Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Bintang terang


__ADS_3

Di sudut ruangan, sudah empat hari ada seorang wanita muda yang mengintai Kevin. Bukan hanya mengintai orangnya, akan tetapi ia telah mengamati rumah Kevin selama empat hari belakangan ini.


Tangannya menggenggam kuat, mewakili amarahnya yang memuncak. Ia begitu ingin menjamah Kevin, ingin menjadi satu-satunya wanita untuk Kevin. Namun apalah daya. Jebakannya malah membuat Kevin menikahi wanita lain.


“Sial!” berangnya.


Setelah sekian lamanya mengamati Kevin yang sedang duduk di deretan sofa diskotek, ia pun pergi dari ruangan tempat kaum hura-hura menghabiskan malam.


~~


Kevin merasa sedang ada yang mengawasinya, namun ketika ia mengedarkan pandangannya menjurus ke seluruh ruangan diskotek yang cukup luas, ia tak menjumpai seseorang yang terlihat mencurigakan.


Justru ia mendapati pemandangan seperti biasa, pemandangan yang sangat familiar, yaitu pasangan muda-mudi sedang bercumbu rayu, saling menautkan bibir satu sama lain. Bedanya bukan sekss, hanya sekedar foreplay.


Jijik! Itulah anggapan Kevin. Jika di tanya kalau ia jijik melihat hal tak senonoh seperti itu, mengapa ia masih bekerja di tempat hiburan malam? Jawabannya hanya satu, ia sudah terlanjur jatuh cinta dengan hobinya sebagai disc jockey! Dan tempat inilah ia bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah, untuk keberlangsungan hidup di masa depan.


Kevin menadahkan wajahnya menatap langit-langit diskotik yang dipenuhi lalu lalang lampu-lampu kelap-kelip dan sebuah mirror ball yang cukup besar berada di tengah-tengah ruangan diskotik yang cukup luas.


Ia merenungi rasa sakitnya, kesepiannya, rasa hampa yang bergelayut manja di sanubarinya. Mengapakah, semua orang yang disayanginya pada akhirnya pergi. Mengapakah takdirnya seperti ini?


Seharusnya tak mengapa bila ia memang patah hati. Toh wanita bukan hanya Sonia saja!


Namun rasa pedihnya tak bisa terelakkan dari hatinya.


Yah, lagi-lagi Kevin hanya bisa berkata dalam hatinya. “Ya sudahlah!”


Ia beranjak dari duduknya, dan berjalan dengan langkah gontai keluar dari ruang diskotik melewati beberapa pegawai yang masih membersihkan bekas botol miras dan beberapa cemilan untuk membersamai menenggak minuman beralkohol itu.


Kali ini Kevin melewati pintu belakang diskotik yang menuju besmand, tak sengaja matanya langsung tertuju pada sebuah mobil mewah yang terparkir di besmand khusus tamu VIP pengunjung.


Di maksud VIP adalah tamu VIP memiliki tempat khusus seperti kamar untuk bercumbu meluapkan hasratnya, tanpa perlu jauh-jauh untuk memesan hotel.


Ia mencoba mencari tahu apa yang terjadi mengapa mobil itu bergoyang seperti terjadi gempa, setelah sedikit mendekati.


OMG! Lagi dan lagi, Kevin mendapati Frans sedang bercumbu di dalam mobil. Entah siapa wanitanya?


“Dasar bajingan!” Kevin melepas sepatunya dan melemparkan ke depan kaca mobil mewah yang dijadikan tempat untuk mengairi sawah.

__ADS_1


Setelah melempar sepatunya Kevin tak langsung pergi dari depan mobil mewah berharga milyaran. Sampai pada saat kedua pasangan mesum itu terkejut akan lemparan sepatu dan melihat sang empu yang melempari sepatu jenis Low Cut Sneakers.


Sonia membulatkan matanya melihat seorang pria yang secara sah masih menjadi kekasihnya, sedang berdiri depan mobil mewah Frans.


Frans terlihat sangat marah, wajahnya merah padam. Bak kepala ayam jago yang mempunyai jambul merah. Namun ketika ia hendak keluar dari dalam mobil, Frans langsung ditahan oleh wanita yang tak lain tak bukan adalah Sonia.


“Biarkan saja dear!” kata Sonia.


Frans pun menahan diri agar tidak keluar dari dalam mobil, sepintas ia melihat pedangnya yang masih tegak berdiri di bawah sana. Ia kembali melihat Sonia yang sudah bertelanjang dada, terlihat kedua gundukan kembar yang mempesona seolah seputih salju, Frans menelan air liurnya yang seakan-akan hampir menetes, akan tetapi ia teringat ada seorang pengacau di depan mobilnya, ia beralih melihat Kevin dengan sorot mata membara.


Setelah benar-benar memastikan bahwa ada seseorang yang telah membuat mobil mewah itu bergoyang, Kevin sebenarnya cukup terkejut melihat Sonia yang sedang memenuhi hasrat seksuall Frans, si bandar narkoba.


“Dasar murahan!” cibir Kevin menatap tajam pada kekasihnya. “Sorenya bilang cinta, sekarang malah bercumbu mesra! Gila!” Ia lantas pergi dari sana dengan hanya memakai kaos kaki hitam dan satu sepatunya.


Terus berjalan dan terus berjalan, meninggalkan diskotik menuju parkiran. Ia tak berdaya, ia merasa lunglai. Mengapa kah, tidak ada yang bisa ia percayai, mengapa kah dunia serasa semakin kejam?


Keinginannya memiliki Sonia dengan cara halal pupus sudah, bahkan Kevin telah menjaga diri agar tak melakukan hubungan haram itu di luar pernikahan.


