Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Kejujuran


__ADS_3

Kadang dalam hubungan kesalahpahaman kerap kali terjadi dan bisa jadi kekeliruan yang bisa menghancurkan, akibat tidak adanya saling keterbukaan dan kejujuran.


~


Khaira terdiam hatinya merasa janggal, melihat foto yang ada di ponsel Kevin. "Mas Kevin dapet darimana foto itu?"


Kevin menggidik pundak.


"Entah, nomor baru."


"Apa jangan-jangan, Clara?" Khaira mengingat pertemuannya tadi siang dengan Clara, wanita yang sangat terobsesi dengan suaminya.


Kevin mendelikkan matanya, "Hah, maksud mu Clara?"


Khaira beranjak dari duduknya. Ia mengambil tas selempang yang tergantung di gantungan baju. Lalu menghampiri Kevin dan duduk di semula ia duduk.


"Aku menerima ini dari Clara," Khaira menyerahkan amplop yang diberikan Clara padanya ke hadapan Kevin. "Clara bilang, dia hamil anakmu, dan dia bilang agar aku membantunya membujuk mu karena kamu nggak mau bertanggungjawab. Terlepas dari benar atau tidaknya, tapi tes DNA itu menunjukkan kamu ayah dari biologis janin yang ada di kandungan Clara."


Khaira menjelaskan tentang kegundahan hatinya. Ia melihat Kevin membolak-balikkan amplop putih yang dipegang, wajah Kevin menjabarkan mimik wajah bingung, marah dan kesal.


"Dia datang menemui mu tadi siang? Dan mengatakan itu?" Kevin bertanya sembari melihat amplop yang belum dibukanya detik berikutnya melihat wajah Khaira.


Khaira mengangguk.


Kevin membuka lembaran kertas di dalam amplop dan membaca ayah dari biologis janin yang dikandung Clara. "Gila!" berangnya, meremess lembaran kertas.


Khaira terkejut dengan kecaman yang di perlihatkan Kevin. Inilah saatnya untuk mengetahui semua jati diri seorang pria bernama Kevin Abimana.


"Kamu percaya aku menghamilinya?" Kevin bertanya menatap mata Khaira.


"Penjelasan, keterbukaan dan kejujuran." jawab Khaira.


Kevin terhenyak mendengar jawaban istrinya, ia menyadari selama ini memang kurangnya tiga kata yang di jelaskan oleh Khaira barusan. Namun, Kevin tidak tahu harus dimulai darimana ia akan bercerita.


"Jadi, bisakah Mas Kevin lebih terbuka dan menceritakan padaku tentang siapa Clara dan surat tes DNA yang aku terima, bukannya aku nggak percaya padamu, hanya saja aku butuh penjelasan. Agar sebagai seorang wanita aku nggak seperti orang bodoh yang mudah dihasut." Khaira masih menuntut penjelasan yang sekiranya bisa meluruskan kesalahpahaman ini.


Khaira melihat kegelisahan dari postur tubuh Kevin yang hanya menunduk memainkan jari jemarinya, seperti anak TK yang menumpahkan es krim ke baju Ibunya dan takut akan terkena omelan.

__ADS_1


"Aku tahu ini berat juga untukmu, mungkin juga Clara adalah seseorang yang kamu percayai dan sekarang ini malah seolah menjadi seseorang yang berbalik arah menyerang dan menjebak mu." Khaira menghela nafas perlahan. Digenggamnya jemari tangan Kevin, lalu mendekap tubuh pria dihadapannya. Ia berpikir pria juga mempunyai sisi rapuh, namun kaum Adam terkadang gengsi untuk menunjukkan sisi rapuh berbeda dengan perempuan.


Perlahan sekali Khaira mengurai pelukannya, menatap dalamnya netra Kevin.


Bersitatap seperti ini membuat hati Kevin menjalar kehangatan dan sikap lembut Khaira mampu menyelimuti dingin yang membeku direlung hatinya.


Kevin mulai menceritakan tentang Clara, tentang jebakan yang menjeratnya, juga tentang kehamilan yang Kevin sendiri tidak tahu siapa sebenarnya pria yang menghamili Clara, bagaimana bisa Clara mendapatkan DNA nya, dan memalsukan Ayah dari biologis jabang bayi yang ada di rahim Clara.


"Clara adalah teman sekolah almarhumah Kirana, aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Kehadiran Clara mampu membuatku seperti merasakan kehadiran Kirana telah tiada. Namun--" Kevin menjeda ucapannya, ditatapnya bingkai foto yang terdapat di atas meja kecil samping tempat tidur. "dan aku juga nggak tau kapan pastinya Clara mengungkapkan perasaan cintanya padaku, aku nggak langsung menolaknya dengan perkataan kasar. Saat itu, aku hanya menjawab, (Maaf Clara, kamu adalah adikku) dan aku juga nggak percaya jika Clara mempunyai niatan untuk menjebak dan memfitnah ku seperti ini."


Khaira menjadi pendengar yang baik, ia menyerap semua perkataan Kevin sedang ceritakan tentang Clara.


