Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Mulai perduli


__ADS_3

Khaira telah selesai mandi besar dikarenakan sudah tuntas haidnya, dan pembalut yang sempat terjatuh tidak jadi dipakainya. Lalu sudah berganti pakaian sekalian didalam kamar mandi, dilihatnya luka yang dijahit, terlihat ngeri.


Ditutup lukanya dengan lengan piyama yang sebelumnya digulung sampai siku. Khaira keluar dari kamar mandi dan melihat sekilas kearah Kevin yang masih duduk di sofa ruang tengah sedang menelepon.


Khaira segera menuju kamar, setelah lukanya ditutup perban. Ia lantas berjalan menuju dapur, dilihatnya sekilas Kevin yang masih duduk di sofa.


Ia merasa perutnya menabuh genderang minta diisi. Khaira hendak bersiap untuk menyiapkan sarapan di dapur, dan berdiri di depan kulkas yang pintunya sudah terbuka. Namun, Khaira dikejutkan dengan adanya suara Kevin yang tiba-tiba muncul dibelakangnya.


"Nggak perlu masak sarapan," kata Kevin berdiri dibelakang Khaira.


Khaira terkejut, ia kembali berdiri dan mengurungkan niatnya untuk mengambil sayuran sup, "Memangnya kamu nggak doyan masakan ku lagi?"


Dilihatnya rambut Khaira yang di jepit, wangi segar dari rambut Khaira membuat darah Kevin serasa berdesir.


"Kenapa kamu menjepit rambut yang masih basah?" tanya Kevin, mengesampingkan pertanyaan Khaira.


Khaira membalikkan tubuhnya, ia menghadap Kevin dengan jarak yang sangat dekat, Khaira refleks mengusap rambutnya dengan tangan kanan, sedang tangan kiri tidak lagi ia gendong di depan dada.


Deg.. detak jantungnya berdegup kencang, ditatap secara intens oleh Kevin. Khaira menunduk tidak berani menatap mata tajam Kevin yang menatapnya seperti busur panah.


"Ehem.." Khaira berdehem guna menetralisir peredaran gugupnya yang semakin menjalar sampai ke ubun-ubun.


"a-apa sekarang kamu sudah baik-baik saja? Maskudku apa kamu udah nggak lagi merasakan sakit? Atau bagaimana mata mu, apa masih sakit? Menurut ku sebaiknya kamu pergi ke rumah sakit," kata Khaira bertanya panjang lebar, namun sama sekali tidak berani menatap Kevin, alias ia hanya menunduk saja, seraya mengusap pergelangan tangan kirinya yang tertutup piyama lengan panjang.


Kevin mengulum senyumnya, ia selalu saja dibuat senang kala melihat Khaira salah tingkah. Bagi Kevin melihat Khaira salah tingkah ataupun merasa malu, membuatnya seperti dihujani dengan undian berhadiah.


Dilihatnya tangan kanan Khaira yang sedang mengusap pergelangan tangan kiri. Membuat Kevin berspekulasi bahwa mungkin saja Khaira tidak mengganti perban dengan benar.


"Kamu sudah mengganti perban?"


Khaira mengangguk singkat.


"Aku rasa kamu nggak mengganti perban dengan benar, mari ikut aku. Aku bantu kamu menggantikan perban," ujar Kevin lantas menarik tangan Khaira.


Khaira menghentikan langkah Kevin yang sedang menarik tangan kanannya, "Tapi Mas Kevin, aku laper, aku mau masak. Terus juga mau minum obat supaya cepat kering lukanya,"


Kevin menoleh kearah Khaira, "Aku udah pesan makanan delivery, jadi kamu nggak perlu repot-repot masak, selama tanganmu sakit,"


Tanpa menjawab ucapan Kevin, karena tidak ada lagi yang ingin ia bicarakan. Khaira manut saja mengikuti langkah Kevin menuju kamar.


"Duduklah." kata Kevin menyuruh Khaira untuk duduk di atas ranjang.


Kali ini Khaira tak mengatakan apa-apa, bahkan ia tak membantah Kevin, tidak seperti biasanya pasti akan ada perdebatan kecil yang terjadi. Dilihatnya Kevin mengambil perban putih yang diperoleh dari rumah sakit di atas meja rias.


Kevin duduk berhadapan dengan istri yang belum sepenuhnya dapat menerima ia sebagai seorang suami.


