
Mendadak ada rasa curiga, mengapa Kevin mengajaknya ke tempat bersejarah ini, Khaira menyipitkan matanya, “Sebenarnya ada apa Mas Kevin tumben-tumbenan ngajak aku ke sini?”
Kevin mengulurkan tangannya, mengambil tangan Khaira dan menggenggamnya erat, “Aku minta maaf,”
Mendengar permintaan maaf dari Kevin membuat Khaira tercenung. Ia tegang, apa yang sebenarnya akan di rencanakan Kevin kali ini? Khaira mencoba menelisik apa gerangan yang membuat Kevin sedikit lumer. Benar-benar sulit diprediksi seperti cuaca, kapan mendung akan datang, kapan hujan akan turun dan kapan petir akan menyambar. JEDERR!!!
“Ada apa ini? Kenapa mendadak menyebut aku' dan meminta maaf? Langsung saja kepada intinya?” tanya Khaira curiga.
Kevin mengecup punggung tangan Khaira, membuat si empu yang mempunyai tangan terhenyak, namun Kevin tak perduli, biar dikata ia sinting. Seperti yang kerap kali dilontarkan Khaira.
"Hey, apa yang kamu lakukan Mas Kevin?" hardik Khaira.
“Mencium tanganmu? Memang kamu mau aku cium bibirmu?” kata Kevin seolah tanpa ada yang mendengarnya.
Khaira celingukan ke kanan dan ke kiri, melihat orang-orang yang berada di sekitarnya, "Kamu lagi kenapa si Mas Kevin? Jangan ngaco ngomongnya?" ucap Khaira lirih.
"Aku nggak ngaco, aku hanya ingin mengubah satu keburukan ku untuk seseorang yang berarti dalam hidup ku,” jawab Kevin, lalu mengerlingkan matanya kepada sang istri.
Khaira mencebikkan bibirnya, “Dasar sinting!” mendapat perlakuan manis dari Kevin tak serta-merta membuat Khaira luluh, lumer, dan meleleh. Ia justru bingung. Khaira mencoba menarik tangannya dari genggaman tangan Kevin. Namun Kevin menahannya, dan bahkan Kevin merangkul pundaknya agar ia bersandar pada dada bidang Kevin.
“Apa yang kamu lakukan Mas Kevin?” hardik Khaira bersuara pelan, ia memposisikan suaranya agar sekiranya tidak di dengar orang-orang yang berada di sekitarnya duduk, karena di belakang, depan, samping kanan samping kiri ada banyak pengunjung Monas yang duduk di atas rerumputan.
“Aku minta maaf, maukah kamu memaafkan ku?” ujar Kevin lagi.
Khaira memaksa menarik dirinya dari dalam rangkulan Kevin, agar duduk dengan tegak.
“Ya minta maaf apa dulu? Apa soal Mas Kevin yang selalu bertindak senonoh padaku? Apa jangan-jangan Mas Kevin mau meminta izinku untuk berpoligami? Sok atuh, silahkan saja kalau Mas Kevin mau menikah lagi! Aku mah nggak keberatan sama sekali,” kata Khaira bersuara sedikit meninggi, ia melepaskan diri dari genggaman tangan Kevin, lalu bersitatap dengan dalamnya netra Kevin yang melihatnya dengan tatapan tak biasa, Khaira dapat melihat ada penyesalan yang terpancar di sana. Akan tetapi Khaira belum mengetahui penyesalan apa itu?
Namun rasa bencinya karena sudah mendapatkan perlakuan tidak baik serat pemaksaan dari Kevin, membuat Khaira enggan menatap mata Kevin. Ia membuang tatapannya.
"Kamu marah besar ya sama aku?" kata Kevin mendekati Khaira yang sedang mengedarkan pandangan.
"Iya aku marah! Sangat-sangat marah! Puas!" kata Khaira bersuara meninggi sampai ia sendiri mendengar suaranya sendiri yang seperti berteriak lantang.
Suara Khaira yang lantang menarik perhatian orang-orang di sekitarnya, ucapan yang Khaira lontarkan berbanding terbalik dengan para istri-istri inginkan. Yaitu memiliki suami setia, lah ini malah secara gamblang mempersilahkan suaminya berpoligami. Aneh sekali!
