
Selang waktu tiga puluh lima menit, dengan kecepatan tinggi tak butuh waktu lama untuk mengulur waktu. Kevin dan Khaira telah sampai di depan sebuah bangunan restoran bergaya minimalis modern, dengan eksterior kaca-kaca lebar yang nampak estetik dari luar.
Di sisi kanan dan kiri ada pepohonan ketapang kencana yang cukup rimbun berserta taman kecil. Bisa untuk penghijauan dan untuk penyejuk di hiruk-pikuk Ibu kota yang padat akan bangun gedung tinggi menjulang.
Khaira berpikir, restauran tempat Mita bekerja terlihat cukup berkelas dengan diapit gedung-gedung perkantoran. Namun Mita mengatakan bahwa menu harga di restauran bertuliskan nama Padang Bulan ini cukup terjangkau bagi kalangan karyawan dan karyawati yang bergaji standar.
Karena menu yang disajikan merupakan makanan khas Padang yang di sajikan berkonsep modern.
Khaira melihat di depan restauran sudah ada Mita yang sedang berdiri serta bercengkrama dengan salah seorang wanita seumuran dengan sepupunya.
Mita dan seorang teman berhijab hitam bernama Raisa pun melihat kearah motor yang berhenti tidak jauh dari keduanya.
“Mit!” panggil Khaira, lalu menghampiri sepupunya itu.
“Ya udah Mit, gue masuk dulu.” ujar Raisa, lalu berjalan ke arah samping restauran yang terdapat dua pohon ketapang kencana sebagai penyejuk taman restaurant. Sekaligus penghalau teriknya sinar matahari.
Mita melihat Khaira dan sekilas ia melihat Kevin yang masih duduk di atas motor, “Hadeuh, pengantin baru, pengantin baru, duduk bersanding atas pelamin. Buset dah, gue malah nyayi lagunya si kepala tuyul, hehe..”
"Maaf ya Mit, aku sedikit terlambat,” kata Khaira langsung mengambil tangan Mita, ia melihat mimik wajah Mita yang nampak sedang kesal.
"Sedikit apanya? Wong lo tuh udah telat setengah jam, Neneng!” protes Mita, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Khaira yang di tertutupi hijab, lalu berbisik, “Lo tiga hari ini habis ganco lo ya, makanya di telpon susahnya minta ampun, apalagi sekarang lo telat?”
Kecurigaannya bukan tanpa alasan, karena tiga hari Mita sulit menghubungi Khaira.
Keningnya mengerut, Khaira membulatkan matanya menatap Mita, ia mundur selangkah menjauhi sepupunya, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya di katakan oleh Mita, “Maksud kamu apa Mita? Ga-ganco apaan? Kouta ku habis, terus aku nggak bisa telpon kamu,”
Mita tidak gampang percaya begitu saja, ia mengibaskan tangannya, “Hilih, alasan! Bilang aja kalau lo kagak mau di ganggu, iya kan?”
Kevin penasaran akan hal apa yang sedang diperbincangkan Khaira dan gadis berambut sepundak di blow, “Kalian bicara soal apa? Kenapa bisik-bisik?”
Mita dan Khaira tersentak akan kehadiran Kevin yang tiba-tiba sudah mendekat.
Mita menatap pria yang menjadi suami dadakan dari sepupunya, ia menggelengkan kepalanya, “Kagak, kenapa lo kepo?!”
Kevin baru ingat, gadis berambut sepundak yang berdiri di samping Khaira adalah Mita sepupu dari istri dadakannya, ia lantas mengulurkan tangannya kehadapan Mita, “Halo! Kita kemarin belum kenalan secara baik-baik!” ucapnya dengan nada suara dingin.
__ADS_1
Sekilas Mita terpesona akan ketampanan yang di miliki wajah Kevin, namun mengapa melihat wajah Kevin dengan seksama pagi ini. Ia merasa tidak asing dengan wajah pria yang sedang mengulurkan tangan dihadapannya. Mita pun menjabat tangan Kevin.
“Gue Mita,” balas Mita sekilas menjabat tangan Kevin.
“Lo sepupu bini gue kan?” ujar Kevin merangkul pundak Khaira tanpa risih serta menyebut Khaira dengan sebutan bini. Jika di artikan adalah istri.
Mita dan Khaira saling melempar tatapan.
Khaira hendak menurunkan tangan Kevin yang merangkul pundaknya, namun Kevin semakin mengencangkan rangkulannya.
“Ini apa sih Mas Kevin, Ih!” gertak Khaira berusaha melepaskan rangkulan Kevin.
“Kenapa harus malu sayang,” balas Kevin malah mencolek dagu Khaira.
Khaira mengibaskan tangan Kevin yang mencolek dagunya, “Apaan sih, sayang-sayang, simbahmu!”
Dengan paksa Khaira melepaskan lengan Kevin yang merangkul pundaknya. Namun lagi-lagi Kevin merangkul dan kali ini merangkul pinggangnya, membuat Khaira bertambah dongkol juga risih mendapat tatapan mata dari Mita.
Mita melihat Khaira dan Kevin secara bergantian. Dan mengira-ngira bahwa Khaira seolah sudah lama mengenal Kevin, dari caranya Kevin yang seolah tak ada risih merangkul pundak Khaira juga cara bicara Kevin yang terdengar akrab.