Dulu saat masih kuliah dan mengenal Sonia, wanita yang hanya beda satu tahun darinya tidak seliar ini. Apakah yang sudah merubah wanitanya hingga seperti ini? Bukan, Kevin meralatnya. Sonia bukan lagi wanitanya, bukan lagi kekasihnya, bukan lagi tambatan hatinya.


Setetes air mata meluncur begitu saja dari kelopak matanya, namun ia tak ingin seperti ini. Kevin segera menyadarkan diri agar tidak seperti pria naif, menangisi wanita yang telah tega mengukir rasa lara.


Menadahkan wajahnya ke langit gelap, di sana ada banyak ribuan bintang dan terlihat bulan sabit. Matanya tertuju pada satu bintang yang paling bersinar terang diantara bintang-bintang yang lainnya. Dan seketika itu pulalah, ia teringat seseorang yang dinikahinya secara agama di kampung Rawa Dengklok.


Yah, gadis itu bernama Khaira Ningrum. Ia lantas segera berlari menuju motornya yang terparkir di area diskotik.


Hawa dingin menelusup masuk melalui celah-celah Hoodie, tentunya sudah biasa bagi Kevin, terlebih saat melajukan motornya membelah sunyi.


Hal ini tak menyurutkan langkahnya untuk tetap menjadi seorang DJ. Bekerja di tempat hiburan malam bukan berarti ia adalah seorang brandal dan bajingan, ia ingin mematahkan anggapan itu.


Karena ia memang sudah mencintai pekerjaannya. Bahkan untuk itu, ia memiliki sebuah studio khusus untuk meracik instrumen-instrumen musik DJ yang ia pelajari dari benda apapun yang menghasilkan bunyi, sebagai penunjang untuk dijadikannya pelengkap instrumen musik.


Akhirnya perjalanan yang dingin itupun terlewati, dan sampailah ia di halaman depan rumah.


Kevin lantas mematikan mesin motornya, karena tak ingin membangunkan seseorang yang mungkin saja masih tertidur di jam empat pagi. Kevin melihat jam di pergelangan tangan kirinya.


Lantas membuka pagar teralis besi dan mendorong motornya setelah ia memasukkan motornya ke bagasi rumah tak lupa juga ia menutup pagar.

__ADS_1


Ia membuka pintu utama rumah setelah masuk dan menutup pintu kembali secara perlahan, ia pun melepas helm sport dan menaruhnya di atas meja hias di ruang tamu.


Kevin merasa harus berhati-hati dan waspada karena sekarang ini marak kasus pencurian helm. Bukannya pelit, hanya saja ia memang harus mempunyai sikap bertanggung jawab untuk menjaga barang-barang miliknya.


Kecuali jika memang barang itu sudah tak lagi mau menjadi miliknya, seperti halnya seseorang. Meskipun tidak sama antara barang dan orang, tapi keduanya bisa sama-sama diambil alih.


Setelah melewati ruang tamu dan ruang tengah ia cukup terkejut kala melihat pintu kamar almarhumah Mama yang sedang ditempati Khaira pintunya terbuka lebar. Membuat Kevin penasaran, mengapa gadis itu tidak menutup pintu.


Kevin berjalan ke kamar almarhumah Mamanya, ia hanya melihat tempat tidur kosong dan masih rapih. Seketika pikirannya pun langsung menuntut kepada keburukan.


“Jangan-jangan dia kabur?” gumamnya seraya membulatkan mata, dan langsung saja Kevin masuk kedalam kamar.


Mengecek benarkah Khaira minggat dari rumahnya karena tersinggung atas ucapannya, dan ternyata ia sudah salah sangka.


Gadis yang Kevin cari nampak sedang tertidur pulas di atas sajadah dengan memakai mukenah di samping tempat tidur sisi kanan yang jelas tidak terlihat dari pintu.


Entah mengapa ia merasa lega telah mendapati gadis itu masih di rumahnya, entahlah?


Kevin memandangi wajah cantik alami Khaira, tidak putih tidak pula hitam. Sangat pas seperti warna kulitnya asli orang Indonesia. Membuat Kevin semakin ciut saja nyalinya untuk mengatakan bahwa ia bekerja di tempat hiburan malam.


Apa nanti tanggapan Khaira, jika Kevin mengatakan bahwa ia bekerja sebagai disc jockey karena kebanyakan orang-orang menganggapnya buruk, bergulat pada hal dunia malam, seperti wanita dan pria yang pekerja sekss komersial, pria hidung belang, minuman keras dan tak sedikit penggunaan pil ekstasi.


Lelaki bertubuh jangkung inipun, mendekati di mana Khaira sedang terlelap, ia beringsut duduk tak jauh dari gadis itu, menyandarkan punggungnya pada tempat tidur yang setinggi lutut. Kevin melihat dengan seksama Khaira yang sedang tertidur meringkuk di atas sajadah.


Dilihatnya Khaira yang menggeliat seperti bayi, sampai-sampai Kevin terkena tendangan dari kaki gadis itu, seperti tendangan si Madun! “Aauhh!” kejut Kevin kala tendangan Khaira menjurus di lengannya.


Khaira terkejut mendengar seseorang yang berseru tapi bukan mimpi. Secara refleks melayangkan tendangannya kembali, tepat mengenai seseorang diujung kakinya.


“Aduh!!!” seru Kevin bersimpuh dilantai , sembari memegangi pipinya yang terkena tendangan si Khaira.


Khaira langsung terperanjat bangun dan langsung duduk, ia melihat Kevin sedang bersimpuh di lantai dengan memegangi wajahnya. “Astaghfirullah Mas Kevin!”




Bersambung

__ADS_1


__ADS_2