__ADS_1
Khaira menoleh ke kanan dan kiri, ia melihat tatapan aneh orang-orang padanya. Ia hanya tersenyum kaku, dan kembali menatap Kevin tajam. Kali ini ia sedikit mendekati Kevin dan berbisik-bisik.
“Iya Mas Kevin mau menikah lagi? Tenang Mas, seperti yang Mas Kevin pernah bilang pernikahan kita hanya sementara, dan seminggu lagi aku bakalan pergi dari rumah Mas Kevin, jadi Mas Kevin kalau mau membawa istri Mas Kevin yang lain ke rumah, ya silahkan saja, nggak perlu minta izin dariku,” bisik Khaira, lalu melihat ke kanan dan kiri tepatnya kepada orang-orang yang berada disekitarnya duduk.
Lantas kembali menatap Kevin yang terus saja menatapnya dengan tatapan mata berbinar-binar serta seulas senyuman yang terus saja mengembang, Khaira kembali melanjutkan ucapannya,“Toh pernikahan kita hanya sebatas nikah agama, nggak perlu ribet ke kantor pengadilan untuk berpisah, tinggal ucapkan talak saja, beres dah! Lo'gue End!”
Inilah yang Khaira sayangkan dari sikap wanita yang mau-maunya dinikahi secara agama, bahkan seorang wanita tidak bisa mendapatkan keadilan serta hak hukumnya jika hanya menikah sebatas agama, atau yang lebih dikenal nikah siri.
"Nggak segampang itu mengakhiri hubungan yang kadung menjeratku, kamu juga harus bertanggung jawab. Memangnya hanya dengan kata talak, lalu aku akan melepasmu begitu saja?" Kevin menjeda ucapannya, matanya masih menatap sorot mata Khaira, "Jangan mimpi!"
Benar saja, memang tidak mudah melepaskan diri dari jeratan Kevin, Khaira berbaring miring lalu kembali duduk. Uring-uringan melihat senyuman yang diperlihatkan Kevin, "Ehek.. Mas Kevin! Ada apa denganmu Mas?" ucapnya seperti merengek.
Kevin tersenyum menatap Khaira yang nampak uring-uringan seperti anak TK yang minta jajan tapi tak dibelikan.
Melihat Kevin hanya tersenyum membuat Khaira semakin kesal, “Ih Mas Kevin kenapa cuma senyum-senyum gitu? Jawab,” hardik Khaira bersuara sepelan mungkin.
“Nggak ada wanita manapun yang ku jadikan istri, hanya kamu dan akan selamanya kamu,” ucap Kevin membelai lembut pipi Khaira yang dinding karena terkena angin malam.
“Jangan mengatakan hal-hal yang nantinya kamu sesali Mas Kevin. Dan jangan lupa, bahwa pernikahan kita hanyalah formalitas, juga perbuatan mu tadi pagi bukan mengacu pada kedekatan kita sebagai suami istri, itu salah. Kamu bahkan sudah merendahkan harga diriku! Camkan itu!” Khaira lantas berdiri, tanpa melihat Kevin.
Kevin melihat Khaira telah berjalan meninggalkannya, ia tahu bahwa gadis itu mungkin teramat sangat membencinya. Tapi tak mengapa, karena dari awal memang ia yang salah. Sekilas ketakutan akan kehilangan Khaira membayanginya, namun Kevin tak ingin biarkan ketakutan itu merajai hatinya. Ia lantas beranjak, lalu menyusul Khaira yang sudah meninggalkan jarak.
Kevin mengejar dan langsung merangkul pundak Khaira, ia berbisik tepat ditelinga istrinya, “Jangan bilang seperti itu, aku akan mengesahkan pernikahan kita di kantor urusan agama, maka pernikahan kita bukan hanya sekedar nikah agama dan formalitas belaka. Dan kamu berhak atas diriku, begitu pun juga aku berhak sepenuhnya atas dirimu,”
Khaira terhentak, ia merasa tegang mendengar bisikan dari Kevin. Ia menoleh kearah pria yang sedang merangkulnya, matanya langsung bertemu pandang netra pria yang berstatus suami sirinya, "Apa kamu hanya menginginkan tubuhku? Atau cintaku? Sebaiknya kamu pikirkan matang-matang dulu Mas Kevin, sebelum mengambil keputusan yang mutlak!"
