Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Belenggu nestapa


__ADS_3

Sontak saja Frans sangat murka, ada kilatan petir di matanya menatap Kevin. Ia merasa sudah diremehkan. Frans mengepalkan tangannya, hendak membalas perbuatan Kevin.



Frans melayangkan tinjunya, hampir saja bisa menghantam wajah Kevin. Namun, ternyata Kevin bisa membalasnya dengan lebih cepat. Frans mendapatkan luka lebam di sudut bibirnya hingga mengeluarkan darah segar.



“Brengsek!” maki Frans penuh amarah.



Kevin tidak perduli siapa lawannya, ia tahu bahwa Frans ada kaitannya dengan jaringan gangster kejam di wilayah kota.



“Dasar bejad lo berdua!” berang Kevin memaki Frans dan Sonia.



Frans kembali berdiri namun ia diam, memasang wajah slengean. Ia tersenyum licik dan merangkul pundak mulus Sonia.



“Apa lo merasa dikhianati Vin?” ujar Frans menatap Kevin malas.



Sonia tergelak atas apa yang dilakukan Frans, ia mencoba melepaskan rangkulan pria yang sudah menjadi selingkuhannya. Namun Frans justru semakin mengeratkan pelukannya.



Tentu saja Kevin sangat marah, ia melihat Frans dan Sonia dengan sorot mata tajam. Lantas mengepalkan tangannya kuat-kuat.



“Lepasin Frans!” ujar Sonia, sambil mencoba melepaskan rangkulan pria bertubuh bongsor, namun Frans kembali mengeratkan pelukannya.



Kevin masih diam, menahan amarah. Ia menatap sinis kepada Sonia yang jelas terlihat kelabakan.



Frans menatap Kevin dengan senyuman licik, dan beralih menatap Sonia, “Kenapa kamu terlihat gelisah sayang, kamu kan pernah bilang sama aku. Jika kamu bakalan mutusin Kevin, setelah aku kasih kamu apartemen mewah ku yang ada di kawasan alam indah,”



Kevin meringis melihat Sonia, ia menarik baju yang dipakai Frans, “Brengsek!” Menahan sesal, Kevin enggan menggubris perkataan Frans, ia langsung saja melayangkan tinjunya dan mendarat tepat di kelopak mata Frans.



Frans jatuh tersungkur di lantai club', dan merasakan sensasi panas serta sakit di area wajahnya, terkhusus di area mata.



“Anjir!” seru Frans. Karena berbadan bongsor, Frans agak kesulitan guna menyeimbangkan tubuhnya untuk kembali berdiri.



Sonia terbelalak melihat keganasan Kevin saat marah. Selama berpacaran dengan Kevin, inilah kali pertama ia melihat sang pacar menjadi garang.



Frans kembali menarik paksa Hoodie yang dipakai Kevin, “Lo jangan sembarangan main pukul-pukul wajah gue!”

__ADS_1



Kevin menghempaskan tangan Frans begitu saja, “Gue paling kagak suka kalau ada yang narik Hoodie gue!”



Frans melayangkan tinjunya ke wajah Kevin tepat di bagian rahang. “Dasar pecundang!” makinya.



Kevin terhuyung mendapat serangan tinju dari Frans, namun tak membuatnya jatuh. Meskipun merasakan sakit di bagian rahang, namun bagi Kevin rasa sakitnya bukanlah seberapa. “Siapa yang lo anggap pecundang, hah?!”kesalnya.



Seketika club yang sudah terlihat sepi, kini beberapa pasangan muda-mudi maupun para om-om hidung belang berhamburan keluar kamar, guna mengetahui keributan apa yang telah terjadi. Mereka melihat dua orang laki-laki sedang berkelahi dan seorang wanita seksi sedang terlihat gusar.



“Lo!” jawab singkat Frans, “Lo berani mukul gue, berarti siap-siap aja kalau lo harus berhadapan dengan para gangster anak buah gue!”teriak Frans memberi peringatan keras agar supaya Kevin bernyali ciut.



Tanpa rasa takut dengan ancaman yang di lontarkan Frans, Kevin balik mencengkram kuat kerah pakaian yang dikenakan Frans, ia menatap laki-laki bertubuh bongsor itu dengan tatapan menyalak!“Gue kagak peduli lo siapa? Jangankan lo, gue udah biasa ngadepin begal tersadis di Ibu kota ini! Dan lo seorang bandar narkoba! Kalau sampai lo macam-macam ma gue, gue kagak bakalan segan-segan melaporkan bisnis haram lo ke polisi!”



“Kevin udah Vin, udah!” seru Sonia mencoba melerai perkelahian Kevin dan Frans agar tidak semakin menjadi-jadi, ia tahu Kevin adalah seorang petarung yang handal.



Kevin melirik Sonia tajam, dan kembali menatap Frans. Lantas menghempaskan tubuh bongsor Frans begitu saja. Sampai untuk kedua kalinya Frans terjatuh ke lantai club.



Frans kembali berdiri, kali ini ia lebih memilih pergi sambil bersumpah serapah akan membalas pukulan yang Kevin layangkan padanya, “Lo tunggu aja pembalasan gue! Gue pasti bakal bales pukulan lo!”




“Jadi emang bener, kalau elo jual diri sama maniak-maniak sekss itu, Sonia?”geram Kevin berkata dengan gigi dikeratkan serta tangannya menunjuk Sonia.



