Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Perang di mulai


__ADS_3

"Ah..., siapa yang peduli aku bermalam dengan siapa? Yang terpenting aku harus bisa membuktikan ini darah daging nya."


Gumam stevi dalam hatinya.


"Tapi siapa yang bersama ku malam itu? Bagaimana aku menemukan orang yang sama?"


" Dan bagaimana pula aku bisa membuat hasil itu sama?"


Stevi masih bergelayut manja di alam pikiran nya, sementara bryan meninggalkan stevi yang masih termangu tak bergerak.


"Oh ya..., aku lupa memberitahumu kalau salah seorang detektif bernama ray tengah mencari keberadaan mu."


"Apa kau ada masalah dengan mereka?"


"Baiklah, aku pergi dulu."


Bryan mengedipkan sebelah matanya dengan senyuman yang penuh ejekan.


"Brengsek!! Dari mana bryan tahu tentang ray? Pria brengsek itu akan mengacaukan rencanaku jika aku tertangkap oleh nya."


Gumam stevi dalam hati meremas bagian bawah gaun yang dikenakan nya.


"Aku harus secepatnya membereskan masalah ini. Paling tidak ada tempat untuk bersembunyi dari kejaran mereka."


"Atau setidaknya keluarga mahendra akan melindungiku jika mengetahui aku mengandung cucu pewaris mahendra."


"Yah..., tenang stevi! Kau tidak boleh gegabah."


Stevi tersenyum simpul setelah menyelesaikan hayalan nya atau pikiran nya tentang kejaran- kejaran para musuhnya, melangkah maju meninggalkan tempat itu.


Di ruang rawat denada.


"Syukurlah tante sudah siuman. Minum tante!"


Silla memberikan air hangat pada della yang sadar dari pingsan setelah mendengar kabar buruk dari stevi.


" Sil..., ian mana?"


"Menyelesaikan urusan nya, tante. Sudahlah tante tak perlu memikirkan ucapan wanita gila itu."


Jawab silla sedikit panjang lebar.


"Benar, del. Aku yakin itu hanya rencana nya memisahkan putra dan putri kita."


Ine ikut menimpali ucapan putrinya silla.


" Tapi..., bagaimana kalau semua benar? Bagaimana nasib putriku dan kedua bayinya?"


Della merasa sedikit khawatir dengan kebenaran yang disampaikan stevi.


"Tidak, tante. Kak ian tidak mungkin melakukan nya. Kakak ku itu sangat posesif dan juga protektif, bagaimana mungkin meninggalkan kak ane semalaman? Sedangkan sedetik pun kak ian tak bisa berpisah dari kak ane."


Ucap silla menghampiri ane yang terbaring lemah ditempat tidur.


"Tetap saja, tante merasa khawatir."


"Tidak, del. Aku yakin ian tak melakukan hal serendah itu. Jangan khawatir!! Aku orang pertama yang akan melindungi putrimu dan juga cucu kita."


Ucap ine menggenggam erat tangan della.


"Yang terpenting adalah ane secepatnya bisa pulih seperti semula."


"Iya, kau benar."


Della membenarkan ucapan ine.


"Ciye..., kedua nenek saling memberi suport."


Baik ine maupun della tercengang menatap gadis kecil yang saat ini tengah meledek mereka.

__ADS_1


"Ih..., kau ini. Masih saja mengejek mama."


Ucap ine sedikit cemberut.


"Hihihi..., tidak ma."


Silla terkekeh geli menutup mulutnya melihat reaksi sang mama.


Ceklek...


"Bryan..., bagaimana?"


Della berdiri menghampiri menantunya menggenggam tangan ian berharap cemas.


"Tidak apa- apa, ma. Bukankah biduk rumah tangga ada beberapa ujian? Seperti kita berjalan pasti menemukan kerikil- kerikil tajam di depan nya?"


Ucap bryan menepuk tangan mertuanya lalu menuntun sang mama ke sofa dimana ine masih duduk disana.


"Bahkan angin ****** beliung juga bisa merobohkan rumah. Tergantung pondasi yang dibuatnya."


Ucap bryan.


"Anggap saja rumah bryan sedang kedatangan angin ****** beliung, ma. Doakan yang terbaik untuk kami!"


Setidaknya della bernafas lega dengan penjelasan menantunya yang memang benar apa yang dikatakan nya.


"Hah..., angin ****** beliung? Apa rumah silla juga akan kedatangan putimg beliung?"


Kedua mama itu saling berpandangan tercengang dengan pertanyaan silla, namun tidak bagi bryan yang tersenyum simpul meraih laptopnya kembali.