Masih belum sepenuhnya mempercayai Kevin, Khaira lantas melepaskan rangkulan Kevin dan meninggalkannya begitu saja.
Terbesit rasa kecewa atas sikap dingin Khaira, namun Kevin juga perlu meyakinkan diri, bahwa perasaannya kepada Khaira benarkah cinta atau hanya sekedar pelipur lara?
“Aku akan memberikan mu cincin hadiah pernikahan kita!”kata Kevin berseru memancing reaksi istrinya.
Khaira menghentikan langkahnya, ia berbalik badan dan tepat pada saat Kevin berjalan menabraknya. Hingga membuat Khaira jatuh di atas jalanan Monas, “Ih Mas Kevin!” hardiknya kesal.
__ADS_1
Kevin mengulum senyumnya, ia benar-benar dibuat seperti anak kecil lagi melihat tingkah laku istrinya yang kerasa kepala. Kevin lantas membantu Khaira berdiri, “Makanya kalau jalan tuh jangan langsung berhenti terus balik badan, kan aku belum siap buat nangkap kamu, biar kayak adegan di film romantis,”
Khaira mendengus kesal sembari mengusap bajunya yang mungkin saja terkena debu-debu jalanan Monas, “Inikan gara-gara Mas Kevin juga. Pakai acara nyebut aku'kamu, terus minta maaf segala lagi! Bukannya membuatku meleleh, malah membuatku merinding!”
“Hahaha...” kekehnya tertawa renyah mendengar pengakuan Khaira. Kevin dibuat heran, seperti apa sebenarnya hati istrinya, mengapa tidak gampang melelehkannya.
Kevin mengalungkan lengannya di lengan Khaira yang dibalut kemeja hitam, “Dah jangan banyak ngedumel, yuk aku belikan kamu permen lollipop, buat balikin mood mu yang selalu galak ini.”
"Apa lollipop?" ucap Khaira.
Kevin merasa inilah momen yang pas untuk ia bertanya tentang inisial Asep, yang kerap kali menghubungi Khaira.
“Boleh aku tanya sesuatu nggak?” tanya Kevin menghentikan langkahnya.
Khaira ikut menghentikan langkahnya, lantas menoleh menatap Kevin, “Tanya soal apa? Kalau mau tanya soal siapa nanti presiden berikutnya aku nggak tau, karena aku bukan peramal,”
Kevin menatap Khaira intens.
Ada rasa gugup ditatap seperti itu, Khaira rasa pertanyaan Kevin mungkin sedikit lebih serius terlihat jelas dari cara Kevin yang menatapnya seperti itu.
“Siapa Asep?”tanya Kevin serius.
Khaira mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia merasa jantungnya berdegup kencang mendengar pertanyaan Kevin. Ia kembali berjalan, tidak ingin membahas Asep.
Kevin menyambar lengan Khaira, hingga membuat gadis itu seketika membalikkan badan menghadapnya, “Apa dia pria yang kamu cintai di kampung?”
Pernyataan Kevin terdengar lebih serius. Khaira mengangguk, toh jika menolaknya pun tidak akan membuat Kevin sakit hati, karena bisa saja Kevin sudah memiliki wanita lain setelah putus dari pacar.
Kevin manggut-manggut, ia tersenyum. Mencintai adalah hak Khaira, hak dari gadis itu. Tapi memiliki Khaira adalah haknya. Asek!
“Cukup tau aja, kamu mempunyai perasaan untuk mencintai.” ujar Kevin lalu berjalan mendahului Khaira.
Khaira dibuat bingung akan sikap dan gelagat Kevin. Apa yang sebenarnya akan disampaikan pria itu, mengapa bertanya soal Asep?
__ADS_1
Bersambung