Sonia gelisah melihat raut wajah Kevin yang terlihat sangat marah, “Aku bisa jelasin honey,” rengek Sonia memelas, seraya mencoba memegang lengan Kevin.



Kevin sudah kadung marah, ia enggan mendengar penjelasan apapun yang coba dijelaskan oleh Sonia, ia melepaskan secara paksa tangan Sonia yang menaut pada pergelangan tangannya, “Tinggal jawab iya, atau enggak! Kalau lo jual diri?”



Sonia menunduk, ingin menjawab tidak. Nyatanya sebelum ini, ia diberitahukan oleh seorang teman bahwa Kevin mencari tahu tentangnya yang menjual diri dan tidak ingin hidup susah. Ingin bilang iya, tapi Sonia masih mencintai Kevin. Alhasil Sonia diam saja sambil menunduk.



Melihat gelagat Sonia yang tidak menyangkal. Membuat Kevin beranggapan bahwa informasi mengenai Kekasihnya itu adalah benar. Kevin manggut-manggut, “Cukup! Gue udah tau!”



“Maafin aku Kevin,” ucap Sonia lirih, matanya mulai berkaca-kaca.



Kevin tak berkata-kata apa-apa lagi. Cukup sudah ia meyakini bahwa apapun yang orang lain sampaikan tentang Sonia, bahwa Sonia tidak melakukan yang dituduhkan. Cukup sudah ia percaya, dan cukup sudah ia menjadi pria naif selama ini, dengan begitu mudahnya mempercayai wanita seperti Sonia.

__ADS_1



Karena menginginkan kehidupan yang instan. Sonia rela menjual diri. Itulah yang membuat Kevin murka, tidak bisakah wanita itu melupakan ambisinya untuk menjauhi geng sosialitanya. Jika memang tidak mampu, mengapa harus memaksakan diri.



Ia meninggalkan Sonia, tanpa sepatah kata. Kevin berjalan dengan langkah jenjang melewati beberapa pasangan mesum yang sedang berdiri di depan pintu kamar club'. Ia keluar dan berlari menuju anak tangga yang mengarahkan pada rooftop gedung club' yang sudah sepi.



“Aarhh brengsek!” kesalnya menahan amarah seraya mencengkram rambutnya kuat-kuat.



Ia tidak menyangka dua tahun lamanya ia menjaga, menyayangi, mencintai seorang wanita yang berharap bisa menjadi pendamping hidupnya. Ternyata setelah ia memesan cincin untuk melamar sang pujaan hati. Bahkan cincin yang di pesannya belum jadi, ia harus melihat bahwa memang benar, cintanya telah terkhianati.



Kevin menadahkan wajahnya menatap hamparan langit yang masih terlihat gelap. Sorot matanya menatap satu bintang yang bersinar paling terang.



Mimpi yang hilang di bawah hamparan gelap luas yang bertabur bintang. Ia menatap satu bintang yang paling terang. Kevin menatapnya dengan penuh harapan seolah itu seseorang yang kini jauh seakan hilang..



Selama ini ia selalu berharap bahwa kekosongan dalam hidupnya akan di isi oleh seseorang yang akan mencintainya dan mau menerangi gelap dihatinya. Namun ternyata semua harapan itu masih semu.



Perasaan yang ia rasakan, nama yang terukir dalam karang hatinya. Kini seakan terkikis oleh ombak yang menghantam..



Ia dan jenuhnya, bersama membisu terlalu jauh untuk meraih bintang yang sedang ia tatap. Ia dan senyumnya, mengikuti diam termenung. Angan yang tercipta menjadi sebuah mimpi yang kemudian hilang hanya dalam sekejap..



Teriakan hati, disaat terpikir tentang dia yang yang sudah mengkhianati janji. Terkadang hati teriak dengan kehampaannya. Mencari dan menunggu hati cintanya. Kevin menghela nafas panjang, ia menangis tanpa air mata.



Ia seakan sedang berteriak tanpa suara. Hanya merasakan sakitnya hati. Begitu tersiksa menunggu yang di nantikan telah pupus.



Begitu berat melepaskan rasa ini, yang sudah merasuk dalam hati.


Mungkin bila ia nanti mati menyusul almarhumah Mama serta adiknya sesalnya akan abadi, dan tidak merasakan kehampaan lagi.



Namun Kevin tak ingin berlarut dalam dilema. Jika memang wanita itu tidak mau lagi bersamanya, maka ia pun tidak mau menjadi pria naif. Yang masih mengharapkan cinta palsu. Kevin menggelengkan kepalanya, “Nggak Vin! Wanita bukan hanya Sonia saja!”



Akankah penantian ini berujung bahagia? Ataukah hanya asa semata? Tapi hatinya kan selalu tegar menghadapi kekosongan jiwanya. Walau akhirnya hanya membuat luka, dan belenggu nestapa.



Kevin berdiri di pembatas rooftop dan mengedarkan pandangannya menatap bangunan-bangunan. Waktu yang sudah merangkak naik pun tak ia hiraukan. Meskipun sudah hampir fajar, warna langit juga sudah mulai terang.



![](contribute/fiction/4335693/markdown/9142350/1666538092595.jpg)

__ADS_1



Bersambung


__ADS_2