang lalu" jawab nyonya Alex sekena nya saja sedangkan prof yang memang sudah tau, memilih mengikuti drama sang istri.
"Oooh, baiklah" ucap Tanaka yang segera berdiri dari tempat duduk nya. "Kalau begitu saya coba lihat dia di kamar nya" ucap Tanala lagi dan di angguki oleh nyonya Alex dan semua yang ada disitu.
Sejak Tanaka menanyakan keberadaan Li Qin, Ele hanya memilih diam tanpa menyahuti ataupun merespon. Ia bahkan paham ketika pandangan Laura, prof dan nyonya Alex tertuju pada nya dengan pandangan kesedihan.
"Aku baik baik saja" ucap Ele yang mengerti dan memberikan senyuman terbaik nya
"Kau memang yang terbaik, Ele" puji Laura dan mereka saling berpelukan.
__ADS_1
Hei.. Leader, habis baca pencet itu jempol 👍 tanda like.! jangan asal baca saja, lupa buat ngelike🙄 cepat like dan itu vote nya sekalian jangan lupa apa lagi sungkan🙄 noh, terakhir jangan lupa VOTE VOTE nya kudu bintang ⭐⭐⭐⭐⭐ jangan kurang ye.. bye..bye..bye