"Aku nggak tau, darimana dia mendapatkan DNA ku. Aku merasa Clara sudah hilang akal dengan adanya memalsukan surat kehamilan yang diberikannya padamu, dan dialah orang yang telah mengacanmu selama ini, maafkan aku karena aku terlalu lambat menyadarinya, Terimakasih juga kamu telah menjadi wanita kuat yang jarang sekali mengeluh ketika mendapatkan teror dari Clara. Aku nggak bisa membiarkan dia melakukannya lagi." kata Kevin bersungut-sungut geram akan sikap Clara yang suka seenaknya.


Satu kata pun Khaira tidak memotong ucapan Kevin, ia akan mulai berpikir jernih tidak mengambil kesimpulan sendiri, meskipun saat ini perasaannya kepada pria di hadapannya masih samar-samar cinta. Namun, Khaira tidak menepis bahwa ia akan berusaha menerima apapun yang nantinya akan terjadi.


"Kemana pun kamu akan pergi, aku akan mengantarmu, aku sangat mencurigai Clara bahwa saat ini dia sedang menyusun rencana," Kevin mengingat, ia sangat merasa bersalah kepada Khaira yang tidak tahu apa-apa tentang Clara harus terlibat dalam permasalahan yang menyangkut dirinya.


"Tenanglah, aku akan baik-baik aja, kenapa kita harus takut dan berputus asa, kalau kita masih punya Allah, semua yang jahat terhadap hambanya yang berbaik sangka, maka Allah akan menurunkan penolong untuk membantu kita menyelesaikan semua ujian hidup ini." kata Khaira lembut.


Kevin tertegun mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan Khaira. Ia merasa gadis di hadapannya adalah malaikat dari surga yang dikirimkan-Nya untuk menemani hidup yang kesepian, dan menjadi lentera jiwanya yang redup redam.


Merasa tak berkutik dengan tatapan yang seakan mampu menghunus jantung. Khayalan Khaira sudah kemana-mana dengan adanya pertanyaan dari pria didepannya, "Aish, apaan sih Mas Kevin, kalau aku malaikat, Mas Kevin mau, kalau aku jadi malaikat pencabut nyawa?"


"Iya nggak papa, asalkan kamu, kalau mau cabut nyawaku bilang-bilang dulu, supaya aku tobat dan bersuci terlebih dulu," Kevin berkata seraya mencolek pipi chubby Khaira.


"Memangnya ada malaikat mau mencabut nyawa manusia pakai bilang-bilang dulu?" Khaira menggidik pundaknya.


"Yah, kan tadi kamu yang bilang kalau kamu yang menjadi malaikat?" jawab Kevin, seraya menahan sesuatu yang siap akan meletup.


Dilihatnya raut wajah Kevin yang sulit untuk ditebak. Mendadak tercium bau busuk yang menyengat indra penciuman Khaira, "Mas Kevin?"


"Hemm... Kenapa?" Kevin merasa lega, dikarenakan apa yang ia tahan telah meletup seperti badai tornado berbau menyengat hidungnya.


"Kita cuma berdua yah, aku nggak merasa tuh kentut, tapi kok bau kentut?" Khaira mendengus-dengus bau yang khas seperti telur busuk.


Dengan cengiran kuda, Kevin mengakuinya bahwa bau kentut yang dihirup oleh Khaira dan dihirup juga olehnya, memanglah berasal dari dirinya sendiri.

__ADS_1


"Hehe.., maaf yah, aku yang kentut." jawab Kevin cengengesan.


Bantal kecil dilayangkan oleh Khaira ke lengan Kevin, "Lagi Mas Kevin, kentutmu baunya hmmmm... harum mewangi telur busuk!"


"Hehehe... maaf." balas Kevin masih dengan kekehan kecil.


Pembicaraan yang sejak tadi terasa sangat serius kini berubah menjadi gelak tawa yang riuh. Akibat kentut yang tidak dapat Kevin tahan.


"Aku tidur sinilah." ucap Kevin, seraya beranjak dari sofa dan hendak berbaring ke atas tempat tidur. Namun, buru-buru Khaira menarik lengan Kevin, dan mengambil bantal yang ada di ranjang lalu memberikan kepada pemiliknya.


"Nggak mau! Sana tidur di kamar Mas Kevin sendiri, aku nggak mau lama-lama mabuk, gegara bau gas busuk Mas Kevin itu." kata Khaira sambil menyuruh Kevin untuk tidur di kamarnya sendiri.


Namun Kevin bersi keukeuh, dan menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang empuk, serta menarik lengan Khaira.


"Mas Kevin!" seru Khaira mendapati dirinya kini telah dipeluk erat oleh Kevin dari belakang.


"Sudahlah tenang saja, anggap saja aku ini temanmu." Kevin memberi alasan yang sekiranya dapat diterima oleh Khaira.


"Untuk kali ini aku percaya ucapanmu!" gertak Khaira tegas.


Kevin hanya mengangguk, seraya menghirup aroma rambut mint Khaira, "Kamu pakai shampo ku ya?"


"Sedikit." jawab Khaira sembari menarik selimut untuk menutupi dirinya.


Akhirnya mereka tidur bersama di satu ranjang, namun tidak ada kegiatan seperti layaknya keintiman. Kevin hanya memeluk Khaira yang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.


"Akh, lama-lama kamu juga pasti mau?" ucap Kevin seraya mengeratkan pelukannya.


"Mau apa?" jawab Khaira dibalik selimut.


"Mau anu?" sahut Kevin meledek Khaira.


"Anu, anu apa? Udah tidur sana!" sergah Khaira.



__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2