Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Kesempatan dalam kelapangan


__ADS_3

Pernikahan bukanlah sebuah momok menakutkan bagi pria maupun wanita yang belum mapan. Justru bisa menjadi sebuah ladang rezeki dan pahala jika niatnya hanya untuk ibadah. Karena cinta bukan hanya berlandaskan saling suka dan saling cinta. Akan tetapi, juga merajut masa depan bersama.



Keesokan harinya...



Tok tok tok



"Assalamualaikum." suara laki-laki berada diluar rumah Kevin. Membuat sang pemilik rumah mendengarnya terkesiap.



Kevin dan Khaira saling tatap-menatap. Kevin sedang duduk di kursi meja makan, sedangkan Khaira tengah menyajikan kopi untuk Kevin.



"Sopo Mas?" tanya Khaira.



"Jarwo!" sahut Kevin.



"Iiih, jangan bercanda Mas Kevin!" hardik Khaira.



"Lho, yang biasa buntutin Jarwo kan Sopo! Bukan Dora?" jawab Kevin sekenanya.



"Ya, kalau yang membuntuti Dora itu, kamu!" Khaira mendengus dingin menanggapi candaan garing suamiku. "Mas Kevin mah kalau ditanya jawabnya becanda mulu!" sambungnya hendak berjalan kearah ruang tamu.



"Yang penting buat nikahin kamu, aku nggak bercanda!" jawab Kevin lalu beranjak dari duduknya, dan menyusul Khaira.



"Biar aku yang buka pintu, kamu juga kan belum pake hijab. Aku nggak mau keindahan mu sampai dilihat orang lain." ujar Kevin menghentikan langkah Khaira. Ia menganggap, orang yang bisa melihat keindahan istrinya hanya dirinya seorang.



"Cieee... Mas Kevin sweet banget." Khaira mencubit pipi Kevin gemas.



Kevin teramat sangat senang, dengan adanya sikap Khaira yang menggemaskan. "Jangan di cubit aja dong?"



Khaira mengernyitkan dahinya membersamai dengan menggidik pundak. "Lalu?"



Kevin memajukan tubuhnya, lebih tepatnya wajahnya lebih mendekati wajah sang istri. "Sun...?" ucapnya sambil menunjuk bibirnya sendiri.



Khaira mendesis. "Ck.. kesempatan dalam kelapangan ini mah," ia mendelik lalu mendorong bahu Kevin agar menjahui wajahnya. "Udah sana bukain pintunya. Kasihan kan tamunya udah nunggu lama."



Terdengar lagi suara ketukan membersamai dengan suara salam.



Tok tok tok... "Assalamualaikum..."



"Oke.." sahut Kevin, dilihatnya Khaira berjalan menuju kamar, sedangkan dirinya berjalan menuju pintu rumah utama.



Kevin membuka pintu, pandangannya langsung dihadapkan pada seorang Bapak-Bapak yang memakai celana panjang hitam, kemeja batik, dan blangkon. Kevin menatap Bapak tersebut dari ujung kaki yang memakai sandal jepit swalow sampai ke ujung kepala.


__ADS_1


"Cari siapa Pak?" tanya Kevin, kepada Bapak yang ada di depan pintu.



"Cempreng!" ucap si Bapak, menyebut 'cempreng. Keponakannya yang sedang bersembunyi pun muncul dari balik punggung Bapak yang memakai blangkon.



Gadis berambut sepundak mendengus kesal. "Paman Ahmad, namaku Mita!" ucap Mita melayangkan protes menatap Bapak yang ada di sebelahnya.



"Yo wes, Iyo, Mita, Nduk cah ayu. Seng ayu dewe, tapi luweh ayu anakku." (Ya udah, iya, Mita. Anak yang cantik, yang cantik sendiri, tapi lebih cantik anakku.)" kata Abah Ahmad tak lain tak bukan adalah orang tua tunggal Khaira. Beliau mencoba menyenangkan hati keponakannya, berbicara dengan logat Jawanya yang medok.



Netra Kevin membulat sempurna kala melihat sepupu dari istrinya, seketika saja perasaannya tercengang, berprasangka bahwa Bapak-bapak yang berada di depan pintu rumahnya, adalah Abah dari istrinya.



"Jadi, betul ini rumahnya Kepin?" tanya Abah kepada Mita.



"Kevin, bukan Kepin, Bah.." jelas Kevin, ikut membenarkan ucapan Bapak yang masih setia mendengar penjelasan Mita.



"Saya tanya Mita, bukan kamu toh yo!" sahut Abah bernada suara galak, melihat seorang pria muda yang muncul dari dalam rumah dan kemudian melihat Mita.



"*Waduh galak bener*!" Kevin membatin.



"Iya Paman, dia ini orangnya." ujar Mita, sambil menunjuk Kevin.



Kevin memasang cengiran kuda, dan mengingat kata-kata Abah soal cincang mencincang sewaktu di telepon video kemarin. Kevin tidak menyangka ternyata beneran Abah datang ke kota. Ia menelan ludahnya yang serasa alot.



"Saya Kevin, Abah." ucap Kevin, seraya mengulurkan tangannya ke hadapan orang tua tunggal istrinya.




