Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Kedatangan dua pengacau


__ADS_3

Saat akan mengambil minyak kayu putih, sekaligus akan melakukan panggilan kepada seorang dokter kenalannya. Telinga Kevin mendengar suara seperti bisikan yang sedari tadi sudah membuatnya cemas.


Kevin menoleh melihat Khaira mengerjap-ngerjapkan mata. Ia duduk kembali dan meletakkan ponselnya di atas meja samping tempat tidur. Lalu menghamburkan diri memeluk lalu mencium kening istrinya.


"Maafkan aku." ucap Kevin bersungguh-sungguh. Ia berulang kali menciumi wajah sang istri. Dalam dekapan Kevin mendengar Khaira malah meminta maaf.


"Maaf Mas Kevin, aku belum bisa mengimbangi mu." ucap Khaira lirih, ditatapnya sang suami lekat-lekat.


Kevin menggeleng pelan, ditatapnya manik mata sang istri dalam-dalam. "Khaira sudah ku tandai tubuhmu dengan jiwaku, tak akan ku lepas meski harus jiwaku sebagai ganti atas dirimu di sisiku. Selamanya kamu hanya milikku."


Khaira tercenung mendengar perkataan Kevin.


Berlama-lama menatap Khaira, terkenang kembali masa-masa bersama dengan Khaira, terukir kenangan indah bersamanya. Meski lebih sering berdebat dengan sesuatu hal yang tidak jelas. Namun Kevin merasa hidupnya jauh lebih berwarna. Lebih dari sekedar warna hitam.


"Aku akan membantumu mandi." Kevin mulai memposisikan tangannya di kedua lutut dan di tengkuk leher Khaira. Namun, Khaira menggeleng membersamai dengan memegang lengan Kevin.


"Aku baik-baik saja Mas, aku bisa membersihkannya sendiri." ujar Khaira masih bersuara lirih.


Kevin menyangsikan ucapan Khaira, ia memandangi wajah istrinya yang pucat. Bagaimana bisa mata polos ini baik-baik saja, bahkan meminta maaf karena tidak bisa mengimbanginya. Setelah beberapa waktu lalu istrinya ini sudah menjamunya dengan sangat baik.


"Dengan adanya kamu melihat tubuh polos ku saja, aku sudah sangat malu. Apalagi kamu membantuku mandi." ucap Khaira sangat merasa malu.


Kevin tersenyum simpul, kini wajah pucat istrinya terlihat bersemu merah di kedua pipinya.


"Kamu akan terbiasa dengan hal ini, Khaira." tanpa menunggu jawaban dari Khaira, Kevin mengangkat tubuh Khaira yang masih tertutupi selimut untuk menuju ke kamar mandi.


Memandikan tubuh polos istrinya, sudah seperti whisky yang Kevin sukai. Melihat istrinya ini tersipu, tersenyum malu-malu, membuat Kevin dilanda rasa senang seolah terbang ke langit biru.


Setelah selesai dengan ritual mandinya, Kevin membantu Khaira melilitkan handuk ke tubuh istrinya. Perlahan Khaira mengalungkan tangannya di leher Kevin. Seperti sebelumnya, Kevin membantunya untuk kembali ke kamar.


Kevin membawa Khaira untuk duduk di tepian ranjang. Melihat sang istri hanya tertutupi sehelai handuk warna cokelat. Pikiran Kevin melayang di udara, sudah tak bisa lagi ia tahan benda yang mengeras sudah bergejolak di balik celana pendeknya.

__ADS_1


Kevin melepaskan handuk yang melilit tubuh Khaira, seketika itu juga netranya disuguhi tubuh polos istrinya. Perlahan sekali netranya maupun netra Khaira beradu saling bersitatap. Rambut Khaira yang basah serta air yang masih terlihat di beberapa titik tubuh Khaira, membuat Kevin kembali menyusuri lekuk tubuh istrinya.


"Mas Kev.." ucapan Khaira sia-sia saja, kala Kevin sudah membungkam bibirnya. Yang hanya bisa dilakukannya hanyalah mencengkram kuat bahu Kevin saat benda keras itu kembali menyusup masuk ke dalam liang kenikmatannya.


"Aarhhh.." Kevin mengerang nikmat, saat kembali ia rasakan betapa sempitnya liang kenikmatan istrinya. Berhenti sejenak, lalu mulai mengayunkan pinggulnya untuk kembali menerjang maju mundur.


Kevin mendengar istrinya mengaduh dan mengerang sakit lagi. Tatkala ia kembali merasakan pucuk kenikmatan istrinya.


"Maafkan aku Khaira, aku tak bisa menahannya. Aku pria dewasa, dan aku tak bisa mengontrolnya, tubuhmu bagai candu untukku." kata Kevin bersuara berat, membersamai dengan mengecup kening istrinya.


~~


Tubuh Khaira merasa gemetar, lunglai dan seolah tidak dapat berjalan dengan normal, sakit dan perih. Bahkan entah berapa kalinya Kevin meluapkan hasratnya.


