
Seorang wanita cantik nan masih muda sedang duduk santai di sofa mahal berbahan dasar kulit. Clara tiada habis untuk berpikir tentang bagaimana caranya agar bisa menjauhkan Khaira dari peredaran hidup Kevin.
Selain kenal baik dengan Kevin, ia juga mengenal Rezki. Karena beberapa kali saat ia menunggu Kevin bermain futsal maka Clara pun ada. Ia sangat berusaha untuk mendapatkan perhatian Kevin.
Clara sedang memegang ponsel mahalnya yang bermerek apel keroak, beberapa kali ia menulis pesan, lalu kemudian menghapusnya, ia lakukan secara berulang-ulang.
Mencoba mengirim pesan kepada nomor baru di ponselnya yang ia dapatkan dari rekan kerja Khaira di restauran milik Rezki beberapa hari yang lalu. Clara bingung harus mengirim pesan kepada Khaira dengan kata-kata apa? Langsung bernada ancaman, ataukah mengutarakan maksud dan keniatkannya?
Kembali teringat, kala menerima informasi dari ajudan Papa Erik dalam pengintaian selama beberapa hari lalu. Clara menerima informasi mengenai Khaira maupun Kevin yang terlihat semakin dekat dan akrab, bahkan sekarang ini hampir satu bulan pernikahan yang dijalani Kevin baik-baik saja. Tanpa adanya problem.
Didengar dari para ajudannya, yang Clara perintahkan untuk mengintai Kevin bahwa Kevin terlihat bahagia hidup bersama dengan Khaira.
Membuat hati Clara semakin remuk, semakin terbakar, semakin marah mendengar informasi itu. Ia ingin menghancurkan kebahagiaan Kevin, rasa cintanya memang masih ada. Namun sikap Kevin yang mengacuhkan perasaannya membuat Clara gelap mata.
Pikirannya seakan ingin segera menghancurkan senyuman, menjadi sebuah tangisan, dari Kevin maupun Khaira.
"Bagaimanapun, gue harus menghancurkan kebahagiaan mereka!" ucapnya dengan suara gigi dikeratkan.
Ketika sedang sibuk merencanakan sesuatu, bodyguard rumahnya memberitahu, kalau ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.
"Nona Clara, ada seseorang ingin bertemu dengan anda." kata Beni kepada Nona'nya.
Clara lantas beranjak dari duduknya, dan berjalan mengikuti Beni.
Dilihatnya seorang pria yang sedang memunggungi tangga menunju ke lantai atas.
"Ada apa kamu kemari bedebah?!" teriak Clara lantang berdiri di anak tangga.
Anto, membalikkan tubuhnya melihat Clara seperti ratu yang menuruni tangga, "Benarkah kamu sedang hamil anakku, Clara?"
Clara tidak bergeming dengan pertanyaan Anto, dilihatnya wajah Anto yang lebam serta dalam keadaan karut marut, bahkan Clara dapat melihat bahwa baju yang di pakai Anto terkoyak.
__ADS_1
"Kamu nggak bisa menjauhkan ku dari anakku Clara!" teriak Anto lantang kala melihat Clara berbalik badan.
"Gue bakal menggugurkan kandungan ini, lo kagak punya hak untuk mengakui bahwa ini adalah anak lo, karena orang yang tidur sama gue bukan lo aja Anto!" jawab Clara tanpa membalikkan tubuhnya.
Clara heran, mengapa Anto bisa meloloskan diri dari ikatan yang sangat kuat dan terkunci rapat di dalam rumah kosong guna menyekap Anto.
"Aku rela mati dibawah rumah kosong itu, asal kamu jangan menggugurkan anakku," seru Anto, masih melihat Clara tidak bergerak, wanita itu diam di tengah-tengah tangga lebar seperti istana. Ia masih bersikeras bahwa janin yang ada didalam rahim Clara merupakan benih yang ia tanam hampir dua bulan lalu.
"biarkan anakku hidup, anakku nggak salah, dia masih suci. Meskipun sekarang ini baru sekepalan tangan di dalam rahimmu. Dan kamu adalah wanita satu-satunya yang aku cintai Clara, aku mohon..." kata Anto membujuk, agar Clara tidak menggugurkan anak yang di kandung Clara.
"Gue udah bilang, pria yang tidur sama gue bukan hanya lo aja, Anto!" teriak Clara, bersikeras tidak ingin mengakui ayah dari biologis anak yang ada didalam rahimnya. Clara tahu betul, bahwa ia melakukan hubungan int*m hanya dengan Anto.
