
Setelah sempat singgah di apotek terdekat guna membeli obat sakit kepala dan obat merah serta tissue. Kevin membawa Khaira berkunjung ke tempat bersejarah di kota metropolitan ini.
"Kamu tahu singkatan dari Monas?" tanya Kevin kepada Khaira, ia duduk berhadapan dengan istrinya, yang sedang menunduk sembari meniup-niup jerami tangannya yang terluka.
Asing! Ya, telinga Khaira berdengung kala mendengar sesuatu yang asing keluar dari suara Kevin untuk menyebutnya 'kamu. Khaira menepuk pundak Kevin, "He-hey brother ada apa dengan panggilan mu itu? Apa kamu kesambet? Setan apa yang merasuki mu?"
"Waduh, kenapa harus setan? Kan bisa pangeran atau ksatria yang merasuki. Kenapa mesti bawa-bawa setan? Kasihan kan tuh setan selalu dibawa-bawa padahal setankan lagi sibuk ganggu manusia, ntar konsentrasinya dalam mengganggu manusia buyar, pan neraka jadi jembar sedangkan sorga jadi sempit, terus kalau sorga sempit nanti malah berubah jadi panas soalnya banyak penduduknya, sedang neraka nanti bakalan jadi sejuk soalnya kan api dari neraka bahan bakarnya katanya manusia? Sedangkan manusia kagak ada dosa ya masuknya ke sorga, kan setan yang ganggu manusia kagak konsentrasi akibat sering disebut-sebut sebagai pengacau, maka dari itu setan menyerah ganggu manusia," seloroh Kevin panjang kali lebar, kali perkali. Menggambarkan dalam imajinasinya jikalau sampai setan tidak menggangu manusia, maka surga jadi sempit dan neraka dan luas.
"Udah ceritanya tentang setan? Surga? Dan neraka? Tau juga kalau neraka bahan bakarnya manusia?" tanya Khaira memicingkan matanya menatap Kevin.
"Hehe... meskipun aku urakan, kan aku pernah denger ceramah saat aku masih sekolah SMA," jawab Kevin terkekeh garing.
Khaira geleng-geleng dibuatnya, "Kalau setara SMA berarti udah hampir 10 tahun lalu, Mas Kevin denger ceramah? Udah bicaranya ngalor-ngidul. Pakai acara sebut (aku-kamu) lagi?" ucap Khaira bersuara datar.
Kevin tersenyum malu-malu, untung saja cahaya tak begitu terang benderang di area luas Monas, "Salah yah dengan panggilan Ka-kamu?" ucapnya gagap, dikarenakan merasa malu dengan panggilan barunya yang butuh usaha keras untuk memberanikan diri memanggil Khaira dengan sebutan (kamu).
Khaira menggeleng, "Nggak salah, sama sekali nggak salah. Hanya saja, kamu berbeda hari ini,"
"Maksud kamu berbeda yang bagaimana?" Kevin melihat Khaira menunduk sedang membantunya mengobati luka-lukanya, dikarenakan meninju pohon angsana sore tadi.
Dilihatnya sekilas netra Kevin, Khaira merasa geli dengan panggilan Kevin sekarang ini, membuatnya ingin tertawa, "Hahahaha.... Mas Kevin sebaiknya cara bicaranya jangan formal kayak gitu, jadi lucu. Aku jadi pengen ketawa terus haha.."
Melihat Khaira tertawa renyah membuatnya ikut tertawa, Kevin merasa Khaira memang seorang wanita yang menyenangkan. Terlebih lagi menyenangkan saat diajak berdebat akan sesuatu hal yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan. Ia menyadari debat dengan Khaira telah menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Khaira kembali membubuhkan obat Betadine di punggung tangan Kevin yang terluka, "Dapet darimana luka-luka ini Mas? Apa berantem lagi sama preman?"
"Ninju pohon," jawab Kevin spontan.
Khaira terkejut akan jawaban Kevin, sekilas menatap Kevin sedetik kemudian kembali merunduk melihat punggung tangan Kevin yang disoroti oleh lampu senter dari ponsel, "Gimana ceritanya pohon bisa kamu tinju? Memang salah apa tu pohon? Kan kasihan pohonnya?" ucapnya memelas diakhir kata.
