Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Bukan takdir, hanya kebetulan!


__ADS_3

Khaira dan Kevin kini duduk berdampingan, di apit saksi nikah. Antara lain Abang Andi, Pak Wahyu, Pak Tantowi, dan Ayah dari Mita. Juga saksi-saksi dari warga sekitar yang sudah duduk lesehan di ruang tamu Pak Wahyu. Beserta Pak Ustadz Ali Subekhi yang akan menjadi penghulu nikah.


Dalam hati Khaira terus memohon ampun, karena tidak mengabari Abah. Bahwa ia akan segera melaksanakan akad. Tapi ia tidak mau Abah bersedih atas pernikahan yang jelas terjadi karena kesalahpahaman ini. Ia benar-benar membodohi dirinya yang sangat ceroboh. Andaikan semalam ia tidak lupa mengunci pintu, tentu hal ini tidak akan terjadi.


Pukul 09:30 wib, ustadz Ali Subekhi yang telah berpengalaman menikahkan pasangan yang akan melangsungkan pernikahan secara agama maupun hukum negara, lantas mengulurkan tangannya di hadapan Kevin.


Sebelumnya Kevin telah menghafal nama dari orang tua Khaira beserta nama lengkap Khaira.


Kevin menatap tangan pria setengah baya yang menjadi penghulu. Kendati demikian ia menganggap pernikahan ini hanya secara kebetulan dan bisa di akhiri dengan mudah. Nyatanya perasaannya tidak bisa mengelak, bahwa kini hatinya gugup laksana genderang mau perang!


Kevin merasakan sensasi panas dingin, dan keringat yang mulai membasahi sekujur tubuhnya. Sebisa mungkin ia mengatur nafasnya agar bisa dengan mudah mengucapkan kalimat akad.


Khaira melirik sekilas kearah samping, tepatnya kearah pria yang sebentar lagi akan mengikrarkan ijab kabul. Namun, Khaira menangkap ada hal yang membuat pria bernama Kevin ini nampak ragu. Dari gestur tubuh Kevin yang tidak merasa nyaman.


Kevin sekilas melirik gadis asing yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Ia merasa gadis ini pun merasakan hal yang sama. Entah ke berapa kalinya Kevin menghela nafas panjang, lantas menjabat tangan Pak penghulu tersebut.


“Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Ananda (Kevin Abimana) bin (Basuki Abimana) dengan saudara (Khaira Ningrum) binti (Ahmad Khoirun) dengan maskawin berupa uang lima ratus ribu rupiah dibayar tunai,”suara tegas Ustadz Ali Subekhi.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya (Khaira Ningrum) binti (Ahmad Khoirun) dengan maskawin berupa uang lima ratus ribu rupiah dibayar tunai.” Sekali tarikan nafas Kevin mengikrarkan ijab Kabul dengan sangat lancar. Dan ada sesuatu yang menurut Kevin janggal dengan pernikahan ini. Seolah ia pernah mengalaminya di mimpi. Persis seperti ini. Tapi entahlah, so always positif thinking! Dan soal mimpi Kevin anggap tabu.


Khaira merasa heran, kenapa pria yang baru dikenalnya begitu lancar mengucap ijab Kabul dengan sekali tarikan nafas. Padahal sebelumnya mereka tidak saling mengenal nama masing-masing, dan Kevin baru tahu namanya sesaat sebelum keduanya melakukan ijab. “Apakah ini?” Khaira menggeleng, “bukan takdir! Hanya kebetulan!”


"Sah.”


"Sah.”seloroh warga yang ikut menjadi saksi atas pernikahan dadakan Khaira dan Kevin.


"Alhamdulillah...” ucap syukur beberapa warga yang ikut menjadi saksi. Pak Ustadz Ali Subekhi kemudian membaca doa setelah menikah, dan memberikan beberapa nasihat.


Khaira menghela nafas panjang, tak ingin melihat pria yang sudah sah secara agama menjadi suaminya, ia memejamkan matanya dan mengutuki dirinya dalam hati; “Kenapa aku harus menikah dengan cara seperti ini? Apakah ini karma ku yang telah memandang rendah tentang pernikahan? Tapi kan nggak begini juga.”


Kevin melihat sekilas gadis yang kini sudah sah secara agama menjadi istrinya; “Pernikahan dadakan? Tentu gue nggak nyangka ini! Aihh anjirt bat! Gue bisa terjebak di sini!”


~


Setelah acara akad selesai, ada beberapa dari warga yang mengucap selamat kepada Khaira dan Kevin.


“Selamat yah, nah gini kan udah halal!"


“Selamat yah, semoga langgeng!”

__ADS_1


“Selamat untuk kalian, jangan lagi berbuat mesum yah. Dosa loh!”


Khaira maupun Kevin menanggapinya datar.


“Ya makasih.” sangat datar dan dingin Khaira menjawab, bahkan nyaris tak terdengar. Bahkan pria bernama Kevin sama sekali tidak merespon ucapan itu.


Kini, Khaira, Mita, kedua orang tua Mita, Kevin dan Abang Andi, sedang berkumpul di kosan Mita. Ada perdebatan kecil mengenai dimana Khaira tinggal sekarang. Karena ada beberapa warga yang menyarankan agar Khaira ikut saja bersama dengan Kevin, karena Kevin sudah menjadi suaminya.


Tentunya Khaira tidak punya cara untuk menolaknya.


