
"Beni, kamu awasi Clara." titah Erik kepada ajudan kepercayaannya.
Beni sedikit membungkuk memberi hormat kepada atasannya, "Siap tuan."
Erik bergegas meninggalkan rumah, guna menghadiri pertemuan dengan para delegasi bisnis.
~~
Setelah kepergian Kevin, Clara kembali mengurung diri di dalam kamar. Entah mengapa Papa Erik membiarkan Kevin pergi begitu saja. Mengapa Papa Erik tidak menahan Kevin?
Tidak ada hal yang Clara lakukan, ia hanya duduk di tepian ranjang. Sangat kesal dan geram itulah yang ada di hati Clara saat ini. Ponsel yang tergeletak di atas meja rias berdering. Sampai pada dua sampai tiga panggilan Clara mengacuhkannya.
Empat panggilan, Clara beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri ponselnya yang sejak tadi sibuk menerima panggilan masuk.
"Iya?" jawabnya setelah menyambungkan sambungan telepon. Sejenak Clara terdiam mendengar seseorang berbicara dari seberang panggilan.
"Baiklah, gue bakal ke rumah kosong yang lo sebutkan!" Clara mematikan sambungan telepon, ia bergegas keluar dari kamar. Sudah disambut oleh kedua pelayannya tak lain tak bukan adalah Bik Siti dan Bik Tuti yang sedang membawa nampan.
"Nona Clara mau kemana?" Bik Siti memberhentikan Clara yang hendak menuju lift.
"Bukan urusan lo!" hardik Clara ia ngeluyur pergi dan hendak memasuki pintu lift.
"Tapi Nona Clara, Nona belum makan malam," kali ini Bik Tuti yang berkata.
Clara berbalik arah memunggungi lift, menghampiri kedua asisten rumah tangganya. Sekali hentakan kedua tangannya dua nampan berisikan makan malam seketika tumpah ruah berserakan di lantai. PRANG....
Bik Tuti dan Bik Siti sangat terkejut melihat perilaku brutalnya Clara, keduanya mundur dua langkah melihat nampan beserta apa yang semula di atas nampan berserakan di lantai.
Tanpa sepatah kata pun, Clara kembali berjalan memasuki lift. Dilihatnya sekilas kedua Bibiknya yang sedang mematung, pintu lift pun tertutup dan membawa Clara ke lantai satu.
Clara bergegas menuju luar rumah, dan berlari kecil menuju garasai rumah yang luas, ada beberapa mobil mewah yang terparkir. Ia segera memasuki mobilnya yang berwarna merah, empat ajudan yang mengejarnya tak ia gubris.
"Brengsek!" Clara terus menginjak pedal gas mobilnya.
Hingga empat ajudan yang akan menghentikan laju mobilnya seketika terpental, menyelamatkan diri mereka masing-masing.
Berulang kali Clara menekan klakson guna satpam membukakannya gerbang tinggi menjulang, tak butuh waktu lama setelah gerbang dibuka, Clara bergegas meninggalkan pelataran rumahnya dan mengacu mobilnya melewati jalanan kompleks perumahan elit. Sampai pada jalanan raya yang cukup lengang di jam sepuluh malam.
__ADS_1
Clara terus memacu pedal gasnya, hingga sampai di depan sebuah rumah yang nampak sangat menyeramkan dari luar. Ia bergegas turun dari mobil, dan berlari kecil masuk kedalam rumah kosong, sampai pada ruangan tengah rumah, satu lampu menyala guna menerangi ruangan.
Dilihatnya seorang pria yang duduk di kursi kayu tidak sadarkan diri, sedangkan tangan dan kaki pria itu terikat. Clara juga melihat ketiga pria yang keluar dari kegelapan.
"Bagaimana Nona, apa Nona puas dengan hasil kerja kami?" kata seorang pria yang ditugaskan Clara untuk menculik dan menyekap Anto.
Clara memandangi Anto, pria yang telah merenggut mahkotanya, "Ya, gue sangat puas!" diambilnya segepok uang dari dalam tas dan melemparkan nya kepada pria yang telah menjalankan tugas yang diberikannya.
Sontak saja ketiga pria sangat girang, setelah pekerjaan selesai mendapatkan bayaran yang telah dijanjikan.
Clara memberi kode kepada salah satu pria berbadan kekar untuk membangunkan Anto.
Seketika pria yang sebelumnya mendapatkan bayaran mengangguk dan menyiramkan air ke wajah Anto.
Anto terkejut, ia merasa kepalanya berkunang-kunang karena sebelumnya dipukul oleh seseorang. Dalam keremangan pandangannya ia melihat seorang wanita yang berdiri didepannya berjarak dua meter.
"Clara...?" gumam Anto.
