Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
panggilan tak terjawab


__ADS_3

"Bryan menelepon? Apa mereka sudah sampai?"


Gumam wijaya ketika melihat ponsel nya yang terlihat beberapa panggilan tak terjawab dari bryan.


"Siapa yang sudah sampai, pa?"


Della yang muncul dari balik pintu, mendengar sang suami berbicara sendiri.


"Tentu saja putri ku dan juga menantu."


"Hah..., bryan dan ane? Telepon dong, pa! Kangen dengan mereka."


"Baru berapa hari sudah kangen."


"Hem..., mama baru sadar ketika ane jauh bagaimana perasaan mereka sewaktu mama meninggalkan mereka?"


Ucap della.


"Mama sangat egois, tak memperhatikan kedua anak- anak ku. Bahkan cenderung menelantarkan mereka, hanya mementingkan kepentingan mama sendiri."


Ucap della menyesalkan sikapnya sewaktu ane masih kecil.


"Semenjak ane sakit dan pindah ke luar negeri terasa banget sepinya."


Ucap della kemudian.


"Heleh...,sekarang baru menyesal. Dulu kemana saja? Sampai ane menikah pun, kau masih egois."


" Hihihi...,itu karena aku khawatir ine akan kecewa pa."


Della terkekeh geli mendengar ucapan sang suami.


" Nama nya anak- anak pasti menginginkan cinta sejati bukan perjodohan.Ini hal yang tidak papa sukai saat kau mengiyakan semua itu."


" Iya..., iya..., mama salah.Tapi..., telepon nya nggak di angkat? Lama sekali? Mama ingin melihat ane mama."


" Ane baru saja tidur. Bryan tak ingin mengganggu nya setelah perjalanan panjang mereka, makanya nggak di angkat."


Ucap wijaya.


"Yah..., lagi kangen. Harus tertunda lagi."


" Hahaha...., ciye yang lagi kangen."


Ucap wijaya meledek sang istri kemudian menarik selimut nya.


" Ih...,papa."


Della sedikit kesal dengan ejekan suaminya.


" Baru berapa hari sudah terasa kangen nya."


" Dulu...,kenapa aku begitu bodoh memilih karir? Meninggalkan anak- anak sendiri di rumah."


Gumam della.


"Sudah malam! Tidur ma, ngantuk.''


Ucap wijaya menarik selimut membelakangi istrinya.


"Huh..., papa ini. Di ajak ngobrol ngajak tidur."


Gumam della sedikit kesal yang akhirnya ikut berbaring di samping suaminya.


"Kenapa aku sangat merindukan mu, nak?"


Gumam della dalam hati setelah bergerak mengambil posisi yang nyaman untuk tidurnya namun rupanya bayangan putri nya merasuki otaknya hingga susah memejamkan kedua bola matanya.

__ADS_1


Setelah beberapa kali mencoba pindah posisi, della tetap tak bisa memejamkan matanya hingga memutuskan bangun berjalan keluar kamar menuju kamar putrinya.


Della menyusuri setiap sudut ruangan kamar tidur putrinya yang menyisakan banyak kenangan dengan setiap benda yang ada di kamar tersebut.


" Hah..., kau sangat cantik dengan gaun ini."


Gumam della mengambil salah satu pigura yang ada di meja belajar ane.


"Mama seperti seorang yang hampa tanpa cinta."


"Keegoisan mama memilih karir meninggalkan tanggung jawab seorang ibu, begitu sesak saat jauh seperti ini."


" Mama seakan merasakan apa yang kau alami dulu, nak."


"Jangan hukum mama terlalu lama! Cepatlah sembuh dan juga cepatlah kembali.''


" Mama merindukan kalian."


Della mengusap pelan pigura putrinya dengan penuh haru hingga setitik airmata keluar di sudut mata della.


"Eh..., sejak kapan ada photo ini? Kenapa aku tidak tahu?"


Della terkwjut ketika sekilas melihat sebuah pigura besar terpampang di dinding tembok kamar.


"Hem..., jodoh masa kecil. Mama tak menyangka kau berjodoh dengan pangeran masa kecil mu."


"Kebahagiaan mama terasa lengkap namun kenapa hanya sebentar? Hiks hiks..., kenapa tidak mama saja yang menerima penderitaan mu nak?"


"Kenapa semua harus terjadi padamu? Mama seperti orang tua yang tak berguna tak bisa berbuat apa- apa untuk kesembuhan mu, nak."


"Maafkan mama, seharusnya ini tidak terjadi."


Della menangis sesenggukan melihat sebuah pigura besar yang terpampang di dinding kamar.


Della tak lantas kembali ke kamarnya melainkan berbaring di ranjang empuk milik ane hingga terlelap dalam tidur.