Tanpa berkata, Kevin mengambil tangan kiri Khaira yang tertutupi piyama berlengan panjang, disingkapnya lengan sampai ke siku. Dibuka lilitan perban putih yang menutupi luka Khaira yang dijahit.


Setelah melihat kondisi jahitan di luka Khaira. Kevin mengangkat wajahnya menatap wajah gadis yang duduk berhadapan dengannya, "Kamu pasti membasuhnya?"


Dilihatnya luka yang dijahit, memang terlihat mengerikan. Apalagi baru saja terkena air cukup lama. Khaira terdiam, masih tidak berani mengangkat wajahnya menatap Kevin.

__ADS_1


Melihat Khaira yang sejak tadi hanya menunduk membuat Kevin menggeleng heran akan sikap sang istri yang seolah tak berani menatapnya, "Kalau lagi di ajak bicara tuh, lihat lawan bicaranya,"


Khaira menghela nafas panjang, mengangkat wajahnya dengan mata terpejam sedetik kemudian membuka mata dan langsung bersitatap dengan manik mata cokelat Kevin. Ia melihat Kevin yang mengembangkan senyuman. Membuat Khaira semakin gugup, secepatnya Khaira membuang tatapan, menatap lukisan bunga tulip.


"Siapa kali ini yang berkelahi dengan Mas Kevin?" tanyanya memecah kecanggungan.


"Preman," Kevin menunduk, ia tahu Khaira sedang merasa canggung.


"Apa, preman?" Khaira membulatkan matanya, ia melihat Kevin yang menunduk sedang membuka perban yang melilit pergelangan tangannya.


"He'em, preman. Kenapa?" dilihatnya sekilas mata istrinya, lantas kembali menundukkan pandangan dan membersihkan luka Khaira yang mengeluarkan darah menggunakan tissue, setelahnya dirasa sudah tidak adanya darah yang keluar. Kevin membersihkannya dengan air infus. Seperti yang ia lakukan pada luka-lukanya jika dalam kondisi seusai berkelahi dengan para preman dan begal di jalanan.


"Apa Mas Kevin sering berkelahi?" Khaira dibuat penasaran.


"Kenapa tumben amat kamu menanyakan hal itu? Apa sekarang kamu mulai perduli dengan kegiatan ku?" tanya Kevin tanpa melihat Khaira, ia fokus melilitkan perban putih di pergelangan tangan istrinya.


Khaira terdiam, ia menggelengkan kepalanya, "Aku hanya penasaran, apa sebelum aku tinggal di rumah mu, kamu jarang pulang dan selalu berkelahi?"


Kevin mengangguk, toh untuk apa ia berbohong jika ia memang sering berkelahi.


Khaira melihat Kevin mengangguk, "Setiap hari?" tanyanya terkejut.


Kevin menadahkan wajahnya sekilas menatap wanita dihadapannya, "Nggak juga, hanya kadang-kadang kalau begal atau preman ada yang menghadang laju motor ku,"


"Apa Mas Kevin mempunyai masalah dengan preman atau begal itu?" tanya Khaira lagi, ia semakin tertarik dengan cerita Kevin.


"Yah bisa dibilang begitu," jawab Kevin singkat. Kini ia telah selesai melilitkan perban putih dipergelangan tangan Khaira.


Kevin bersitatap dengan mata istrinya yang mempunyai sorot mata teduh, "Kan sekarang sudah ada kamu,"


Khaira mengerutkan keningnya, "Kenapa aku?"


Kevin menatap Khaira lekat-lekat, sampai seseorang yang ditatapnya terlihat salah tingkah. Ia mendekatkan bibirnya ke pipi Khaira, diciumnya singkat pipi sang istri.


Terkesiap dengan tidak siapnya Khaira untuk menghindari Kevin, karena Kevin sudah lebih dulu menahan lengan kirinya.


"Jangan takut. Kali ini aku berjanji, sebelum mendapatkan restu dari orang tuamu dan mendapatkan buku nikah. Aku nggak akan pernah menjamah mu," kata Kevin melihat raut wajah Khaira yang terkejut sekaligus takut.


Terdengar dari luar, suara ketukan pengait pagar teralis besi.


"Itu pasti delivery makanan." ucap Kevin, ia lantas beranjak dari duduknya. Lantas segera keluar dari kamar.


Khaira terbengong-bengong setelah kepergian Kevin untuk mengambil makanan yang diantar oleh delivery. Ia benar-benar mempertanyakan di lubuk hatinya yang terdalam. Benarkah Kevin sudah berniat ingin menemui Abah dan ingin meresmikan pernikahan palsu ini? Khaira menggelengkan kepalanya.