"Gue lagi emosi," jawab Kevin santai, tatapannya tak pernah teralihkan, ia fokus menatap Khaira seorang.
Khaira mengangkat wajahnya bersitatap dengan Kevin, "Lukanya udah beres! Lain kali jangan lagi ninju pohon, kasihan kan pohonnya luka-luka, ninju aja noh pejabat yang suka korupsi makan duit rakyat,"
"Pohonnya kagak apa-apa, gue yang terluka. Kan seharusnya lo simpatinya sama gue, kenapa jadi sama ntu pohon? Apalagi bahan pejabat yang korup, kan itu urusan KPK!" sergah Kevin, meskipun merasa sedikit perih dan pegal ditangannya, namun Kevin menyembunyikan rasa sakitnya dari Khaira.
"Nah, dah kembali' kan cara bicara Mas Kevin. Kudu dipancing-pancing dulu nih, supaya keluar aslinya. Aslinya si tuan arogan!" sahut Khaira mendengar sebutan Kevin sudah kembali seperti sediakala.
Kevin celingusan, lidah memang tak bertulang. Padahal sudah ia pikirkan masak-masak bahwa ia akan memanggil Khaira dengan sebutan 'kamu, tapi memang butuh proses.
__ADS_1
"Ya namanya juga lagi tahap belajar," balas Kevin membuang tatapannya, karena malu menatap Khaira.
"Hehehe... belajar wae kayak anak TK!" Khaira tertawa kecil, terlihat jelas bahwa Kevin sedang dalam keadaan malu-malu meong, "tadi Mas Kevin mau tanya apa soal kepanjangan Monas? Jelas aku kurang begitu tahu tentang Monas, yah walaupun bagian dari sejarah berdirinya bangsa ini," kata Khaira mengalihkan pembicaraan.
Kevin kembali melihat Khaira, "Kurang tau apa memang nggak tau?"
Khaira menggidik pundaknya, "Yah begitulah,"
Kevin manggut-manggut mendengar jawaban Khaira, ia menatap tugu Monas yang menjulang tinggi seolah menjadi penyangga langit di malam ini, diingatnya kembali pelajaran tentang sejarah Monas atau Momentum Nasional.
"Monas, singkatan dari Momentum Nasional. Apabila menilik sejarahnya, Monas mulai dibangun pada 17 Agustus 1961. Arsitek Monumen Nasional adalah Soedarsono, Frederich Silaban, dan Ir. Rooseno. Pembangunan Tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945 agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi penerus bangsa," jelas Kevin baru segelintir yang ia kisahkan tentang Monas.
Khaira manggut-manggut tipis mendengar penjelasan yang Kevin jabarkan, "Pasti masih panjang ya sejarah berdirinya Monas ini?"
"Ya itu sudah pasti, kalau aku ceritakan pembahasan soal Monas, bisa-bisa tiga hari empat malam kita kagak pulang dari sini," jawab Kevin.
"Benarkah?" kata Khaira bertanya kepada Kevin, ia melihat Monas berada didepannya menjulang tinggi.
Kevin dan Khaira kini ikut membaur bersama dengan orang-orang yang sedang duduk di atas rerumputan hijau di sekitaran Monas.
Ada banyak orang-orang yang berkelompok, ada banyak yang datang bersama pasangan. Dan tidak sedikit pula yang hanya sekedar ingin merasakan udara pada malam hari ini.
“Aku pernah lihat tugu Monas di YouTube dan di tv, tapi baru kali ini lihat aslinya,” ujar Khaira, ia masih menadahkan wajahnya menatap dengan tatapan berseri-seri melihat tugu menjulang.
“Benarkah? Inikah pengalaman pertama mu melihat Monas?” Kevin masih melihat dengan seksama wajah Khaira yang nampak manis.
Khaira mengangguk singkat.
“Ada tugu di Jogja, namanya tugu pal putih, tapi tugu Monas lebih tinggi dari tugu Jogja,” Khaira menoleh menatap Kevin, matanya bersitatap dengan manik mata cokelat Kevin yang nampak berkilauan terkena lampu-lampu disekitaran Monas.
Kevin manggut-manggut, senyuman tak lepas dari kedua sudut bibirnya, "Jadi ceritakan sedikit tentang tugu yang kamu sebutkan tadi?"
