Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Pebinor


__ADS_3

Tidak lagi bertanya tentang ini dan itu, Kevin mengikuti kemana tiga perawat akan membawa Khaira, disusul dengan Rezki yang membersamai dengan langkahnya.


Rezki masih mempunyai begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada Kevin. Adakah hubungan dekat antara Khaira yang telah mencuri perhatiannya dan Kevin seorang teman lama yang menyimpan begitu banyak misteri. Tapi ini bukanlah waktu yang tepat, ia berpikir biar lain waktu saja.


Seorang perawat hendak membuka pintu kamar kupu tarung rawat inap yang lumayan ramai pasien. Namun, agaknya tidak disetujui oleh Rezki.


"Kenapa Khaira akan dimasukan kedalam ruang rawat inap ke kelas dua? Bukankah tadi saya sudah menandatangani bahwa Khaira akan di rawat inat di kamar kelas satu? Prosedur macam apa ini?" Rezki melayangkan protes kepada para perawat.


"Maafkan kami Pak," kata perawat Yumi kepada pria yang sedang mengajukan protes.


"Kenapa? Kenapa minta maaf. Bukankah saya meminta untuk dibawa ke ruang rawat kelas satu, agar dia bisa leluasa beristirahat dan bisa segera pulih?” Rezki yang memang sudah memesan kamar ruang rawat kelas satu, bukan VVIP, namun ruangan rawat inap yang hanya seorang diri. Niatnya hanya ingin Khaira segera pulih.


"Mohon Maaf Pak, sebelumnya, atas kelalaian Kami tidak mengecek berkas terlebih dulu, bahwa ruang rawat kelas satu sudah penuh, dan hanya ruang rawat kelas dua yang ada.” kata salah satu perawat laki-laki bername tag ‘Sumarno' di baju putihnya, mencoba menjelaskan.


"Bagaimana cara kerja kalian? Masa rumah sakit dalam keadaan penuh kalian bisa salah menginformasikannya, hm?" Rezki bersungut-sungut, dilihatnya wajah Khaira yang pucat pasi.


"Mengapa hal semacam ini harus diperdebatkan, Ki," Kevin menaruh curiga kepada Rezki. Dilihatnya Rezki begitu perhatian terhadap Khaira. Ataukah memang Rezki mengkhawatirkan kondisi pegawainya? Tapi tidak mungkin juga Rezki si duda playboy ini memperlakukan semua karyawati sama istimewanya. Kevin tahu persis seperti apa tabiat Rezki jika menunjukkan rasa sukanya kepada wanita.


Hemm... terbesit rasa tidak suka begitu tahu ada seorang pria yang mengkhawatirkan kondisi istrinya. Mengapa dengan hati ini? Mengapa seperti ini? Mengapa rasanya tidak terima atas perlakuan baik Rezki kepada Khaira. Kevin termenung menatapi Khaira yang berwajah pucat.


Sejak pertama kalinya Khaira akan mulai bekerja dan memberikan alamat kepada Kevin. Ia sudah tahu bahwa Khaira akan bekerja di restauran milik Rezki. Namun, Kevin tidak memberitahu Khaira bahwa ia mengenal pemilik restoran tempat Khaira bekerja, dan Kevin juga belum memberitahu Rezki tentang Khaira padanya.


"Nggak bisa pasrah gitu dong Vin, kan gue udah tanda tangan, dan mereka mengiyakan?" kilah Rezki masih mengajukan protes.


"Kami mohon, maafkan kelalaian kami Pak." perawat pria Sumarno berkata dengan nada memelas.

__ADS_1


"Sudahlah Ki. Kenapa lo harus bersitegang di depan kamar pasien? Kasihan kan mereka yang sudah waktunya istirahat tapi keganggu karena suara protes dari lo? Kalau memang biayanya lebih, ya tinggal lo ambil lagi. Bereskan?" Kevin mencoba menengahi diantara percakapan Rezki dan Perawat pria yang terlihat menyesali prosedur kelalaiannya.


"Tapi Vin, ini bukan hanya soal biaya. Tapi juga tanggung jawab mereka sebagai penyedia layanan medis, kalau beg--" Rezki masih bersikekeh, namun ucapannya mengambang di ujung lidah kala Kevin sudah meminta dua perawat mendorong brankar untuk masuk kedalam ruang rawat inap yang berada di depannya.


"Perawat, tolong segera pindahkan Khaira ke ruang rawat inap yang ada. Kasihan dia, jika terlalu lama di depan kamar, tanpa adanya kejelasan yang terpenting sekarang ada kamar rawat inap yang tersedia, saya mengikuti prosedur rumah sakit saja." tukas Kevin, agar Rezki tidak bersikekeh untuk menempatkan Khaira di ruang rawat inap kelas satu. Toh yang dibutuhkan Khaira saat ini hanyalah istirahat agar segera kembali siuman.