Di tambah lagi, Ibu dari Mita yang sangat menyarankan agar Khaira di bawa oleh suaminya.


"Bibi sarankan, supaya Khaira tinggal sama suaminya, toh suaminya juga nggak punya istri lain kan?” kata Ibu dari Mita yang cara bicaranya suka ceplas-ceplos. Ayah Mita pun terlihat menyikut lengan istrinya..


"Saya rasa, itu ide bagus. Adik saya juga tinggal sendiri,” Abang Andi pun menyarankan hal yang sama.


“Tapi kan Bang!” sergah Kevin.


“Kenapa? Toh lo memang tinggal sendirian. Abang rasa lo nggak akan kesepian lagi,” Bang Andi menyarankan lagi.


Raut wajah Kevin terlihat sangat dingin menatap Khaira yang semenjak ijab Kabul hanya diam menunduk, seolah gadis itu banyak beban yang dipikulnya, “Eh lo ngomong dong, jangan diem bae!”


Kevin menatap Khaira dengan mata memicing dalam benaknya berkata; “Nih cewek jawabannya monoton banget! Kagak ada lemes-lemesnya!”


“Nggak bisa gitu dong Ra! Lo kan nggak tau seluk-beluk kota ini, mana bisa lo tinggal sendirian. Nggak boleh! Lebih baik lo tinggal aja sama gue di sini.” sergah Mita.


“Loh kamu bagaimana sih Mit. Sepupu kamu kan sudah menikah, ya otomatis mereka harus tinggal bersama,” saran dari Ibu RT.


Ibu dari Mita pun membenarkan apa yang dikatakan seorang Ibu-ibu berkaca mata, tak lain adalah Bu RT, “Betul apa kata Bu RT, si Khaira kan sudah menikah. Mana bisa dia tinggal sama kamu Mita, apa kata warga nanti, mereka pasti beranggapan Khaira sama suaminya menikah hanya untuk menghindari hukuman!”


“Sudahlah, Vin. Biarkan Khaira ikut denganmu. Toh kalian sudah menikah, tinggal di sahkan di kantor KUA, beres kan?” ujar Bang Andi.


Kevin kesal mengapa dengan Abangnya yang seolah ia mendukung keputusan orang-orang disini.


“Kalau Paman, terserah kamu sama suamimu, Nduk.” Ayah Mita yang bernama Joko ikut bersuara.


"Eh mahluk asing, gue nggak nolak ya kalau seandainya Khaira mau tinggal di sini bareng gue. Tapi gue juga nggak rela kalau Khaira tinggal sendiri!” hardik Mita mempelototi Kevin.


"Siapa yang Lo kata makhluk asing?” tanya Kevin kesal, “Cowok ganteng-ganteng begini lo bilang mahkluk asing!” Kevin menggidik pundaknya, bangga dengan ketampanan yang dimilikinya sejak bayi.

__ADS_1


“Ya lo mahkluk asing! Lo emang ganteng, tapi nggak seganteng Leonardo Dicaprio!” hardik Mita masih belum melunak suaranya.


“Dasar! Cewek bar-bar!” balas Kevin.


“Sudah-sudah, kenapa kalian malah ribut!” sergah Pak Joko.


"Ya udah- dah Lo ikut gue!” pungkas Kevin pada akhirnya sambil menunjuk Khaira.


“Kalau kamu memang terpaksa, mendingan nggak usah! Aku bisa kok hidup sendiri di kota ini!” sergah Khaira menolak ajakan Kevin.


“Eh Khaira udah terima aja ajakan suamimu, itulah ciri laki-laki yang bertanggung jawab, udah Ra manut aja, jangan seperti Ibumu yang tega ninggalin kamu sama Abahmu!” kata Ibunya Mita, keceplosan menyebut Ibu dari Khaira yang telah pergi entah kemana.


Entah mengapa Khaira merasa nyeri di ulu hatinya mendengar Bibi berkata seperti itu, bagaimana dan seperti apapun seorang Ibu. Benar apa kata Abah. Ibu tetaplah Ibu yang sudah melahirkannya, meskipun Khaira merasa tidak diinginkan oleh sang Ibu.


"Ibu!” hardik Paman Joko menegur istrinya dengan suara seperti membentak. Istrinya pun terlihat mengatupkan bibirnya.


Disinilah Kevin mengamati wajah murung gadis yang sudah sah menjadi istrinya, ia merasa masalah yang ditimbulkan juga kesalahannya yang lalai hingga sampai ke sini.


“Ahh sudahlah!” sergah Khaira berlalu dari hadapan semuanya, sambil membawa tas ranselnya keluar dari kosan Mita. Namun, langkahnya harus terhenti kala tangan seseorang menarik abaya yang di pakainya.


“Mau kemana lo? Udah ikut gue aja dari pada hidup lo nanti terkatung-katung di kota ini kaya pengemis!” sentak Kevin menarik abaya yang di pakai Khaira.


Khaira melihat tangan Kevin, “Lepas!” sentaknya. Entah mengapa terbesit ada rasa benci di hatinya melihat Kevin. Karena Kevin lah yang telah menyebabkannya menjadi seorang wanita yang seperti tidak mempunyai harga diri.




Bersambung...



~



Terimakasih telah mendukung karya ini.


__ADS_1


Harapan saya, semoga tetap ada pembaca setia sampai karya ini selesai.


__ADS_2