Kini Khaira duduk dengan bersandarkan pada sandaran tempat tidur. Berselimut tebal menutupi tubuh polosnya. Beberapa kali pula ia bertanya-tanya dalam benaknya. Benarkah ia melakukannya, benarkah ia sudah melepas status keperawanannya.


Khaira meremass rambut Kevin yang kini sedang berbaring di pangkuannya. "Mas Kevin.."


"Hemm.." Kevin berdehem, ia kini sedang menikmati sentuhan tangan Khaira yang sedang mengelus-elus rambutnya secara lembut.


Kevin menarik dirinya untuk duduk, ia menatap wajah Khaira yang nampak sayu. Bahkan menjelang malam, ia tidak ingin beranjak dari atas ranjang. "Apa kamu mau membuktikan keperkasaan ku lagi? Apa kamu ingin melihat buku nikah kita?"


Khaira langsung menatap Kevin yang sedang menatapnya seperti akan menelannya bulat-bulat. Ia menggeleng, ketika Kevin akan mendekatinya. Bahkan kini, Kevin sudah mengendus-endus lehernya.


"Mas Kevin, tolong Mas hentikan kamu membuatku geli, haha.. geli Mas." racau Khaira mendapatkan serangan dari Kevin yang terus-menerus menggerayangi tubuhnya. Bahkan kini sudah menyusup masuk kedalam selimut, dan memilin pucuk bukit kenyalnya.


Kevin menarik dirinya melihat wajah Khaira. "Bagaimana apa mau melakukannya lagi?"


Khaira spontan menggeleng, "Enggak, aku laper. Kamu bahkan sudah melakukannya beberapa kali."


Kevin melepas tawanya, "Baiklah nona, maafkan aku. Aku akan memesankan makanan untukmu." Kevin turun dari ranjang, ia hanya memakai celana pendek ala rumahan. Lalu mengambil ponselnya yang sejak tadi sudah ia matikan.

__ADS_1


Menunggu beberapa saat ketika ponsel sudah dalam kondisi normal, Kevin membuka aplikasi jasa penyedia layanan delivery order makanan. Namun, belum menekan menu yang dipilihnya suara ketukan di depan membuyarkan nya.


"Siapa itu Mas?" Khaira bertanya setelah mendengar ketukan dari depan rumah.


Kevin melihat Khaira, ia membulatkan matanya membersamai dengan menggelengkan kepala. Detik berikutnya Kevin menyalakan televisi di kamar, dan cctv depan rumah menunjukkan dua orang yang terekam kamera pengawas.


Bahkan kedua orang itu melambaikan tangannya di depan kamera.


"Wah dua orang pengacau datang." sungut Kevin.


Sedangkan Khaira melebarkan senyumnya, kala melihat Mita dan Bos-nya datang. "Nggak boleh bilang begitu sama tamu yang datang berkunjung ke rumah Mas."


"Tapi tampang mereka berdua seperti pengusik yang akan mengganggu kita, lihat saja. Mita sama si playboy dua kali itu melambaikan tangannya, mereka pikir mereka lagi ada di acara uji nyali?!" sungut Kevin, sudah berprasangka buruk. Bahwa kedua orang itu datang hanya akan mengganggunya.


"Kamu buka pintu, aku akan bereskan semua ini." Khaira beranjak dari atas tempat tidur. Lalu memakai apa yang bisa ia pakai, kaos dan celana panjang suaminya. Nampak kebesaran memang, tapi tak apa.


Kevin mendesis, menerka-nerka kenapa Mita dan Rekzi datang bersama.


"Apa sepupu mu dan duda itu pacaran?" Kevin mendekati Khaira, dan membantu istrinya itu melepaskan sprei.


Khaira menggidik pundaknya. "Aku nggak tahu, kalau mereka pacaran kan bagus. Berarti mengurangi jumlah populasi jomblo dan populasi duda di negara ini."


Kevin melepas tawanya mendengar jawaban nyeleneh istrinya. Ia lantas mendekati sang istri yang saat ini sedang memakai pakaiannya. Lalu merangkul pinggang Khaira. "Ada-ada saja kamu jawabnya, pakai bahasa populasi segala."


"Sudah sana buka pintunya, kasihan mereka sudah lama nunggu." Khaira mendorong Kevin agar menjauhinya.


"Baiklah-baiklah, aku akan buka pintu. Tapi ingat, ganti bajumu itu, kalau enggak. Pikiran kedua manusia itu bisa melanglang buana, kita tentunya nggak mau bukan, kalau sampai sepupu mu itu melakukan hubungan terlarang di luar nikah." kata Kevin penuh peringatan sembari menunjuk Khaira dari atas kepala sampai bahwa kaki.


Khaira tersenyum membersamai dengan anggukan kecil. Pertanda ia mengerti akan peringatan suaminya, maniknya melihat Kevin keluar dari kamar. Ia juga bergegas keluar dari kamar Kevin, dan menuju kamar yang semula ditempatinya. Lalu mengambil pakaian ganti serta hijabnya dan segera ke kamar mandi dengan langkah hati-hati.


__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2