Abah hanya melirik sekilas tangan seorang pemuda yang terulur dihadapannya, dan kembali menatap wajah pemuda yang bernama Kevin. "Hemm tampangnya memang tampan, tapi belum tentu sikap dan perilakunya seperti wajahnya. Apa hanya karena pemuda ini tampan, jadi putriku klepek-klepek sama dia?"



Kevin membaca sorot mata Abah yang menilai dari ujung kaki sampai ujung kepala. Perasaannya tergagap, seolah sedang menghadapi tantangan berat untuk menjawab.



"Jadi kamu yang sudah mengaku-ngaku suami Ningrum?" kata Abah bertanya seraya menunjuk-nunjuk Kevin.



Lagi Kevin menelan ludahnya membersamai dengan anggukan kecil.



Seketika saja Abah Ahmad emosi, sembari mengambil sandal jepit dan hendak memukul Kevin, sembari mengumpati pemuda yang mengaku suami dari putri satu-satunya. "Awas kamu yah, kamu pasti sudah berbuat zina! Dasar pemuda kota tidak tahu malu, kamu pasti sudah menjebak putriku agar dia menikah dengan mu. Tanpa meminta izin dariku terlebih dahulu untuk menikahinya. Abah percaya kalau anak Abah ndak akan melakukan perbuatan tercela, kalau kamu ndak menjebaknya!"



"Ampun, Bah, ampun!" kata Kevin menangkap tangan Abah yang menggenggam sandal jepit.



"Ya Allah, Paman! Jangan begini Paman. Tadi Mita suruh Paman mendengarkan penjelasan Mita nggak mau, sekarang Paman salah paham kan?" ucap Mita seraya hendak melerai kemarahan amarah Pamannya.



"Ya habis, kamu tahu sendiri kan Ning seperti apa? Dia ndak mungkin melakukan tindakan yang mempermalukan diri juga Abah." Abah menarik tangannya, namun masih mengacungkan sendalnya kehadapan Kevin.



Kevin mengangkat kedua tangannya, tanda ia menyerah saja. Namun, pada saat Abah akan melayangkan kembali sandalnya keatas. Tepat itu juga sandal Abah menimpa kepala Khaira yang baru keluar dari dalam rumah.

__ADS_1



"Haduh! Hadiah macam apa ini Abah?" Khaira baru keluar dari dalam rumah, dan langsung melerai keduanya, lalu memposisikan dirinya di tengah-tengah Kevin dan Abahnya.



POWH!!!



Khaira lah, yang mendapatkan tampolan di kepalanya, dari sang Abah. Membuat Khaira terhuyung dan jatuh.



"Astaghfirullah, anakku." Abah terpanjat melihat anaknya terjatuh seraya memegangi kepala.



"My Delf!" pekik Kevin hendak merangkul Khaira, namun dihalangi oleh Abah.



"Jangan kamu sentuh anakku, kamu pasti pemuda begajul!" hardik Abah, mendelik menatap menantu yang belum mendapatkan gelar menantunya.



"Ya ampun, Neneng, Oneng!" suara cempreng Mita ikut membuat gaduh, mencoba membantu Khaira untuk berdiri.



"Bah, saya bukan pemuda begajul apalagi mencoba menjebak anak Abah. Saya sungguh suami Khaira Bah." kata Kevin menjelaskan.



Abah mengibaskan tangannya menyangsikan ucapan Kevin. "Dari berita yang beredar, jika pemuda kota itu kebanyakan begajul."



Kevin menghela nafas panjang, "Iya, tapi bukan berarti saya salah satunya pemuda begajul, Abah. Itu hanya dari berita?"



Sudah tertimpa pukulan sandal, harus pula mendengar perdebatan Abah dan Kevin, ini lagi suara Mita yang ikut-ikutan heboh. Khaira merasa dilanda gemuruh ombak dahsyat di tengah-tengah ketiga orang ini.



"STOP!" Khaira berseru menghentikan kegaduhan dan mengangkat tangannya melambung tinggi.



Semuanya orang tercengang. Abah, Mita, dan Kevin mendengar seruan Khaira yang seperti peluit panjang seorang wasit.



Sampai Abang tukang bakso yang lewat depan rumah Kevin juga ikut berhenti.



"Kenapa Neng, mau beli?" tanya Abang tukang bakso yang berhenti tepat didepan rumah Kevin.



"Abang tukang bakso, mari, mari sini aku mau beli. Waduh kenapa gue malah nyayi yah?" ucap Mita latah, mengingat nyanyian anak-anak semasa kecilnya dulu.



Kevin mempunyai ide bagus.



"Iya Bang." jawab Kevin kepada Abang tukang bakso. Kali aja ya kan, makan bakso bisa mencairkan suasana yang tegang ini.



"Sayang, tolong ambilkan mangkok, kan Abah kasihan habis dari perjalanan jauh, kan pasti laper." ujar Kevin yang ditujukan kepada Khaira, sekilas melirik Abah.



Khaira melihat Kevin, dan beralih melihat Abah. "Benar juga." Khaira segera meluncur ke dalam rumah guna mengambil mangkuk.



Abah melihat Kevin, "*Nilai rata-rata masih 50-50, yang tadinya hanya 90-10. 90 buruk, dan hanya 10 nilai baik. Sekarang seimbang, dengan adanya pemuda itu mengerti bahwa saya telah melewati perjalanan jauh semalaman dan belum makan, tapi bukan berarti saya akan luluh secepat kilat dengan hanya di sogok bakso*."

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2