"Clara, kamu nggak bisa menjauhkan ku dari anakku!” teriak Anto lagi.
Membuat telinga Clara berdengung atas pengakuan yang diucapkan Pria bertubuh tegap itu. Namun Clara membiarkannya begitu saja.
"Beni, enyahkan dia! Jangan sampai si bedebah itu menunjukkan batang hidungnya di hadapan gue! Kalau sampai gue tau kalau Anto keluar dari rumah kosong itu karena lo Beni, gue kagak segan-segan buat melenyapkan lo juga Ben!" teriak Clara memberikan titahnya pada sang ajudan.
Beni memberikan kode kepada tiga ajudan Erik, untuk membawa Anto ke tempat yang lebih jauh, "Bawa dia!"
Tiga ajudan yang biasa berjaga di rumah pun mengangguki ucapan Beni, sang kepala ajudan.
"Gue mohon Bang, jangan pisahkan gue sama Clara!" seru Anto memohon agar ia tak dijauhkan lagi dengan Clara. Ia cukup merasa bersalah telah menjadi seorang pecundang telah meninggalkan Clara begitu saja pada malam itu. Dikarenakan Anto saat itu sedang kalut, karena perasaannya diabaikan Clara.
Beni menekan pundak Anto sekuat tenaga agar lebih bersabar. Beni berbisik tepat ditelinga Anto, "Gue bakal bantuin lo, sekarang ikut gue!"
Mendengar bisikan dari Beni, membuat Anto paham akan apa yang dikatakan Beni.
Anto akhirnya pasrah dan mengikuti langkah para ajudan Erik yang sedang menggelandangnya menuju mobil.
Mobil Jeep pun melaju dengan kecepatan sedang dengan dikemudikan oleh Beni.
__ADS_1
Selama kurang lebih dua jam, Beni mengemudikan mobil, ia akhirnya menghentikan dengan alasan bensin habis, ia membekap dua ajudan Erik. Tidak di nyana, Beni membantu Anto untuk meloloskan diri.
"Sekarang tugas gue sampai di sini, dan seterusnya lo harus melakukannya sendiri. Kalau lo benar cinta sama Nona Clara, sebaiknya lo harus mengambil hati tuan Erik, buat tuan Erik luluh dan setelah itu lo bisa mendapatkan Clara, karena Clara akan tunduk pada perintah Papa'nya." terang Beni, dalam menjalankan misi Anto untuk bisa memiliki Clara. Tidak mudah memang, namun Beni ingin melihat kesungguhan Anto dalam memperjuangkan rasa cinta terhadap Clara.
Anto mengangguk mantap, "Baik Bang. Terimakasih sudah membantuku sekali lagi, terimakasih Bang Ben."
Beni masuk kedalam mobil, meninggalkan kedua ajudan Erik yang pingsan di pinggir jalan.
Begitu pula dengan Anto ia mengambil langkah mantap. Setelah beberapa hari di bekap beberapa ajudan Clara. Ia akhirnya bebas. Meskipun mendapatkan banyak pukulan hingga membuatnya menderita luka lebam dan sekujur tubuhnya terasa sakit.
Anto mulai menyusun rencana di sepanjang jalannya.
~~
Clara menatap dirinya di pantulan cermin. Netranya beralih melihat obat-obatan penggugur kandungan di telapak tangannya sebanyak sepuluh butir obat, yang dibelinya dari jejaring internet.
Berulang kali, Clara menelan ludahnya. Menghela nafas dan menghembuskannya perlahan. "Gue harus berani untuk melenyapkan benih si bedebah Anto! Yah gue harus berani mengambil resiko! Atau kalau enggak, selamanya gue bakal terjebak! Lagipula jika aku membiarkan anak ini lahir. Nggak serta merta membuat Kevin menikahi gue."
Pada saat Clara akan memasukkan semua obat penggugur kandungan yang ada di telapak tangannya ke dalam mulut, mendadak seseorang menepis tangan Clara, hingga membuat obat yang berjumlah sepuluh butir itu jatuh berserakan di lantai kamarnya.
Clara terkesiap, melihat obat putih yang berserakan di lantai, lantas beralih menatap Papa Erik. Ia tercengang.... tida biasanya Papa Erik akan pulang lebih awal.
"Papa.." kejut Clara.
"Apa yang kamu lakukan Clara!" seru Papa Erik melihat putrinya akan meminum obat penggugur kandungan.
Bersambung
__ADS_1