Tentu saja Khaira sangat antusias untuk menjawab pertanyaan Kevin, *"Jadi gini, Sejarah Tugu Yogya dibangun pada tahun 1755 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, pendiri kraton Yogyakarta yang mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan Laut Selatan, Kraton Yogya dan Gunung Merapi, begitu Mas Kevin,"
"Lalu, apa sejarah lainnya tentang tugu Jogja?" tanya Kevin antusias.
Dengan penuh semangat Khaira kembali bercerita tentang tugu Jogja, "Nah, pada saat awal berdirinya, bangunan ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan.Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), hingga akhirnya dinamakan Tugu Golong-Gilig. Keberadaan Tugu ini juga sebagai patokan arah ketika Sri Sultan Hamengku Buwono I pada waktu itu melakukan meditasi, yang menghadap puncak gunung Merapi. Bangunan Tugu Jogja saat awal dibangun berbentuk tiang silinder yang mengerucut ke atas, sementara bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar, sedangkan bagian puncaknya berbentuk bulat. Ketinggian bangunan tugu golong gilig ini pada awalnya mencapai 25 meter,"
"Aku pernah menelisik sejarah tugu Jogja saat masih di bangku sekolah, tapi lupa. Yang aku ingat tugu Jogja pernah runtuh?" kata Kevin setelah Khaira menguraikan tentang Tugu Golong-Gilig atau sekarang lebih di kenal Tugu Pal Putih.
__ADS_1
"Oh Mas Kevin juga pernah mendapatkan pelajaran sejarah tugu Jogja toh?" tanya Khaira antusias, dan mendapati Kevin mengangguk singkat.
"Iya betul apa yang dikatakan Mas Kevin. Kondisi Tugu Yogya ini berubah total pada 10 Juni 1867, di mana saat itu terjadi bencana alam gempa bumi besar yang mengguncang Yogyakarta, yang membuat bangunan tugu runtuh. Runtuhnya tugu karena gempa inilah yang membuat keadaan dalam kondisi transisi karena makna persatuan benar-benar tak tercermin pada bangunan tugu,"
Kevin nampak sangat serius mengamati apa yang diterangkan oleh Khaira saat ini.
"Pada tahun 1889, keadaan Tugu benar-benar berubah, saat pemerintah Belanda merenovasi seluruh bangunan tugu. Kala itu Tugu dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu. Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing,"
"Belanda memang selalu ikut campur pada saat negara ini belum bernama Indonesia," kata Kevin, menyela penjelasan Khaira.
"Aku setuju Mas," balas Khaira ia menjentikkan jari ibu dan jari telunjuknya.
"Coba lanjutkan lagi, biar nggak nanggung ceritanya," pinta Kevin agar Khaira melanjutkan lagi penjelasannya mengenai tugu Jogja.
Khaira mengangguk singkat, "Ketinggian bangunan pun menjadi lebih rendah, yakni hanya setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula. Sejak saat itulah, tugu ini disebut sebagai De White Paal atau Tugu Pal Putih. Perombakan bangunan Tugu saat itu sebenarnya merupakan taktik Belanda untuk mengikis persatuan antara rakyat dan raja, namun melihat perjuangan rakyat dan raja di Yogyakarta yang berlangsung sesudahnya, akhirnya upaya tersebut tidak berhasil,"
Kevin bertepuk tangan, ia sangat memberi apresiasi terhadap persatuan masyarakat Yogyakarta, "Hebat-hebat, aku salut. Lain kali aku mau ke sana, dan lihat tugu Jogja dari dekat."
"Boleh-boleh." balas Khaira girang.
"Benarkah?" Kevin bersitatap dengan manik mata hitam Khaira yang nampak berbinar-binar.
Mendadak ada rasa curiga, mengapa Kevin mengajaknya ke tempat bersejarah ini, Khaira menyipitkan matanya, “Sebenarnya ada apa Mas Kevin tumben-tumbenan ngajak aku ke sini?”
Bersambung...
\*\[Sebagain besar sejarah tugu Jogja bersumber dari Website Resmi Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta.\]
Yuk dukung votenya... •\_•
HemmMengharap saya?
__ADS_1