Clara menatap Anto tajam, ia sangat ingin membunuh pria itu sekarang juga. Namun, ia ingin sedikit bermain-main, Clara berjalan mendekati Anto meninggalkan jarak hingga setengah meter.
"Bagaimana Anto? Lo udah mempermainkan gue? Setelah tidur dan membuahkan hasil di perut gue, lo kabur?" Clara berkata dengan gigi dikeratkan.
"Ka-kamu hamil Clara?" Anto tergagap bertanya kepada Clara.
"Iya," Clara mendekapkan kedua tangannya di depan dada, "dan Kevin mau menikahi gue!"
Anto membelalakkan matanya menatap Clara, "Apa, Kevin? Nggak Clara. Itu anak gue, bukan Kevin yang menikahi lo, tapi gue!"
Diingatnya lagi, setelah Ane menghubunginya bahwa Clara mencarinya. Anto segera mendatangi kediaman Erik dan akan mengakui perbuatannya, namun tiba-tiba saja seseorang memukulnya dari belakang.
"Gue menyuruh orang buat nangkap lo, bukan untuk meminta pertanggung jawaban dari lo. Tapi gue mau memberikan lo pelajaran karena sudah bermain-main sama gue! Lo harus merasakan akibatnya, Anto!" Clara melayangkan tamparan keras di wajah Anto, terutama dibagian sebelum kanan, "Hajar dia!" titahnya pada tiga pria kekar yang ditugaskan untuk menjegal Anto.
~~
Di luar rumah kosong, Beni sedang memata-matai pergerakan Clara. Namun, ia tidak langsung melaporkan perbuatan Clara kepada Erik. Ia juga mempunyai rencana lain.
"Gue bakal bantu lo buat balikin kebaikan lo dengan cara gue Cla," gumam Beni, ia langsung bersembunyi kala melihat Clara keluar dari dalam rumah kosong.
__ADS_1
~~
Kevin memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Rasa sakit hampir di sekujur tubuhnya akibat perkelahian dengan empat anak buah Erik sebisa mungkin Kevin menahannya.
Bahkan wajah yang semula serasa panas kini berubah menjadi lebih dingin karena terkena hempasan angin malam. Bohong jika ia menganggapnya tidak sakit sama sekali.
Ia juga merasakan bibirnya mulai membengkak, bogeman dari salah seorang anak buah Erik bisa ia rasakan luar biasa.
Roda dua motor sport terus melesat dengan kecepatan tinggi. Tak sedikit pun Kevin mengendurkan tarikan gas motornya.
Sempat dilihatnya jam tangan sudah pukul sepuluh malam. Kevin lahir dan besar di kota padat. Bahkan di Negara Asia Tenggara. Ibu kota metropolitan ini memiliki populasi 11.074.811 jiwa dan menempati peringkat 29 sebagai kota dengan penduduk terbesar di dunia.
Itulah artikel yang pernah dibaca olehnya. Dan Ibu kota yang menjadi salah satu tumpuan pekerjaan serta kehidupan di hampir seluruh Nusantara.
Tidak sulit untuk mencari berbagai keberagaman populasi manusia di Ibukota di negara ini, dari mulai suku, agama, pupolaritas untuk menjadi terkenal, hingga yang menghancurkan.
Semua ada di Ibukota ini, dari Sabang sampai Merauke, orang-orang dengan jenis golongan kulit apapun, karena Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di Asia.
Motor sport jenis KLX, berhenti di depan restoran tempat istrinya bekerja, namun karena perjalanan yang cukup memakan waktu. Seseorang yang Kevin cari sudah tidak ada di sana lagi.
Kevin lantas mencoba menghubungi ponsel milik Khaira, akan tetapi hingga beberapa kali panggilan tidak ada respon.
Ia pun memutuskan untuk pulang, Kevin berpikir barangkali istrinya sudah sampai di rumah. Kevin kembali melajukan laju motornya.
Tak perlu memakan waktu lama, tiga puluh menit Kevin sampai didepan gerbang rumahnya. Ia mengambi kunci dan segera memasuki rumah untuk memastikan bahwa memang Khaira sudah pulang.
"Khaira! Ra, Khaira!" dipanggilnya seseorang si pemilik nama. Tetapi nihil, suasana rumah begitu senyap nan sepi, persis seperti diri Kevin yang masih tinggal seorang diri.
Kevin panik, bimbang dan khawatir. Diusapnya wajah yang luka, ia mendesis sakit di ujung bibirnya yang terluka. Dilihatnya noda darah di telapak tangannya.
Diacak-acaknya rambut yang memang sangat berantakan. Kevin mondar-mandir di ruang tengah, "Kemana harus mencari Khaira?"
Matanya membulat, tatkala baru teringat. "Oh ya, kosan Mita!" pekiknya, ia langsung keluar rumah tak lupa juga untuk mengunci pintu.
Motor sportnya kembali melaju dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Bersambung...