“Berkali-kali ronde!” celetuk Kevin, lalu mengerlingkan matanya kepada Khaira.
Khaira mengerap-ngerjapkan matanya menatap Kevin, “Ronde apa sih? Wedang ronde maksudnya. Kan kita nggak minum itu?”
Tak lelahnya Khaira dalam melepaskan diri dar jerat rangkulan Kevin, “jangankan minum wedang ronde, wong aku di kurung di dalam rumah!” kesalnya sinis menatap Kevin.
Mita membelalakkan matanya mendengar pengakuan Khaira, sampai-sampai ganasnya Kevin mengurung sepupunya.
“Pantas aja Khaira ini telat, tak terbayangkan jika pernikahan yang lo anggap sebagai pengalihan hukuman cambuk dan formalitas, ternyata lo menikmatinya juga sampai-sampai mengurung sepupu gue!” umpat Mita menatap Kevin sinis. “Dasar mesum!” imbuhnya mencibir Kevin.
Tak merasa berdosa, Kevin malah mengangkat bahunya tak acuh.
“Lah emang kenapa? kalau bini gue telat dan gue kurung, lagian kan tugas istri memang melayani suaminya. Sampai suaminya merasa puas! Kan restoran juga belom di buka,” seloroh Kevin santai.
"He'eh.. gue tau dia bini lo sekarang!” balas Mita bersuara kesal, ia lantas beralih menatap Khaira, “Gue juga nggak nyangka sama lo Ra. Lo awalnya nolak dan maunya di cambuk, eh taunya lo juga menikmatinya. Enak bukan?”
__ADS_1
Kening Khaira mengerut mendengar pernyataan Mita, ia melihat Kevin dan kembali melihat Mita, “Kalian ini sebenarnya lagi ngomongin apa sih, tadi ronde! Sekarang enak. Orang aku semalam nggak menikmati ronde, ya mana aku tau enak apa enggak tuh ronde! Jelas-jelas selama tiga hari aku cuma makan mie instan!”
“Apa? Makan mie?” pekik Mita mendengar pengakuan demi pengakuan Khaira, ia menggeleng-gelengkan heran. “Sadis!”
Berusaha sekuat untuk melepaskan tangan Kevin yang masih mencengkram pinggangnya, “Ish, ini apa lagi sih Mas Kevin! Tangannya usil banget!”
Dengan sangat santainya Kevin pun akhirnya melepaskan tangannya dari semula merangkul pinggang Khaira, ia mengulum senyuman.
“Kapan lo traktir gue, kagak tau apa, kalian kemarin udah bikin gue takut!” ujar Mita memalak traktiran pada Kevin.
Kevin pun menjentikkan jarinya, “Tenang soal traktiran mah kecil, biasanya juga lo palingan makan cacahan kangkung!”
Matanya menyipit menatap Kevin, Mita nampak kesal dengan atas ucapan nyeleneh pria yang berdiri di samping Khaira, “Enak ae lo bocah tengik! Emang gue bebek apa?! Makan cacahan kangkung!”
“Tengik! Dikira lo, gue ini singkong dijemur!” balas Kevin.
Saling sahut menyahut pun tak terhindarkan, Khaira merasa diajak keliling memakai rolling Coaster. "Stop, stop... Kalian bikin aku jadi tambah pusing. Mas Kevin pulang sana!” hardiknya kesal.
“Oke gue pulang,” jawab Kevin lantas mengulurkan tangannya di hadapan Khaira, “salim,” ujarnya melirik tangannya sendiri dan beralih menatap Khaira yang seolah seperti anak SD yang akan berangkat sekolah.
Khaira tidak langsung menyalami tangan Kevin yang terulur dihadapannya.
Mita nampak risih melihat kedua orang dihadapannya, “Gue pergi dulu Ra! Eneg gue lihat tampang suami lo yang aneh!” Ia lantas berbalik badan dan melenggang pergi.
“Hey Mita!” Khaira melihat kepergian sepupunya. Ia kembali melihat tangan Kevin dan langsung menyalaminya serta menciumnya singkat. “Hati-hati di jalan Mas Kevin, makasih udah ngaterin aku ke sini.” tanpa menunggu jawaban, ia langsung pergi dari hadapan Kevin dan segera menyusul Mita.
Kevin melihat tangannya yang baru saja bersalaman dengan Khaira, lalu mengalihkan pandangannya menatap punggung istri dadakannya yang sudah semakin menjauh menyusul Mita. Kedua sudut bibirnya menarik senyuman kecil, ia menghela nafas pelan bersamaan mengelus dadanya.
“Ah gue berasa kayak jadi Bapak nganter anaknya kerja,” gumamnya sendiri. “Ralat! Kenapa jadi Bapak?Pan gue suami? Ah udahlah kenapa gue jadi bahas soal status gue sekarang?” Kevin menggidik pundaknya. Lantas berbalik arah dan berjalan ke arah motornya yang terparkir. Ia pun perlahan meninggalkan pelataran restauran dan membaur dengan pengendara lainnya
Bersambung....
__ADS_1