Wijaya mengerutkan keningnya ketika melihat kamar mandi yang kosong tak menemukan keberadaan istrinya.


" Hah..., melo."


Gumam wijaya.


Tak berapa lama wijaya yang selesai membersihkan dan merapikan diri , wijaya mengintip pintu kamar putrinya dimana sang istri masih meringkuk pulas memeluk guling diranjang putrinya.


"Hah..., kini kau baru tahu rasanya kesepian jauh dari putri kita."


Gumam wijaya tersenyum lalu berlalu meninggalkan istrinya yang sedang meringkuk pulas disana.


" Pa..., belum berangkat?"


" Belum, tumben datang sepagi ini? Abi mana?"


Tanya wijaya melihat ke arah belakang yang mana tak ada istri dan anaknya.


"Mereka tidak ikut, pa. Rio hanya mampir memberikan sarapan untuk kalian. Orang tua dina datang membuat sarapan lebih untuk mama dan papa."


"Oh..., begitu. Kebetulan sekali."


"Kebetulan? Maksud papa?"


"Mama mu masih tidur, bibi pulang."


" Masih tidur? Nggak biasanya jam segini mama masih tidur."


" Biasa, kangen adikmu. Tidur di kamar ane."


Ucap wijaya melahap makanan dari rantang yang dibawa rio untuknya.

__ADS_1


"Sudah sarapan? Temani papa makan."


"Kenyang, pa. Rio temani ngopi aja ya pa."


"Baiklah, bikinkan papa juga!"


"Okay."


Rio membuat dua cangkir kopi hitam untuknya maupun papanya, juga mengambil air minum untuk papa nya.


"Bagaimana perkembangan ane, pa?"


"Apanya?"


"Apa ane akan kembali seperti semula?"


"Tenang saja! Adik iparmu pasti menjaganya dengan baik."


"Lagi pula, sebenarnya.."


" Pa...., papa..., aduh papa sudah berangkat ya?"


Della berlarian ditangga sedikit gugup melihat jam dinding yang sudah siang, teringat sang suami harus bekerja sedangkan bi iyam yang sedang cuti.


Beruntung wijaya tak melanjutkan perkataan nya juga tak membuat putranya curiga, ketika mendengar suara istrinya dari ruang makan.


"Pa...., sudah sarapan? Rio..., kapan datangnya? Ini siapa yang masak?"


Ucap della sedikit tercengang dan meringis tersenyum melihat putra dan suaminya.


"Rio yang bawa sarapan. Mungkin tahu kalau mamanya bangun kesiangan."


"Hahahaha... ."


"Hahahaha... ."


Tawa rio dan wijaya pecah melihat della yang tersipu malu.


" Ah..., sengaja mengejek mama ya? Tahu seperti itu mama nggak bangun tadi, memutus mimpi indah mama saja."


Della yang pada akhirnya cemberut meninggalkan ruang makan karena tawa puta dan suaminya.


Entah apa yang sedang dipikirkan della hingga bersikap sangat sensitif seperti itu. Mungkin karena kerinduan pada putrinya atau ada masalah lain yang sedang dihadapinya. Wijaya maupun rio hanya saling berpandangan dan mengangkat bahu masing- masing.


"Pa, kapan berencana menengok ane?"


"Belum ada rencana sejauh itu, lagi pula adikmu baru beberapa hari disana."


"Dan papa harus mengurus toko adikmu yang ditinggal begitu saja."


Ucap wijaya.


"Oh..., kenapa tak memberikan tanggungjawab toko pada dina saja pa?"


"Apaa...., pada dina. Mana boleh begitu, istrimu sudah mengurus kantor mamamu. Kau tak berniat membuatnya lelah kan? Atau kau ingin abi seperti kalian? Tak mendapat kasih sayang dari mamanya."


Bukan satu usul yang baik tapi justru membuat boemerang padanya.


"Hihi..., maaf pa. Rio juga tak ingin papa lelah kecapekan mengurus kantor dan toko ane."


"Kenapa tidak kau saja? Kenapa mengusulkan dina? Membuat papa naik pitam saja."


"Iya iya...., rio salah. Papa jangan marah lagi nanti cepat tua."


"Rio berangkat ya, pa. Papa hati- hati dijalan! Jangan minum kopi terlalu banyak! Nggak baik untuk papa."


"Hem."

__ADS_1


Wijaya sedikit marah dengan usul putranya hanya menjawab sepatah kata saja. Entah kenapa wijaya emosi ketika mendengar usul putranya. Wijaya tak ingin abi yang masih kecil mendapatkan atau merasakan hal yang sama dengan papanya rio maupun tantenya ane.


__ADS_2