Menyangsikan ucapan Kevin adalah sebuah kebenaran.


~~


Saat sesi makan, Khaira hanya terdiam membisu sambil menikmati makanan yang sebenarnya tidak dinikmatinya, bukan karena makanan yang dipesan Kevin tidak enak. Melainkan Khaira sedang melamunkan diri tentang perasaannya terhadap Asep.


Mengapa seakan perasaannya sekarang ini lain, semalam sebelum Kevin pulang Khaira sempat bercengkrama ria melalui video call bersama dengan Asep, dan perasaannya hambar, ia malah mengkhawatirkan Kevin.

__ADS_1


Khaira melihat Kevin sekilas, dan kembali menunduk menatap makanannya, benaknya berkata, "Apa memang sekarang ini aku sudah benar-benar terperdaya oleh cinta terhadap pria yang ada di depanku?"


Sejak sesi makan, Khaira hanya diam membisu bahkan cara makan dari wanita yang duduk berhadapan dengannya pun tidak enak, apakah gerangan yang sedang dipikirkan Khaira membuat Kevin bertanya-tanya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan Ra? Apa kamu kepikiran soal ucapanku tadi saat di kamar?" tanyanya penasaran, ingin mengerti silsilah apa yang sedang dipikirkan Khaira.


Khaira hanya menatap Kevin.


"Tenang, kamu nggak perlu khawatir. Aku nggak akan memaksamu untuk segera menerima ku, aku akan menunggu sampai kamu benar-benar pulih dari trauma perpisahan kedua orang tuamu. Dan kamu dapat mempercayai sepenuhnya hidupmu padaku," kata Kevin, berusaha meyakinkan Khaira.


Khaira menggeleng tipis.


"Mas Kevin, aku ingin membeli beberapa tanaman bunga. Bos sudah memberiku izin untuk cuti selama satu minggu, dan aku ingin menggunakan waktu luang ku untuk menanam bibit tanaman hias." ungkap Khaira, jauh sekali dari apa yang sedang dipikirkannya saat ini.


Kevin tercenung mendengar jawaban Khaira yang ingin membeli tanaman bunga.


"Jadi selama sesi makan kamu sedang memikirkan itu?" ia tersenyum sumringah, yang Kevin takutkan bahwa Khaira tertekan atas ucapannya saat masih berada di kamar akan menganggu pikiran Khaira, tapi ternyata ia telah salah sangka.


Khaira mengangguk tanpa menatap Kevin, "I-iya.."


"Aku akan membelikan mu tanaman sebanyak yang kamu mau, tapi aku rasa kamu harus menunggu sampai luka jahitan mu mendingan, aku juga nggak bisa mengantarmu. Apa kata orang nanti jika mereka melihat wajah lebam ku ini," tukas Kevin.


"Baiklah," jawab Khaira dalam kepasrahan, "kamu masih perduli dengan pendapat orang lain Mas Kevin?" tanyanya tanpa melihat Kevin.


"Kadangkala saja, memikirkan pendapat orang lain." Kevin terus memandangi Khaira, sampai selesai makan.


~


Setelah dua orang memasang cctv di teras rumah.


Selama seharian ini, Khaira merasa jenuh hanya duduk sambil membaca buku.


Sementara Kevin hanya duduk anteng bersandar pada sandaran sofa sedang memangku laptop, tak jauh dari Khaira. Ia sedang menyalin beberapa komponen musik dan telinganya juga memakai headphone.


Namun, keseriusan Kevin buyar. Tatkala melihat Khaira yang nampak gelisah dengan cara duduk yang sering berganti-ganti, atau memang sedang bosan.


Kevin menyingkirkan laptop dari pangkuannya dan beranjak dari duduknya, ia menghampiri Khaira.


Khaira menadahkan wajahnya menatap Kevin yang berdiri didepannya sedang mengulurkan tangan dihadapannya, "Apa?" tanyanya heran.


"Ikut jalan-jalan di sekitar kompleks nggak?" tawar Kevin.


"Ngapain?" tanya Khaira singkat.


"Aku sejak tadi melihat mu merasa jenuh, jadi ayo kita jalan-jalan di sekitar kompleks, kamu kan belum pernah ke taman dekat sini." ajak Kevin, tanpa menunggu jawaban Khaira, ia langsung mengambil tangan istrinya dan menggandengnya keluar rumah.




Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2