Mereka seakan melupakan kalau seorang gadis kecil yang ada di depan mereka telah menikah dan juga masih tergolong sangat muda.


"Eh..., eh..., nak..., setiap rumah tangga pasti akan mengalami hal tersebut."


Ine menghampiri silla yang berdiri melipat kedua tangan nya di bilah dadanya.


"Benar apa yang dikatakan kakak mu kalau setiap rumah sesekali pasti akan didatangi ****** beliung. Tergantung rumah mu punya pondasi yang kuat atau tidak untuk mempertahankan rumah mu."


"Gimana caranya membuat pondasi yang kuat?"


Della dan bryan tercengang mendengar pertanyaan silla namun bryan hanya mengangkat bahunya. Sementara della tersenyum melihat ine bernafas panjang menatap putrinya.


"Salah satu cara saling percaya antara kedua pasangan."


"Hanya itu?"


"Saling memberi suport antara pasangan."


"Bagaimana caranya?"


"Hah..., kau tanya pada kedua kakak mu!"


Ine sedikit kesal dengan pertanyaan putrinya, pergi meninggalkan nya duduk di antara della dan bryan.


"Sudahlah, silla masih kecil. Kau tak perlu kesal seperti itu."


Ucap della menepuk bahu ine.


"Tuh..., benar kata tante della. Lagi pula wajar saja silla bertanya pada mama, secara mama sudah banyak pengalaman."


Ucap silla.


"Iya, boleh saja. Tapi pertanyaan mu terlalu berlebihan."


Ine membela diri meskipun yang sebenarmya jengkel dengan pertanyaan lanjutan silla yang mungkin tak kan ada hentinya.


"Eh..., berlebihan? Mana ada yang berlebihan? Silla kan hanya tanya dan menambah ilmu saat semua yang mungkin nanti terjadi pada rumah tangga silla."


Ucap silla.

__ADS_1


"Lagi pula..., siapa suruh mama nikahin silla di usia muda?"


Jleb...


Satu kalimat yang membuat ine melongo bahkan merasa tersayat hatinya seperti tergores pisau yang tajam.


"Kak ane..., silla pulang dulu ya. Besuk silla datang lagi."


" Kak..., tante..., silla pulang dulu."


"Hem."


Jawab bryan.


"I..., iya. Hati- hati ya sil!"


"Iya, tante."


"Pulang sendiri atau dijemput rafa, sil?"


"Dijemput kak rafa, kak. Bye."


"Bye."


"Sil..., mama nggak dipamitin?"


"Nggak."


Silla menghilang dibalik pintu membuat ine ternganga melihat sikap putrinya yang sedang menahan amarah padanya.


"Sudahlah, ne. Silla masih anak- anak, jangan terlalu dipikirkan!"


"Hah..., benar. Tapi..., apa yang di ucapkan nya benar. Aku harus lebih memperhatikan nya dan juga membimbingnya."


Ucap ine tertunduk lemas merasa menyesal dengan sikapnya.


"Lain kali kau bisa memberitahunya, jangan khawatir! Aku yakin silla mengerti kondisi hati dan pikiran kita saat ini yang terbilang banyak masalah."


Della mencoba menenangkan ine yang tampak sedikit lesu.


"Hem..., makasih dell."


Bryan tampak berjalan mendekati istrinya duduk disampingnya beberapa kali mengusap pipi dan mengenggam erat tangan ane.


Kedua nenek tampak mendekatkan diri memeluk satu sama lain melihat pemandangan yang luar biasa.


Sedangkan silla menoleh kanan kiri mencari keberadsan mobil rafa yang tak ditemuinya di lobby rumah sakit.


"Dimana? Bukankah tadi mengirim pesan sudah lobby?"


Gumam silla.


"Aku telepon saja."


Silla mengeluarkan ponselnya mencoba menghubungi rafa, namun belum sempat menekan tombol dial rafa sudah muncul dibelakang nya.


Tin tin...


Silla menoleh ke arah belakang melihat mobil suaminya, tersenyum melambaikan tangan.


"Kakak darimana? Kenapa silla cari tidak ada?"


" Menunggu lama ya?"


"Tidak, hanya beberapa menit."


"Pulang sekarang?"


"Hem."

__ADS_1


Silla mengiyakan tawaran rafa yang mengajaknya pulang. Di tengah perjalanan silla tertidur pulas tak mengajak atau pun cerewet seperti biasanya. Mungkin kelelahan menjaga ane di rumah sakit, karena gadis itu sangat aktif berbicara pada kakak iparnyasetelah bryan memberitahu separuh memory ane menghilang.


Bersambung🙏😊


__ADS_2