Akhirnya setelah mendengar penjelasan Perawat Sumarno, dan keputusan tegas dari Kevin.


Khaira dibawa kedalam ruang rawat inap yang berjumlah enam brankar tempat tidur, dan dua diantaranya kosong.


Kini, Kevin dan Rezki berdiri berdiam diri di samping kanan dan kiri, sembari berkelahi dengan pikirannya masing-masing. Netra keduanya terus memantau pergerakan mata Khaira yang masih saja terpejam.


Dialihkan netranya dari terus memantau Khaira, kini Kevin melihat Rezki, yang sepertinya belum ada keniatan untuk pergi dari rumah sakit, khususnya diruang rawat tempat Khaira berada.


"Ki, pulang gih, Lo pasti capek. Biar gue yang jaga, gantian," Kevin berkilah, padahal dalam hatinya ingin sekali berterus terang untuk mengusir Rezki. Akan tetapi karena kebaikan dari Rezki yang sudah berkenan menolong dan membawa Khaira ke rumah sakit, ia urungkan niatnya secara langsung untuk mengusir si duda playboy.


"Lo ngusir gue?" Rezki bertanya dengan nada suara ditekankan.


Kevin nampak heran, kenapa Rezki terlihat kesal. Ia lantas berpikir untuk menjawab Rezki dengan perkataan yang terdengar logis, "Bukan gitu, kan lo pasti capek, karena lo belum istirahat? Belum lagi, lo kan orang sibuk, iya kan?"


Obrolan mereka pun nampaknya mengganggu pasien dan orang yang berjaga menunggu pasien.


"Sudah Mas, pulang saja. Lagian nggak baik lho berharap sama perempuan yang jelas-jelas sudah punya pasangan, " kata seorang Ibu pasien yang berada tepat di depan brankar pasien yang baru saja masuk, namun di antara pasien ada kedua pria yang nampak bersitegang.


"Bener tuh Mas, jangan jadi pebinor!” Ibu yang menjaga seorang pasien juga berkata demikian. Melihat dua pria berpakaian serba hitam yang duduk di atas brankar dan melihat seorang pria berdiri berpakaian warna biru tua bercelana panjang.

__ADS_1


Kevin melihat kedua orang yang berkata ditujukan kepada Rezki, dalam hatinya ia ingin tertawa dan berkata pada Rezki, "Dah sana Ki, daripada lo jadi nyamuk, dan disangka pebinor. Perebut bini orang, hahaha.."


"Bu-bukan gitu, tapi-?" ucapan Rezki mengambang, kala ponselnya berdering, dan ia pun merogoh ponsel dikantong celananya.


Tertera nama 'Mamah', Rezki menggeser tombol hijau, lalu mendekatkan ponselnya ke telinga.


"Iya Mah, Rezki sebentar lagi pulang." ucapnya, tanpa menunggu jawaban Rezki menutup sambungan telepon.


"Ya udah Vin, gue pulang dulu. Mamah baru aja tiba dari Padang," meskipun tidak rela, namun pada kenyataannya memang ia harus pulang, "Nih tas Khaira, gue kagak ngotak-atik isi di dalam tas ini," sambungnya lagi sembari memberikan tas selempang milik Khaira kepada Kevin.


Kevin mengangguk singkat, "Nah kan gue bilang juga apa, sana dah lo pulang. Kan dicariin ama Mama, duda kesayangan Mama."


"Oke hati-hati, oh yah Ki sama satu lagi, makasih lo udah bawa Khaira ke rumah sakit.” kata Kevin, Rezki hanya mengangguk dan keluar dari ruang rawat.


~~


Di perjalanan, Rezki tak henti-hentinya memikirkan Khaira. Ia Khawatir dengan keadaan pegawainya itu, namun apalah daya. Mama sudah sampai di kota ini. Kasihan juga Mama, datang dari jauh namun tidak disambut olehnya.


Namun seketika teringat dengan Mita, bagaimana pun juga. Mita adalah sepupu Khaira, jadi sudah seharusnya ia mengabarkan tentang kondisi Khaira. Rezki memasang alat pendengar telepon, lalu menyambungkan sambungan telepon yang ditujukan kepada Mita.


Menunggu hingga dua, tiga detik. Panggilan terhubung, "Halo Mit, Khaira kecelakaan. Dia lagi ada di rumah sakit."



__ADS_1


Bersambung


__ADS_2